6. Hanya Parkir

3763 Kata
Siang ini, hari yang menjengkelkan untuk yang kesekian kalinya bagi Kevin. Setelah dia sholat dhuhur. Petugas di kantor polisi tidak henti memberi nya tugas mengetik. Sejak ia di depak dari kantor pusat. Tugas Kevin hanya mengetik, mengetik, dan mengetik. Ini benar benar bukan passion nya. Passion kerja Kevin yang sesungguhnya adalah menyelidiki sesuatu yang mencurigakan. Lalu mengungkapkan kebenarannya. Walaupun ia harus berlarian ke sana dan kemari untuk memeriksanya. Kevin tidak keberatan, justru malah menikmati nya. Hati Kevin terasa puas saat dirinya mampu mengungkap sebuah misteri. Bagi Kevin menyelidiki kasus jauh lebih menyenangkan hatinya. Bagaikan sebuah kehormatan yang patut dia banggakan. Di saat Kevin sedang bekerja menyelidiki kasus sulit. Kevin justru semakin senang. Semakin sulit, maka semakin menantang. Dan memacu adrenalin nya. Dia suka pekerjaan yang ada tantangan nya. Bukan pekerjaan seperti ini. Yang tidak ada kata klimaksnya. Karena Klimaksnya hanyalah sebuah rasa lelah dan jenuh, lalu pulang. Setelah Kevin selesai mengetik ia menyerahkan hasilnya pada Anton - atasannya. Dia adalah salah satu kepala divisi. Di dalam kantor Anton. Kevin melihat barang barang Anton berserak tidak beraturan di atas meja. Kevin tidak mengerti, mengapa polwan cantik yang selalu melirik penuh arti pada dirinya, kini duduk di atas pangkuan polisi buncit tersebut. Dan ketika Kevin masuk. Polwan itu langsung turun. Dia terlihat salah tingkah duduk di sofa. "Apa yang kamu bawa, Kevin?" Tanya Anton, polisi senior yang ber umur 50 tahunan. Tubuhnya tambun. Dia sedang duduk di kursi putarnya. Dan raut mukanya tidak senang ketika Kevin masuk tanpa permisi ataupun mengetuk pintu. "Ini harus saya berikan untuk bapak. Kata Andi, anda harus segera menandatanganinya, lalu segera memberikan berkas ini pada pak kepala" "Taruh saja di meja. Nanti aku akan menandatangani nya, tunggu saja di luar, aku nanti memanggilmu, lalu berikan berkas ini pada pak kepala. Lagian kepala tua itu sedang tidak ada di kantor. Beritahu aku, kalau dia sudah kembali. Dan, ingat! Kalau kamu masuk ruangan ku, ketuk dulu. Setelah aku bilang masuk, kamu baru boleh masuk. Mengerti?" Mata Anton melotot, mengancam Kevin. Kevin hanya mengangguk. Lalu keluar ruangan. "Dasar anak sombong. Mentang mentang dia bekas polisi pusat, seenaknya saja main selonang-selonong ruang orang lain. Aku akan membuat mu sadar, di mana posisi mu sekarang Kevin" Anton jengkel dan tidak suka dengan Kevin sejak dua tahun lalu. Dan ia tidak pernah memberikan promosi jabatan pada Kevin. ******** Hari sudah sore. Kevin pun pulang. Sejak dulu, Ia memang mempunyai kebiasaan memakai kacamata hitam ketika keluar rumah. Resikonya mau tidak mau dia terlihat semakin keren. Seperti hal nya saat itu. Karena kaca mata hitamnya, para polwan banyak yang berbisik bisik sambil melihat ke arah Kevin. Kevin tahu, tatapan mata orang-orang pada dirinya, terdiri dari dua bagian. Yang pertama tentu saja tatapan remeh, penuh cibiran, mempecundangi dirinya. Menganggap Kevin hanyalah seorang polisi gagal, berlindung di balik wajah tampan dan tubuh