Angin berhembus lembut menerpa wajah cantik Zizi di tengah jalan raya. Rambutnya berkibar terkena hempasan angin ketika dia menaiki motornya dengan kecepatan sedang.
Jam menunjukkan angka sembilan pagi, saat Zizi mengendarai motornya, satu-satunya harta berharganya yang tersisa. Dia hendak ke lembaga penahanan masyarakat, menjenguk ayahnya yang di tahan karena sebuah dosa yang tidak pernah ia buat.
Kemarin sore ayahnya menelpon Zizi. Katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan dirinya. Zizi penasaran, mengapa ayahmua tidak mau bercerita atau bertanya langsung lewat telpon, malah meminta untuk bertemu secara langsung.
Tidak seberapa lama, Zizi akhirnya sampai di lembaga penahanan masyarakat. Setelah melewati pos pengamanan. Ia akhirnya bisa masuk.
Tubuh Zizi yang langsing, tingginya tidak lebih dari 156 cm. Terlihat kesulitan membawa barang bawaannya yang besar dan berat. Berbagai jenis makanan untuk ayahnya tersedia di dalam tas besarnya. Ada nasi dengan porsi yang banyak. Untuk di makan ayahnya dan teman temannya. Dan beberapa makanan ringan.
Sebenarnya tiga hari yang lalu, Zizi sudah menjenguk ayahnya. Tapi karena ayahnya ingin membicarakan sesuatu yang penting, maka ia harus datang lagi.
Zizi menunggu di ruang tunggu. Dan langsung berdiri ketika ayahnya muncul. Senyum bahagia tersungging pada kedua nya. Setelah Zizi mencium tangan ayah nya. Mereka lalu berpelukan. Dan bila memeluk ayahnya.
Zizi pasti tidak bisa menahan air matanya.
"Jangan nangis terus Zi. Ayah baik baik saja di sini. Teman teman ayah juga semuanya baik. Ayah justru khawatir dengan mu nak. Ayah takut mata mu mengering karena kehabisan stok air mata. Kamu selalu menangis setiap kali ke sini." Ucap pak Rudi, sambil mengelus rambut putrinya yang lembut.
Zizi tidak peduli dengan candaan ayahnya yang garing. Pria itu selalu berusaha melucu, walau dia tahu, Zizi jarang tertawa karena candaannya yang tidak lucu. Zizi lalu melepaskan pelukannya dan mengusap air mata nya.
"Ayah mau ngomong apa sama Zizi?" Mereka berdua duduk berdampingan.
"Kata Primus, kamu sudah dapat detektif lagi. Benar?" Pak Rudi mengamati baik-baik bola bulat mata Zizi.
"iya, Ayah. Tapi, kami baru satu kali melakukan penyelidikan, jadi belum bisa menemukan apapun. Ini semua gara gara Primus. Dia kemarin lusa, sudah mengacaukan penyelidikan kami" gerutu Zizi dengan bibir mengerucut.
"Siapa detektif mu yang baru itu?" Pak Rudi penasaran.
"Namanya Kevin. Jangan khawatir ayah, detektif yang ini beda banget, dia kelihatan professional, dan bisa di andalkan" Saking professional nya, aku pun dilarang dekat dekat sama dia. Dasar pria aneh, di bantu kok malah nggak mau. Kalau semua hal di lakukan secara bersama sama, maka pekerjaan pun akan cepat selesai, iya kan?
"Kata Primus, Kevin kelihatan berbahaya Zi. Sebaiknya kamu cari detektif lain saja. Maafkan ayah, ayah tidak bisa melindungi mu dari sini, Zi"
"Ayah nggak usah mengkhawatirkan aku.
Aku sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri. Percayalah ayah, Kevin sangat baik. Dan Dia tidak pernah melecehkan aku" Jangan kan melecehkan, di dekati saja dia jijik. Batin Zizi.
Zizi teringat di malam hari, ketika ia hampir di perkosa oleh Julio. Untunglah saat itu, Kevin datang tepat waktu. Kevin benar-benar terlihat seperti pria sejati. Seorang superhero yang tercipta untuk Zizi. Tapi Zizi tidak ingin menceritakan kejadian buruk ini pada ayahnya. Ia takut, akan menambah beban pikiran nya.
"Kamu yakin dia baik? Kata Primus, Kevin sering melihatmu terus Zi. Bahkan air liur nya selalu menetes ketika melihatmu" Ucap pak Rudi serius.
