"Saya bersedia, Om." Sebuah suara bas terdengar lugas. Datang tidak pernah terduga. Bagai petir yang menggelegar di tengah malam sunyi. Membuat jantung Zizi seketika melonjak-lonjak liar. Mata beningnya membulat lebar, hendak keluar dari tempatnya. Syok. Buru-buru dia menghampiri ayahnya, mengajaknya berdiri. Ayahnya harus segera kembali masuk, atau dua pria itu terus membicarakan hal yang tidak masuk akal. "Kevin, nggak usah bercanda deh. Nggak lucu tahu." Ucap Zizi. Menoleh sejenak ke arah Kevin. "Ayah sekarang masuk aja ya? Jangan anggap serius jawaban Kevin. Pria itu hanya bercanda. Ya kan, Kevin?" Zizi menoleh ke arah Kevin lagi, namun pria itu terlihat kalem dan biasa biasa saja. Berdiri menatap lekat ke arah Zizi. "Ya sudah, kami pamit pulang dulu, Yah. Jangan lupa, jaga keseh

