Zizi masih berdiri membeku di tempatnya.
Ia tidak percaya, bisa melihat senyuman Kevin yang sekilas. Walaupun sekilas, tapi cukup membuat hati Zizi bergetar indah.
"Dor …, Ketahuan. Lagi ngelamun kan? Beritahu aku Zi, siapa laki laki tadi? Dia keren banget, gebetan mu ya? Atau kalian udah pacaran?" Tebak Rena. Tangannya erangkul tangan Zizi.
"Apaan sih Ren. Suka banget menggodaku. Gara-gara kamu jantungku hampir copot tau!" Zizi mengelus dadanya yang masih berdebar-debar.
"Terus terang denganku dong Zi. Siapa pria tadi? Kenapa dia memelukmu di tempat umum seperti ini? Awas, Jangan bermesraan di dalam gedung, bermesraan aja di dalam kamar"
" 'Bermesraan di kamar' gundul mu. Aku sama dia nggak ada apa apa tahu!"
"Kalau nggak ada apa apa. Kenapa wajah mu merah? Dan Hidung mu panjang kayak Pinokio? Dasar pembohong amatir" Zizi meraba wajah nya, masa iya wajahnya berubah jadi Pinokio?
'Ah, dasar Rena. Kenapa aku termakan omongan nya? Hidung ku emang mancung, sejak aku di dalam perut ibu' Batin Zizi.
Zizi memang sejak kecil takut untuk berbohong. Itu karena orang tuanya dulu selalu mengatakan, jika hidung Zizi akan terus memanjang bila ia berbohong. Hasil nya ia tidak pernah bohong, dan kalau pun terdesak berbohong, ia kelihatan panik. Jadi mudah sekali menebak Zizi, bila ia sedang berbohong.
"Ayo Zi, Katakan pada ku, siapa pria kekar tadi?" Rena mengikuti sahabat nya ke dalam ruangannya, bersiap untuk pulang. Zizi memakai jaket tipis untuk menutupi dadanya yang agak terbuka. Lalu mereka berdua berjalan beriringan, turun ke lantai bawah menggunakan lift.
"Pria yang kamu lihat tadi bukan siapa siapa ku Ren. Dia adalah penyidik baru ku. Namanya Kevin. Kamu ingat nggak? Waktu kita ke kafe, terus aku duduk di atas pangkuan pria? Dia adalah, Pria yang aku duduki Ren" Zizi ganti merangkul tangan sahabatnya. Mengingat kejadian itu membuat Zizi kembali ingin menghilang dari dunia ini. Perasaan malu itu sungguh membuat dirinya ingin lenyap.
"Gila …, takdir yang benar-benar tidak bisa di hindari. Kayak nya kalian berjodoh deh Zi" Rena terkekeh.
"Apaan sih Ren. Nggak mungkin ah. Aku sama dia cuma rekan kerja profesional aja kok" Lagi lagi, pipi Zizi merah.
"Tapi bisa aja kan? Kamu tahukan istilah 'Witing trisno jalaran songko kulino' Zi?"
( Terjadi cinta karena terbiasa bersama )
"Nggak mungkin ah, Ren. Dia aja nggak suka sama aku. Wajah dinginnya itu terlihat membeciku. Jangan kan suka, aku deketi dia aja, pria itu langsung menjauh nggak suka. Dia kayak alergi waktu melihat ku. Meperlakukan aku seperti orang yang mempunyai virus menular. Selain punya sikap dingin, Kevin nggak peduli sama aku. Dasar pria cuek bebek. Ngata ngatain aku cewek m***m"
"Yang ada tuh, dia cueknya. Dan kamu yang bebek nya." Rena melepas rangkulan Zizi di tangannya. Dia lalu masuk ke dalam mobilnya. "Udah ya, Zi …, Aku pulang dulu, bye, Sayang ...." ucap Rena dari dalam mobil. Tangannya keluar dari jendela mobil, melambai ke arah Zizi. Ia lalu menjalankan mobilnya. Meninggalkan gedung 'Rezza health and sports'
Sepeninggal sahabatnya, Zizi lalu menaiki motor nya. Segera pulang ke rumah nya sendiri.
*****
Langit mulai menggelap, langit pun menghitam, bulan sabit muncul malu-malu di atas awan. Waktu sudah mulai malam.
