Sejak putus dari Ryan. Jujur Za merasa kesepian. Seminggu awal Ryan masih kekeh terus meminta maaf dan mengajaknya balikan. Namun, seakan sudah lelah dengan penolakan yang Za lakukan, akhirnya Ryan lelah dan memilih tidak mengganggu Za lagi.
Kalau lagi libur dan sendiri begini, Za benar-benar merasa sepi. Apalagi El yang biasa menemaninya sedang berada di Amerika untuk urusan bisnis. Seandainya Fay—sahabatnya— ada di sini, mungkin dia tidak akan merasa sendiri seperti ini.
Za sedang membaca komik di atas tempat tidurnya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Berbagai bungkus snack berserakan di mana-mana. Hanya ini yang bisa dia lakukan saat libur untuk mengisi hari. Mau keluar pun percuma karena tidak ada teman.
Dengan malas, Za mengulurkan tangan, meraba ke atas nakas tempat ponselnya berada tanpa melepas pandang dari bacaannya. Panggilan video dari El. Tumben banget. Za menerima panggilan itu.
"Ya, El?" sapa Za tanpa menggeser mata sedikit pun dari bacaannya.
"Kamu lagi ngapain, Za?" tanya El di sana.
Za menunjukkan komik yang sedang dia baca.
"Astaga, Za. Itu bacaan anak-anak. Harusnya wanita dewasa seperti kamu itu bacaannya novel. Bukannya komik pokemon."
Za berdecak lantas memasukan keripik kentang ke mulutnya. "Aku gabut, El. Liburan gini cuma di kosan malas-malasan. Mau ngelayab juga nggak ada temen."
El tertawa. "Aku lupa kalau sekarang kamu itu jones."
"Sialan."
Za memperhatikan sekitar El yang sepertinya sedang berada di tempat ramai. "El, kamu lagi di mana?"
"Aku lagi di Myrtle beach. Di sini sedang musim panas, Za. Jadi, kami memutuskan ke sini."
"Kami?" Za tampak mengernyit.
El mengarahkan kameranya ke pantai lepas, dan menunjukkan pada Za teman-temannya berada.
Mata Za membulat melihat cowok-cowok bule shirtless. Mereka hanya menggunakan celana kolor dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka yang mencuat.
"Itu teman-teman kamu, El?" tanya Za horor. Teman-teman gay El, mungkin.
"Hi guys. Please, say hello to my friend here!" seru El pada teman-temannya.
Mereka kompak mengarahkan pandang pada kamera dan melambai.
"Is she your girlfriend, El?" tanya salah seorang dari mereka.
"No, just friend."
El kembali mengarahkan kamera ke dirinya. "Apa kamu tertarik sama salah satu dari mereka?"
"Apa?" Za melongo.
"Sebaiknya jangan. Mereka itu nggak pernah serius menjalin hubungan. Paling hanya untuk senang-senang."
Siapa juga yang minat? Paling mereka semua teman maho-mahonya si El.
"Aku juga nggak minat punya pasangan bule. Atau jangan-jangan salah satu dari mereka itu pasangan kamu." Mata Za menyipit.
"Oh My God. Kamu selalu saja berpikir seperti itu." El mengembuskan napas.
"Di sana kamu lebih bebas berekspresi El, tanpa ada yang menghujat. Malah orang akan berpikir kalian itu uwu banget." Za membuka kantong keripik baru lagi. Menumpuk kalori di hari libur memang pekerjaan yang menyenangkan.
"Terserah apa pendapatmu. Aku vicol kamu cuma mau mastiin kamu masih hidup atau enggak."
"Maksud kamu?"
"Ya kali saja setelah kehilangan Ryan kamu nekat bunuh diri karena nggak bisa move on." El mengedik.
"Ih, sori, ya. Aku nggak sefrustrasi itu putus sama cowok. Memang di dunia cowok cuma dia doang?"
El tersenyum. "Baguslah. Oke, kalau gitu sampai ketemu di Jekardah. Lusa aku pulang. Kamu mau oleh-oleh apa?"
"Apa saja, El. Kamu bawa sekalian tokonya itu lebih baik." Za tertawa senang.
El memutar bola matanya. "aku tutup ya, sudah ditunggu mau surfing. Bye."
"Bye!"
Suasana mendadak kembali sunyi begitu panggilan video dari El berakhir. Berusaha mengatasi kesunyian itu, Za kembali membaca buku komiknya. Ini sudah tumpukan ketiga komik yang dia baca. Za akan tertidur kalau dia lelah, dan bangun saat sore menjelang.
