"Za."
Za menoleh dan mendapati El sudah ada di belakangnya memegang sebuah kaleng minuman bersoda.
"Adanya ini, kamu suka?"
"Nggak apa-apa." Za menerima minuman kaleng itu.
Untuk ukuran seorang staf direksi apa mungkin gajinya cukup untuk membayar sewa apartemen ini? Bukannya Za meremehkan, dia tahu perusahaan tempatnya bekerja itu bonafit. Tapi kalau seorang staf bisa menyewa apartemen semewah ini, rasanya janggal. Kecuali di luar itu memang memiliki pasif income. Dari investasi mungkin. Ya, Za rasa begitu. Semua kemewahan ini pasti El dapat dari investasi.
"Apartemen kamu lux banget, El. Harga sewanya pasti mahal. Aku pernah punya mimpi punya satu yang kayak gini. Tapi sepertinya mustahil." Za tertawa. "Sekarang aja masih tinggal di kosan."
"Nggak ada yang mustahil kalau kita berusaha." El beranjak menuju sofa di ikuti Za.
Hanya seorang bos yang memiliki tempat semewah ini. Iya, tipe yang gampang menghamburkan uang demi kenyamanan.
Bos? Tunggu. Di lobi kantor tadi, El sempat mengaku dirinya sebagai atasan Za. Lelaki itu bercanda 'kan? Itu pasti dia lakukan hanya untuk mengintimidasi Ryan. Ya, Za rasa begitu. Tidak mungkin 'kan El itu pemimpin di tempatnya bekerja?
Namun, Za tiba-tiba tertegun. Semuanya sangat mungkin. Sebuah kenyataan menghantamnya keras. Dia menoleh cepat pada El yang sedang menikmati minumannya.
"El?"
"Ya," jawab El sambil lalu.
"Di lobi kantor tadi. Pas ada Ryan. Kamu mengaku kalau kamu itu atasanku, itu kamu bercanda atau—"
El menghentikan kegiatan minumnya seketika. Dia bisa melihat Za sedang mengawasinya. Rasanya percuma saja terus ditutupi. Mereka bekerja di satu gedung yang sama. Cepat atau lambat Za akan sadar posisi El di sana bukan hanya sebatas karyawan biasa.
El nyengir kecut. "Sori, Za. Aku belum berani jujur sama kamu kalau aku—"
"Wait. Jadi, apa yang kamu bilang itu benar?"
Belum apa-apa mata Za udah membulat.
El menggaruk tengkuknya lantas mengangguk kikuk.
Detik itu juga Za memejamkan mata. Ada sedikit rasa kecewa yang tiba-tiba hadir. "Kenapa kamu nggak bilang dari awal sih, El?" Dia menyandar pada sofa yang dia duduki. Kenapa El ikutan menyebalkan seperti Ryan?
"Terus maksud kamu apa dengan nggak jujur sama aku? Kok aku kayak orang bego banget, ya. Udah dikhianati pacar, dibohongi sahabat sendiri juga." Za tertawa sumbang.
"Za, sori. Aku nggak maksud nutupi itu dari kamu. Aku cuma mau kamu bersikap biasa ke aku saat di kantor. Jadi aku sebisa mungkin—"
"Menutupi siapa diri kamu dari aku 'kan?"
"Serius, Za. Aku nggak ada maksud apa pun. Kamu tahu betapa senangnya aku ketemu kamu lagi. Aku nggak mau kamu jaga jarak karena tahu aku atasan kamu. Itu aja."
Za saja yang kurang peka. Kurang jeli dalam membaca situasi. Beberapa kali jalan dengan lelaki itu bisa-bisanya dia tidak 'ngeuh'. Harusnya dia paham, saat menaiki mobil pendek milik El pertama kali. Itu pasti harganya tidak murah. Lalu tongkrongan El saat mengajaknya makan siang bersama. El lebih sering menawarinya makan di luar ketimbang di kantin perusahaan. Ini menyebalkan. Meskipun kecewa, tapi dia tidak bisa benar-benar marah pada El. Apa yang lelaki itu lakukan beralasan. Maksudnya, alasannya masuk akal. Dan lagi pula itu bukan hal buruk. Mungkin saja El hanya sedang menjaga perasaan Za.
Tapi, jangan bilang kalau dia bisa diterima di perusahaan itu karena El? Za menatap tajam El sekali lagi.
"Apa kamu juga yang membuatku bisa diterima di perusahaan itu?"
El cukup terkejut. Kenapa Za bisa berpikir sampai sejauh itu?
"Ya, enggaklah, Za. Itu udah ada bagiannya. Aku ada bagianku sendiri. Kerjaanku saja udah numpuk masa urusan SDM harus aku juga yang turun tangan?"
Za mengembuskan napas lega. Syukurlah masih ada yang bisa diselamatkan.