Selesai sholat Maghrib, Zizi makan malam sendirian di dalam rumah kecilnya. Dalam kesendiriannya pikirannya berkelana jauh. Hatinya sedih jika mengingat memori masa lalunya. Dulu selalu ada tawa dan canda ketika makan malam bersama kedua orangtuanya. Walaupun hanya makan malam sederhana di depan televisi, namun semua sangat membahagiakan, membuat hatinya hangat. Namun semua menghilang perlahan lahan. Satu persatu kebahagiaan nya meninggalkan dirinya. Setelah kepergian ibunya menghadap sang kholiq. Kini ayah nya pun pergi juga, menghadap sang hakim.
Ting tong ....
Bel pintu rumah Zizi berbunyi. Buru buru Zizi menyudahi makannya, menaruh begitu saja piring kotornya di wastafel. Ia lalu berlari-lari kecil menuju pintu, dengan penuh semangat tangannya membuka pintu. Detektif tampannya yang gagah pemberani dengan harga yang murah, tidak boleh menunggu dirinya terlalu lama.
Ceklek ....
Zizi membuka pintu rumahnya. Wajah cantiknya terkejut saat melihat seseorang di depan pintu rumahnya. Ternyata bukan Kevin yang berdiri di depan pintu. Melainkan seorang pemuda kampungnya, yang bernama Julio.
Sebenarnya sih bukan Julio tapi Juliono. Salah seorang Pemuda kampung yang naksir dengan Zizi. Tubuhnya jangkung dan kurus. Kulitnya gelap karena sering terpapar matahari. Maklum dia kerja sebagai kuli bangunan. Dan Julio langsung tersenyum ketika melihat Zizi membukakan pintu untuknya.
Julio sangat senang, akhirnya Zizi bersedia juga membukakan pintu untuk dirinya. Sudah berkali-kali dia mengunjungi rumah Zizi, mengetuknya tanpa kenal rasa lelah. Namun Zizi tidak pernah mau membukakan pintu untuk nya.
Julio menelan ludahnya sendiri. Ketika melihat Zizi sedang memakai dress warna biru pastel. Dress itu pendek dan tanpa lengan. Rok nya di atas lutut. Dan sedikit berkibar ketika angin malam menerpa rok Zizi. Membuat paha mulusnya yang putih bersih sesekali terbuka.
"Boleh aku masuk, Cantik?" Celetuk Julio, karena Zizi tak kunjung juga menggeser tubuhnya. Menutup pintu dengan tubuhnya.
"Nggak boleh!" Jawab Zizi ketus, ia harus mengusir Julio secepatnya.
"Kalau gitu, bicara di luar yuk?" Julio tidak menyerah. Dia harus berjuang, tidak biasanya, Zizi mau membuka pintu untuk dirinya. Zizi adalah cewek tercantik di kampung, selain mempunyai wajah cantik, tubuh Zizi pun sangat indah, membuat pria manapun kesulitan mengalihkan pandangan matanya. Membuat banyak pemuda tergila gila pada Zizi. Salah satunya ya ini, si Julio
"Aku nggak mau. Aku salah, aku kira kamu tadi orang yang aku tunggu. Maaf pulanglah, aku kebelet pip!s" Zizi menutup pintunya. Tapi tidak bisa, tiba-tiba julio menahan pintu dengan sebelah tangannya.
"Kalau kamu nggak mau bicara di luar.
Maka kita harus bicara di dalam Zi" Sebuah seringai licik muncul di bibir Julio. Membuat Zizi merinding seketika. Zizi pun semakin kuat mendorong pintunya. Namun sungguh sial, Julio justru menahan pintu dengan sebelah kakinya.
Acara selanjutnya yaitu, Zizi dan Julio saling dorong mendorong pintu rumah Zizi. Berkali-kali Zizi melontarkan kata-kata busuk untuk Julio, bahkan dia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong pintu. Tapi Sayang, dia gagal.
Julio yang merupakan seorang kuli bangunan, tentu saja memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari Zizi. Membuat pintu perlahan terdorong ke dalam. Zizi pun terdorong masuk ke rumah nya. Daun pintu itu akhirnya terbuka lebih lebar. Buru-buru Julio masuk ke dalam.
Mengetahui Julio berhasil masuk, membuat Zizi bergetar takut. Tapi, ia harus terlihat kuat dan pemberani. Zizi berdiri di samping sofa. Tangan nya menyilang di d**a.
"Keluar kamu dari rumah ku! Kalau nggak, aku akan teriak. Biar semua orang datang dan menghakimimu sampai babak belur!" Suara Zizi tinggi.
"Aku tadi kan udah bilang, kita bicara aja di luar, tapi kamu malah menolaknya. Itu artinya, kamu minta agar kita bicara di dalam kan?" Julio berjalan mendekat ke arah Zizi. Namun Zizi berjalan mundur, menjauhi Julio.
Karena Julio terus bergerak mendekat. Maka Zizi pun berlari keluar. Tapi baru saja sampai di pintu. Julio berhasil menangkap tangan Zizi, dengan mudah menarik tubuh Zizi mendekat ke tubuh Julio. Tangannya lalu Membekap mulut Zizi yang hendak berteriak.
"Sebenarnya aku mau bicara baik baik denganmu, Zi. Tapi karena kamu terus seperti ini. Maka terpaksa, kita harus bicara seperti ini"
"Lepasin aku, breng$ek!"Jerit Zizi tertahan, suaranya tidak bisa terdengar keras dalam bekapan tangan Julio.
Tanpa di duga, Julio malah mendorong kasar tubuh Zizi ke atas sofa. Dia lalu menind!h tubuh lembut Zizi. Tangannya masih tetap membekap bibir Zizi.
Zizi ketakutan setengah mati di bawah tindihan tubuh kurus Julio, pikiran kotor mulai menjalar kemana-mana, jangan sampai Julio memperkos@ dirinya. Mengambil mahkota paling berharga miliknya. Tangan Zizi tidak berdaya mendorong-dorong tubuh Julio yang ada di atas nya, bahkan kakinya pun berusaha menendang Julio, tapi sayang semua usahanya sia-sia. Julio tetap kokoh berada di atasnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tolong …, Tolong saya …, ku mohon siapapun yang ada di luar, tolonglah saya. Pergi kamu Julio, kamu cowok breng$ek ...." Walaupun suara Zizi lirih, tapi dia terus berusaha, tidak boleh cepat menyerah.
Dak ….
Setelah berkali kali memukul dan menendang ke segala arah, akhirnya Zizi berhasil menendang tulang kering Julio.
"Aw …." rintih Julio dengan wajah merah membara. Matanya melotot menatap mata Zizi.
Julio lalu mengangkat tubuh nya, tangan kanannya lalu terangkat ke atas. Dan Zizi langsung memejamkan matanya takut melihat kepalan tangan Julio yang terlihat sangat keras dan mengerikan. Kepalan tangan itu melayang di udara, siap mendarat di wajah Zizi.
Air mata pun akhirnya tumpah dari mata Zizi. Baru kali ini dia merasa tidak berdaya di bawah ancaman seseorang. Begitu takut, kepalan tangan itu mendarat di wajah nya. Baru kali ini ada orang yang berani memukul dirinya.
"Aw ...." Tiba-tiba terdengar suara Julio mengerang kesakitan. Membuat Zizi membuka matanya lebar-lebar. Ia pun terkejut. Namun sekaligus senang.
Hati Zizi yang semula dingin ketakutan, seketika berubah menghangat, ketika melihat ada Kevin yang tinggi dan gagah berada di dalam rumahnya.
Dan Kevinnya yang pemberani, kini tengah memuntir kebelakang tangan Julio. Dia lalu menarik paksa tangan Julio yang ia pelintir. Agar turun dari tubuh Zizi.
Julio pun turun sambil meringis kesakitan. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya tak henti henti mengucap kata kesakitan dan minta ampun pada Kevin.
"Mau kau apakan Zizi hah?" Todong Kevin, masih tetap memuntir tanpa ampun tangan Julio.
"Ampun mas …, s-saya cuma mau ngasih dia sedikit pelajaran, karena dia sudah bersikap sombong dan menganggap remeh saya"
"Pelajaran seperti apa? Memperkosanya?"
Kevin semakin kuat memelintir tangan Julio.
"A ... Ampun mas…, " teriak Julio kesakitan. "Ampuni saya, saya salah …, lepasin tangan saya. Sa-sakit mas …."
"Awas kalau kau berani mendekati Zizi lagi. Akan ku pastikan kau membusuk di penjara" suara Kevin rendah, namun cukup membuat Julio bergetar takut. Kevin lalu melepas tangan Julio, mendorong kasar tubuh pria itu hingga tersungkur ke teras depan rumah.
Julio pun langsung bangun dengan cepat. Takut jika Kevin menyerang nya lagi. Dia lalu lari tunggang langgang meninggalkan rumah Zizi. Seperti seorang pengecut.
Mata Kevin memperhatikan Julio yang melarikan diri. Nafasnya lalu menghembus panjang. Merasa lega, karena datang di saat yang tepat.
Kevin membalikan badan nya. Dan ia terkejut. Matanya membuka lebar, saat melihat Zizi berlari kearahnya.
Bruk ….
Tiba-tiba Zizi menabrak tubuh kekarnya, memeluk tubuh nya, lalu menyembunyikan wajah cantiknya di dad@ bidang Kevin.
Kevin hanya diam membatu saat merasakan tubuh Zizi menempel pada tubuhnya, bibirnya terkunci saat mendengarkan suara Isak tangis nya yang menangis tertahan. Kevin tidak tahu harus berbuat apa, sehingga ia hanya diam dan membiarkan Zizi memeluk tubuhnya erat. Menumpahkan air mata nya di dad@ Kevin.
"Ada yang terluka?" Celetuk Kevin, karena Zizi masih saja memeluk erat tubuhnya, bahkan tubuh Zizi masih bergetar karena takut.
Namun tidak ada jawaban dari bibir Zizi. Wajahnya yang masih bersembunyi di dad@ Kevin, hanya menggeleng perlahan, menjawab pertanyaan Kevin. Isak tangis tertahan lalu kembali terdengar dari bibir Zizi.
Kevin akhirnya membiarkan lagi Zizi memeluk erat tubuhnya, hingga membuat wanita itu merasa puas dan tenang. Menumpahkan rasa takutnya di d**a Kevin.
Setelah sepuluh menit, Zizi akhirnya menarik dirinya dari tubuh kokoh Kevin. Tinggi Zizi yang hanya se d**a Kevin, membuat dia puas memeluk dan menumpahkan semua rasa takutnya di d**a Kevin yang hangat dan menenangkan.
"Ma-maaf, bajumu basah karena air mataku." Ucap Zizi sambil menahan Isak tangis. "Se-sebentar, aku akan mengambil tisu" ucap Zizi lagi.
"Tidak perlu" ucap Kevin singkat, ia membuka jaket kulitnya yang basah, lalu memegangnya begitu saja dengan tangan kanannya.
Kevin memperhatikan mata Zizi yang sedikit bengkak, sesekali masih mengular air mata dari mata beningnya. Wajah nya terlihat sembab. Dan bibirnya yang lumayan penuh terlihat lembab, semakin terlihat indah menggoda ketika dia menangis. Kevin membuang muka, membuang pikiran me$um yang mulai mengotori otaknya. Bibir itu menyita perhatian Kevin.
"Mana kunci dan alamat rumah mu yang lama?"
"Kamu …, mau pergi ke sana sekarang?" Zizi menyeka mata basahnya.
"Bukannya tadi sore kamu menyuruhku pergi ke rumah itu? Atau kamu ingin menundanya besok?" Ucap Kevin, tanpa melihat wajah Zizi.
"Ti - tidak. Jangan membatalkannya." Zizi menggelengkan kepalanya. Perbuatan Julio tadi sungguh membuat Zizi terguncang. "Kamu bisa menyelidiki kasus ayah mulai malam ini. Nanti …, kalau kamu bisa menemukan barang bukti baru, aku akan memberimu bonus" lanjut Zizi.
"Benarkah?" Mata tajam Kevin melirik ke arah Zizi. Sedangkan Zizi tidak bisa menebak isi pikiran Kevin.
"Iya. Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu kuncinya" Zizi lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Satu menit kemudian, ia keluar, menyerahkan kunci dan secarik kertas pada Kevin.
"Itu alamat rumahku yang lama. Ng …, Kevin, bolehkah aku ikut?" Ucap Zizi ragu, berharap setelah melihat dirinya menangis, rasa iba di hati pria itu muncul, lalu memperbolehkan Zizi ikut.
"Tidak boleh, bahaya kalau ada yang mengenalimu. Lagipula kamu nanti hanya akan membuatku kerepotan, karena harus menjagamu. Lebih baik kunci rumahmu, dan tidurlah dengan tenang" Setelah mendapat kunci dan alamat dari Zizi, Kevin segera keluar.
"Kevin …, tunggu!" Zizi berlari lari kecil, mengikuti langkah kaki Kevin yang panjang dan terasa cepat. Mengikutinya hingga pria itu masuk ke dalam mobil. Tanpa peduli, Kevin lalu menutup pintu mobil, seolah tidak mendengar teriakan Zizi. "Kevin, aku ikut ya? Pliisss ...." Ucap Zizi diluar pintu mobil. Wajah Zizi memelas.
Kevin pun menarik nafasnya berat. Ia memandang manik mata Zizi yang indah, lalu menganggukkan kepala. "Ambil dulu, jaketmu. Di luar sangat dingin" ucap Kevin, ia lalu membuang muka. Menatap aspal jalan yang gelap.
"Tunggu, sebentar ya …, aku nggak akan lama" Zizi tersenyum cerah, Kkinya lalu melesat masuk ke dalam rumah. Mengambil jaket hitam nya di kamar.
Brum ….
Tiba-tiba terdengar suara derum mobil dari arah luar. Bibir Zizi berteriak pelan saat matanya melihat mobil Kevin sudah pergi meninggalkan rumahnya. Bibir Zizi pun merengut karena kecewa. Kevin telah meninggalkan dirinya.
'Kataanya tadi mau mengajak ku, ternyata dia bohong. Awas kamu, Kevin' Zizi tersenyum penuh arti. Bukan Zizi namanya kalau tidak punya 1000 tak tik.
Untunglah lah Zizi sudah menyiapkan rencana B. Mempersiapkan rencana lain jika rencana yang pertama gagal. Zizi lalu memakai jaket hitam nya. Kaca mata hitam ia masukkan ke dalam saku.
Lalu segera menyambar kunci motor, dan helm.
Setelah menata hatinya, menyiapkan mentalnya yang sempat down. Zizi menaiki motornya, lalu segera pergi ke rumah dinas ayah nya yang dahulu. Rumah tempat ayahnya di tangkap oleh polisi. Zizi mengendarai motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Ia harus sudah ada di sana, sebelum Kevin sampai.
Dalam perjalanan. Zizi tersenyum dan bangga pada dirinya. Ia telah memperdayai Kevin dengan memberi alamat yang rumit. Zizi sengaja tidak menyebut langsung di mana daerah rumah itu.
Zizi memberi ancer-ancer saja. Dari rumah ku, jalan lurus saja ke arah utara. Ketika ketemu desa kusuma yang ada di barat jalan. Kamu masuk dan jalan lurus. Nah ketika melihat jalan raya. Kamu belok ke utara.
Begitulah Zizi memberi isyarat alamat rumah itu. Zizi membuat Kevin berputar jauh untuk sampai di rumah nya yang lama. Sehingga Kevin membutuhkan waktu setengah jam, untuk sampai di rumah itu.
Sedangkan Zizi 15 menit kemudian, sudah tiba di rumah lamanya. Zizi tersenyum puas, ketika ia sampai terlebih dulu. Rencana nya berhasil.
Zizi lalu menyembunyikan motornya di balik gelap nya pepohonan di sekitar halaman rumahnya yang lumayan luas. Dan Zizi pun bersembunyi juga.
10 menit kemudian. Kevin datang. Zizi melihat wajah Kevin agak marah, dan bibir menawan pria itu terlihat menggerutu. Zizi tidak bisa mendengar apa yang di ucapkan Kevin.
Menurut Zizi, melihat rahang Kevin yang mengeras, pria itu pasti sedang marah, karena sadar telah berputar jauh untuk sampai di alamat ini. Dan Zizi tersenyum puas bisa mengerjai Kevin.
'Salah siapa nggak mau mengajak ku.
Kalau kamu mengajak ku, aku pasti nggak akan memberikan alamat rumah yang berbelit belit itu' Zizi tersenyum senyum sendiri di bawah pohon yang gelap. Jaket kulit nya semakin membuat kehadiran Zizi tidak terlihat.
Zizi segera berlari mendekat. Ketika Kevin memutar kunci, lalu membuka pintu. Dan tanpa rasa bersalah, Zizi pun ikutan masuk.
Kevin terkejut. Saat menyadari ada orang di belakang nya yang ikut masuk. Kevin lalu segera menutup pintu dan menangkap tangan si penyusup, memegang nya erat. Hingga Zizi meringis kesakitan.
Sebuah sinar menyilaukan dari sebuah senter kecil, membuat mata Zizi menyipit dari dalam kacamata hitam nya. Zizi hanya bisa pasrah saat Kevin mengarahkan senter kecil ke wajah nya.
"Zizi?" Ucap Kevin terkejut. Dan Zizi hanya nyengir.
"Hai Kevin …." Zizi melambaikan tangannya. Hatinya ketir-ketir. Takut jika Kevin marah.
"Kamu ini, benar-benar keras kepala ya? Ah, sial! Seharusnya aku sudah bisa menebak semua ini. Kamu membuatku berputar jauh, supaya kamu bisa sampai duluan kan?" Zizi menganggukkan kepala. Bibir nya sedikit meringis, karena Kevin sedang mencengkeram erat pergelangan tangan nya.
"Salah siapa kamu nggak ngajak aku. Ingat Vin, sekarang aku lah bos nya. Dan pekerja harus menurut pada setiap perintah bos. Kamu tahukan kalau nggak menuruti ke inginan bos? Pekerja yang nggak patuh, biasanya di depak dengan tidak hormat oleh bos nya" Zizi tersenyum menang.
"Jadi kamu ingin menendangku dari penyelidikan ini? Oke tidak masalah. Aku berhenti! Lagipula aku lebih senang bisa lepas darimu" Kevin membalikkan badan. Kemudian berjalan meninggalkan Zizi.
Zizi tersentak. Sepertinya dia sudah salah bicara, ucapannya pasti sangat keterlaluan, hingga menyinggung Kevin. Zizi lalu segera menyusul Kevin. Berdiri di hadapan pria itu, menghalangi jalannya.
"Maaf kan aku, Kevin. Aku tidak bermaksud menghentikan kerja sama kita. Maksud ku tadi cuma, aku pengen kamu menuruti kemauan ku. Aku kan bos nya"
"Dan aku penyidik mu. Rekan kerja mu. Bukan pekerja mu. Jadi biarkan aku bekerja dengan caraku sendiri. Dan menemukan bukti sesuai permintaan mu. Kalau kamu terus membuntutiku. Aku tidak bisa konsentrasi kerja Zi"
"Iya iya, aku minta maaf. Tapi sekarang biarkan aku di sini aja ya?" Zizi memasang wajah melas.
"Oke, tapi jangan pernah ganggu aku. Sekarang kamu diam di sini. Aku mau masuk kedalam" ucap Kevin, ia lalu
meninggalkan Zizi begitu saja dalam kegelapan.
Apa? Kenapa dia meninggalkan aku di sini sendirian? Zizi lalu merogoh sakunya, mencari cari ponselnya. Tapi ponselnya tidak ada.
'Ah... Pasti ketinggalan di kamar' Batin Zizi. Karena tadi berangkat terburu buru. Ia sampai lupa membawa barang barang nya. Seperti ponsel ataupun bubuk merica. Senjata satu satu andalan Zizi, apabila ia menemukan musuh di rumah ini.
Duk duk duk.....
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.
'Kevin? Nggak mungkin, dia tadi masuk ke dalam kamar ayah. Lalu siapa yang ada di atas? Hantu? Ah kemana saja pikiran ku? Itu pasti penjahat yang telah memfitnah ayah'
Zizi tiba tiba merasa takut. Ia tidak membawa senjata apapun. Kevin. kenapa tidak berlindung saja di balik tubuh Kevin yang kekar?
Zizi segera berjalan ke arah kamar ayah nya. Kini mata Zizi mulai terbiasa dengan kegelapan. Dan kegelapan itu sedikit di terangi cahaya bulan yang bersinar remang remang masuk ke dalam rumah.
Brukkk ....
Zizi menabrak tubuh seseorang dalam kegelapan. Ia tidak bisa melihat wajah seseorang dalam kegelapan.
Grep ….
Tiba-tiba tangan pemilik tubuh itu mencengkeram erat pundak Zizi yang ramping. Zizi pun berdiri membeku di tempat nya.
Bersambung ....