Kehidupan yang selama ini ku inginkan adalah hidup tenang, nyaman dan pastinya bahagia,dan semua itu ingin kulalui bersama seorang gadis yang selama ini ku cintai,yang selama bertahun-tahun menjadi prioritas ku. Ahh,pasti rasanya nikmat sekali. Namun, sayangnya aku harus kembali pada kenyataan hidupku saat ini. Kenyataan yang jauh dari yang aku bayangkan.
Setahun sudah aku berusaha menyadarkan diriku dari rasa cinta yang harusnya tak lagi kumiliki untuk gadis itu,iya itu seharusnya. Tapi,nyatanya sampai detik ini harus kuakui bahwa belum ada yang bisa menggantikan dia di hatiku.
Inilah aku dengan segala kebodohan yang ku miliki.
Aku Baim Gunawan, seorang pria bodoh yang mencintai gadis yang sudah menjadi kakak iparku sendiri.
Kau tau,bahkan semut dalam lubangnya yang kecil pun ikut menertawakan diriku ini,tapi memang begitu faktanya. Tepatnya aku masih mencintainya,mantan kekasih yang menjadi kakak iparku.
******
Suara nyaring dari benda pipih kembali terdengar. Ini bukan yang pertama,tapi sudah masuk hitungan ketiga. Namun,sang pemilik masih belum mau membuka mata hingga suara nyaring itu terhenti.
Lagi!!
Panggilan ke empat,kali ini bisa membuat pria itu mengucek mata dengan tangannya. Pria itu meraih benda pipih yang terus meneriakinya untuk bangun.
"Bocah apaan,sih? Ganggu tidur orang aja,ck," berdecak kesal dan menggeser icon hijau di layar kaca dari benda pipih tersebut dan membuat suara nyarinya seketika terhenti.
"Halo,ada apa pagi-pagi telpon?" tanyanya to the point.
"Ehh,pagi apaan. Matahari udah setinggi tombak gitu masih aja bilang pagi! Dasar kebo! Masak tidur sampe siang bolong gini, mentang-mentang hari minggu," suara cempreng itu sudah seperti mau merobek-robek gendang telinga Baim. Pria berkulit sawo matang itu menjauhkan benda pipih yang dipegangnya dari telinga.
"Bisa pelanan ga ngomongnya? Pecah gendang telinga mas dengerin suara cempreng kamu,malah ngomel-ngomel. Ada apa sih?"
"Mas kapan pulang...?" suara cempreng tadi mendadak melemah, terdengar mendayu dan lembut.
"Nah,gini. Baru enak diajak ngobrol dari telpon. Kenapa emangnya? Kok tumben nanya mas pulang kapan?"
Gadis yang menelponnya menghela napas berkali-kali, seperti ada beban berat yang menimpanya.
"Audrey! Ada apa? mas ngantuk ini..."
"Mas!!!!" panggil nya seperti memohon jangan ditutup dulu.
"Kenapa? Mau ngomong apa? Biasanya juga ga gini,kesambet apaan kemarin?"
"Audrey kangen sama mas."
Hening.
Hanya helaan napas keduanya yang terdengar berhembus dari tempat berbeda.
"Audrey mau mas hadir di acara perpisahan sekolahnya Audrey," suara itu seperti menahan tangisnya, "mas,pulang ya. Masa mas ga mau pulang lagi setelah ada Mbak Mesya di rumah kita."
Pria yang diajak bicara menghela napas berat. "Audrey,mas ga pulang bukan karena Mbak Maya ada di rumah kita tapi karena mas emang lagi kerja,kerjaannya banyak banget."
'''Fix,satu kebohongan. Semoga Audrey tak merengek lagi.'
"Ya udah kalau mas ga bisa pulang,maaf ya Audrey ganggu. Nanti kalau Audrey udah lulus,biar Audrey aja yang cari mas supaya mas ga usah pulang, assalamualaikum mas."
"Hey!!! Audrey! Kamu jangan nekat cari mas ke sini sendiri!"
"Makanya mas pulang..."
"Tapi.."
"Oke Audrey jujur sama Mas Baim,Ibu lagi sakit,tiap hari nama mas yang di sebut. Mungkin Ibu kangen, tapi setiap Audrey mau minta mas pulang,Ibu selalu larang karena takut mas emang sengaja menghindar dan ga pulang. Kalau mas pikir bisa ngelupain Mbak Mey dengan cara menghindari seperti ini,mas salah besar," Audrey menghela napas panjang, "sekarang terserah mas Baim,mau pulang mau enggak terserah mas."
Baim langsung bangun dari tidurnya dan duduk di pinggir ranjang.
"Kamu bilang Ibu sakit? Sejak kapan?" nada suaranya terdengar lirih dan parau.
"Sebulan lalu. Ibu drop,tapi ga mau mas tau," ucap Audrey pelan,suaranya terdengar bergetar.
