Brukkk ....
Dalam kegelapan, tanpa sengaja Zizi menabrak tubuh seseorang dalam kegelapan. Semua terlihat gelap, sehingga ia tidak bisa melihat wajah nya. Dan Zizi terkejut saat orang yang ia tabrak mencengkeram erat bahu rampingnya. Cengkraman erat itu membuat Zizi berdiri membeku, jantungnya seketika langsung melompat-lompat tak terkendali.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Zi?" Suara ini ..., suara Kevin. Walaupun nadanya rendah, Zizi tahu, pria itu sedang menahan emosi. "Bukannya aku tadi menyuruhmu diam dan tunggu aku di luar. Terlalu berbahaya kalau kamu ikut masuk. Kamu lebih aman berada di depan. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi, maka kamu tinggal keluar dan lari" ucap Kevin dengan mencengkeram erat bahu Zizi.
"Tapi Kevin …, aku …, Aku baru saja mendengar ada langkah kaki di lantai atas" jawab Zizi terbata. Di tengah jantungnya yang masih berdetak keras. Hati Zizi sedikit lega, ternyata tubuh tinggi dan keras yang ia tabrak adalah milik Kevin.
"Kalau bicara jangan ngawur! Aneh sekali, jika kamu mendengar sesuatu, aku juga pasti mendengar nya. Berhenti mencari alasan untuk mengikutiku" tukas Kevin.
Mata Zizi kini mulai terbiasa dengan gelap. Cahaya rembulan terlihat redup menerangi rumah dinas ayahnya dulu. Zizi bisa melihat wajah tegang Kevin terlihat gusar, dia lalu berbalik, punggung lebarnya terlihat seksi.
Tiba-tiba ada sesuatu yang melewati kaki Zizi cepat. "Aaa … tolong Kevin, aku takut" Zizi menjerit pelan, tanpa permisi, ia menubruk Kevin dari belakang. Hingga membuat pria bertubuh kekar tersebut jatuh tersungkur ke lantai.
"Aw, si*l!..." Desis Kevin pelan. Dengan perasaan kesal, Kevin mengelus kepalanya yang terbentur lemari.
Kevin benar-benar tidak menyangka, tubuh kecil Zizi yang hanya setinggi dadanya bisa menubruk dirinya sampai terjatuh membentur lemari.
Dan perempuan pembuat masalah itu kini berlutut di samping Kevin, jemari lentiknya mengusap-usap kepala Kevin. Dan bibirnya terus mencercau minta maaf.
"Singkirkan tanganmu! Ada apa lagi Zi?" Ucap Kevin kesal. Tangannya menepis jemari lentik Zizi yang mengelus kepalanya. Memangnya dirinya kucing?
"Maaf kan aku, Kevin. Aku tidak berniat menubrukmu sampai jatuh. Sumpah! Tadi aku kaget, ada kecoa yang merambat di kaki ku" ucap Zizi penuh penyesalan. Lagi-lagi Kevin hanya membuang muka. Pria itu selalu terlihat sebal ketika Zizi mendekat.
Srak srak ....
Terdengar suara sepatu melangkah di lantai dua. Suara itu cukup nyaring. Kevin dan Zizi saling berpandangan.
"Aku benar kan? Seseorang yang mencurigakan berada di atas. Aku yakin Kevin, Itu pasti orang yang sudah menjebak ayah. Aku yakin dia mau mencari barang bukti yang ketinggalan. Ayo Kevin, cepat tangkap dia. Jangan sampai dia kabur. Ini adalah kesem....." Tiba-tiba Kevin membekap bibir Zizi yang nyerocos.
Mata Kevin menatap Zizi jengkel. "Tetap di sini, dan jangan berisik!" Ucap Kevin cepat. Mata tajamnya terasa mengancam Zizi. Pria itu lalu berdiri, meninggalkan Zizi sendirian.
Zizi tidak peduli dengan tatapan dingin milik Kevin. Dia bergegas bangun. Dengan langkah kaki cepat dan halus tanpa suara. Zizi keluar dari kamar, berjalan mengikuti Kevin yang sedang menaiki tangga.
Kevin yang bertubuh tinggi athletis, sangat mengagumkan. Pria menawan itu berjalan tenang dalam kegelapan tanpa menghidupkan senternya. Hanya cahaya remang remang dari rembulan yang menuntun langkah kaki nya yang hati hati tanpa suara.
Dan tanpa sepengetahuan Kevin. Diam diam, Zizi berjalan di belakang Kevin. Zizi bangga pada dirinya sendiri. Ternyata ia bisa berjalan sama persis dengan langkah kaki Kevin yang tanpa mengeluarkan suara.
'Zizi, kamu hebat. Kamu memang pantas di juluki sang asisten detektif, sebentar lagi kau layak di sebut Detektif professional' dalam hati Zizi memuji dirinya sendiri, seulas senyum bangga terulas di bibir merah mudanya yang ranum.
Brukkk ....
Aduh, apa lagi sih yang aku tubruk?
"Aw...." Pekik Zizi tertahan. Lagi-lagi ia menabrak tubuh seseorang yang lebih tinggi dan tegap. 'Kevin? Kenapa dia tiba tiba berhenti sih? Ah ... Jadi ketahuan deh'
Kevin membalikkan tubuhnya, kedua tangan kekarnya merem*s bahu Zizi erat. Dan dengan cepat mendorong tubuh Zizi ke sudut ruangan yang gelap. Menempelkannya di dinding.
Nafas Zizi tercekat di tenggorokan saat tubuh kekar Kevin menempel erat di tubuh nya. Menekan tubuh Zizi dengan tubuh kekarnya yang berotot. Kedua tangannya mengurung tubuh Zizi.
Zizi lalu mendongak, hendak mengucapkan sesuatu pada Kevin, ia terkejut, ternyata bibirnya malah menyentuh jakun leher Kevin yang bergerak-gerak. Zizi seolah sedang mencium jakun itu. d**a Zizi pun bergemuruh liar, ia sampai takut jika Kevin mendengarnya.
Buru-buru Zizi menunduk. Matanya terpejam. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tangannya terasa panas dingin menempel di d**a Kevin. Sedikit memberi jarak di antara keduanya, setidaknya d**a keras Kevin tidak menempel di d**a lembut Zizi. Sedangkan bibir Kevin menempel di rambut Zizi yang lembut dan harum. Zizi tidak mampu menolak daya pikat Kevin dan kehangatan tubuh mereka yang saling menempel erat.
Mata Zizi terbuka saat merasakan nafas hangat menyapu wajahnya. Matanya pun melebar, wajah Kevin merunduk sangat dekat dengan wajahnya. Memandang lekat bibir Zizi.
Zizi tidak mengerti mengapa Kevin semakin mendekat. Gerakan itu sangat lambat, hingga membuat Zizi ragu, apakah Kevin bergerak atau tidak. Jantung Zizi semakin berdegup kencang ketika bibir Kevin semakin dekat.
Zizi tahu apa yang akan di lakukan Kevin. Ia pun menutup matanya tidak siap. Zizi bisa merasakan hembusan hangat nafas Kevin yang semakin dekat menyapu wajah nya.
"Apa yang kamu lakukan?" Kevin berbisik di telinga Zizi.
Zizi pun membuka matanya lebar-lebar. Dalam kegelapan Zizi bersyukur, pipi merahnya karena malu tidak terlihat oleh Kevin. 'A … kamu bodoh Zi, memangnya apa yang kamu harapkan dari pria dingin itu? Dia akan menciummu? Tidak mungkin!'
Kevin mengangkat wajahnya. Tatapan matanya tajam penuh selidik dan tanda tanya. Penasaran mengapa Zizi terus mengikuti dirinya.
Zizi pun mulai terbiasa dengan tatapan sinis Kevin yang terlihat tidak suka. Namun Zizi tidak peduli. Dia malah tersenyum cantik ke arah Kevin, menutupi rasa malunya, yang mengira Kevin akan mencium dirinya.
Kevin terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah itu dia menarik tubuhnya. Mengambil kehangatan tubuhnya. Dan menciptakan jarak di antara tubuhnya dan Zizi. Kedua tangan Kevin masih menempel di dinding, mengungkungi tubuh kecil Zizi yang hanya sedadanya.
"Apa lagi, yang mau kamu lakukan Zi? Semua bisa kacau kalau kamu terus membuntutiku" resah Kevin dengan suara pelan.
"Aku …," Kevin membekap mulut Zizi yang agak keras berbicara.
"Aku melihat orang itu Zi" lirih Kevin menempel di telinga Zizi.
Srak srak ….
Terdengar suara langkah kaki cepat, setengah berlari. Bruk .... Gedebuk … Gubrak .... Terdengar kembali suara orang yang jatuh menimpa sesuatu. Hingga mengakibatkan orang itu jatuh bersamaan dengan barang-barang yang jatuh.
Tidak lama kemudian, seseorang keluar dari salah satu kamar. Orang itu berlari melalui Zizi dan Kevin.
Grep.....
Kevin berhasil menangkap tangan orang itu. Dan dengan cepat, membanting tubuh pria itu ke lantai yang dingin.
"Ti …, tikus! Ada tikus yang sangat besar di sana. Tolong buang tikus itu. Dia menatapku terus menerus. Aku yakin tikus itu bukan tikus sungguhan, tapi dia siluman." Kevin meghidupkan senternya. Lalu mengarahkannya pada orang yang sedang dia tindih dengan sebelah kakinya. Kevin bisa melihat wajah orang itu dengan jelas. Dia seorang pemuda kurus.
"Primus?" Celetuk Zizi keheranan.
"Tikus, bukan primus!" Dengus Kevin. Ia menginjakkan sebelah kakinya di leher pria itu. Menekan nya semakin kuat saat pria itu mencoba memberontak.
"Nama nya memang Primus kok" Ucap Zizi, ia lalu mendekat ke arah Primus. Wajah Primus tampak kesakitan dan memerah.
"Angkat kakimu Kevin. Primus kesakitan" Zizi khawatir saat mendengar suara ngek dari mulut Primus.
"Nggak, dia nanti melarikan diri. Dia ini orang jahat Zi"
"Dia nggak jahat. Aku dan ayah sangat dekat dengan nya. Ayah sangat menyayanginya" ucap Zizi berusaha menyingkirkan kaki Kevin di leher Primus.
Kevin pun terpaksa melonggarkan injakan kaki nya. Tapi, tetap di sana.
"Aku tidak akan melepasnya, sebelum dia menjawab pertanyaan ku. Siapa kau sebenarnya?" Kevin sangat ingin tahu, apa hubungan Primus dan Zizi. Apakah sangat dekat? Atau biasa biasa saja?
"Aku adalah pacarnya Zizi" Primus menjawab dengan bibir tersenyum sebelah.
Tanpa di duga Kevin langsung melepaskan cengkraman kaki nya. Ia duduk lemas di kursi.
Mata Kevin memperhatikan Zizi menolong Primus. Membantu nya duduk di kursi. Lalu mengelap sedikit darah yang keluar dari pelipis Primus. Darah itu keluar saat kepalanya terbentur lantai.
"Apa hubungan mu sebenarnya dengan Zizi?" Tanya Kevin lagi. Dia tidak yakin dengan jawaban Primus yang pertama.
Kalau benar apa yang di ucapkan Primus. Kevin jadi tahu seperti inikah selera Zizi? Pria bercelana ketat dengan lututnya yang bolong lebar. Rambutnya yang di cat kuning terlihat berantakan. Ia memakai kalung besar. Dan bajunya yang terbuat dari jeans, lecek seperti tidak pernah di cuci.
"Jangan lama lama memijat penjahat ini Zi!" Kevin mengamati Zizi yang masih memijiti pundak Primus. Merasa kasihan dengannya karena Kevin membantingnya sangat keras hingga pelipis nya sedikit berdarah.
"Jawab aku bajing*n. Apa hubungan mu sebenarnya dengan Zizi?" Tanya Kevin yang sedang duduk tegak di kursi.
"Aku kan tadi sudah bilang, Zizi adalah pacarku" jawab Primus dengan nada tinggi. "Kamu sangat pintar memijat, Zi. Ya - ya, yang di situ, ah … enak sekali pijatan mu" Primus memejamkan matanya, menikmati pijatan Zizi di kepalanya.
"Pacar gundul mu. Jangan mimpi" Zizi menjendul pelan kepala Primus.
"Jadi, sekarang kamu udah nggak mencintaiku?" Protes Primus tanpa menoleh ke belakang.
"Aku nggak pernah mencintaimu. Enak aja!" Bibir Zizi mengerucut. Tangannya masih memijat kepala Primus dari belakang.
"Jahat! Aku sedih tahu! Apa sekarang kamu juga sudah tidak ingin menikah dengan ku?"
"Stop! Jangan teruskan pembicaraan bodoh kalian. Zizi tidak mungkin mencintai pria sepertimu" sela Kevin. Ia berdiri mendekat ke arah Primus. Tangannya lalu mencengkeram kerah baju Primus.
"Apa apaan ini Zi? Apa ayah mu sudah tahu, kalau kamu berteman dengan polisi?" Ucap Primus, sambil berusaha menepis cengkraman tangan Kevin.
"Dia bukan polisi Primus. Dia adalah, detektif swasta yang aku sewa"
"Tapi, potongannya seperti Polisi" Mata Primus menyapu seluruh tubuh Kevin, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi.
"Aku memang Polisi dari markas pusat. Dan sedang mengincar penjahat seperti mu" Ucap Kevin. Ia kembali ke kursinya. Duduk dengan kaki menyilang ke depan. Benar benar pemandangan yang indah di mata Zizi. Sangat kontras dengan Primus.
"Benarkah kamu seorang polisi? Bukannya kamu hanya seorang detektif swasta?" Zizi memandang bingung ke arah Kevin.
"Baik lah, sekarang aku memang bukan lagi anggota Polisi pusat. Sekarang mari kita mulai penyidikan ini Primus. Jangan mengalihkan topik pembicaraan terus"
"Tunggu, jadi kamu adalah mantan Polisi? Buang saja dia Zi. Dia pasti Polisi jahat, tidak jujur, seorang koruptor. Makanya di pecat dari Kepolisian" terang Primus.
"Benarkah? Tapi, aku justru semakin suka kalau ternyata Kevin adalah mantan Polisi. Itu artinya dia bisa berpikir baik dan berpikir jahat. Sangat cocok menjadi penyelidik pribadi ku" Zizi lalu melempar senyum ke arah Kevin.
Kevin terperangah melihat wajah cantik Zizi yang tersenyum. Jawaban wanita itu sungguh di luar dugaan nya. Baru sekarang ada orang yang mengatakan bahwa ia pantas menjadi dirinya sendiri. Agak aneh memang, Zizi tidak memandang rendah dirinya yang merupakan seorang mantan polisi. Ia malah percaya dan menaruh harapan besar pada Kevin.
"Tapi, kenapa kamu menyukai polisi jahat ini Zi? Bukan nya kamu dulu menyukaiku dan mengajak ku menikah?"
"Enak aja. Kamu lupa waktu itu aku baru umur 7 tahun. Lagian aku dan Kevin hanya sebatas rekan kerja, nggak lebih"
"Sudah selesai omong omongan nya? Sekarang duduklah Zi. Jangan dekat dekat dengan Primus. Jawab pertanyaan ku Primus. Pertama, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"Aku di suruh untuk mencari barang bukti yang tertinggal oleh ayah Zizi. Sebaiknya kau mundur saja jadi penyelidik Zizi, karena ayah Zizi memilihku menjadi penyelidik pribadinya" sanggah Primus.
"Jangan dengarkan dia Kevin. Aku hanya percaya pada mu" tangkas Zizi. Ia duduk.
Tiu tiu tiu ….
Sebuah sirene mobil Polisi memekakakn telinga. Tepat berada di depan rumah Zizi. Tidak lama kemudian, pintu di bawah di buka oleh seseorang. Itu pasti Polisi.
Ketiga orang yang berada di lantai dua saling berpandangan tidak berkutik. Tidak ada waktu untuk melarikan diri.
*****
"Wah wah Kevin …, aku benar-benar tidak menyangka kamu masih suka bermain jadi detektif detektifan. Kalau bukan karena kamu dari kantor pusat. Aku pasti sudah menahan kalian semua di kantor polisi"Ucap seorang polisi yang sudah berumur. Namanya Anton.
Dia duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Zizi. Bersama satu anggota polisi lain, Kevin, Zizi, dan Primus.
"Saya minta maaf, atas ketidak nyamanan ini" Ucap Kevin.
"Lain kali, kamu harus membawa surat izin dari kantor ketika ingin menyelidiki kasus. Mungkin karena inilah kamu di pecat dari markas pusat. Dan menjadi staf administrasi di kantor Polisi sini. Hei mbak jangan nangis terus. Kami hanya ingin tahu siapa yang mencoba masuk di TKP, karena tadi sore ada yang melapor. Kalau dia melihat seorang preman masuk ke sini" Anton memandangi Primus yang memang berpenampilan layak nya seorang preman.
Kevin memegang tangan Zizi agar berhenti menangis. Bahu rampingnya sampai bergetar karena ketakutan. Zizi mulai menangis sejak ada polisi naik ke lantai dua. Saat itu, ia mengira. Bahwa ia pasti akan di tangkap dan di bawa ke kantor polisi.
"Sekarang kalian silahkan pulang. Dan tenangkan dulu itu cewek mu, Vin. Aku nggak nyangka, anak penjahat bertemu dengan seorang penjahat dari kantor pusat. Kalian benar benar cocok. Aku mendukung mu Vin" Ucap Anton penuh sindiran pedas, sudut bibir nya muncul. Ia tersenyum meremehkan Kevin. Ia lalu berjalan di belakang Kevin. Sedangkan Kevin tidak menanggapi ucapan sinis dari Anton.
Kevin sedang berjalan sambil memegangi pundak Zizi. Menuntun nya keluar dari rumah. Sambil sesekali menepuk lembut pundak Zizi.
"Baiklah, sekarang kalian harus cepat pulang. Dan jangan pernah, datang ke sini lagi. Area ini masih terlarang, karena Polisi belum selesai menyelidiki tempat ini" peringat Anton lagi.
Anton dan rekannya lalu meninggalkan terlebih dahulu tempat itu. Dan Kevin menyuruh Primus membawa pulang motor Zizi. Karena Primus sendiri tidak membawa kendaraan. Sedangkan Zizi di antarkan Kevin.
Zizi masih menutupi wajahnya yang menangis ketika mobil Kevin mulai melaju. Dan setengah menit kemudian. Zizi membuka wajahnya. Dan tersenyum pada Kevin.
"Gimana akting ku tadi? Cukup meyakin kan?" Celetuk Zizi.
"Dari tadi kamu cuma pura pura nangis? Dasar! Ku kira kamu beneran menangis. Ternyata kamu wanita licik" Ucap Kevin. Dan matanya kembali melihat jalan.
"Aku bukan wanita licik, tapi cerdik tahu! Polisi tadi pasti akan menahan kita semakin lama kalau aku tidak pura-pura menangis. Awalnya aku memang menangis beneran, tapi selanjutnya aku cuma pura pura. Aku ingat. Polisi itulah yang menangkap ayah. Makanya dia masih ingat dengan ku. Kata polisi tadi kamu adalah anggota polisi aktif. Benerankah? Aku nggak salah dengar? Asiiikk ...." Zizi tersenyum dan tertawa renyah. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang nya.
"Memangnya kenapa kalau aku Polisi? Bukan nya kamu lebih senang kalau aku bukan polisi lagi? Apalagi aku hanya polisi rendahan, aku sudah di tendang dari markas pusat" Kevin tidak mengerti arah pikiran Zizi.
Bukan nya memandang dirinya rendahan atau menganggap dirinya Polisi kotor seperti yang di lakukan orang lain di sekitarnya. Termasuk mantan tunangan nya yang telah ia pacari selama tiga tahun. Dan mantan nya itu sekarang menikah dengan pengusaha kaya raya. Walaupun sebenarnya suaminya lebih pantas di sebut sebagai ayah nya. Dan Kevin belum bisa memaafkan sikap mantan tunangannya yang hanya mau melihat Kevin, saat kevin sedang di atas.
Begitu juga dengan orang orang di kantor yang suka memandang rendah dirinya. Kecuali beberapa polwan yang mengagumi Kevin.
"Aku lebih senang kalau kamu seorang Polisi. Kamu pasti bisa lebih leluasa menyelidiki kasus ini kan? Dan aku tidak sabar kamu menyelidiki hal hal yang mencurigakan selanjutnya. Besok kita melakukan penyelidikan lagi kan Kevin?" Zizi memandang penuh harap pada Kevin.
"Tidak bisa. Besok aku sibuk. Aku akan melakukan penyelidikan besok lusa. Dan aku akan melakukan nya sendiri. Kamu tadi sudah mengacaukan semuanya. Seandainya tadi kamu tidak ikut. Aku pasti tidak akan tertangkap oleh Anton siala*n itu. Sial! Gara-gara kejadian ini, catatan merah ku pasti semakin banyak di kantor polisi" Kevin memukul pelan kemudinya. Wajah nya terlihat emosi.
"Sabar Kevin. Ayo kita buktikan kalau kamu memang ahli di bidang penyelidikan. Seandainya kita bisa membuktikan kalau ayah tidak bersalah. Dan bisa menangkap penjahat yang sebenarnya. Aku yakin, Kamu pasti di jadikan lagi sebagai penyelidik. Orang orang bodoh itu pasti menyesal karena telah menyia nyiakan bakat mu yang sempurna dari surga"
"Cih, sempurna apanya? Kamu saja belum pernah melihatku menyelidiki kasus. Dan aku sudah memperingatkan mu. Jangan menangis kalau memang ayah mu terbukti mengedarkan narkoba"
"Aku yakin. Ayah ku orang baik. Lagian ada kamu di sampingku yang siap mengungkapkan bahwa ayah tidak bersalah. Ayo Kevin, kita bersalaman. Selanjutnya kita akan bekerja sama menjadi partner yang saling menguntungkan" Zizi mengulurkan tangan nya, tapi Kevin tidak peduli. Matanya hanya melirik sekilas tangan Zizi, lalu kembali memandang ke arah jalanan.
"Tidak ada yang berubah, Zi. Selanjutnya, aku tetap akan bekerja sendiri. Kamu seperti benalu yang mengganggu"
Bersambung........