Namun, tidurnya kali ini dibangunkan oleh suara berisik telepon yang menggema. Dengan malas dia meraih ponsel.
"Ya, halo," sapa Za malas tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Ya Allah, Teh. Maneh anak perawan, tos wayah kieu can heudang?!" (Ya Allah, Teh. Kamu anak perawan udah jam segini belum bangun?)
Telinga Za langsung berdengung mendengar lengkingan cempreng milik sang ibu di ujung sana.
"Ambu?"
"Ya, ini Ambu! Sugan teh maneh keur naon, sampai nggak angkat-angkat telepon dari Ambu. Teu nyaho mah keur molor?!" Ambu di ujung sana masih saja terus mengomel.
"Ya, ini kan hari libur, Mbu. Arek naon deui lamun teu sare?" (Mau apalagi kalau nggak tidur?)
"Ya, apa, kek gitu. Bersih-bersih apartemen kamu. Apartemen maneh kan luas, piraku teu dibersihan?"
Za meringis. Ibunya masih saja mengira kalau Za tinggal di apartemen. Saat itu Za terpaksa berbohong kalau dia di Jakarta tinggal di apartemen yang memiliki gedung tertinggi se-Jakarta, lantaran ibunya terus saja mengomel soal jodoh. Mana katanya dia mau dijodohin sama juragan di kampung lagi. Kan horor. Sebisa mungkin Za memberi alasan kalau karirnya sedang melesat di Jakarta. Dia membandingkan dirinya yang sudah sukses dengan teman-temannya yang lebih dulu menikah bahwa dia tidak kalah hebat. Okelah teman-temannya itu sudah sukses berumah tangga, tapi apa mereka sesukses dirinya dalam berkarir?
Za memejamkan mata. Minta maaf dalam hati pada Ambu karena sudah berbohong.
"Itu Ambu, apartemen Za itu ada fasilitas cleaning service. Jadi, mereka yang akan membersihkan."
"Ya, biarpun begitu sebagai seorang perempuan, kamu harusnya bisa membersihkan tempatmu sendiri. Jangan selalu mengandalkan orang lain."
"Nya, Mbu." Iyakan saja biar ambu tidak bawel terus.
"Oh iya, Teh. Ambu aya kabar yang harus ambu sampaikan sama kamu."
Za membenarkan letak ponselnya. Sepertinya ibu akan bicara serius.
"Tadi malam itu Marlon anak Juragan Asep datang ke rumah. Dia nanyain kamu, Teh," terang Ambu hati-hati.
"Kunaon itu si Marlon nanyain Za?"
"Kalau kamu lagi nggak ada pacar, dia ingin melamar kamu."
"Apa?" Za panik. "Terus Ambu bilang apa?"
"Ya, Ambu bilang teu nyaho, kitu. Ambu perlu tanya dulu ke Za, kitu da."
Za bernapas lega. Untung saja ibunya tidak asal ucap meskipun sudah sangat kebelet punya mantu.
"Jadi, kumaha, Teh?" tanya ibu lagi.
"Kumaha naona, Mbu?"
"Ya, kamu. Kamu teh udah punya kabogoh belum?"
Kalau Za jawab belum, ibunya pasti akan getol menjodohkan Za sama si Marlon. Tapi, kalau bilang punya, itu berarti dia berbohong lagi sama ibunya.
Duh!
"Za udah punya pacar, Mbu. Udah deh kalau ada yang nanya-nanya Za lagi, ambu usir aja."
"Huss, kamu itu. Tong kitulah. Sama tamu apalagi yang ngarepin kamu, Ambu harus sopan. Nggak baik bikin orang sakit hati, Teh."
Za menghela napas. Terserah ibunya saja. Yang jelas Za tidak ingin menerima pinangan dalam waktu dekat ini. Dia masih berkabung.
"Oh iya, Za. Insyaallah Ambu minggu depan mau mengunjungi kamu ke Jakarta." Suara ambu di sana terdengar riang, tapi tidak bagi telinga Za.
"Apa? Ambu mau ke Jakarta? Ngapain?"
"Ish, ya jenguk anak ibu nu geulis lah."
Masalah! Za dalam masalah kalau kayak gini. Bagaimana kalau ibu tahu ternyata dia tinggal di kosan tiga petak seperti ini? Ya Tuhan, gimana ini?
___________________
Hayo loh, Za. Ntar Ambu minta dikenalin ke pacar kamu gimana?