"Primus bohong, Ayah. Kevin nggak pernah tuh melototin aku. Dia bahkan takut aku sentuh. Tapi sebenarnya, Kevin itu baik kok ayah"
"Kamu yakin? Menurut ayah, Kevin baik karena dia menginginkan uang mu"
"Sudah lah ayah, jangan bahas Kevin terus. Dia nanti, menggigit bibirnya sendiri karena kita terus membicarakan nya. Ayah jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Sekarang aku sudah besar, dan bisa menjaga diriku sendiri. Zizi juga bisa membedakan, mana laki laki yang baik dan buruk"
"Ingat ingat itu terus Zi. Kamu tidak boleh gegabah dekat dengan laki laki manapun, mereka sangat berbahaya, apalagi dengan wanita secantik dirimu. Begitu juga dengan detektif. Carilah Detektif yang baik, pengertian, perhatian, dan menghormatimu sebagai perempuan" ucap pak Rudi serius.
"Zizi mencari Detektif, Ayah, bukan calon suami. Gimana sih ayah" tanpa sadar, Zizi menghentakkan kakinya ke lantai.
"Sama saja Zi. Detektifmu kan laki-laki. Semua laki-laki di dunia ini sama saja, sama-sama berbahaya!" Pertemuan mereka berlangsung dengan beberapa kali perdebatan perdebatan kecil. Dan setelah merasa cukup. Zizi berpamitan pulang.
******
"Aduh......"
"Kamu kanapa, Vin?" Ucap sahabat Kevin yang bernama Sandi. Dia adalah teman dan sahabat Kevin ketika masih bekerja di kantor pusat.
"Sial, sakit banget. Aku nggak sengaja menggigit lidah ku sendiri" dengus Kevin.
"Ahahaha .... Orang bilang, itu tandanya cewekmu sedang kangen sama kamu" ucap Sandi sambil tertawa-tawa. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Kevin yang sedang nyengir kesakitan.
"Maksudmu Siapa? Maria? Bagiku dia sudah mati tiga tahun yang lalu" Sanggah Kevin masam.
Kevin sedang berada di luar kota. Dan berada di kantor polisi pusat. Dia berada di dalam ruangan nya dahulu, dan sedang mengunyah permen.
Kevin suka makan permen sejak ia berhenti merokok. Dan setiap kali hasrat merokoknya datang. Ia selalu mengunyah permen.
"Jangan mengingat Maria terus, Vin. Maafkan saja dia dan doakan. Semoga dia bahagia bersama laki laki itu. Apalagi mereka sekarang sudah punya anak"
"Tenang aja, aku udah doain dia. Semoga dia cepat cerai!"
Ucap Kevin sambil tersenyum. Kevin tidak menganggap serius ucapan nya, dan hanya bercanda saja. Karena ia masih jengkel jika mendengar nama Maria.
"Hadeh, Kevin-Kevin …." Sandi menghela napasnya berat, tubuh kekarnya menyandar di kursi putar "Doa apaan itu bro? Jelek banget. Move on dong ..., di dunia masih ada banyak cewek yang lebih cantik, dan lebih baik dari Maria. Mau nggak, aku kenalin sama cewek di medsos ku? Dia cantik banget Vin! Dia ini idola baruku"
"Ah, cewek di medsos pasti cuma editan. Fotonya aja yang cantik, tapi kenyataannya, Wek …" Calvin pura-pura muntah di samping kursinya.
"Jangan salah faham bos … yang ini, aku yakin banget kalau dia itu cantik asli. Dia selalu pamer foto-fotonya ketika sedang kegiatan dengan teman-teman nya, dia juga banyak post video-video dirinya ketika lagi olah raga. Mantep deh nih cewek, selain cantik tubuhnya juga bohai, swiwit …." Saking hebohnya, Sandi sampai bersiul sendiri, seolah sedang melihat gadis itu ada di depannya.
"Ck … Aku percaya deh sama kamu. Mana ada cewek kucel dalam kamus mu" Kevin sedang duduk di sofa yang ada di ruangan Sandi. Sedangkan kakinya yang panjang menyelonjor di atas meja. Kurang tertarik dengan tema cewek yang di ajukan Sandi. Sesekali Kevin memainkan ponselnya.
