BAB 4 : Kemarahan Lama

1452 Kata
Ruang VIP di Rumah Sakit Elisabeth di ingatan Windi masih menyisakan sorak kemenangan yang belum sepenuhnya reda ketika tubuhnya roboh. Awalnya seperti lutut yang kehilangan kekuatan. Lalu bahunya turun, napasnya tersendat, dan dunia seolah menarik seluruh cahaya dari tubuhnya sekaligus. Darah masih mengalir di pelipis kanannya saat ia jatuh ke kanvas—tanpa perlawanan, tanpa sisa tenaga. “WIN—!” Suara Keenan pecah sebelum pikirannya sempat menyusul. Ia berdiri terlalu cepat. Kursi terjungkal. Orang-orang berteriak, panitia berlarian, tim medis sibuk mengangkat tandu Maribel yang masih tak sadarkan diri. Namun bagi Keenan, semua itu mengabur, menjadi latar belakang yang tidak penting. Yang ia lihat hanya satu. Istrinya yang sedang terbaring dan tak bergerak. “Papa… Bunda…” isak kecil di lengannya membuatnya tersadar bahwa ia tidak sendirian. Keenan menunduk. Anisa Novitasari Cinansa memeluk lehernya erat, wajah kecil itu basah oleh air mata, matanya merah, napasnya terputus-putus. “Papa, Bunda kenapa…?” Keenan tidak menjawab. Ia menggendong Cinansa lebih erat, lalu—tanpa berpikir panjang—melompat turun ke area ring. “Pak! Tidak boleh—!” teriak seorang panitia. Namun Keenan sudah terlalu jauh. Ketakutan itu datang lagi. Ketakutan tujuh tahun lalu. Kilatan ingatan menghantam kepalanya dengan kejam. Malam di Jalan Dargo saat lampu jalan masih berkedip-kedip sebelum menyala terang. Ingatannya membawa sosok tubuh kurus berseragam putih abu-abu tergeletak di pinggir jalan, wajah lebam, darah di pelipis—nyaris sama persis seperti sekarang. Bedanya hanya satu. Saat itu, ia belum mencintainya. Sekarang, perempuan itu adalah hidupnya. “Win… jangan ulangi lagi,” gumam Keenan dengan suara gemetar saat ia berlutut di samping tubuh Windi. “Aku sudah menemuimu seperti ini sekali. Aku tidak sanggup untuk kedua kalinya.” Tim medis berusaha menahan. “Pak, kami yang tangani—” “Aku suaminya,” potong Keenan tegas, suaranya rendah tapi mengandung perintah. “Aku tahu bagaimana menggendongnya.” Keenan menyerahkan Cinansa pada Arga yang sudah mendekat dengan wajah panik. “Ga, tolong jaga Cinansa,” katanya cepat. “Jangan biarkan dia lihat lebih jauh.” Arga mengangguk tanpa banyak bicara. Ia menerima Cinansa, menggendongnya erat. “Bunda mau bangun, kan?” tanya Cinansa lirih, setengah tertidur oleh lelah dan tangis. “Iya, Sayang,” jawab Keenan sambil mencium kening anaknya cepat. “Bunda kuat.” Lalu ia mengangkat tubuh Windi. Berat. Namun itu bukan karena tubuhnya. Tapi karena rasa takut yang menempel di setiap inci kulitnya. Di dalam ambulans, suara sirene meraung seperti jeritan panjang yang tak pernah berakhir. Keenan duduk di samping brankar, menggenggam tangan Windi, merasakan dinginnya kulit itu. “Dengar aku, Win,” katanya berulang-ulang, seolah Windi bisa mendengar. “Aku di sini. Aku tidak pergi. Kau tidak sendirian.” Tangannya bergetar saat darah kembali merembes dari balik perban darurat. “Tolong cepat,” katanya pada petugas medis. “Dia istri saya.” Kalimat itu keluar begitu saja—namun terasa seperti sumpah. ***** Waktu menjadi sesuatu yang aneh di Rumah Sakit Elisabeth. Menit terasa seperti jam. Jam terasa seperti hukuman bagi seorang Keenan. Dia mengikuti setiap prosedur. CT scan. Jahitan. Pemeriksaan lanjutan. Ia berdiri di luar ruang tindakan dengan mata tak pernah lepas dari pintu. Ia menolak duduk. Menolak pergi. Menolak makan. Hingga akhirnya Windi dipindahkan ke ruang VIP, stabil, tapi belum sadar. Saat itulah Keenan baru duduk ketika tubuhnya benar-benar tak sanggup lagi. Ia duduk di kursi samping ranjang. Menatap wajah istrinya. Pucat. Tenang. Terlalu tenang. Ia menyentuh rambut Windi, menyibakkannya pelan. “Maaf,” bisiknya. “Aku seharusnya menghentikanmu sejak lama.” Dan Keenan tak akan pernah tahu kapan tertidur. Yang ia tahu, kelelahan akhirnya merobohkannya di sisi perempuan yang ia cintai. Dan saat imi gerakan kecil di ranjang membangunkannya. Keenan terkejut, segera mengangkat kepala. Dilihatnya Windi bergerak. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka perlahan. “Ken…” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Keenan segera berdiri, namun terlalu cepat dan nyaris menjatuhkan kursi. “Jangan bangun,” katanya tergesa, tangannya menahan bahu Windi. “Tolong… tetap berbaring.” Windi menatapnya, mencoba fokus. “Cinansa…?” Keenan menghela napas panjang—napas yang selama ini ia tahan. “Dia aman,” jawabnya cepat. “Aku titipkan sama Arga.” Ia mengambil ponsel, membuka pesan, lalu memutar sebuah video pendek. Di layar, terlihat Cinansa tertidur pulas di ranjang kecil, memeluk boneka. Di sampingnya, Kurniawati, putri bungsu Arga, tertidur dengan posisi miring. Dua anak kecil, satu selimut, napas teratur. “Dia capek nangis,” kata Keenan pelan. “Sekarang dia mimpi indah.” Windi menghela napas lega. Senyum kecil muncul di bibirnya, meski wajahnya masih pucat. “Terima kasih…” bisiknya. Keenan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Windi—pelan, hati-hati, seolah takut sentuhannya bisa melukai. “Aku hampir kehilanganmu,” katanya akhirnya, suaranya pecah. “Aku tahu kau kuat. Tapi aku tidak pernah siap melihatmu jatuh seperti itu.” Windi mengangkat tangan, menyentuh pipi Keenan. “Maafkan aku,” katanya lirih. “Aku hanya… tidak ingin menyerah.” Keenan memejamkan mata. Ia menggeser tubuhnya, lalu berbaring di samping Windi, satu tangannya membelai rambut istrinya dengan lembut. “Kau tidak perlu membuktikan apa pun lagi,” katanya pelan. “Bagiku, kau sudah menang sejak hari pertama kau memilih hidup.” Windi menelan ludah. “Aku lapar,” katanya tiba-tiba, nada suaranya kecil, hampir malu. Keenan tersenyum—senyum pertama yang benar-benar utuh malam itu. “Akhirnya,” katanya sambil berdiri. “Aku takut kau bangun hanya untuk bertengkar denganku.” Ia mengambil nampan makanan pasien yang sedari tadi tak tersentuh. Mengaduk sup pelan, meniupnya, lalu menyuapi Windi dengan sabar. “Pelan,” katanya. “Jangan terburu-buru. Aku di sini.” Windi memakan suapan demi suapan, menatap wajah Keenan seolah ingin menghafalnya lagi. “Kau capek,” katanya. “Kau lebih,” jawab Keenan. “Tugas suami itu menemani. Bahkan ketika istrinya keras kepala.” Windi tersenyum kecil. Setelah beberapa suapan, matanya mulai berat. Keenan meletakkan nampan, lalu kembali berbaring di sampingnya. Ia mencium kening Windi dengan lembut. “Tidurlah,” bisiknya. “Aku di sini. Dunia boleh menunggu.” Windi memejamkan mata, bibirnya membentuk senyum tipis. “Ken…” katanya pelan sebelum benar-benar terlelap. “Hm?” “Terima kasih… sudah tidak pernah meninggalkanku.” Keenan menelan air mata yang nyaris jatuh. “Tidak sekarang,” jawabnya. “Tidak nanti. Tidak pernah.” Dan di ruang VIP yang sunyi itu, dengan napas yang akhirnya tenang dan pelukan yang menahan dunia agar tak runtuh lagi, Windinosa Cinta Pratiwi kembali tertidur—dijaga oleh cinta yang tak pernah meminta balasan, hanya kesempatan untuk tetap ada. Napas Windi mulai teratur. d**a itu naik turun pelan, seperti ombak yang akhirnya menemukan pantai setelah dihantam badai terlalu lama. Keenan tetap terjaga. Ia tidak berani memejamkan mata, seolah jika ia lengah sedetik saja, dunia akan kembali merenggut perempuan di pelukannya. Tangannya masih membelai rambut Windi, gerakan kecil yang sama seperti yang ia lakukan setiap kali istrinya tertidur setelah mimpi buruk. Bedanya, malam ini mimpi buruk itu nyata. Ia menatap wajah Windi lama-lama. Perempuan ini telah terlalu sering berdamai dengan luka. Terlalu lama berdiri di tengah api, sendirian, dan memilih tidak terbakar agar bisa pulang. “Kau tidak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu,” bisik Keenan, meski tahu Windi tak mendengar. “Aku jurnalis. Aku menulis tentang kehilangan orang lain. Tapi aku tidak pernah belajar bagaimana caranya jika itu terjadi padaku.” Matanya beralih ke jendela. Kota masih terjaga. Lampu-lampu berpendar seperti ribuan mata yang tak pernah tidur—seperti publik yang dulu menguliti hidup Windi dan ibunya tanpa ampun. Keenan mengepalkan tangan. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya. Bukan lagi sekadar takut. Bukan hanya cinta. Ada kemarahan lama yang belum pernah ia beri nama. Ia teringat satu hal yang selama ini ia simpan rapi—sebuah berkas tua, sebuah kasus lama, sebuah nama yang selalu ia hindari untuk disentuh kembali. Nama yang berkaitan dengan kehancuran hidup Windi, jauh sebelum oktagon, jauh sebelum darah malam ini. “Maafkan aku,” bisiknya lagi, kali ini pada dirinya sendiri. “Aku terlalu lama diam.” Pintu ruang VIP berderit pelan. Keenan menoleh cepat. Seorang perawat berdiri di ambang pintu, membawa map medis. “Pak Keenan, kondisi istri Anda stabil. Tapi dokter ingin bicara besok pagi. Ada beberapa hal yang perlu dibahas… cukup serius.” Keenan mengangguk pelan. “Terima kasih.” Saat pintu kembali tertutup, Keenan menatap Windi sekali lagi. Ia menunduk, mengecup kening istrinya—lebih lama dari sebelumnya. “Sekarang giliran aku,” katanya lirih, hampir seperti janji. “Kau sudah bertarung cukup lama.” Di luar ruang VIP itu, malam belum selesai. Dan cinta mereka—yang selama ini bertahan di atas luka—akan segera diuji bukan oleh tinju, bukan oleh oktagon, melainkan oleh kebenaran lama yang menolak tetap terkubur. Babak baru telah menunggu. Dan kali ini, Keenan Satria tidak berniat hanya menjadi penonton.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN