Pembahasan Soal Menikah

1070 Kata
"Kenapa nggak dari dulu aja, sih, kamu pinter masak? Kan aku bisa ngadelin kamu kalau dulu disuruh masak sama Ambu," ujar Za. Saat ini mereka tengah menyantap makanan rumahan ala El. Tumis kangkung, ayam goreng plus tempe tahu lengkap dengan kerupuknya. "Enak aja. Kalau kamu ngandelin aku, gimana kamu bisa masak nanti? Kamu itu perempuan, harus bisa masakin buat suami kamu nanti," sahut El mengambil sepotong tempe goreng. Za tersenyum aneh. "Gimana kalau kamu aja yang jadi suami aku? Kayaknya—" "Bilang aja kamu mau manfaatin aku buat masakin kamu tiap hari." El mengarahkan bola matanya ke atas. Niat terselubung Za dengan mudah El baca. Wanita itu cekikikan. Tapi dipikir-pikir apa El akan menikahi seorang wanita? Mungkin saja dia sudah berencana menikahi pasangan gay-nya. Meskipun itu sekarang sudah terjadi di beberapa belahan dunia, bagi Za menikah sesama jenis masih sangat tabu. "El, kamu ada rencana menikah enggak?" tanya Za iseng. "Tentu saja ada. Kalau aku sudah menemukan orang yang tepat nanti." Za menyeringai. "Kamu berniat menikahi perempuan atau laki-laki?" "Aku ingin memiliki keturunan jadi aku akan menikahi perempuan." El menyuap makanannya. Sebenarnya agak kesal saat Za bertanya seperti itu. Ya kali dia mau menikahi laki-laki. Najis banget. Mata Za berbinar. Ternyata pikiran El cukup waras. "Kamu akan mudah mendapatkan wanita mana pun yang kamu mau. Pesona kamu kuat. Aku yakin hanya dengan satu kedipan mata saja, para wanita akan berjejer di depan kamu minta dinikahi." Za mengulum senyum membayangkan para wanita itu berjejer rapi di hadapan El minta dinikahi. "Kalau di antara wanita yang berjejer itu ada kamu. Aku nggak akan segan-segan milih kamu." "Kenapa aku? Aku nggak ada di jejeran itu ya," dengus Za. "Kenapa enggak. Kan kamu sendiri yang bilang aku bisa mendapatkan wanita mana yang aku mau hanya dengan satu kedipan mata. Oke, aku akan mengedipkan mata di depan kamu sekarang. Kali saja kamu akan dengan rela hati aku nikahi." El mengedipkan matanya kepada Za. Bermaksud menggoda. "Jijik, El. Jijik!" seru Za, bergidik. Tawa El langsung pecah melihat ekspresi Za. Wanita itu pasti tidak menyangka kalau El bakal membalikkan candaannya. "Cepat, habiskan. Setelah itu aku antar pulang." El mendorong piringnya yang sudah kosong ke tengah. Za bergerak menumpuk piring kotor setelah makanannya habis. Dia lantas membawa piring-piring itu ke dapur, berniat mencucinya. Malam ini dia dapat makan gratis hasil masakan El, sudah sepantasnya giliran dia yang mencuci piring. "Nggak perlu dicuci, Za. Nanti akan ada orang yang datang beres-beres." "Nggak apa-apa, El. Lagian cuma sedikit. Aku nggak mau dibilang nggak tahu diri. Udah makan gratis, ada piring kotor nggak mau nyuci." Za menyalakan keran air. "Itu kan kamu yang bilang. Aku biasa aja, sih." Za mengabaikan ucapan El. Dia melanjutkan kegiatan mencuci piring sampai selesai. "Za, kamu yakin nggak akan menyesal memutuskan Ryan?" tanya El membuat Za menoleh. "Dari dulu perasaan gampang banget kamu mutusin cowok." Za mengedikkan bahu. "Nggak tahu, El. Di antara pacar-pacarku dulu, Ryan yang paling lama bertahan. Dua tahun aku pacaran sama dia." Za kembali duduk di kursi meja makan. "Sebenarnya dia sudah mengajakku berkomitmen lebih serius. Tapi aku minta waktu beberapa tahun lagi. Nggak tahunya, dia malah jalan sama cewek lain. Aku pikir dia masih bisa bersabar." Ah, nyeri setiap kali Za harus mengingat kalau Ryan menduakannya. Bersama selama dua tahun dengan segala kebaikan