atletisnya. Namun, ada juga yang memandang dirinya kagum, tidak lebih hanya karena mengagumi ketampanan dan keindahan tubuh Kevin yang berotot, karena dia rajin nge-gym. Sayang nya, tatapan kagum sebagian polwan tidak bisa Kevin balas dengan senyuman ramah. Apalagi dengan cinta yang manis. Sejak dulu, ia berada di kantor pusat. Kevin selalu berpegang teguh pada pendirian nya, ia tidak boleh suka, apalagi sampai menjalin hubungan asmara dengan rekan sekantornya. Bagi Kevin itu sangat terlarang, karena bisa mempengaruhi kinerjanya. Kevin berprinsip seperti ini bukan karena sok jaim, atau sok suci. Menurut pengamatan nya, banyak orang yang kinerja nya menurun hanya karena punya affair dengan teman kerja nya. Walaupun tidak semuanya benar. Tapi kebanyakan memang seperti itu. Bagi Kevin, wanita adalah semacam pengganggu dan perusak suasana ketika ia sedang fokus bekerja. Seperti Zizi. Saat tangan Kevin terulur hendak membuka pintu mobil. Tiba-tiba ponsel nya berbunyi. Kevin lalu merogoh kantong celana nya. Rupanya panggilan itu berasal dari si pembuat masalah, Zizi. "Assalamu'alaikum, ada apa, Zi?" Ucap Kevin, matanya berputar malas, ia duduk di belakang kemudi, membiarkan pintunya masih terbuka. "Wa alaikum salam ... " Terdengar suara Zizi terkekeh. "Maaf, Kevin. Aku …, ganggu kamu ya? Tapi ini kan udah sore. Kamu udah pulang kan? Kamu udah makan? Gimana kalau...." "Katakan yang jelas, apa maumu?" Potong Kevin. "Maaf, Hehe ... Jangan marah dong pak polisi. Aku cuma mau tanya, malam ini kamu jadi kan menyelidiki di sekitar rumah nyonya Rezza? Yah … walaupun sebenarnya aku tidak ingin mencurigainya." "Kalau begitu jangan curiga padanya" sela Kevin lagi. "Bukan begitu, Kevin. Sebenarnya nyonya Rezza itu baik banget padaku, tapi mau bagaimana lagi, karena ada sesuatu yang aneh, aku terpaksa mencurigainya, dia adalah salah satu pendiri Universitas tempat ayah mengajar. Suatu hari, ayah yang selalu berprestasi dan di sukai banyak mahasiswa, mendapat hadiah dari kampus berupa tas kulit bermerek. Dan jelas sekali, hadiah itu pemberian dari nyonya Rezza. Anehnya baru sehari ayah memakai tas mewah itu, tiba-tiba dia di gerebek polisi di rumah. Mereka menemukan narkoba di dalam tas itu. Aneh sekali, padahal ayah tidak pernah bersentuhan dengan barang haram itu" "Kamu sudah pernah cerita ini, Zizi. Bukankah kemarin aku sudah bilang, kalau aku sanggup menyelidiki keadaan di sekitar rumah nyonya Rezza malam ini? Dan malam ini, aku akan melakukannya. Puas?" Tut … Kevin mematikan ponselnya. Ia lalu menghidupkan mobilnya, pergi pulang ke rumahnya. **** "Ih, apaan sih Kevin. Tiba tiba main putus telpon gitu aja." Gerutu Zizi sambil menjauhkan ponsel dari telinga nya. "Kenapa dengan orang ini? Takut banget kalau aku mengikutinya. Aneh, setiap orang pasti membutuhkan orang lain, begitu juga menyelidiki kasus. Kalau ada temannya, kasus ini pasti cepat beres. Dasar pria aneh. Di bantu kok malah marah. Aku nggak peduli kamu marah, melotot, atau jengkel sama aku. Aku kan sudah membayarmu, jadi boleh-boleh aja dong, kalau aku mengikutimu. Aku akan memastikan sendiri, cara kerjamu bagus atau mengecewakan. Jangan