Seorang gadis tengah duduk di halaman samping rumahnya,dengan seorang bayi perempuan yang cantik tengah berada dalam dekapannya.
"Sayang,cepet gede ya,Nak. Anak mama harus jadi wanita kuat,jangan seperti mama ya,mama cengeng," ucapnya pelan seraya tersenyum manis pada bayi mungil dalam dekapannya. Hari sudah mulai gelap,jadi gadis cantik itu memutuskan untuk membawa bayinys masuk ke rumah mereka. Tak sama sekali dia melihat sebuah mobil telah terparkir di halaman rumah itu,rumah besar itu harusnya milik pria tampan yang ada di dalam mobil,karena Wijaya,sang papa angkatnya telah merubah nama pemilik rumah tersebut menjadi milik Baim. Ya,Baim adalah pria yang ada di dalam mobil putih itu dan gadis cantik yang menggendong bayi itu adalah Mesya,mantan kekasihnya.
Saat Mesya lewat dari pintu samping,ekor mata Baim,bisa melihat sekilas wajah Mesya di sana.
"Mesya!" Baim menganga, satu fakta yang telah dia lupakan, bahwasanya Mesya tengah menggendong seorang bayi yang tak lain adalah anak dari gadis itu sendiri.
Pria itu lagi-lagi menghela napas panjang,dia lupa kalau Mesya pastinya sudah memiliki anak dengan Hendra,kakaknya.
''Astaga...'' ucapnya lirih.
Baim memejamkan matanya sejenak,mencoba mengingatkan dirinya bahwa gadis itu tak seharusnya masih menyandra hatinya. Tapi,...
Tok-tok-tok!
Baim membuka matanya karena ketukan dari kaca mobilnya,dia melihat seseorang tengah berdiri di balik kaca.
Pria itu langsung membuka pintu mobilnya dan keluar,gadis di luar mobil langsung berhambur ke pelukannya.
"Mas!!! Audrey kangen...." pekiknya girang dalam pelukan Baim.
"Mas juga kangen sama kamu."
"Kangen tapi ga mau pulang kalau Audrey ga ngomong gitu,tadi!" Audrey memanyunkan bibirnya kesal, sementara Baim hanya terkekeh.
"Ayo masuk,Ibu pasti seneng banget liat Mas pulang," ucap Audrey,menarik tangan Baim menuju pintu yang tengah terbuka.
Baim menghela napas panjang sebelum dia melangkahkan kakinya masuk ke sana.
***
"Assalamualaikum semuanya!! Lihat, Audrey bawa siapa, nih!" Audrey bersorak riang saat berada di ruang tamu.
"Baim!!!"
Hendra dan ayah kaget, merekalangsung berdiri melihat kedatangan pria itu, pasalnya,ini adalah kali pertama pria itu pulang setelah genap setahun meninggalkan mereka.
"Hai," sapa Baim singkat dan langsung menyalami mereka.
"Kamu apa kabar!!!" Hendra memeluk adiknya dengan perasaan haru,dia tau ini salahnya. tapi,Baim harus terima semuanya sekarang.
"Baim sehat, Bang. Abang kenapa ga kasih tahu Baim kalau Ibu lagi sakit?"
Hendra melepaskan pelukannya,menatap heran pada adiknya itu.
"Sakit? Nggak,kok. Ibu ga sakit. Siapa yang bilang?" tanya Hendra heran dan bingung.
Sementara Baim menganga, membentuk huruf O dengan mulutnya.
"O'o," ujar Audrey pelan dan berniat kabur. Tapi,..
"Audrey!!!!" teriak Baim kesal,gadis itu menghentikan langkahnya.
"Iya,Mas. Ada yang bisa Audrey bantu?" tanyanya tak berdosa,mencoba tersenyum manis pada Baim yang sudah ingin menerkamnya.
"Kamu bohong sama mas,ya?? Dasar!!!" Baim ingin memberi pelajaran pada Audrey dengan menggelitiknya. Tapi, Audrey bersembunyi di balik tubuh gemuk, sang ayah.
"Abisnya Mas ga mau pulang,sih! Audrey kan ga tau gimana caranya biar Mas pulang. Audrey bilang mau susul,Mas ga mau!!!" timpal Audrey terkekeh di balik ayahnya.
Herlan hanya menggelengkan kepala dengan tingkah putrinya yang rada bandel dan berulah, seperti yang di lakukan pada Baim sekarang.
"Kalau mau mas pulang,jangan bawa-bawa Ibu segala dong! Kamu tau ga,mas hampir kecelakaan tadi gara-gara kejer waktu buat sampe rumah!"
"Ya kan Masnya yang ga teliti, Audrey bilang sebulan lalu Ibu drop,bukan sekarang. Sebulan lalu emang iya,Ibu drop karena asmanya kumat, sekarang sih udah enggak..hihihi.."
Baim mengehela napas berat,dia kesal pada adiknya,benar saja,tadi dia hampir menabrak orang karena buru-buru banget untuk sampe ke Bandung.
"Udah-udah! Kalian berdua ini kalau ketemu pasti ribut,kalau jauh pasti pengen ketemu terus," Herlan menengahi adu mulut keduanya, "Audrey,minta maaf sama Mas,kamu!!"
"Maaf ya,Mas. Audrey ngaku Audrey yang salah,soalnya Audrey mau Mas Baim hadir di acara perpisahan sekolahnya Audrey,kan Mas Baim udah janji mau bawa Audrey kuliah di Jakarta." Audrey memasang muka termanisnya agar Baim memaafkan.
Hendra hanya tersenyum melihat tingkah dua adiknya itu.
"Mas maafin,tapi lain kali jangan gitu lagi!"
"Makasih,Mas!" gadis itu langsung memeluk kakaknya yang membalas pelukannya dengan hangat.
"Oh iya, sekarang di mana Ibu?"
Audrey melepaskan pelukan dan mengode pada kakak sulungnya, seolah juga ikut bertanya.
"Mungkin di belakang,nemenin Alula,Mesya lagi mandi," ucap pria itu.
"Alula?" tanya Baim bingung.
"Keponakan kamu," jawab ayahnya segera. Baim sempat terdiam,tapi selanjutnya dia menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.
"Namanya cantik,Baim jadi penasaran sama anak kalian."
"Ya udah,itu Ibu di teras belakang,Alula suka rewel kalau jam segini."
Baim mengangguk,pria itu menegarkan hatinya untuk melihat keponakan yang seharusnya adalah menjadi anaknya,bukan keponakannya.
"Ibu...!!" teriaknya riang.
Mirna sontak saja kaget karena putranya itu untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah itu setelah sekian lama menghilang.
"Baim!!!"
Baim memeluk wanita paruh baya yang memenuhi ruang rindunya,air matanya tak mampu dibendung lagi.
"Baim kangen sama Ibu...maafin Baim ya,Baim ga pernah pulang," ucapnya seraya mencium pipi kiri,kanan, wanita paruh baya itu.
"Ibu juga kangen kamu,Nak. Kamu sehat, sayang?"
"Alhamdulillah sehat."
"Ibu khawatir sama kamu,tapi kata adik kamu,kamu sibuk makanya ibu ga mau ganggu."
"Ini Baim pulang karena dia bilang kalau Ibu lagi sakit, ternyata Baim dikerjain biar bisa hadir di acara perpisahan sekolahnya doang," ucap Baim terkekeh, bisa-bisanya dia tertipu Audrey.
"Anak itu!!" ucap Mirna sedikit kesal pada putrinya.
Beberapa saat mereka lupa akan anak kecil di kursi dorong,suara tangis bayi mungil itu langsung menyadarkan keduanya.
"Eh,Alula...hustt sayang jangan nangis,ini ada Om gantengnya pulang." Mirna menggendong bayi tersebut,entah kenapa Baim tak mampu menahan senyumnya melihat bayi mungil itu.
"Biar Baim yang gendong,Bu." Baim mengulurkan tangannya untuk menerima tubuh mungil Alula, memindahkannya ke dalam gendongannya.
"Hustt sayang,baru ketemu sekarang ya sama,om? Maafin om ya!" Pria itu mengecup pipi gembul bayi cantik yang bernama Alula itu.
Baim menilik wajah bayi itu,sangat mirip dengan Mesya,ibunya. Tapi hidungnya yang mancung lebih ke ayahnya,Hendra. Perpaduan yang sempurna di antara sepasang suami istri tersebut.
"Kamu udah makan,Nak?"
"Belum," jawabnya sekenanya,karena dia memang belum makan apapun dari tadi pagi,selain sepotong roti yang dia beli di minimarket depan rumahnya yang di Jakarta.
"Ya udah, kamu bisa,kan, temenin Alula sebentar? Ibu mau masakin makanan kesukaan kamu."
"Bisa dong,Bu. Makasi ya."
"Iya."
Mirna menepuk bahu putranya pelan sebelum dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Sekarang,hanya ada Baim dan bayi mungil dalam gendongannya.
"Alula sayang, kenalin,ini om kamu,om Baim," ucapnya lembut,seraya mencium pipi Alula lagi.
Setelah menggendong bayi mungil itu, perasaan Baim berubah aneh,dia menjadi semakin merasa bersalah karena masih membiarkan Mesya tinggal di hatinya. Kehadiran Alula adalah bukti kebahagiaan mereka,Baim tersenyum melihat senyum lucu yang Alula tampilkan.
Tanpa dia ketahui, seseorang tengah mengawasinya di belakangnya. Ada ibu dari bayi itu yang sedang tersenyum melihat mereka. Saat Baim berbalik,dia menemukan gadis itu tersenyum padanya.
"Hey,Mey," ucapnya kikuk.
"Mas,kamu...kapan pulang?" tanya Mesya ragu-ragu.