"Kenapa kamu baru kasi kabar ke mas sekarang, Audrey? Mas minta kamu selalu kabarin mas kalau ada apa-apa di rumah,bukan malah sembunyiin hal seperti ini!!!" Baim berteriak frustasi.
"Maaf mas.. Audrey sudah janji sama Ibu,tapi hari ini Audrey sudah ga tahan denger Ibu kalau tidur manggil-manggil mas terus hiks..maafin Audrey.."
"Oke mas pulang sekarang,kamu jaga Ibu."
"Iya mas.
"Assalamualaikum."
"Wa'alakumsalam."
***
Baim meraup wajahnya dengan kasar,dia tak menyangka keputusannya untuk tak pulang sebelum bisa melupakan Mesya malah berakibat pada ibunya sendiri.
"Audrey bener,kalau aku terus menghindar aku tak akan bisa lupakan dia," pria itu menghela napas dalam-dalam.
Sudah setahun sejak pernikahan kakaknya dengan Mesya, kekasihnya itu,dia tak pernah pulang lagi. Dia memang bertahan di rumahnya selama tiga bulan,karena ibunya masuk rumah sakit dan dia tak mau meninggalkannya. Selama tiga bulan lamanya,setiap hari pria itu melatih diri untuk bisa terlihat baik-baik saja di depan keluarganya. Dia selalu menyibukkan diri di depan laptop atau ponselnya hanya untuk terlihat biasa saja berada serumah dengan orang yang sangat dia cintai,dan itu di lakukan karena Ibunya.
Setelah ibunya menjalani operasi dan berhasil sembuh,pria itu memutuskan ikut pulang ke Jakarta bersama saudara angkatnya yang bernama Adryan Wijaya. Ya,dia adalah seorang putra angkat dari keluarga Wijaya, pemilik Wijaya group yang memiliki cabang di berbagai daerah,termasuk di tempat Baim menjadi CEO sekarang.
Baim di dipindahkan ke kantor cabang untuk menjadi CEO di sana, sementara di kantor pusat sudah ada Adryan yang menghandel. Hal ini dilakukan Wijaya karena tak mau putra kandungnya terus-terusan mengambil cuti dan melimpahkan tugas pada Baim,pria itu selalu ingin libur sejak istrinya melahirkan dan Wijaya tak akan membiarkan dia lalai dari tanggung jawab. Dengan pindahnya Baim ke kantor cabang,artinya Adryan tak bisa mempercayakan siapapun untuk sekedar menggantikannya walau sehari,dan itu berhasil terjadi.
"Baim pulang,Buk. Maafin Baim yang terlalu egois."
Selama ini dia hanya memberi dan menanyakan kabar dengan melakukan video call bersama adiknya, setiap hari dia selalu mengatakan pekerjaan kantor banyak dan belum bisa pulang. Meskipun sebenarnya dia sudah jujur pada ibunya tentang alasannya tak pulang,hanya kepada ibunya saja dia mengatakan yang sebenarnya. meskipun rindunya menyiksa, pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pulang sebelum dia lupakan Mesya. Tapi, ternyata keputusan itu salah dan dia harus pulang sekarang menemui ibunya.
Hanya Tiga Puluh menit dia siap-siap dan sekarang sudah menjalankan mobilnya menuju tanah kelahirannya,Bandung lautan api. Sebelumnya,dia sudah menelepon Wijaya dan mengatakan dia harus pulang dulu juga menelpon sekretarisnya guna mengabarkan dirinya ke luar kota untuk beberapa hari,artinya sekretarisnya harus mengatur kembali jadwal yang sudah di sepakati dengan para kliennya.
Setelah tiga jam berada di jalanan, akhirnya dia memasuki kawasan tempat kediaman keluarganya.
"Kamu bukan pria lemah Baim,kamu bisa,kamu pasti bisa!" sepanjang jalan dia terus menyemangati dirinya..Dan... di sinilah dia berada sekarang,di depan sebuah rumah bercat putih dengan halaman depan cukup luas. Rumah yang sebenarnya bukan milik keluarganya,tapi masih milik Wijaya, ayah angkatnya. Keluarga Wijaya sudah sangat baik mengangkat derajat keluarganya yang dulu bukan siapa-siapa menjadi lebih baik dari sebelumnya,dan itu sebabnya dia tak menolak saat Wijaya memintanya menjadi anak angkat.
Mobilnya sudah berhenti di sana,tapi kakinya masih berat untuk turun karena pastinya ada Mesya di dalam sana,dia menghela napas panjang berkali-kali, menyiapkan dirinya agar bisa acuh tak acuh seperti dulu. Tapi,bayangan seorang gadis yang lewat di depannya membuatnya harus menganga karena sebuah kenyataan yang dia lupakan..
"Mesya..."