sampai kamu menyembunyikan fakta dari ku" Zizi lalu menyimpan ponselnya ke dalam ransel mungilnya. "Hai, Zi ... Udah lama nunggu?" Tiba-tiba Rena muncul di samping Zizi. Kelas Zizi selesai lebih cepat. "Maaf, tadi orang orang di kelasku banyak yang telat. Terpaksa deh aku harus mengulangi senam ku" jawab Rena lesu. "Nggak pa pa, Ren, yuk ah pulang. Hari ini Aku harus main ke rumahmu kan?" "Iya lah Zi. Kamu kan udah janji" Rena menelusupkan tangannya di tangan Zizi. Menggandengnya. "Oke" jawab Zizi singkat. Mereka lalu berjalan beriringan keluar dari gedung Rezza. Dan Zizi malam ini menginap di rumah Rena. Alias apartemen Rena. Apartemen yang di belikan pacar Rena untuk Rena. Dalam perjalanan pulang. Rena dan Zizi terus bercanda di dalam mobil. Umur Rena lebih muda satu tahun dari Zizi. Tapi dalam masalah asmara Rena lebih berpengalaman. Rena pernah mengatakan, jika dia sudah pernah 20 kali pacaran. Dan dengan pacarnya nya yang sekarang, Rena benar benar mencintainya. Selain karena dia tampan. Pacarnya yang bernama Ferdi, juga sangat tajir. Wajar, jika Rena mati matian mempertahankan hubungan nya yang sekarang. Sebenarnya Zizi sudah berulang kali memperingatkan Rena tentang cowoknya yang tidak beres tersebut. Tapi Rena tidak peduli. Telinga nya benar benar tidak bisa mendengarkan nasehat Zizi. Rena tidak akan percaya, sebelum dia melihatnya sendiri. Bahwa Ferdi adalah seorang playboy. Zizi dan Rena akhirnya sampai juga di apartemen milik Rena. Kebiasaan Zizi yang senang memasak, walaupun itu di rumah Rena. Membuat Rena senang mengajak Zizi menginap di apartemen nya. Rena senang karena tanpa di suruhpun, Zizi selalu memasak, membuatkan berbagai makanan dan cemilan untuk Rena. "Ren, malam ini aku mau keluar sebentar, gak pa pa ya?" Ucap Zizi ketika menyikat giginya. Ia dan Rena baru saja selesai makan malam. Dan Zizi bersiap untuk sholat Maghrib. Di tempat Rena, Zizi selalu memakai baju-baju Rena yang seksi. Zizi tidak keberatan, mengenakan celana jeans super pendek dan kaos pink dengan ukuran ketat milik Rena, toh itu hanya dia pakai di dalam rumah. Daripada dia membawa baju-baju ganti miliknya sendiri. Ribet juga kalau membawa banyak baju. "Mau keluar ke mana?" Tanya Rena penasaran. "Mmm ... " Zizi berpikir sejenak, "Aku mau menyelidiki kasus ayahku" terang nya "Lho katanya, kamu udah nyewa detektif? Kok kamu nyelidiki juga? Kamu nggak percaya sama detektif tampan mu itu?" "Em …, sebenarnya aku nggak menyelidiki sendiri kok, hehe …" Zizi terkekeh. "Aku hanya mau bantu dia aja, takut kalau dia melewatkan sesuatu yang penting. Aku harus melakukan ini diam-diam, Ren. Tanpa sepengetahuan Kevin. Pria itu pasti marah kalau tahu aku mengikutinya. Dasar pemarah, apa dia nggak bisa bicara lebih lembut sama wanita?" "Sabar, Zi ... Menghadapi pria kaku kayak dia memang harus ekstra sabar. Kalau marah di hadapin dengan marah. Maka kalian bisa berantem terus. Harus ada yang mengalah. Taklukan hatinya, dan jadikan dia menyukaimu. Dia pasti nggak galak lagi. Bisa bisa dia jatuh bertekuk lutut di hadapan mu, dan menuruti semua keinginan mu" "Ngomong mah mudah, teori sih tinggal bicara. Tapi kenyataan itu jauh lebih menyakitkan loh. Kayak nya nggak mungkin deh Ren, aku bisa deketin dia. Pria itu selalu marah marah, waktu aku ada di sampingnya. Apalagi kalau aku berani menggodanya. Dia pasti mencak-mencak" Zizi lalu memakai mukena dan melakukan sholat Maghrib. Selesai sholat, Zizi segera bersiap siap pergi. Zizi memang punya kebiasaan memakai makeup sebelum mengganti baju. Begitu juga dengan malam itu, setelah dia memakai makeup. Tangan Zizi lalu merogoh isi tasnya, mencari baju gantinya. Wajah Zizi seketika memucat. Bajunya tidak ada di dalam. "Baju ku nggak ada Ren, gimana nih? Kayak nya tadi ketinggalan di loker" ucap Zizi penuh penyesalan, bagaimana mungkin dirinya bisa bersikap ceroboh di saat yang penting seperti itu? "Kalau begitu, pakai aja baju ku" saran Rena, dia baru selesai sholat. "Tapi kan semua baju mu, minimalis banget. Nggak mau ah" Zizi menggelengkan kepalanya. Rena berdiri, ia lalu mengobok-obok isi lemarinya. Tidak berapa lama, tangannya mengeluarkan sebuah baju "Yang ini lumayan, Zi. Nggak terlalu pendek, gimana?" "Nggak pendek sih, tapi ... ketat banget, nggak deh" Zizi tersenyum kecut, matanya ngeri melihat dress kaos tersebut menempel sempurna di tubuhnya. Orang-orang pasti mengira dirinya lontong berjalan, karena bajunya seperti daun yang menempel erat di lontongnya. "Gimana kalau yang ini? Lumayan panjang dan nggak ketat" Rena menyodorkan baju lain berwarna coklat tua. "Ini emang panjang dan nggak ketat, tapi dadanya rendah banget. Nggak mau, aku nanti di kira kupu kupu malam dong" "Tenang aja, nih pakai ini juga, biar bisa nutupin d**a besar mu itu" Rena menyodorkan jaket warna hitam. "Iya, kamu betul. Ih ... pinter banget kamu Ren" Zizi mencubit gemas pipi Rena. Dia bahagia, akhirnya bisa mendapat baju sesuai keinginannya. "Iya, aku tahu. Sekarang cepat ganti bajumu" balas Rena. Zizi pun mengganti bajunya. Dress longgar dan panjang hingga di bawah lutut, berwarna coklat tua, sangat cocok berpadu dengan jaket warna hitam. Baju yang sangat cocok bagi seorang mata mata super, Zizi mengkhayal, bibirnya tersenyum samar. Zizi merapikan penampilannya di depan cermin, rambut panjangnya yang halus, tergerai lembut. Membingkai wajah cantiknya yang manis. Bibirnya warna pink natural, tidak berwarna merah menyala seperti seorang pekerja seks*. Bibir Zizi tersenyum, puas dengan penampilannya 'Zizi … Mata mata handal dan profesional akan beraksi, hehe ....' Zizi senyum senyum sendiri di depan cermin. Zizi lalu mengambil tasnya, dan bergegas pergi. Ia senang, karena Rena akan mengantar dirinya. ***** Setelah melihat lihat lokasi. Zizi akhirnya memutuskan turun di sebuah kafe. Kafe itu letaknya dekat dengan rumah nyonya Rezza. Rena yang mengantarkan Zizi, akhirnya pulang. Di dalam kafe, Zizi duduk memojok seorang diri. Dia tidak perlu seorang teman dalam misi rahasianya. Setelah memesan sebuah kopi, mata Zizi lalu memindai arloji murahan di tangannya. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. "Setengah jam lagi, para anggota arisan nyonya Rezza datang, aku nanti harus lebih dekat dengan gerbang" Gumam Zizi pelan. Sambil menunggu waktu itu tiba, Zizi menikmati secangkir kopi hitam. Minuman yang bisa membuatnya terjaga agar terus waspada. Jaga jaga kalau dirinya mengantuk. Zizi harus menyiapkan semuanya dengan baik dan benar. Agar penyelidikan ini berjalan maksimal. Setelah selesai minum kopi. Zizi keluar dari kafe. Mengamati keadaan sekitar lebih dekat. Ia harus mencari tempat persembunyian terbaik. Tidak jauh dari gerbang besar rumah nyonya Reza. Zizi melihat ada deretan tempat sampah berjejer rapi, berwarna-warni, dan di depan nya ada sebuah mobil hitam mewah mengkilat terparkir di tepi jalan. Zizi tersenyum. Ia telah menemukan tempat yang paling cocok untuk merekam siapa saja yang hadir di acara arisan mewah nyonya Rezza. Menurut Zizi, yang pernah sekali menjadi pelayan di arisan mewah nyonya Rezza. Arisan itu lebih tepat di beri nama party. Karena acara itu hanya berisi senang-senang, minum-minum, makan-makan, setelah itu di tutup dengan acara menari. Zizi yakin, peserta yang mengikuti acara arisan itu pasti dekat dengan nyonya Rezza. Dan Zizi berharap ada seseorang yang mencurigakan, orang yang telah memasok narkoba untuk nyonya Rezza. Dan di selipkan di dalam tas ayahnya. Dan Zizi tidak tahu, apa alasan seseorang memasukkan narkoba di dalam tas ayahnya. Menurut undangan yang Zizi tulis, dan beberapa nama anggota yang ia ketik di komputer di gedung Rezza. Semua anggota arisan nyonya Rezza ada 300 orang. Ada laki laki dan juga perempuan. Dan semuanya berumur 40 tahun ke atas. Sayang dari semua daftar nama itu, Zizi tidak ada yang mengenalnya. Mungkin jika melihat wajahnya, Zizi bisa menemukan sesuatu. Zizi duduk berjongkok di belakang tempat sampah yang berwarna warni dan berjajar rapi. Kemudian mulai mencari cari ponselnya. Dia harus merekam, melihat sendiri satu persatu wajah tamu nyonya Rezza. Mencari informasi tentang tersangka itu secara langsung. Sejenak Zizi merasa gamang dengan keputusannya, akankah ia bisa menemukan wajah tersangka hanya dengan melihat wajah mereka, tanpa meminta keterangan dari orang-orang itu. Nyali Zizi tiba-tiba jadi pesimis. Namun ketika mengingat Kevin yang profesional, rasa optimis kembali hadir dalam hatinya. 'Ngomong ngomong Kevin udah datang belum ya? Semoga aja dia udah datang. Tapi, dia ada dimana?' Zizi mengedarkan pandangan nya. Dan tidak menemukan Kevin di manapun. Zizi tersenyum puas. Itu artinya Kevin berhasil bersembunyi dengan baik, seperti dirinya. Batin Zizi. Ia sudah siap dengan ponselnya. Siap merekam siapa saja yang jadi tamu nyonya Rezza. 'Aha, itu dia, para anggota arisan mulai berdatangan' wajah Zizi cerah penuh harap. Perlahan dari balik tempat sampah, Zizi bergerak semakin dekat dengan jalan. Mengarahkan ponselnya pada setiap mobil yang lewat. Kini posisi Zizi semakin dekat dengan jalan, ia duduk berjongkok di samping mobil mewah hitam yang terparkir di pinggir jalan. Posisi Zizi sangat mudah dan leluasa untuk merekam para tamu yang lewat. Tapi sayang, Zizi sedikit kecewa karena para anggota arisan ternyata banyak yang masih menutup kaca jendela mobil mereka. Zizi menyesal, selain menulis nama tamu di kartu undangan, seharusnya ia juga menulis agar tamu undangan membuka jendela mereka sebelum mobil memasuki pintu gerbang, hehe …. Walaupun agak kecewa, Zizi tetap harus semangat, dan tidak boleh menyerah. Dia tetap harus berusaha mencari bukti dan saksi di tempat itu, walau peluang menemukan seseorang yang mencurigakan sangat kecil. Tik, tik, tik .... Rintik rintik hujan kecil tiba tiba turun membasahi tanah, jalanan, baju dan rambut Zizi. Sontak Zizi pun terkejut. Dia tidak pernah menyangka kedatangan rencana dadakan. Ia benar-benar tidak siap. Apalagi musim saat itu mulai memasuki musim kemarau. Sudah tidak pernah turun hujan lagi selama hampir sebulan. Zizi menggigit bibirnya khawatir. Takut jika hujan turun semakin deras, padahal dia belum selesai mengambil gambar para tamu. Mobil masih datang silih berganti, memasuki halaman luas rumah megah nyonya Rezza. 10 menit sudah, Zizi bertahan di tempatnya. Tidak memedulikan Rambutnya yang mulai lembab terkena air, perlahan air hujan pun merembes ke dalam jaket hitamnya. Berulang kali Zizi mengusap layar ponsel anti airya yang terkena air. Zizi …. Terdengar suara pelan sayup-sayup memanggil nama Zizi. Dia pun menoleh kebelakang. Seketika bulu kuduknya meremang. Tidak ada siapapun, hanya ada sepi dan gelap. Buru-buru Zizi menatap jalanan lagi, berusaha mengabaikan suara tadi. Zizi …. Lagi-lagi suara pelan itu mengusik telinga Zizi. Membuat jantungnya terpompa cepat. Bibirnya lalu komat-kamit, membaca doa apa saja yang dia hapal. Kali ini Zizi tidak akan menoleh, tidak peduli sekeras apapun setan itu memanggil dirinya. Zizi tidak akan menoleh. Otak nya berusaha fokus lagi, merekam tamu undangan yang mulai sedikit. Sebagian besar tamu sudah hadir. Zizi …. Suara itu lagi? Tubuh Zizi mulai berkeringat dingin, sedingin jaketnya yang mulai basah. Zizi … Kali ini hantu itu mulai intens memanggilnya. Dengan perasaan bercampur aduk, perlahan kepala Zizi menoleh ke belakang. Rahangnya mengeras. Takut jika mata beningnya menangkap, kuyang, kuntil anak, atau gendruwo? Alis Zizi menyatu, di belakangnya tetap tidak ada siapa-siapa. 'Jangan-jangan hantu itu sembunyi di balik tempat sampah?' batin Zizi gelisah. Zizi lalu buru buru menoleh ke depan lagi. Ia tidak boleh takut, hanya karena hantu tidak jelas. Hantu itu pasti sangat jelek, makanya takut memperlihatkan dirinya. Batin Zizi, mencoba berpikir positif. Mata Zizi kembali menekuni layar ponselnya. Dan bibirnya tak henti membaca doa pengusir-pengusir hantu. Membaca ayat kursi, tiga surat qulhu. Lalu mengulanginya lagi. Jantung Zizi kian berlari cepat saat telinganya mendengar lagi suara itu memanggil namanya. Hantu itu benar-benar tidak tahu diri, karena semakin keras memanggil dirinya. "Zi, Zizi!" Cklek … Tiba-tiba pintu mobil di samping Zizi terbuka. Perempuan itu tidak menyangka, ternyata mobil itu ada penghuninya. "Zizi? Itu kamu kan? Ngapain di sini?" Sesosok pria berwajah tampan, dan tidak asing, keluar dari pintu mobil yang terbuka sedikit. Senyum cantik terlihat lega mengembang di bibir Zizi saat ia melihat kepala Kevin keluar dari pintu mobil. Tanpa di suruh, Zizi langsung berjalan mengendap ngendap menuju pintu mobil. Tanpa permisi dia langsung masuk ke dalam. "Kevin? Ternyata yang manggil-manggil aku dari tadi itu kamu? Ya Allah ..., kirain yang manggil aku itu hantu, jantungku sampai deg-degan tahu!" Ucap Zizi ketika dia sudah duduk di dalam mobil. Menutup kembali pintu nya. Wajah cantiknya yang berseri-seri samar terlihat dari dalam, karena lampu mobil tidak menyala. "Tentu saja ini aku. Mana ada hantu yang berani menakutimu. Melihatmu saja, mereka langsung ketakutan" ketus Kevin sambil membuang mukanya. Dia tidak punya pilihan lain selain menyuruh Zizi masuk ke dalam mobil. Bahaya jika membiarkan Zizi yang super nekat itu keliaran di luar sana, kalau dia ketahuan security rumah nyonya Rezza, bisa-bisa wanita itu di tangkap, dan di tuduh yang bukan-bukan. Apalagi di luar sedang gerimis. Mendengar ucapan sinis Kevin, Zizi hanya mengerucutkan bibirnya sebal. Pria itu masih sama. Selalu membenci dirinya. Bibir Zizi sedikit bergetar, karena tubuhnya agak menggigil, rambut dan jaket basah itu terasa dingin. Di dalam mobil, Zizi mengibaskan rambut basahnya, mengambil beberapa lembar tisu, lalu memeras rambut basahnya di atas tisu. Refleks tangan Zizi membuka jaket basahnya, dia lupa jika baju di dalam jaketnya punya belahan yang lumayan rendah. Memamerkan sebagian d**a* subur nya. Mata Kevin melebar, saat kepalanya menoleh, gundukan Zizi mengganggunya, buru-buru dia membuang mukanya lagi. Menatap jalanan yang mulai sepi. "Kamu tega Kevin! Membiarkan aku di luar dan di guyur hujan. Aku kedinginan tahu. Jaketku sampai basah semua! Ngomong ngomong … mobil ini bagus banget. Kamu nyewa di mana?" Tanya Zizi, masih belum sadar dengan bajunya yang terbuka. Wajah Kevin terlihat kaku, rahangnya mengeras, matanya tetap menatap lurus ke depan. Dia tidak akan menoleh pada Zizi yang menggiurkan. d**a itu sangat indah. "Aku menyewa mobil ini, kalau membwa mobil ku yang biasa, itu bisa menarik perhatian keamanan. Kenapa kamu ikut ke sini?" Todong Kevin, tanpa menoleh. "A - aku …, aku …, sedang jalan-jalan. Aku tadi foto-foto selfie dengan latar belakang mobilmu. Tidak boleh? Baiklah aku akan menghapus foto-foto ku, sayang sekali padahal mobil ini sangat bagus, untuk di jadikan status WA ku" celoteh Clarissa. "Jalan-jalan atau mengikutiku?" Tangkas Kevin. "Mengikutimu? Siapa yang mengikutimu, enak saja. Aku tadi sedang jalan-jalan tahu. Udara di dalam rumah sangat panas, makanya aku jalan-jalan" kilah nya. "Jangan membodohiku, jelas-jelas rumahmu sangat jauh dari sini, Zizi. Kamu ini benar-benar keras kepala ya. Sudah berapa kali aku bilang, penyelidikan semacam ini berbahaya, Zizi. Ini bukan main main. kalau kamu tertangkap security bagaimana? Aku beda denganmu, aku sudah terbiasa dengan tugas semacam ini. Sudah biasa dengan tugas membahayakan nyawa. " Wajah Kevin menatap marah ke arah Zizi. "Aku juga tidak main main. Aku sungguh sungguh ingin menyelidiki kasus ayah yang janggal dan aneh. Memangnya cuma kamu yang bisa? Aku juga bisa sepertimu. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan semuanya dengan hati hati dan benar. Hanya saja hujan tadi benar-benar diluar ekspektasi ku. Aku sudah 26 tahun. Sudah dewasa, dan bisa melakukan semuanya dengan hati-hati. Paling juga umurmu 27 tahun, kita sebaya, Kevin" sahut Zizi cuek, tidak gentar dengan bentakan Kevin. "Kata siapa aku 27? Aku sudah 34 tahun. Pengalaman ku lebih banyak, apalagi aku adalah penyelidik professional, bukan sepertimu, detektif gadungan" cemooh Kevin. Mata nya kembali menatap jalanan. Mata Zizi melotot. Lagi lagi Kevin menghinanya. Pria itu benar-benar tidak punya perasaan. "Kamu jahat Kevin. Kenapa sih kamu selalu mengejekku. Meremehkan ku. Membenciku. Memandang rendah ayah ku. Menyakiti ha ...." "Merunduk Zi, ada security berjalan ke sini" Kevin menyela ucapan Zizi. Dan menekan kepala Zizi dengan tangan nya yang kokoh, agar Zizi duduk semakin rendah di dalam mobil. Zizi pun terpaksa duduk merunduk. Tanpa di sengaja, wajah mereka dekat, dan saling berhadapan. Zizi menelan ludahnya kasar, tenggorokannya tiba-tiba mengering. Kevin semakin terlihat tampan dari dekat. "Kamu yakin, ada security yang ke sini?" Tanya Zizi tidak yakin, dia tadi tidak melihat. Dan Kevin hanya mengangguk. "Ada sebuah cara, agar Security itu tidak curiga dengan kita" ucap Zizi sambil tersenyum cantik. Kevin tidak menanggapi ucapan Zizi. Ia hanya diam, matanya terkesima melihat d*ada subur Zizi yang terlihat semakin menggantung indah. "Apa cara mu?" Suara Kevin serak. Berusaha menahan sesuatu yang mulai menggelegak di pangkal pa*hanya. Wajah Kevin terlihat panik Saat Zizi bangun. Ia khawatir keamanan melihat tubuh Zizi yang sedang duduk tegak. Kevin semakin terkejut tiba tiba Zizi menarik kerah bajunya. Zizi memaksa Kevin agar duduk tegak. Dengan sebelah tangan nya, Zizi menarik tuas kursi Kevin. Sandaran Kursi Kevin pun menjadi terdorong kebelakang. Mata Kevin melotot saat tubuh Zizi mendorong paksa tubuh Kevin terlentang di atas kursinya. Jantung Kevin semakin cepat berpacu saat tubuh lembut Zizi membentang di atas tubuh Kevin yang keras. Suara Kevin mendadak hilang ketika wajah Zizi semakin dekat dengan wajah nya. Wajah blasterannya terasa panas saat tangan kanan Zizi membelai lembut rambut tebal kevin, dan semakin menegang ketika jemari lentik itu semakin turun, membelai perlahan setiap garis wajah Kevin yang tegas. "Security itu tidak akan curiga, kalau kita …," tiba-tiba wajah cantik Zizi bersemu merah. Wajah malu-malu itu sangat menggemaskan. Tangan Kevin mengepal kuat. Berusaha menahan diri, agar tidak melakukan hal-hal gil*a. "Kalau apa Zi?" Tanya Kevin penasaran, suara nya serak, ia berusaha meredam hasrat bina*tangnya yang tiba tiba muncul. "Security itu tidak akan curiga, kalau dia mengira kita hanya numpang parkir mobil saja." Zizi tersenyum kaku. "Sejak tadi aku sudah parkir di sini. Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti maksudmu, Zi" tukas Kevin. "Kita sedang parkir karena sedang Pacaran di dalam mobil" Wajah Zizi semakin dekat dengan Kevin. Sedangkan mata Zizi selalu berputar-putar, tidak berani menatap langsung mata tajam Kevin. Seberkas cahaya senter masuk ke dalam mobil. Cahaya itu membuat Zizi semakin merapatkan tubuhnya dengan Kevin. Semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Kevin. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN