Setelah mendapatkan telepon dari Risma untuk memintanya segera pulang, Baim langsung menuruti wanita paruh baya itu. Meskipun hatinya belum sanggup bertemu Wijaya di sana karena rasa kecewanya, tetapi Baim tak akan bjsa menolak sang mama yang sudah memintanya untuk pulang. Jelas terdengar suara khawatir wanita itu di seberang telepon. Baru saja Baim berniat masuk ke dalam rumah, Wijaya keluar di ikuti sang istri. "Im, ayo pergi, papa mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap pria itu. Baim menghela napas, "Kemana?" Sungguh, dia sedang malas berbicara untuk saat ini. "Nak, ikut dengan Papa ya, Sayang. Nanti kamu juga tau mau ke mana. Jangan cemberut gitu mukanya." Risma menangkup wajah putranya. Baim menarik ujung bibirnya dan tersenyum manis. "Iya, Mah." "Ayo, kita tak punya banyak

