Zizi berdiri di depan cermin lebar. Mengamati baju nya yang manis dan anggun. Gaun putih selutut berbahan kain brukat sangat cocok di tubuh indah nya. Walaupun baju itu panjangnya di bawah lutut, dan tanpa lengan, Zizi tetap terlihat cantik memukau.
Walaupun dia cantik, tapi Zizi sangat bodoh dalam urusan memakai makeup lengkap. Dia sampai memanggil Rena - sahabatnya - untuk mendandani dirinya.
Zizi sudah mempersiapkan semua keperluan pesta. Undangan. Pin baju berbentuk bintang. Dan tentu saja Kevin harus hadir. Karena kunci ia datang ke pesta itu adalah kehadiran Kevin. Rena baru saja pulang saat Kevin tiba di rumah nya.
Zizi tersenyum saat mobil Kevin datang. Hati Zizi harus dalam keadaan baik saat melakukan Misi ini. Misi? Bukannya penyelidikan? Ah lihat saja nanti.
Ya, sebelumnya Zizi memang mengatakan pada Kevin, bahwa pesta ini sebenarnya bagian dari penyelidikan, tanpa Kevin tahu ini lebih dari sekedar penyelidikan. Zizi harus menyembunyikan tujuan yang sebenarnya dari pesta itu. Karena ia tahu. Kevin pasti menolaknya mentah mentah.
"Sudah siap?" Ucap Kevin saat melihat Zizi keluar dari rumah, ia duduk di salah satu kursi di teras rumah. Dan Zizi mengangguk. "Tapi, apa yang mau kamu lelang? Kamu punya barang berharga?" Hidung Kevin berkerut.
"Punya, ada di dalam sini" Zizi menepuk pelan clutch nya.
"Coba lihat, apa pantas barang mu disebut barang berharga?" Tanya Kevin ragu. Memperhatikan seksama tas Zizi. Zizi pun buru-buru menyembunyikan clutchnya di balik tubuh.
" Aku akan memberitahumu di tempat lelang. Di jamin deh, kamu pasti akan berterima kasih pada ku" Zizi tersenyum cantik.
Kevin mengangkat sekilas bahu kekarnya. "Terserahlah, ayo berangkat" Kevin berjalan duluan kembali ke mobilnya. Dan di ikuti Zizi di belakangnya.
Zizi duduk tidak nyaman di samping Kevin. Roknya yang selutut agak naik ke atas ketika dia duduk. Dan ini membuat Zizi salah tingkah.
"Kamu ambeien?" Tebak Kevin saat mobil sudah melaju di jalanan. Mata nya memperhatikan Zizi yang sejak tadi belingsutan di atas kursinya.
"E-enggak kok. Aku …, hanya gugup saja. Hehe …." Ucap Zizi salah tingkah. Sesekali tangannya menarik roknya agar menutupi lutut, tapi hasilnya sama rok itu kembali seperti semula.
Kevin membuang kasar nafasnya. Ia tahu Zizi sedang tidak nyaman dengan bajunya yang agak kependekan. Berbeda dengan Maria - mantan Kevin. Dulu, wanita itu justru lebih senang memakai baju serba mini dan kurang kain. Bangga bila bisa memperlihatkan anggota tubuhnya yang seksi. Dan semakin girang ketika Kevin memujinya cantik.
Zizi berbeda. Dia justru bersikap malu malu, padahal kakinya jelas jelas sangat indah dan seksi. Lebih indah dari Maria.
Srak ….
Kevin melemparkan bantal kecil ke pangkuan Zizi.
"Terima kasih" ucap Zizi tersipu. Ternyata Kevin mengerti apa yang membuatnya tidak nyaman.
"Kalau kamu tidak nyaman pakai baju seperti itu, kenapa malah memakainya? Pakai saja baju yang lebih panjang seperti biasanya"
"Tadinya aku juga mau pakai baju yang agak panjang, tapi kata Rena, aku kayak mau ke pengajian" sungut Zizi.
Tring tring tring ....
Zizi mengangkat ponselnya. Tante Molly menelponnya.
"Assalamualaikum, Tante. Ada apa?"
"Wa alaikum salam Zi. Gimana, Kevin …, udah ngasih sesuatu sama kamu?" Suara Tante Molly terdengar semangat.
"Sesuatu? Apa itu, Tante? Dia tidak memberiku apa-apa." Zizi melirik Kevin yang sedang berkendara. 'Aneh, Kenapa dia terlihat gelisah?' Zizi bertanya-tanya dalam hati.
"Sebentar, berikan telpon nya sama Kevin dulu" Zizi pun menempelkan ponselnya di telinga Kevin.
"Iya …. Sorry, aku lupa. Bye …." Ucap Kevin pada ibunya.
Setelah menyimpan ponselnya. Dahi Zizi berkerut. Tidak mengerti, mengapa Kevin tiba tiba menghentikan mobilnya, di tepi jalan. Keadaan mobil yang gelap, membuat Zizi bertanya tanya apa yang akan di lakukan Kevin. Kenapa ia tidak menyalakan lampu mobil? Zizi agak takut, ia takut Kevin melakukan hal hal kotor seperti waktu dia mengintai di rumah nyonya Rezza.
Sambil terus berdoa di dalam hati, mata Zizi mempwrhatikan tangan Kevin yang merogoh saku jasnya. Dan ia tidak bisa melihat apa yang di keluarkan Kevin dari kantong jas nya.
"A-apa yang kamu lakukan?" Bibir Zizi gemetar saat tangan Kevin menarik tangannya.
Bibir Kevin tidak bersuara, namun tangannya perlahan memakaikan sebuah gelang rantai warna silver, terlihat elegan dan mewah. Berkilau cantik ketika terkena lampu dari luar.
"Terima kasih untuk gelangnya. Aku akan mengembalikan selesai acara nanti" ucap Zizi sambil memutar-mutar gelang di tangannya.
"Tidak perlu di kembalikan. Itu untukmu"
"Untuk ku? Kenapa? Kamu nggak salah? Ini …, terlalu cantik" mata Zizi berembun.
"Itu bukan untukmu, tapi kucing mu" tukas Kevin.
Bibir Zizi mengerucut. Apa susahnya mengatakan 'iya'? Kevin selalu saja membuatnya marah. Mana ada kucing pakai gelang? Lagipula Zizi tidak punya satu ekor pun kucing.
Kevin lalu menghidupkan mobilnya. Ia tidak tahan melihat reaksi wajah Zizi yang bahagia karena dapat gelang murahan itu. Sebenarnya gelang itu hasil pemaksaan yang di lakukan Mommynya. Beliau memaksa agar Kevin membelikan sebuah gelang. Awalnya Tante Molly hendak memberi Kevin uang, namun Kevin segera menolaknya, dan segera bergegas mencari gelang. Sebelum bubir Mommy nya mengomel. Benar-benar tidak ada yang spesial dari gelang itu. Modelnya pun dicarikan oleh pegawai toko.
Dan reaksi Zizi benar-benar tidak di sangka oleh Kevin. Seolah wanita itu belum pernah punya perhiasan. Gelang yang harganya hanya satu jutaan itu sangat di sukai Zizi. Zizi pasti benar-benar bodoh, tidak bisa membedakan perhiasan mahal dan murah. Berbeda dengan Maria. Mantan tunangannya tersebut sangat pintar menilai perhiasan, hanya dengan melihatnya saja, dia tahu kisaran harga perhiasan itu. Dan Maria hanya menyukai perhiasan dengan harga 10 juta ke atas.
Walaupun dua wanita itu berbeda, tapi ada yang sama dari mereka. Mereka sama-sama matre.
Mata Zizi terliahat sendu, menatap gelang di tangannya, di bibirnya terukir senyum yang sangat manis. dan tangannya terus memegangi gelangnya. Zizi yang terlihat bahagia, membuat Kevin bertanya tanya. Apakah dia tidak tahu jika itu gelang biasa-biasa saja?
"Kenapa kamu menangis?" Kevin melihat Zizi sesekali menghapus air matanya. Kevin melirik wajah Zizi dari spion mobil. Wajah sendu itu tetap terlihat cantik, bahkan semakin cantik. Bagaikan seorang bidadari yang turun dari surga, dan nyasar di dalam mobil Kevin. Kevin baru tahu, ada wanita yang secantik Zizi
"Aku …, aku …, hanya bahagia saja. Terima kasih. Ini pertama kali aku dapat perhiasan dari orang lain. Sudah lama aku tidak memakai perhiasan. Aku harus menghemat pengeluaran ku, Agar ayah bisa cepat keluar dari penjara. Sekali lagi, terima kasih untuk gelang nya. Ini …, sangat cantik"
"Kamu bodoh ya? Itu gelang murahan Zi"
"Tidak apa-apa. Mau murah atau mahal, kalau kamu tulus memberikan ini, aku sangat menyukainya. Nanti setelah acara selesai, Aku akan menyimpan nya dengan baik" Zizi tersenyum.
Clesss ....
Tiba-tiba gurun hati Kevin yang gersang dan panas tersiram air es. Rasanya dingin dan menyegarkan. Mendinginkan seluruh anggota tubuh Kevin, hingga ke dalam hatinya yang paling dalam.
Baru kali ini ada perempuan yang berterima kasih pada Kevin karena hadiah murahan yang ia berikan. Dan senyum itu terlihat sangat murni dan tulus, hingga membuat Kevin tersentuh. Maria saja yang dulu sering ia berikan perhiasan mahal tidak pernah mengatakan terima kasih. Wanita itu selalu mencium pipinya, memeluk tubuhnya, dan mengatakan 'kamu baik banget, Sayang'. Kevin masih ingat dengan jelas.
Tidak terasa, mereka sampai di hotel tempat acara lelang. Setelah menunjukkan undangan yang ia curi dari nyonya Rezza. Undangan yang Zizi ambil tanpa permisi ketika di suruh menulis nama nama di kartu undangan. Kevin dan Zizi lalu melengang masuk ke dalam ruang pesta.
Di dalam, Zizi duduk kaku di samping Kevin, wajah cantik nya tampak tegang dan berkeringat dingin. Ia takut, bagaimana jika Kevin nanti marah karena misi rahasianya?
Zizi sebenarnya bukan melelang barang berharga. Yang di lelang Zizi sebenarnya wajah dan tubuh Kevin yang sangat indah dan berharga.
Mata Zizi berputar-putar, melihat keadaan sekitarnya. Ada beberapa pria yang memakai pin bintang di dadanya, sama persis dengan pin bintang yang di genggam Zizi. Para pria berpin itu semua tampan. Ada yang memakai jas, ada juga yang berpakaian santai.
Nging ....
"Tes tes ...." Seorang pemandu acara sudah naik ke atas panggung.
"Assalamualaikum! Selamat malam ladys and gentleman .... Sebelum malam semakin larut mari kita mulai acara lelang malam ini.
Ini adalah acara sosial tahunan yang di lakukan oleh nyonya Rezza. Dan hasil lelang nanti akan di sumbangkan pada beberapa panti asuhan.
Berikan tepuk tangan yang meriah, untuk nyonya Rezza yang terhormat" sang pembawa acara mengarahkan kedua tangannya pada nyonya Rezza yang duduk di antara para tamu undangan.
Plok plok plok ....
Tepuk tangan meriah menggema di aula hotel. Memberikan semangat untuk wanita yang sudah berumur 55 tahun tersebut. Wanita itu berdiri dan melambaikan tangan pada para tamu yang memberinya tepuk tangan. Dan senyum lebar tak pernah lepas dari bibirnya yang mulai mengendur.
Saat Kevin sedang ikut bertepuk tangan, tiba-tiba tangan Zizi tanpa permisi menyematkan pin berbentuk bintang di jas Kevin.
Kevin ingin bertanya apa maksud Zizi memakaikan pin itu, tapi tidak jadi karena Zizi tiba-tiba berdiri, dia lalu memberikan tepukan meriah untuk nyonya Rezza. Dan bibirnya menyiul kencang, suwiwit …. Membuat Kevin tersenyum kecut. Malu dengan tingkah Zizi yang berlebihan.
"Baiklah para donatur, tanpa basa basi, mari kita mulai acara ini.
Lelang perjaka ....
Untuk para Star man yang terhormat dan tampan, silahkan naik ke panggung, tunjukkan pesona kalian yang mematikan.
Ayo pak security, mohon di bantu para Star man supaya cepat naik ke atas panggung, agar acara lelang ini secepatnya di mulai"
Kevin mulai bertanya tanya dalam hati. Ada yang tidak beres. Kenapa dia memakai pin bintang? Dan mengapa semua yang naik ke panggung memakai pin yang sama dengan dirinya?
Kevin menoleh ke arah Zizi. Menarik tangan wanita itu agar duduk lagi. Bibir beku Zizi tersenyum paksa ke arah Kevin. Belum sempat Kebun bertanya, Zizi sudah berdiri lagi. Menarik-narik lengan kekar Kevin agar ikut berdiri. "Ayo Kevin, naik lah ke panggung" ucap Zizi.
"Aku? Kenapa harus aku? Aku bukan Star man" Kevin menatap Pin bintangnya, dan kini ia mulai paham apa maksud Zizi. "Zizi apa apaan ini? Berani sekali kamu me lelang ku? Jadi tanda tangan tadi adalah tanda persetujuan ku?" Mata Kevin berkilat marah. Zizi takut, tapi dia harus terlihat biasa biasa saja.
"Ini hanya sandiwara Kevin. Kamu nanti tetap bebas dan hidup seperti biasanya" Zizi mendorong dorong tubuh Kekar Kevin agar maju ke depan.
Sebelum bibir Kevin mengomel lebih banyak, tiba-tiba seorang security yang bertubuh kekar menghampiri Kevin. Tanpa takut, walau Kevin lebih tinggi, Dia memegang lengan Kevin kuat-kuat. Lalu memaksanya naik ke panggung.
Di atas panggung, Kevin terlihat paling menonjol di antara peserta lelang yang lain. Selain mempunyai Paras tampan, Tubuh Kevin terlihat paling tinggi. Tubuh tingginya yang tegap dan atletis menambah daya tarik tersendiri.
Wajah tampan Kevin terlihat marah. Berbeda dengan peserta lain yang berjumlah sepuluh orang. Semua terlihat senang dan bahagia. Karena selain mendapat penghargaan pria tampan, mereka nanti akan dapat uang juga.
Star man di sini, bukanlah lelaki sembarangan. Ia harus mempunyai tinggi minimal dan mempunyai wajah yang tampan. Dan tentu saja, yang membeli nya adalah para wanita yang kebanyakan uang, seperti nyonya Rezza.
Dan para wanita wanita itu menjerit histeris ketika MC menunjuk satu persatu para Star man. Dan Kevin menjadi salah satu Laki laki yang paling di idolakan. Karena jeritan histeris tak henti hentinya ketika MC menunjuk Kevin. Akhirnya tiga laki laki paling di idolakan di lelang paling akhir termasuk Kevin.
Kevin terlihat semakin marah dan beberapa kali memelototi Zizi. Tapi Zizi langsung membuang muka. Seolah tidak melihat murka di wajah tampan Kevin.
Acara lelang perjaka pun di mulai. Harga paling rendah di mulai dengan harga 10 juta. Pria pertama pun terbeli dengan harga 15 juta. Dan 7 Star man pertama, terbeli dengan harga 15 sampai 25 juta.
"Silahkan kembali duduk para Star man yang tampan dan terhormat.
Jangan lupa kalian nanti tanggal 25 berkencan dengan pembeli kalian.
Sekali lagi saya ucapkan untuk para donatur, berkat kalian, panti asuhan kini tidak terlalu terbebani dengan anak asuh mereka.
Dan jangan khawatir para Star man. Say tekankan sekali lagi. Kalian bukanlah gi*golo, tapi kalian adalah pria tampan yang terhormat, karena kalian hanya akan melayani kencan sehari dengan pembeli kalian. Selain mendapat bagian dari hasil uang lelang ini, kalian juga dapat rekomendasi menjadi seorang model.
Oke. Mari kita lanjut acara yang semakin panas ini. Di panggung tersisa Pria pria pilihan dan terbaik. Mari beri tepuk tangan untuk Gentleman yang tersisa"
Tepuk tangan meriah pun terdengar, terutama di barisan perempuan pembeli. Mereka berteriak teriak histeris. Mereka bagaikan remaja yang bertemu dengan idola favorit nya.
Lelang pun di mulai lagi. Pria pertama terbeli dengan harga 80 juta. Pria kedua terbeli dengan harga 90 juta. Dan terakhir Kevin. Harga berhenti di 100 juta. Tapi tiba tiba ada wanita paruh baya berdiri, dia nyonya Rezza, dan dengan lantang menyebut angka 150 juta.
Tepuk tangan pun menggema lagi di aula hotel. Banyak siulan nyaring di mana-mana. Termasuk Zizi, dia melompat-lompat bahagia. Dia bahagia bukan karena Kevin sangat tampan. Tapi karena rencananya berhasil besar. Kevin di beli oleh nyonya Rezza. Dia bangga dengan feeling nya yang kuat, sejak awal dia percaya nyonya Rezza yang penyuka daun muda tersebut, pasti langsung ngiler ketika melihat Kevin.
Akhirnya Kevin terbeli dengan harga 150 juta. Harga yang fantastis untuk sekali kencan. Membuat Zizi geleng geleng kepala dengan ulah para wanita berduit itu.
Zizi tersenyum bahagia. Rencana nya 100 persen berhasil. Kevin di beli oleh nyonya Rezza.
Acara selanjutnya yaitu makan makan. Kevin turun dari panggung, sesuai perintah dari MC, Kevin harus menghampiri nyonya Rezza, untuk membuat janji kencan tanggal 25 mendatang. Tanggal 25 tinggal 7 hari lagi. Menentukan pula kemana mereka nanti akan melakukan makan malam.
Ketika Zizi akan mengambil nasi.
Tiba tiba Kevin mengambil piring nya, meletakkan kembali di meja. Kevin lalu menarik paksa tangan Zizi.
Ini lah yang paling di takuti Zizi.
Kemarahan Kevin. Tapi Zizi harus terlihat bisa menguasai perasaan takut nya. Dan meyakinkan Kevin, bahwa sebenarnya ini adalah cara paling mudah mendekat pada nyonya Rezza. Agar Kevin bisa mewawancarai nyonya besar itu dengan santai dan nyaman. 'Aku harus mengorek-ngorek informasi sebanyak-banyak nya dari dia, apakah dia yang sudah memfitnah ayahku'
Melalui asisten pribadi nyonya Rezza, Zizi pernah satu kali menelpon nyonya Rezza, kalau Zizi ingin bertemu langsung dengan nya untuk membicarakan sesuatu. Tapi nyonya Rezza menyuruh Zizi agar bicara di telpon saja. Zizi pun tidak mau, ia tidak bisa melakukan wawancara ini melalui telpon, apalagi dalam keadaan terburu buru.
Nyonya Rezza sangat sibuk sehingga sulit sekali untuk menemuinya tanpa janji. Dia pun jarang berada di rumah nya. Dia sering mondar mandir di seluruh tempat usaha nya. Ada banyak usaha yang dimiliki nyonya Rezza, bahkan ia punya yayasan sendiri. Dan yayasan itu sangat besar. Mulai dari perusahaan, gedung, Mall, sekolah dari TK sampai perguruan tinggi. Hidupnya bergelimang harta yang melimpah. Tapi sayang, dia tidak punya keluarga.
Kevin menarik paksa tangan Zizi keluar dari hotel. Dan dia tidak mendengar rengekan minta maaf dari Zizi. Ia membawa Zizi ke basemen. Membuka mobilnya, dan melemparkan Zizi ke kursi penumpang bagian belakang dengan kasar.
Bruk ….
Kevin menutup keras pintu mobil bagian belakang, lalu menguncinya. Dengan wajah merah dan beringas Kevin melajukan mobil kencang-kencang meninggalkan hotel, telinganya terkunci rapat saat Zizi meminta maaf. Rahangnya mengatup erat. Bibirnya mengeras tidak merespon sedikitpun bibir Zizi yang merengek minta maaf.
Bersambung ….