"Jadi, aku harus panggil kamu apa sekarang? Pak Bos? Suatu kehormatan sekali Pak Bos mau masakin aku." Nada bicara yang terdengar sinis.
"Ayolah, Za. Jangan begitu. Aku minta maaf. Setelah ini aku harap sikapmu nggak akan berubah."
Za mengarahkan bola mata ke atas. Jelas saja berubah. Dia tidak akan seenaknya lagi memperlakukan El kalau tidak mau kena SP. Satu lagi, di kantor dia juga harus jaga jarak agar tidak diterpa gosip tak sedap. Tunggu, apa Za yakin sudah bebas dari semua itu? Dia dan El sudah sering berkeliaran bersama. Bisa saja kan di belakang mereka malah sudah beredar omongan yang tak sedap didengar? Apalagi setelah insiden di lobi tadi. Za menggeleng cepat. Harusnya dia tidak mempermasalahkan ini. Dia akan bersikap secuek biasanya. Tapi—
"Aku akan mulai memasak dulu sebelum mandi. Biar sekalian kotor." Lelaki jangkung itu berdiri, dan beranjak menuju dapur.
Dari posisinya, Za mengawasi El yang sedang memakai apron. Sesekali dia mengembuskan napas. Bagaimana dia bisa tidak mengenali pimpinan perusahaan tempatnya bekerja? Dia mengaku bodoh sekarang. Ini benar-benar mengejutkan.
"Kamu mau capcay atau cah kangkung?" tanya El. Tangan kanannya menggenggam wortel sementara tangan kirinya menggenggam seikat kangkung.
"Kangkung saja biar cepat. Kalau capcay isiannya terlalu banyak." Za akhirnya berdiri dan menghampiri El. Rasanya kejam sekali jika dia membiarkan El ak.a bosnya itu bermain wajan sendiri.
"Oke."
Za merebut kangkung itu dari tangan El. "Biar aku yang potong sayurannya."
Za cukup tercengang melihat isi kulkas El yang penuh. Selain minuman dan camilan, kulkas itu penuh dengan aneka bahan makanan. Apa El sering memasak?
"El, kulkasmu lengkap banget. Kamu sering masak sendiri?" tanya Za. Jangan-jangan dia sering memasak untuk pacar gay-nya.
"Iya, lumayan sering. Makanya aku memilih menyetok bahan makanan," jawabnya menerima kotak berisi cabe merah yang Za sodorkan.
"Kamu sering memasak buat pacar kamu, ya?" tanya Za menggoda.
El menghentikan kegiatan memilih cabe mendengar pertanyaan Za. Dia menghela napas panjang. "Aku masak buat diriku sendiri, Za."
"Aku pikir lelaki seperti kamu lebih suka makan di luar daripada di rumah." Za kembali memotong-motong batang kangkung.
"Itu benar juga. Kalau aku nggak sempat masak atau malas, makan di luar menjadi pilihan alternatif."
"Apa nggak kesepian tinggal sendiri di apartemen sebesar ini?" Za bergeser mencuci sayur.
"Kadang-kadang. Tapi biasanya aku pulang seminggu sekali ke rumah orang tuaku."
"Bukannya papa mama kamu ada di luar negeri?" Za dulu pernah mendengarnya dari El.
Lelaki itu tertawa. "Itu cerita jaman kapan, Za? Mereka sudah menetap di Indonesia lagi."
El mulai menumis bumbu yang sudah dia rajang. "Kamu mau lauk ikan atau ayam?" tanya El lagi.
"Ayam."
"Di kotak paling atas di dalam freezer. Kamu ambil beberapa potong, ya."
Za bergerak menuruti perintah El. Dia menemukan kotak itu. Bukan hanya ada satu kotak. Ternyata di dalam freezer juga tersusun kotak-kotak lainnya. "Itu isinya apa aja, El?"
"Selain ayam, ada juga daging sapi, ikan, dan cumi."
Za mengerjap. Ini sih memang sudah diniatkan untuk selalu memasak. Diam-diam Za tersenyum, menemukan lelaki yang hobi memasak itu luar biasa. Dulu dia tidak pernah melihat El yang seperti ini.
"Mungkin sejak aku kuliah di luar negeri. Jadi, terbiasa mandiri," jawab El saat Za menanyakan sejak kapan lelaki itu gemar memasak. "Aku bertemu dengan mahasiswa dari Indonesia. Lalu memutuskan tinggal di flat mereka. Nah, di sana ada aturan piket memasak setiap harinya. Bergilir. Jadi, aku terbiasa berbelanja dan memasak gara-gara tinggal di sana. Aku lumayan banyak belajar sama mereka."
Lelaki yang bisa diandalkan saat dirinya malas masak. Suami gemar masak itu bonus. Seandainya El bukan gay, bolehlah jadi target. Astaga, apa yang dia pikirkan? Za memukul kepalanya sendiri. Mau jungkir balik sekali pun El tidak akan pernah tertarik pada wanita, apalagi dirinya.