"Kevin?" Cicit Zizi, wajahnya sepucat mayat. Hawa dingin terasa kuat menyelimuti hatinya. Tidak menyangka kehadiran Kevin yang tiba-tiba berada di sampingnya. Wajah Kevin yang beku, lehernya pun mengurat. Membuat Zizi langsung ketakutan.
Trak ….
Kevin mengambil paksa piring di tangan Zizi, meletakkan kembali di atas meja. Tangan kokohnya menggenggam kuat jemari Zizi, lalu menarik paksa keluar dari ruang pesta.
"K-kevin, kita mau kemana?" Tanya Zizi takut-takut. Ia terus menyeret kakinya mengikuti Kevin yang berjalan cepat. "Kevin, ku mohon, jangan marah! Aku tahu, aku salah, tidak minta izin dulu sama kamu tentang masalah ini. Tapi, percayalah. Aku melakukan semua ini hanya untuk penyelidikan kita. Agar kamu bisa bicara langsung dan menyelidiki nyonya Rezza lebih dekat. Le …, lepaskan tanganku, Sakit …." Rengek Zizi sambil menarik-narik tangannya, tapi percuma, Kevin tidak mau mendengarnya, dia tetap menarik Zizi menuju basemen, dalam diam.
.
"Kevin, kumohon … jangan marah dulu, kita bisa bicara baik baik, dengerin penjelasan ku dulu, aw ...." Zizi terpekik saat Kevin tiba-tiba langsung mendorong tubuh Zizi melesak ke mobil bagian belakang.
"Kamu benar-benar wanita kura*ng aja*r. Berani sekali kau menjualku pada wanita tua itu, hah? Kau akan menyesal, Zi. Sudah menjadikan aku gi*golo" Kevin mendorong bahu Zizi, hingga menyandar di kursi. "Kalau kau bisa membuatku jadi gi*golo, maka aku bisa membuatmu jadi pela*ur. Aku baru tahu, ada wanita sebusuk dirimu. Kau adalah perempuan jaha*nam" Mata Kevin melebar, wajah nya bengis. Membuat mata Zizi seketika berawan, satu tetes air pun jatuh. Hatinya sesak, benar-benar tidak menyangka reaksi Kevin yang sangat murka.
"Kevin, aku …." Lirih Zizi dengan suara bergetar, saat mobil sudah mengebut di jalanan.
"Berhenti mengoceh, atau aku akan melempamu keluar dari mobil sekarang juga" Ancam Kevin, milirik sejenak dari spion mobil. Bentakan Kevin seketika membungkam bibir Zizi.
Ciiittt ....
Kevin menghentikan mobilnya di depan gedung berlantai tiga, bertuliskan cafe dan pub. Dari luar samar-samar terdengar dentuman bunyi musik hingar bingar. didepan pintu, dua orang pria bertubuh gempal berdiri kokoh.
Saat tangan Kevin hendak membuka pintu matanya menangkap wajah Zizi yang sedang menangis. Bukh …. Kevin memukul kemudi mobil frustasi, mengapa hati nuraninya harus muncul di saat yang salah? Ia ingin sekali menjual tubuh Zizi dalam pub tersebut. Tapi sayang sekali, hatinya sangat lemah ketika melihat Zizi menangis. Kevin akhirnya meninggalkan pub tersebut tanpa berkata apapun.
Di jalan raya, keadaan di dalam mobil kembali sunyi, sesunyi jalanan di malam hari yang kian larut. Zizi pasrah saat Kevin membawanya kemana saja. Dia bahkan tidak tahu jika pria itu membawanya keluar kota. Yang ia lakukan selama perjalanan adalah menutup wajahnya dengan tangan, lalu menangis dalam sunyi. Takut jika mengeraskan suara justru membuat Kevin semakin marah. Hatinya merasa bersalah dan juga takut, ketika mengingat wajah Kevin yang terlihat seperti ingin membu*nuhnya.
Tiba-tiba mobil berhenti, membuat Zizi langsung membuka wajahnya. Zizi tidak tahu ada di mana dirinya, semua nya gelap. Tidak ada satu pun rumah yang nampak di daerah itu. Hanya ada rerimbunan pohon yang gelap menyebar di sepanjang jalan. Hanya ada satu lampu di daerah itu, dan itu masih jauh.
"Turun, Zi!" Tegas Kevin, dia berdiri di luar pintu, dan membuka lebar pintu belakang.
Dahi Zizi berkrenyit, sesekali bola matanya berkeliling, mengawasi keadaan sekitar yang gelap. Namun ia tidak berani bertanya, mengapa Kevin menyuruhnya turun. Zizi pun turun tanpa berani bertanya.
Saat Zizi sudah ada di luar, Kevin segera menutup pintu, ia berputar lalu naik ke dalam mobil.
Brum ….
Mesin mobil kembali menyala, dan dengan cepat pergi meninggalkan Zizi.
"Tunggu, Kevin … berhenti! Aku masih di luar!" Zizi menggedor gedor pintu mobil yang mulai berjalan, tiga detik kemudian, mobil sudah menjauh dari Zizi.
"Kevin …. Tunggu …." Teriak Zizi sambil terus berlari mengejar mobil Kevin. Bahkan sepatu hak tingginya lepas begitu saja dari kaki. Dengan berurai air mata dan hati yang ketakutan Zizi terus berteriak dan berlari, mengejar mobil Kevin yang semakin jauh dari pandangan.
Zizi tidak peduli. Kaki-kaki rampingnya terus berlari tanpa alas. Menyusuri jalanan yang gelap, tanpa lampu. Ada sebuah lampu, dan itu masih sangat jauh.
"Kevin, tunggu aku ...." Teriak Zizi lagi sambil terus berlari tanpa putus asa. Rasa bersalah dan menyesal menggerogoti hatinya. Ia tidak mengira Kevin akan semarah ini pada nya.
"Kevin ... Jangan tinggalin aku sendiri di sini ..." Zizi terus saja berlari tidak peduli mobil Kevin yang mulai hilang di telan kegelapan. "Kevin ... Aku minta maaf. Jangan tinggalin aku di sini sendiri. Aku takut ..." Lanjut Zizi.
Brukh ….
Tubuh Zizi kelelahan dan ambruk di tengah jalan, ia tidak peduli jika nanti ada mobil yang lewat. Itu malah bagus. Dia bisa menumpang mobil yang lewat.
Mata Zizi berkeliling, bulu kuduknya seketika meremang. Ia tidak tahu ada di daerah mana. Baru kali ini Zizi tahu ada tempat seperti itu.
Tempat yang hanya di tumbuhi pepohonan. Sepanjang mata memandang, tidak ada satu pun rumah yang terlihat. Hanya ada pepohonan dan semak belukar yang di selimuti kegelapan malam.
Jangan kan lampu, bulan pun tidak mau menampakkan dirinya. Zizi takut. Dan semakin takut ketika terdengar bunyi ranting ranting pohon yang saling bergesekan karena terkena tiupan angin.
Suara hewan hewan malam pun mulai terdengar. Sehingga menambah suasana semakin mencekam. Zizi duduk di tengah jalan sambil menangis tersedu sedu.
"Kevin, Tega nya kamu membuangku di sini. Hu ...."Zizi menangis sendiri. Ia bahkan tidak membawa ponsel nya. Clutch nya tertinggal di dalam mobil Kevin.
Tiba tiba dari dalam semak semak terdengar suara dengusan dengusan aneh. Zizi sangat takut. Rasa takut nya semakin memuncak saat ada bayangan hitam yang meloncat keluar dari dalam semak semak. Saat itu juga, Zizi terjatuh ke aspal. Dan kesadaran nya menghilang.
Bersambung ….