laki-laki itu, membuatnya tidak pernah membayangkan kalau Ryan bisa mengkhianatinya. Sama sekali tidak pernah terlintas di benak Za, Ryan tega melakukan itu. "Kalau masih bisa diperbaiki kenapa enggak, Za?" tanya El memberi saran. Dia tahu Za terlihat masih mencintai laki-laki itu. Za menggeleng. "Aku nggak pernah menolerir selingkuh, El. Jadi, percuma saja. Kalau pun kami bertahan, hubungan kami tidak akan berjalan lancar. Kamu kan tahu aku tipe setia. Hubungan gue nggak berhasil lantaran mereka yang sering bikin ulah. Coba katakan, kurang cantik apa aku?" Za mengembangkan kedua tangannya. Mempersilakan El menilai fisiknya. El meletakkan telunjuknya di bibir dan ibu jarinya di dagu. Berpikir. "Kamu cantik. Aku yakin putus dari Ryan kamu akan mudah cari ganti." Za mengembuskan napas. "Aku kayaknya udah malas, deh, El. Tiap menjalin hubungan selalu gagal." "Baiklah, kalau bertemu orang yang cocok, nggak usah pacaran, langsung nikah saja," ujar El memberi usul. "Orang yang cocok nggak akan mudah menemukannya." "Siapa bilang? Kamu aja yang nggak mau coba." Za mengibaskan tangan. Lalu menggulung rambut dan menjepitnya. "Kamu sendiri apa kabar, El? Kenapa nasihat itu nggak buat diri kamu sendiri aja?" dengus Za, dia beranjak menuju sofa di ruang tengah. El mengikutinya dari belakang. "Aku mah santai, aku laki-laki. Kamu Za, yang harusnya cepetan nyari pendamping hidup. Umur kamu udah di ambang batas akhir dua puluhan." "Memangnya kenapa? Aku nggak mentargetkan usia berapa aku harus nikah kok. Jadi, aku sama kayak kamu. Santai." El menggeleng dan duduk di sebelah Za. "Tapi orang tua kamu gimana? Mereka pasti khawatir anak gadisnya belum nikah di usia menjelang kepala tiga." Itu juga yang jadi masalah. Ibunya di Bandung setiap kali telepon selalu menanyakan kapan nikah, kapan kawin. Lalu ibunya akan membandingkan Za dengan teman sebayanya yang sudah memiliki anak. Itu menyebalkan. Ibunya sendiri bisa senyinyir itu gimana dengan para tetangga di kampungnya? Makanya, Za terkadang enggan pulang ke kampung. Jika dia ambil cuti satu minggu untuk berlibur di kampung, selama itu pula ibunya akan mengoceh sepanjang siang dan malam dengan tema sama. Menikah. Mendadak liburan yang sudah dia rencanakan untuk menenangkan pikiran, malah membuat kepalanya tambah ruwet. "Kalau semisal aku udah mau kepala empat tapi belum dapat jodoh, kamu mau kan El nikahin aku?" Za menatap El dengan puppy eyes andalannya. "Ogah! Lagian apa kamu nggak mikir, mungkin saja saat itu aku udah punya istri cantik dan anak dua?" Za mencibir. "Kayak kamu beneran mau nikahin perempuan aja, El. Bisa jadi kamu nikahmya sama laki-laki di Jerman sana buat dapat legalitas status pasangan suami-suami." "Sembarangan aja!" Za mengerjap. Reaksi El terlalu berlebihan. Bukannya para kaum pemuja batangan itu akan mengejar apapun demi kebahagiaannya memiliki suami? Dan itu nggak mungkin bisa dilakukan di negara ini yang melarang keras hubungan sesama jenis. Memangnya El tidak memiliki impian itu? El kembali memperbaiki ekspresinya. Harusnya dia tak perlu bereaksi seperti itu. Bukannya memang Za tahunya dia itu gay? El menarik napas. "Za, kalau aku bilang, aku ini laki-laki normal. Kamu percaya enggak?" "Laki-laki normal nggak mungkin menolak ciuman Celia dan lebih memilih berpelukan dengan laki-laki macho." Tuh kan! Rasanya El ingin menjedotkan kepala ke meja saat ini juga. _____________ Jangan lupa ramaikan dan tap love ya, Gaes. Moga hari ini bisa dua bab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN