Seberkas cahaya senter masuk ke dalam mobil. Cahaya itu membuat Zizi semakin merapatkan tubuhnya dengan Kevin. Semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Kevin, dan dalam hitungan satu detik, bibir lembut Zizi mendarat di atas bibir Kevin.
Mata Kevin seketika terbelalak. Tidak percaya dengan tindakan Zizi. Tidak mengira gadis cantik nan manis itu ternyata sangat nekat. Berani mencium dirinya hanya untuk sebuah akting.
Tubuh lembut Zizi terasa nik*mat bergerak-gerak perlahan di atas tubuh keras Kevin. Tanpa Zizi sadari, has*rat bina*tang Kevin mulai berkobar.
Bibir Zizi terasa kenyal, lembut, dan sangat nik*mat ketika menyentuh bibirnya. Hampir membuat Kevin mengerang protes, karena bibir itu ternyata hanya diam. Tidak berusaha mencium Kevin lebih dalam. Hanya menempel di atas bibir Kevin yang mulai panas dingin.
Hingga satu menit kemudian, bibir Zizi masih saja membatu. Tidak mau mencium Kevin sungguhan. Membuat Kevin frustasi karena penasaran.
Tanpa Zizi duga, tiba-tiba tangan Kevin memegang erat bagian belakang kepalanya. Dan kini justru mata Zizi yang melotot, karena Kevin tiba-tiba melumat bibir nya, Menyesap nya mendalam. Dan saat Zizi ingin bangun dan protes dengan reaksi Kevin. Dia tidak bisa bergerak. Lengan kekar Kevin mengunci tubuhnya yang lebih kecil.
Ciuman Kevin penuh hasrat terpendam. Ciuman yang ia harap tidak akan pernah berakhir. Ciuman yang selalu ia mimpikan di dalam tidurnya. Dia kira itu sangat nikmat, tapi bibir nyata Zizi ternyata lebih nik*mat.
Bibir Kevin bergerak lincah, menyusuri seluruh bagian demi bagian bibir Zizi. Menyedotnya dengan penuh nikmat. Selalu mengulang ulanginya. Ketika Kevin hendak mencium lebih dalam, ia gagal. Tidak mengerti, bagaimana bisa Zizi meloloskan diri dari cengkeramannya.
Gadis itu memaksa mengangkat kepalanya. Mata Zizi terlihat linglung sama seperti mata Kevin. Tapi Zizi masih bisa menguasai akal sehatnya.
"A - apa yang kamu lakukan Kevin? Kamu tahukan, kita hanya pura pura ciuman, kenapa kamu....."
"Sstt .... Diam, Zi. security itu masih ada di luar" Kevin menghentikan ucapan Zizi dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Zizi. Suara Kevin serak, terlihat sedang memendam has*ratnya yang mulai bergejolak menggila.
Tanpa menunggu persetujuan Zizi. Kevin lalu menarik lagi kepala Zizi. Dan langsung menyambut bibir Zizi dengan kecupan hangat bibirnya. Menggigit pelan bibir Zizi, menelusuri bibir Zizi dengan lidahnya. Lalu mengulum bibir indah Zizi. Kevin pun menyedot dengan penuh kenikmatan bibir Zizi yang lembut dan kenyal. Hingga membuat Kevin mengerang pelan. Kevin tidak peduli mata Zizi terbelalak dan marah. Tangan kecilnya pun memukul mukul d**a bidang Kevin, tapi itu sungguh tidak ada artinya bagi Kevin.
Kevin lalu dengan mudah memutar balik posisi mereka. Kini Kevin berada di atas tubuh Zizi. Posisi yang di sukai Kevin. Ia lalu kembali menikmati bibir indah Zizi. Kevin pun mulai tidak terima hanya men*cium ringan bibit itu. Ia lalu menjelajahi bibir Zizi semakin dalam. Mencari cari di mana lidah nya. Lalu menyesap nya dengan nikmat ketika menemukan nya.
Tangan Kevin tidak mau kalah. Perlahan, sebelah tangan nya mengambil tangan Zizi yang memukuli dadanya. Kevin meremas kedua tangan pemberontak itu. Perlahan sebelah tangannya menyusuri kulit tangan Zizi yang terasa lembut dan halus. lalu membelai bahu Zizi yang terbuka. Menikmati kulit Zizi yang halus Zizi yang terasa dingin. Namun berkat tangan Kevin yang kokoh dan hangat. Kulit bahu zizi perlahan mulai menghangat.
Tangan Kevin lalu merambat semakin ke bawah. Ia sangat penasaran dengan milik Zizi. Saat tangan Kevin berusaha masuk melalui celah tengah d**a Zizi. Tiba tiba ia merasakan sangat kesakitan di telinganya.
Krauk ....
"Aaa …. " Kevin mengerang kesakitan. Karena Zizi menggigit telinganya.
Dengan ogah-ogahan, Kevin pun terpaksa mengangkat kepalanya. Ia melihat bibir Zizi cemberut, dan matanya menatap sengit ke arah Kevin. Rupanya gadis itu tidak senang dengan tindakan berlebihan Kevin.
"Ka-kamu sudah kelewatan Kevin. Aku nggak bermaksud sampai sejauh ini" Bibir Zizi bergetar, berusaha mengembalikan akal sehatnya.
"Maaf" ucap Kevin singkat, menundukkan kepalanya karena malu. Riak riak kenikmatan mulai terbang dari mata Kevin. "Maaf, aku terbawa suasana" ucap Kevin sambil menggaruk alis tebalnya, lalu mengangkat tubuhnya. Zizi pun bangun dan kembali ke tempat duduknya.
Saat Zizi berpindah. Tanpa sengaja tangan nya menyentuh klakson mobil.
Tiiiiinnn ....
Klakson mobil Kevin berbunyi keras. Memecahkan keheningan malam. Membuat Security yang tadi sudah menjauh, kembali menghampiri mobil Kevin.
"Ampun deh Zi. Lagi lagi kamu mengacau"
Kevin mennggaruk rambutnya frustasi. Inilah akibatnya jika bersama Zizi, gadis cantik itu tak pernah berhenti membuat kekacauan. Dan Zizi hanya tersenyum kecut.
Tok tok tok ....
"Buka jendelanya" Seorang Security mengetuk kaca jendela mobil. Wajahnya tidak terlihat jelas dari dalam mobil. Panas nya kedekatan tubuh Kevin dan Zizi tadi membuat kaca berembun dan buram.
"Zizi" Cicit sang security saat Zizi baru saja membuka kaca jendela.
"Primus?" Zizi tak kalah kaget. "Se-sejak kapan kamu jadi Security di sini?" Wajah Zizi sedikit memucat. Takut dengan apa yang di pikirkan Primus.
"Aku kerja di sini sejak seminggu yang lalu." Mata Primus bergerak-gerak, berusaha mencari tahu siapa yang berada di dalam mobil. "Wah Zizi …, aku nggak nyangka, yang ada di mobil ternyata kamu. Aku sudah menduga, hubungan kalian pasti lebih dari sekedar rekan bisnis. Sejak kapan kalian pacaran?" Mata Primus memandang Kevin penuh permusuhan. "Tapi, kenapa kalian bercinta di dalam mobil? Ayah mu pasti sangat kecewa kalau tahu kamu bercinta dengan detektif mu Zi. Kalian tidak boleh berhubungan badan di luar nikah" peringat Primus.
"A-apa? Kami tidak bercinta kok" kedua tangan Zizi melambai menolak tuduhan Primus. "Aku …, kami tidak bercinta Primus. Kami hanya …,"
"Membuat anak! Iya kan? Ayahmu pasti sangat kecewa kalau tahu kamu hamil di luar nikah Zi" Primus menggeleng-gelengkan kepala.
"Dengerin penjelasan ku dulu, Mus. Apa yang kamu lihat tadi tidak sungguhan. Kami hanya pura pura terlihat bermesraan saat ada security. Aku takut security itu mencurigai kami. Aku nggak nyangka, ternyata itu cuma kamu, tahu begini aku nggak usah main main ciuman sama Kevin" Zizi melesakkan punggungnya di sandaran kursi. Tubuh tegangnya melemas.
"Apa? Tadi itu cuma main main? Aku juga mau main main denganmu Zi. Hmm ...." Primus memonyongkan bibirnya di depan Zizi, tapi Zizi malah menjauh, tangannya mendorong tubuh Primus menjauh dari jendela.
Primus pun kecewa, dan mendekat lagi ke kaca jendela. Tiba tiba matanya tertahan di gundukan nan indah menggoda milik Zizi. Gundukan itu sebagian terlihat keluar.
Selama ini Primus belum pernah melihat langsung milik Zizi. Ia tidak pernah menyangka malam ini ia bisa melihat dengan jelas pemandangan indah yang selama ini hanya ada dalam bayangan nya saja.
Namun Primus kecewa, karena pemandangan indah itu tiba tiba menghilang. Kevin menutup d**a Zizi menggunakan jaket kulit milik nya. Jaket Kevin berukuran besar, mampu menutupi seluruh tubuh Zizi.
Baju Hitam Zizi yang lembab, membuat bentuk tubuh Zizi terlihat lumayan jelas dari luar. Bahkan roknya yang selutut agak terbuka, sehingga membuat paha putih nan mulus milik Zizi bisa terlihat oleh Primus. "Malam ini, penampilan mu sangat seksi, Zi. Aku tidak yakin kalian hanya rekan bisnis" mata Primus memandang penuh selidik dari Zizi ke Kevin. Matanya lagi-lagi tertahan di pa*ha ramping Zizi.
Kevin mengerti arti pandangan Primus. Pandangan yang sama yang tadi di rasakan oleh Kevin. Membuat naluri hewan setiap laki laki muncul. Kevin lalu menarik jaket yang di pakai Zizi, hingga menutupi kaki indah itu. Bibir Primus pun cemberut karena kecewa.
"Silahkan ambil kesimpulan mu sendiri. Yang jelas kami tidak ada hubungan apa-apa" terang Kevin.
"Kalian bisa saja mengelak, tapi mataku tidak pernah salah menilai orang. Aku akan mengatakan ini pada ayahmu, Zi. Aku sudah di pasrahi beliau untuk melindungimu"
"Primus, plis … Jangan ceritakan ini sama ayah ya? Sumpah, aku tadi nggak sungguh sungguh, cuma akting aja" Zizi mengatupkan ke dua tangan di depan wajah. Dan Primus hanya mengangkat bahunya sekilas.
"Lihat aja nanti, aku nggak janji ya Zi. Ngomong ngomong, kenapa Kevin menghamilimu di sini?"
"Ih ... Apaan sih kamu, Mus? Kok nuduh aku terus? Kan aku udah jelasin, kami hanya akting, pura-pura, nggak sungguhan! Faham nggak sih apa yang aku omongin? Oke, aku akan memberitahu mu alasan kami ada si sini. Sebenarnya aku kesini untuk menyelidiki kegiatan nyonya Rezza, aku curiga wanita itu maupun teman temannya terlibat dengan kasus ayah. Jangan-jangan mereka sedang membahas narkoba di dalam sana?" Tuduh Zizi.
"Nggak mungkin," Primus menggelengkan kepalanya. " Pembicaraan mereka di lakukan dengan mikrofon. Kedengaran sampai luar. Mereka murni sedang arisan dan pesta"
"Masa sih? Aku nggak percaya. Aku yakin, di antara mereka pasti ada seorang gembong narkoba. Dan aku tidak tahu, apa alasan nyonya Rezza memasukkan narkoba dalam tas ayah"
"Jangan mengarang, Zi. Kamu menuduh tanpa bukti" sela Kevin.
"Tapi, dia memang sangat mencurigakan, Kevin. Kenapa sih, kamu nggak pernah percaya denganku?" rengek Zizi sambil memandang Kevin. Pria itu terlihat dingin, tidak peduli dengan pembicaraan Zizi yang asal menuduh, tanpa bukti.
"Baiklah, jadi sebenarnya tujuanmu kesini ingin menyelidiki nyonya Rezza? Kalau begitu, temui saja dia langsung" saran Primus sangat masuk akal. Tapi Zizi menggelengkan kepalanya.
"Aku pernah membuat janji temu dengan nyonya Rezza. Tapi wanita itu selalu menghindari ku. Seolah dia tahu apa nanti yang akan ku bicarakan." Suara Zizi terdengar kecewa.
"Mungkin dia tidak ingin menemuimu karena tahu. Memangnya apalagi yang ingin di katakan wanita sepertimu. Paling juga minta kerjaan" tukas Primus.
"Nyonya Rezza mengenalku, Primus. Melalui asistennya, wanita itu sering menyuruhku secara langsung untuk mengurusi administrasi pribadinya" Zizi bagaikan sekretaris cadangan, di pakai ketika perlu saja.
"Oh, jadi dia mengenalmu?" Primus menganggukkan kepalanya. "Aku tahu, bagaimana cara mendekati nyonya Rezza."
"Serius? Beri tahu aku Primus!" Ucap Zizi antusias. Matanya memandang Primus penuh harap.
"Tapi ini nggak gratis. Sebuah ciuman atau …, uang 1 juta?" Sebelum Zizi membuka suara, Kevin sudah memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu di muka Primus.
Dengan bibir mengerucut, dia mengambil uang itu.
Memasukkannya di kantong baju security-nya. Kepalanya lalu melongok ke dalam mobil.
"Minggu depan, nyonya Rezza ada acara sosial lelang. Kalau kamu mau jadi penyumbang dan melelangkan sesuatu, kamu bisa ikut acara itu"
Mata Primus serius memandangi Zizi dan Kevin secara bergantian. Primus lalu menarik keluar kepalanya.
"Sudah ya, aku mau balik dulu" Primus berjalan meninggalkan mobil Kevin dengan bersiul siul, sambil mencium uang pemberian Kevin.
Dan tanpa sepengetahuan Kevin. Zizi tersenyum penuh arti.
Brum ….
Kevin menghidupkan mesin mobilnya. Tidak lama kemudian mobil pun melaju di kegelapan malam.
"Wow, Kevin ... Keren banget mobil ini? Suaranya halus banget. Geronjalan pun gak terasa sama sekali. Berapa harga sewa mobil ini? Mahal ya?"
"Kenapa? Mau membayar nya?" Kevin melirik sekilas ke arah Zizi.
"Nggak mau. Siapa suruh nyewa mobil mewah hanya untuk mengintai orang? Aku mah yang murah meriah aja. Nggak perlu motor apalagi sampai mobil mewah segala."
"Tapi kehujanan" ledek Kevin. "Kerja itu harus total, Zi. Jangan setengah-setengah"
"Oke, pak detektif. Aku akan mengingat nya" Zizi mengacungkan jempolnya. Tersenyum ceria. "Oh ya, Kevin. Aku tadi sudah merekam semua tamu undangan yang lewat. Ini nih. Nanti aku kirim ke nomermu. Nanti, tolong periksa orang-orang yang hadir ya? Sebagai seorang polisi, ada nggak sih yang wajahnya bau-bau narkoba gitu? Maksudku, orang itu pernah terlibat dengan kasus narkoba. Hehe ..." Ucap Zizi ngaco. Bibirnya cengengesan. Ia mendekat ke arah Kevin, memperlihatkan rekaman tamu-tamu yang lewat.
"Aku juga sudah merekamnya. Tidak perlu kamu suruhpun, aku pasti akan memeriksa wajah mereka. Lain kali, kalau keluar. Pakai baju yang bener, jangan pakai baju kurang bahan seperti ini. Atau jangan-jangan setiap malam kamu selalu keluar dengan baju seperti ini?" Calvin mengangkat sebelah alisnya.
"Maksudmu, aku adalah wanita ma*lam?"
"Aku hanya bertanya-tanya" Kevin mengangkat bahu kekarnya sekilas.
"Enak aja, ngambil kesimpulan seenak jidatmu sendiri. Sebenarnya ini baju temanku, aku tadi berangkat dari rumah dia. Karena bajuku ketinggalan di tempat senam, terpaksa deh aku pinjam bajunya."
"Dasar ceroboh" gerutu Kevin pelan. Namun cukup jelas terdengar oleh Zizi.
Perempuan itu hanya bisa mencubit kesal jaket Kevin yang sedang ia pakai. Seandainya Kevin sahabatnya, atau orang terdekatnya, Zizi pasti sudah mencubit sungguhan hingga kulit pria itu rompal dan sobek-sobek. Dia heran dengan lidah Kevin yang tajam, seolah tidak punya rem. Selalu berkata kasar dan menyakiti hatinya. Dasar pria jahat, gerutu Zizi di dalam hati.
"Stop Kevin, aku berhenti di sini aja. Malam ini aku menginap di rumah teman ku" ucap Zizi tiba-tiba.
Kevin pun menghentikan mobilnya. "Di apartemen ini?" Tanya Kevin.
"Iya" jawabnya singkat. Ia lalu melepas jaket Kevin, lalu turun dari mobil. Tangan Zizi menjinjing tas ranselnya yang berubah jadi besar, berisi jaket basahnya. "Terima kasih atas tumpangannya, jangan lupa kembalikan mobil rental nya dengan sempurna, jangan sampai ada cacat sedikitpun. Karena aku nggak mau ikut ganti rugi. Sekali lagi makasih ya?" Ucap Zizi sambil tersenyum cantik, tangannya melambai sejenak. Lalu membalikkan badan.
"Cih, tau apa dia tentang mobil mewah." Kevin berdecak. "Tunggu Zi" teriak Kevin tiba-tiba. Zizi pun menghentikan langkahnya. Menoleh kembali ke arah mobil di belakangnya.
Kevin berjalan cepat menuju Zizi. Dengan telaten, ia memakaikan kembali jaket kulitnya ke tubuh Zizi.
"Tidak usah repot-repot, Kevin. Aku sudah tidak kedinginan lagi" tolak Zizi. Namun akhirnya ia hanya pasrah, karena Kevin tetap memakaikan jaketnya di tubuh Zizi. Diam Kevin justru membuat Zizi tersudut, tidak bisa membantahnya.
Diam-diam jantung Kevin berdetak kencang saat ia menarik resleting jaket. Ia selalu meneguk ludahnya kasar saat tanpa sengaja tangannya menyentuh kulit halus Zizi. Tanpa sepengetahuan Zizi, mata Kevin Berkali kali mencuri pandang d**a Zizi yang agak terbuka, indah dan menggiurkan.
"Hati-hati, jangan keliaran dengan baju seperti ini. Hewan buas ada di mana-mana" ucap Kevin setelah berhasil menarik resleting jaket. Tubuh Zizi terlihat imut dan lucu. Ia tenggelam dalam jaket Kevin yang kebesaran.
"Teman mu laki laki atau perempuan?" Tanya Kevin penasaran.
"Laki laki" Mata Kevin melotot. "Haha … Bercanda Kevin, serius banget sih. Temen ku cewek lah, lain kali aku kenalin deh sama kamu. udah ya... Makasih udah nganterin" Zizi melambai ke arah Kevin lagi.
Kevin memperhatikan Zizi yang berjalan ringan. Memperhatikan tubuh wanita itu hingga ia masuk ke dalam apartemen.
*****
Sore ini seperti biasanya. Zizi senam dengan para lansia. Semua berjalan lancar hingga satu jam ke depan.
Setelah acara senam selesai. Sebagian peserta sudah ada yang pulang. Adapula yang belum pulang. Mereka duduk santai di depan ruangan sambil bercengkrama untuk menunggu jemputan. Ada juga yang hanya ingin nongkrong bareng saja. Para lansia itu berbicara sambil tertawa tawa.
Sedangkan Zizi masih ada di ruang senam. Dia membereskan ruangan nya. Dan terakhir, dia menyapunya.
Selesai beres beres Zizi segera keluar ruangan. Di luar baju senamnya yang ketat, Zizi memakai kaos longgar untuk menutupi d**a suburnya yang aduhai, da*da yang selalu dia jaga hati-hati karena bisa mengundang mata-mata jahat, dan tindikan kriminal pelecehan.
"Zi, sini...." Tante Molly melambai ke arah Zizi.
Seorang lansia yang duduk di samping tante Molly dengan senang hati pindah tempat. Zizi pun duduk di samping tante Molly. Dia berada di tengah tengah para lansia yang tengah menatap dirinya dengan pandangan menembak. Zizi merasa, sebentar lagi para lansia itu akan menembaki dirinya dengan ribuan pertanyaan.
Ya, bukan rahasia lagi. Hampir semua anggota peserta senam Zizi tahu, kalau Zizi sedang menyewa Kevin. Si detektif tampan dengan harga yang murah.
"Gimana Zi, udah ketemu belum barang bukti yang kamu cari?" Tanya tante Molly kepo.
"Belum tante, habis Kevin suka main rahasia rahasiaan sih. Dia nggak suka aku ikut campur. Niat ku kan baik, biar penyelidikan ini cepat selesai" keluh Zizi.
"Sabar ya Zi, Kevin emang gitu. Dia nggak suka urusan pekerjaan nya di campuri orang luar. Berikan dia waktu biar dia bisa berpikir.
Tante yakin kalau dia menemukan sesuatu, dia pasti akan segera memberi tahu mu"
"Tapi, aku juga berhak tahu Apa yang dia pikirkan tante. Aku udah mentransfer dua juta setiap kami melakukan penyelidikan. Kalau dia memberikan informasi mengenai kasus ini, Siapa tahu aku bisa memberikan ide biar penyelidikan ini cepat selesai" Bibir Zizi merengut.
"Sabar lah Zi. Kevin pasti punya alasan kenapa dia nggak ingin kamu ikut campur. Laki laki memang seperti itu Zi, nggak banyak bicara tapi banyak bertindak" Ucap Lansia bernama Saki.
"Iya persis kayak suami ku. Aku sudah berkali kali mengingatkan suami ku tentang hari jadi pernikahan kami. Aku sudah capek capek berbicara tentang persiapan pesta untuk kami. Eh dia malah cuman ngomong satu kali. 'Nggak usah melakukan pesta, Nek'. Aku jadi marah dong ... Padahal selama ini kami selalu merayakan pesta untuk merayakan hari pernikahan kami. Dan waktu itu dia malah nggak menanggapi sama sekali ocehan ku. Tapi, Tahu tahu kemarin dia ngajak aku liburan ke Maldives. Dia juga memberikan satu set perhiasan dari berlian lho jeng ... Lihat nih cincin sama gelang ku. Baru kan … Kalung nya aku simpan aja, takut hilang" Para lansia itu langsung melihat cincin dan gelang yang di pakai Tutik. Lansia yang bernama Tutik tersebut memang masih terlihat cantik di usianya yang sudah menginjak umur 54 tahun.
Zizi juga ikut melihat, cincin dan gelang yang di pakai Tutik, perhiasan itu terlihat sangat mewah. Berlian nya terlihat berkilauan ketika terkena sorotan cahaya matahari sore.
Melihat perhiasan mewah itu, Zizi merasa miskin. Dia memandangi tangan nya sendiri yang polos tanpa aksesoris satupun.
"Jadi gimana Zi, kalian cocok kan jadi partner kerja?" Tanya wanita yang lain.
"Saya sih cocok aja. Tapi Kevin nggak cocok sama saya, Tante. Dia nggak suka kalau saya dekat dekat sama dia"
"Masak sih ... Padahal kalian terlihat cocok dan serasi loh. Kevin tampan. Kamu, cantik dan seksi. Apalagi Kevin punya d**a yang lebar. Tubuhnya juga gagah banget. Uh ... Anak mu seksi banget sih jeng Molly. Coba aku muda lagi. Aku pasti akan mengejar ngejarnya. Suami ku pun aku dapat dengan mengejar nya mati matian lho jeng. Hebatkan aku ... Aku yakin, kalau aku masih muda, aku pasti juga bisa mendapatkan Kevin yang gagah itu" Ucap Lansia yang bernama Yana.
"Ehm ... Ingat suami dan cucumu dong jeng Yana. Mau kamu taruh di mana mereka? Lagian Kevin juga pasti milih cewek yang masih bening kayak Zizi ini. Iya kan jeng Molly?"
"Iya sih, aku juga berharap kayak gitu. Zi, gimana kalau besok minggu kamu ke rumahku? Kita makan malam bersama. Mumpung suami ku ada di rumah. Atau kamu pengen di resto juga nggak pa pa"
"Maaf tante, besok saya udah ada janji keluar sama Kevin. Saya mau ke acara pesta sama dia, untuk masalah penyelidikan"
"Jadi kalian mau kencan? Oh ... Aku juga mau jadi muda lagi. Apalagi kencannya sama Kevin. Tubuh gagahnya itu, membuat ku klepek klepek. Ngomong ngomong kamu udah pernah memeluk Kevin belum, Zi? Laki laki seusia Kevin, kalau belum menikah pasti sangat liar. Sekali sentuh saja dia pasti akan langsung liar" Ucap Miranda.
Dan Zizi ingat dengan kejadian kemarin. Benarkah apa yang di ucapkan tante Miranda? Kemarin dia memang menyentuh bibir Kevin dengan bibirnya. Dan reaksi Kevin benar benar luar biasa. Kevin langsung menghujaninya dengan ciuman ciuman hebat.
Zizi tidak pernah tahu. Karena perbuatannya itu, bisa membuat Kevin menjadi liar. Semudah itukah memancing has*rat Kevin? Pipi Zizi jadi merah bila mengingat bagaimana cara Kevin menciumnya. Tapi Zizi tidak suka tangan Kevin yang tidak sopan.
"Kalian mau kencan di mana Zi?" Ucap tante Molly.
"Di hotel Lusia Tante. Tapi, Kami tidak melakukan kencan sungguhan tante. Cuma pura-pura"
"Nggak apa apa. Lain kali aku akan membuat kalian berkencan sungguhan. Aku harap suatu saat nanti kalian bisa bersatu. Kamu tahu kan Zi. Kevin sudah nggak ada waktu untuk main main sama wanita. Dia harus secepatnya menikah. Dan aku harap jodoh nya adalah kamu" celetuk Tante Molly terus terang
"Wooowww …. Kamu sedang melamar Zizi nih jeng?" Para Lansia itu bersorak sorak. Dan Zizi tersipu malu.
Mama nya sih mau saja. Tapi gimana sama anaknya? Dia mau nggak sama aku? Batin Zizi.
"Udah ya jeng. Aku mau ke bawah. Kevin udah menungguku di bawah. Bye semua ...." Tante Molly melambaikan tangan nya.
Kemudian para Lansia itu juga membubarkan diri.
Zizi tidak menyangka. Percakapan mereka hari ini yang awalnya hanya membahas tentang kasus ayahnya. Malah berakhir dengan membahas masalah percintaan nya yang tidak menarik. Dia bahkan belum pernah merasakan indahnya cinta. Tapi ciuman pertama nya malah ia berikan pada Kevin, detektif yang ia sewa. Zizi menyesal.
Bersambung ....