Baim terkekeh,Mesya masih memanggilnya dengan embel-embel mas,seperti dulu.
"Sekarang biasain,jangan panggil mas lagi,cukup sama Bang Hendra aja manggil masnya,sama aku jangan! Aku kan sekarang Adik kamu," ujarnya terkekeh, sebenarnya dia hanya menertawakan dirinya yang miris.
"Eh,tapi.."
"Panggil Baim aja," ujarnya lagi,seraya melempar senyum pada gadis itu.
"I-iya,Baim," ucap Mesya lirih,dia belum terbiasa memanggil dengan nama seperti itu.
Hening!!!
Jelas kekikukan pada keduanya.
"Alula..siapa nama panjangnya?" tanya Baim membuka percakapan.
Maklum,ini kali pertama dia bicara dengan gadis itu setelah dia ditinggal nikah.
"Alula Natasya Wirawan," ucap Mesya pelan,tak lupa menyunggingkan senyum di bibirnya yang tanpa dia tau telah mengaduk perasaan adik iparnya.
"Wirawan," ulang Baim dan terkekeh, "dulu harusnya Gunawan," ucapnya terkekeh.
Ucapan Baim tadi membuat Mesya menghilangkan senyum di bibirnya, berganti tatapan tak enak pada Baim.
"Eh, maaf. Tadi aku cuma bercanda doang,Mey. Maaf ya,aku ga ada maksud apa-apa." Baim mengutuki dirinya yang tak berpikir dulu sebelum bicara,Mesya pasti tak enak padanya.
"Ga pa-pa,oh iya,kamu..kapan nikah?" tanya Mesya mencoba sesantai mungkin,karena dia memang perlahan bisa melupakan pria itu.
"Hahahaha."
"Kok malah ketawa gitu?" Mesya duduk di kursi di sana, sementara Baim masih menimang keponakannya.
"Kamu pertanyaannya lucu,sih."
"Lucu? Di mananya?"
"Gimana mau nikah,orang sampai sekarang aja masih belum nemu yang cocok," ucap Baim seraya menghela napas panjang.
Hening!!
Lagi-lagi mereka kehilangan topik pembicaraan.
"Kamu...udah bisa lupain aku,kan?" tanya Mesya pelan,sangat pelan,dia takut menyinggung Baim.
Baim menoleh dan menatap lekat wajah gadis di depannya,lalu dia menghembuskan napas panjang.
"Menurut kamu?"
"Im,aku..."
"Shutt..tadinya iya,aku ga bisa lupain kamu,tapi aku ga bisa dong jadi pria bodoh yang gila karena ditinggal nikah."
"Jadi,kamu...."
"Aku ga lupa kok sama kamu,aku tetep inget kalau kamu adalah Kakak iparku,dan artinya aku tak boleh punya perasaan lain lagi sama kamu."
"Syukurlah.." Mesya menghela nafas lega.
'Aku bohong, Mey. Cuma kamu yang selama ini ada di hatiku. Bagaimana bisa aku akan lupa sama kamu secepat itu,' batinya.
"Kamu.. sekarang udah jatuh cinta,kan, sama Bang Hendra?" tebak Baim.
Mesya hanya tersenyum, "dulu rasanya sulit untuk dipercaya, aku pernah berpikir tak bisa jalani semua ini. Tapi, dugaan ku salah,Mas Hendra memberikan perhatian lebih ke aku,cara dia memperlakukan aku, sama dengan kamu dulu. Semua memang aneh, setelah kami memiliki Alula,aku menjadi yakin kalau aku sudah jatuh cinta padanya." Mesya tersenyum manis menceritakan perasaannya,yang tanpa dia tau,Baim ingin menangis karenanya.
"Selamat ya, semoga selalu bahagia."
"Aamiin,kamu juga harus cari kebahagiaan kamu,Mas."
"Kok mas lagi?"
"Eh,iya, Baim."
Mereka berdua tertawa riang,Baim menertawakan dirinya, sementara Mesya tertawa karena tadi salah memanggil Baim dengan panggilan mas.
"Alula mirip kamu," ucap Baim setelahnya.
"Anak aku!!" balas Mesya dengan riangnya.
Seseorang dari balik tiang, tersenyum manis melihat mereka yang sudah mulai akrab lagi,dia mendengar semua percakapan mereka tadi. Pria itu tak lain adalah Hendra, Hendra bersyukur karena Baim bisa melupakan perasaannya pada Mesya dan dia bersyukur karena Mesya sudah mencintai dirinya, seperti dia yang sudah mencintai gadis itu sejak mereka sering bertemu.
"Abang yakin,Im. Kamu bisa dapatkan gadis yang terbaik. Maafkan,abang. Seharusnya kamu yang menjadi ayah Alula,bukan abang." Pria itu menghela napas berat,dia ingat suatu kejadian yang membuat dirinya harus menikahi Mesya,gadis yang sekarang menjadi istrinya.