Seorang pria dengan jas hitamnya duduk termenung di sebuah kursi taman belakang rumah kediamannya,di depan sudah ramai orang, tamu-tamu undangan memenuhi halaman depan dan taman samping rumah itu,ya, sebuah pesta pernikahan dengan tema outdoor sedang berlangsung di sana. Pria dengan jas hitamnya itu masih termenung dengan tatapan kosong ke depan.
"Nak,kamu baik-baik saja,kan?"
Sebuah tangan dengan lembut menyentuh bahunya serta menanyakan keadaannya,pria itu tersenyum.
"Baim baik-baik aja,Bu." jawabnya pelan, berusaha menarik ujung bibirnya untuk menyunggingkan senyum manis.
"Nak,Ibu ini Ibu kamu,Ibu bisa lihat kesedihan kamu. Maafin Ibu ya,harusnya Ibu ga minta kamu pulang untuk hadiri acara ini, harusnya...."
"Shut...Ibu ga salah,kok. Kalau Ibu tega ga kasi kabar ini ke Baim,Baim bakal sedih banget,Bu.
Sekarang,kalau Ibu kira Baim sedih,baru Ibu salah,Baim ga sedih kok,Baim seneng malah lihat mereka bisa bersama," pria yang bernama Baim itu berusaha menahan rasa sesak di dadanya ketika setiap kata yang dia ucapkan tadi keluar begitu saja dari bibirnya.
"Kamu beneran ga kenapa-napa?" tanya sang ibu memastikan.
"Enggak, mending sekarang kita ke depan,ga enak sama tamu," ucapnya meyakinkan.
Baim merangkul Mirna ke depan,pria itu sangat menyayangi ibunya. Walaupun dia tidak tinggal serumah dengan orang tuanya dan sudah menjadi anak angkat dari pengusaha kaya raya,tapi pria itu tak pernah lupa diri. Dia mau menjadi anak angkat dari Wijaya karena dia tau kebaikan pria paruh baya itu pada keluarganya,dan selain itu,Wijaya adalah ayah dari sahabat terbaiknya,itu sebabnya dia tak menolak kala Wijaya membawanya ke Jakarta dan tinggal di sana,toh dia bisa belajar dan menjadi bagian dari para pembisnis juga.
Baim duduk bersama adiknya, sementara ibu dan ayahnya berada di bagian depan bersama keluarga mempelai perempuan. Mereka menyaksikan dua mempelai itu duduk bersanding di depan penghulu. Baim harus menegarkan hatinya,tak ingin siapapun tau bahwa saat ini dia sedang hancur. Bagaimana tidak,gadis yang menjadi mempelai perempuan itu adalah kekasih yang pernah menemaninya selama bertahun-tahun dan akan dihalalkan tepat di hari ulang tahun gadis itu,dua hari lagi. Tapi,sayangnya takdir berbicara lain untuk mereka. Gadis yang dicintainya sudah bersanding dengan Hendra,abangnya sendiri.
Selang beberapa menit,sorak para tamu menyerukan kata sah terdengar begitu riang, memenuhi seluruh penjuru. Mereka semua bahagia,begitu juga dengan Baim, meskipun bulir bening mengalir di sudut matanya,dia menghela napas panjang dan menarik sudut bibirnya.
"Mas,mau kemana?" tanya Audrey kala Baim berniat bangun dan ingin menjauh dari sana.
"Mas mau ke toilet bentar,kamu diem di sini."
"Alah.. paling juga mas mau nangis,ya kan? Udah,jangan cengeng, syukur-syukur jagain jodoh Abang sendiri dari pada jagain jodoh orang, sia-sia dong. Jangan sedih dong," gadis itu sengaja menggoda Kakaknya karena dia tau hubungan mereka.
"Anak kecil sok bijak,udah diem di sini,mas kebelet ini."
Pria itu melepaskan tangan adiknya,dan melangkah ke dalam rumah. Acara terus berlanjut karena acara pernikahan ini dilangsungkan dengan acara resepsi setelah kalimat pencerahan untuk pengantin. Satu per satu dari tamu-tamu itu menyalami mempelai yang ada di pelaminan, sementara Baim di ujung sana hanya tersenyum getir,dia menarik napas dalam-dalam, mengatur perasaannya agar tetap terlihat tegar.
"Kamu bisa Im,kamu bukan pria lemah,kamu bisa. Ini demi kebahagiaan mereka,mereka berdua adalah orang yang berarti dalam hidup kamu,jadi jangan sedih,jangan nangis." Dia mengusap air matanya dan kembali menarik napas panjang,menguatkan hati dan jiwanya untuk melangkah menuju pelaminan, berderet dengan tamu-tamu yang bergantian menyalami mempelai.
Sekarang,pria itu sudah ada di depan mereka berdua,dia tetap memasang senyum manisnya pada mereka. Wajah kakaknya juga sang istri begitu sendu ketika berada di depannya.
"Selamat ya,semoga kalian bahagia," ucapnya menjabat tangan pria yang menjadi suami gadis itu.
"Im,kamu..."
"Apa Bang,jangan sedih gitu mukanya,ini hari pernikahan kalian,masa pengantin sedih gitu, senyum dong!" ucapan Baim membuat Hendra langsung memeluk adiknya, orang-orang yang sempat tau hubungan Baim dan Mesya, menyaksikan mereka seolah sebuah drama yang menyayat hati.
"Maafin Abang,ya. Abang ga bisa cegah ini semua,Abang buat kamu kehilangan orang yang kamu sayang."
"Bang,Aku ga kenapa-napa. Aku ikhlas liat kalian,jangan merasa bersalah sama Baim," Baim membalas pelukan Hendra begitu erat, dilihatnya Mesya menitikan air matanya. Buru-buru Baim melepaskan pelukan mereka.
"Selamat ya,Mey. Semoga sakinah mawadah warahmah,Bang jaga Mesya,ya!"
Hendra hanya bisa mengangguk,Baim menjabat tangan Mesya yang dia rasakan bergetar saat di sentuh pria itu.
"Jangan sedih,aku baik-baik saja. Kamu harus bahagia,tugas aku jaga sudah selesai."
"Terima kasih," ucap Mesya dengan suara bergetar.
Baim segera turun dari sana karena tak ingin menimbulkan kekacauan karena nantinya Mesya akan menangis dan membuat semua orang bertanya-tanya,dia menarik napas dalam-dalam dan berusaha baik-baik saja di depan semuanya.
Orangtua Mesya bahkan memeluknya sebelum dia menjauh dari para tamu undangan.
"Ayah yakin,kamu bisa dapatkan yang lebih baik dari anak gadis ayah,kamu harus kuat ya,Nak. Terima kasih sudah menjaga Mesya selama ini, sampai kapanpun,kamu juga tetap anak ayah dan Ibu," ucap pria paruh baya yang tak lain adalah ayah dari mempelai perempuan.
"Terima kasih,Yah."
Baim tersenyum dan segera menjauh dari mereka sebelum air matanya kembali tumpah.
****
Setelah acara selesai,Baim berniat pulang ke Jakarta, mengubur dalam-dalam perasaannya dan menjauh dari pasangan baru itu. Namun,sayangnya hal itu tak bisa terjadi,sehari setelah acara itu,ibunya mendadak sakit karena kecapean dan banyak pikiran.
Mereka membawa Mirna ke salah satu rumah sakit di sana,dan Mirna dinyatakan mengalami gangguan di bagian ginjalnya,mereka heran karena sebelumnya wanita paruh baya itu tetap terlihat baik-baik saja selama ini. Alhasil,Baim mengurungkan niatnya untuk pulang ke Jakarta dan memilih menemani ibunya untuk bolak-balik cek ke dokter,dia tak akan tenang kalau balik ke Jakarta sementara ibunya tak baik-baik saja di Bandung.
"Im,kamu...."
Baim menaikkan sebelah alisnya heran karena abangnya menggantungkan ucap dan menatap adiknya dengan tatapan sendu.
"Kenapa,Bang? Ada yang mau di omongin sama Baim?" pria itu mendongak untuk manatap abangnya yang masih berdiri.
"Kamu beneran ga marah sama abang? Tapi,sumpah Im,abang juga ga bisa menghindar,semua terjadi begitu cepat dan abang...arrhh,Abang benci diri sendiri yang terlalu naif waktu itu percaya begitu saya pada mereka."
Lagi,Hendra lagi-lagi minta maaf pada Baim atas pernikahannya dengan Mesya,semuanya bukan keinginan dia atau Mesya,tapi keinginan kedua orang tua mereka. Semua itu bukan hanya keinginan, tapi lebih ke paksaan dan harus di lakukan,entah kesalahan apa yang mereka perbuat.
Baim menghela napas panjang,ini sudah tepat seminggu pernikahan mereka,tapi pria itu terus-terusan meminta maaf pada Baim setiap dia menemui adiknya di balkon kamar.
"Bang,Baim tau Abang ga akan tega ngelakuin itu pada Baim kalau bukan karena jebakan, tapi Abang harus terima semuanya seperti Baim yang berusaha terima semua ini,kalau Abang terus-terusan begini,kasian Mesya,kasian anak kalian.
Anggap saja ini jalan takdir untuk menyatukan kalian, meskipun..hhh,awalnya Baim tak terima,tapi sekarang Baim yakin,akan ada yang terbaik untuk Baim,dan Mesya,memang ditakdirkan menjadi bagian keluarga kita lewat pernikahannya dengan Abang,bukan Baim."
Hendra memeluk adiknya,air matanya kembali mengalir.
"Makasi ya,Im. Kamu udah ngertiin posisi Abang."
"Sampai kapanpun Abang tetep Abangku jadi merasa bersalah dan membuat kita jadi renggang,Baim cuma minta,jaga dia dan cintai dia," ucapnya lirih.
"Abang usahain itu,Im."
Baim mengangguk mengiyakan,pria itu sudah tau cerita asal muasal kenapa mereka dipaksa untuk menikah. Baim tak bisa salahkan siapapun karena keduanya berada di posisi yang sama dan dia juga tak bisa menyalahkan takdir karena semua sudah terlanjur terjadi, sekarang Mesya sedang mengandung anak dari Hendra yang artinya itu adalah keponakannya,mau tak mau dia harus benar-benar mundur dan menghapus Mesya dalam hatinya, meskipun dia tak yakin bisa melakukan hal itu.
"Aku melepas mu bukan karena aku tak cinta lagi padamu,tapi karena aku terlalu mencintaimu. Aku akan tabah lewati ini semua karena aku tau kau bersama dia,pria yang aku sayang juga dan aku yakin dia bisa membahagiakan kamu.
Terkadang cinta tak harus memiliki, seperti kamu dan aku.
Cukup sampai di sini perjuanganku untuk bisa menghalalkan kamu dan menjadikan kamu Ibu dari anak-anakku. Sekarang,jadilah yang terbaik untuk dia,dia juga sama sepertiku dan aku yakin dia akan menjaga kamu sebaik-baiknya.
Tak ada lagi Kita di antara kamu dan aku,aku melepasmu dengan ikhlas jadi berjanjilah untuk berbahagia dengan Hendra,Abangku."
Kertas putih dengan seuntai kata perpisahan itu di peluk oleh gadis cantik dengan mata sembabnya,hari ini dia berada di rumah orang tuanya tanpa sang suami dan dia membuka surat yang di berikan mantan kekasihnya saat mereka bersalaman di atas pelaminan.
Tangis Mesya pecah kala membacanya,ini hari pertama dia membuka kertas itu setelah seminggu lamanya menyimpannya tanpa berani membuka,gadis itu kuasa menahan air matanya karena bayang-bayang kenangannya bersama Baim terus melintas di benaknya,tapi dia harus terima semua akibatnya karena di sini dia yang salah,bukan Kekasihnya itu.
Mesya benci pada dirinya sendiri yang terlalu naif sehingga bisa percaya pada orang yang salah.