Ruangan itu dulu milik Sandi dan Kevin. Dan sampai saat ini, belum ada pengganti Kevin. Mengenang masa masa yang dulu pernah dia lewati bersama sahabatnya adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Kevin. Memecahkan kasus bersama sama. Pergi ke tempat kejadian perkara bersama, terkadang hingga lembur karena sudah merasa dekat dengan penyelesaian kasus. Itu adalah kenangan terindah bagi Kevin.
Tiga tahun lalu, Kevin di utus sebagai perwakilan Polisi Indonesia. Menyelidiki kasus besar tentang kartel narkoba yang berproduksi di Belgia. Kartel itu mengekspor besar-besaran narkoba ke Indonesia. Dan untuk mengungkap kasus tersebut sangatlah rumit, sehingga Indonesia mengirimkan beberapa perwakilan penyilidik handalanya. Salah satunya adalah Kevin.
Baru saja berjalan satu tahun. Desas desus Kevin di depak dari tim penyelidik di Belgia, terdengar hingga Indonesia.
Mendengar kabar itu, Kevin pun di skors oleh Kepolisian pusat. Alasannya adalah, Kevin telah mengacaukan penyelidikan di Belgia. Karena ancaman yang di keluarkan Kevin pada salah satu tersangka yang berhasil di tangkap. Menyebabkan tersangka itu malah bunuh diri, padahal tersangka itu sangat krusial bagi penyelidik.
Meninggalnya tersangka tersebut, membuat para penyelidik gagal mengungkap siapa saja pemimpin teratas kartel narkoba kelas kakap tersebut. Karena tersangka itu adalah Saksi kunci, dia tahu siapa saja pemimpin tertinggi kartel.
Yang paling terasa berat bagi Kevin adalah. Karena kejadian ini, Ibunya jatuh sakit selama satu bulan. Dan tunangan nya yang bernama Maria, yang telah Kevin pacari selama tiga tahun. Dengan tega meninggalkan Kevin begitu saja. Memilih menikah dengan duda kaya raya yang sudah seusia ayah Maria.
Kevin tidak menyangka, ternyata Maria hanya mencintai pangkat dan hartanya saja. Sekarang beberapa aset pribadi Kevin, telah ia sewakan. Seperti dua apartemen. Dan sebuah rumah mewah. Bahkan mobil mewahnya terpaksa ia jual, ia tidak sanggup lagi membayar pajak nya yang selangit.
Kevin bisa mengumpulkan harta sebanyak itu karena dia merupakan penyidik paling kompeten dan handal. Tapi sekarang, semua tinggal kenangan manis.
"Lihat Vin, ini nih cewek yang barusan aku bicarain. Dia cantik banget kan? Sayang rumahnya jauh. Dia tinggal di Surabaya" Sandi menggelengkan kepalanya kecewa. "Oh ya, kamu kan sekarang tinggal di Surabaya. Coba deh temuin dia." Sandi heboh sendiri. Seolah dialah yang akan menemui cewek cantik itu. Foto itu ia ambil dari medsos si cewek cantik .
"Zizi?" Kevin terperanjat kaget saat matanya yang awalnya ogah-ogahan memperhatikan ponsel Sandi. Kevin mengucek matanya, tidak percaya dengan penglihatannya. Bagaiamana mungkin Sandi memiliki foto Zizi. Sedangkan dia yang sudah mengenalnya, tidak punya gambar Zizi satupun.
"Namanya Zivana bro, bukan Zizi" elak Sandi. Ia menarik ponselnya. Tapi Kevin buru buru merebut ponsel Sandi. Dan melihat lagi foto Zizi.
Kevin tidak yakin dengan matanya. Mengapa akhir akhir ini, dia sering melihat Zizi di dalam kepalanya. Bahkan ketika sekarang dia berada di luar kota, Zizi terus muncul di kepalanya. Dan juga .... Di ponsel Sandi.
Kevin memandangi wajah cantik nan ayu milik Zizi. Senyuman manis itu selalu membuat wajah Zizi semakin terlihat cantik. Dan betapa terkejutnya Kevin ketika ia menggeser layar ponsel Sandi. Ternyata Sandi punya 20 foto Zizi yang tertawa dengan berbagai gaya. Semuanya cantik dan seksi.
"Kamu dapat dari mana semua foto ini?" Tanya Kevin, matanya masih fokus menatap layar ponsel Sandi.
"Gampang bro, dari medsos dia.
Kenapa? Kamu suka? Seandainya aku sekarang ada di Surabaya. Aku akan mengejarnya mati matian Vin. Tapi karena kamu sahabatku. Aku akan memberikan dia sama kamu. Bye, Zivana sayang .... Abang akan merelakan wajah cantik mu untuk Kevin yang belum move on ini. Muuuaaah......." Sandi mencium ponselnya. Tapi akhirnya ia hanya mencium angin karena Kevin merebut lagi ponsel Sandi.
"Jangan cium cium dia. Dia sangat berbahaya"
"Sebahaya apa dirinya Vin? Cewek cantik yang lembut. Tingginya pasti tidak lebih dari 156 cm. Ah, aku benar benar pengen menggendongnya dan kubawa lari ke rumahku. Menguncinya di di kamar ku. Dan menjadikan nya milikku. Tunggu, kamu kenal sama dia? Kenapa kamu tahu, kalau dia bahaya? Apa dia suka menggoda laki laki? Atau dia sebenarnya bukan perempuan baik baik?" Sandi menebak-nebak penasaran, dia lalu duduk di samping Kevin.
"Dia Lebih dari berbahaya San. Dia bisa menabrak tubuhku hingga terjatuh. Dan dia bisa membuatku di tangkap polisi, karena sudah memasuki TKP yang masih bergaris tanpa izin"
Dan karena ulah Zizi yang menabrak Kevin hingga membentur lemari. Kevin menemukan sesuatu. Sesuatu itu terjepit di belakang lemari.
"Wah, kayaknya hebat banget Zivana. Bisa membuatmu tidak berdaya. Kapan kapan, kenalin aku sama dia, Vin. Aku akan membuatnya bertekuk lutut di hadapan ku. Aku suka perempuan yang menantang"
"Jangan dekati dia. Aku nggak mau kamu bernasib sial sama seperti ku"
"Bilang saja kalau dia hanya untuk mu Vin. Aku rela kok, demi kamu aku mengalah deh"
Sandi menepuk nepuk pundak Kevin.
"Aku nggak menyukai nya San. Aku memperhatikan nya karena kasihan aja sama dia. Dia itu sebatang kara. Ayah nya di penjara. Saat ini aku sedang bekerja padanya, dan menyelidiki kasus ayahnya, yang menurut Zizi tidak bersalah. Dan aku kasihan sama dia, baru baru ini dia hampir di perkosa"
"Biar ku tebak.
Kamu yang menyelamatkan nya. Iya kan?"
" Iya aku menyelamatkannya, memangnya kenapa?"
"Selamat ya, Bro .... Kemungkinan besar Zizi jatuh cinta sama kamu. Hihihi …." Sandi tertawa cekikikan. Hingga pundak nya terangkat-angkat karena menahan tawanya yang ingin meledak.
"Kalau ngomong jangan sembarang. Saat ini aku masih belum ingin dekat dengan perempuan mana pun. Apalagi perempuan seperti Zizi. Dia benar benar bukan tipe ku. Berisik dan selalu membuat masalah. Oh ya, aku bawa ini. Tolong selidiki ini. Ada bekas sidik jari ayah nya Zizi atau tidak. Dan ini sampel sidik jari ayah Zizi" Kevin memberikan sebuah tas kain kecil yang mewah. Di tas itu bertuliskan Rezza Queen dengan tinta warna emas. Tanggal 3 juni.
"Kenapa kamu nggak mengetes nya di Surabaya aja?"
"Aku lebih suka dengan sahabatku sendiri" Kevin mendudukkan panta*nya di atas meja.
"Oke, aku akan menyelidiki nya" Sandi mengambil tas kecil berwarna merah tersebut. Menyimpannya di laci mejanya. Tangannya kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Lho kemana foto foto Zivana ku? Kok nggak ada semua?" Tanya sandi pada Kevin.
"Aku sudah menghapus semua. Aku takut, kamu mimpi buruk karena terlalu sering melihatnya" Kevin kemudian duduk di sofa. Tangan nya lalu memainkan ponsel. Bibirnya tersenyum senyum.
"Sial kamu Vin. Bilang aja terus terang. Kalau aku nggak boleh memikirkannya" gerutu Sandi.
Kevin tidak peduli dengan gerutuan Sandi. Bibirnya tersenyum-senyum ketika matanya menatap ponsel di tangannya.
Tanpa sepengetahuan Sandi. Kevin sudah mengirim foto foto Zizi ke ponsel nya.
Bersambung ....