Oleh-oleh

1084 Kata
Seandainya Za masih bersama Ryan. Mungkin dia nggak akan segan minta tolong pada lelaki itu. Meskipun tidak semewah milik El, apartemen Ryan lumayan luas, memiliki dua kamar di dalamnya. Selama pacaran, hanya beberapa kali Za pernah datang ke sana. Tapi, sangat tidak mungkin kalau sekarang Za minta tolong pada lelaki itu. Hubungannya memburuk. Ryan bahkan sudah tidak pernah menghubungi Za lagi. El muncul di kantor Za ketika istirahat siang hampir menjelang. Seperti biasa, Rangga yang akan menangkap keberadaannya dulu. Za sendiri masih sibuk dengan lajur dan data yang sedang dia kerjakan. "Za, Pak El datang tuh," beritahu Rangga. Za tidak menoleh, dia masih fokus pada kerjaannya. "Paling nyari Pak Kusno, Pak." "Buat apa dia nyari Pak Kusno hampir jam makan siang gini? Udah pasti dia nyari kamu lah. Tuh kan, dia ke sini." Rangga menggeser kursi kembali ke mejanya sendiri. El benar menghampiri Za, sebuah paper bag dia letakkan di atas meja Za. Za yang menangkap langsung keberadaan paper bag itu mendongak. El tersenyum lebar. "Oleh-oleh." Mata Za kontan berbinar. Dia mengklik tombol save sebelum menengok isi paper bag tersebut. Ada dua kotak, yang satu besar yang satu kecil. "Apa ini, El?" tanya Za takjub. "Kamu bisa buka sendiri." Za bergerak membuka kotak pertama. Sebuah mug Disney yang lucu. Ada ukiran huruf EL di sana. Kening Za berkerut membaca inisial itu. "Kamu salah ngasih ke aku? Harusnya itu inisialnya ZA. Bukan EL." "Inisial nama kamu ada juga. Tapi aku letakkan di apartemen." "Wow, kita sudah seperti sepasang ke kasih saja." Za mengedikkan bahu, lantas dia membuka kotak kecil yang satu lagi. Ada logo huruf C kembar siam di atas kotak tersebut. Mata Za melebar ketika melihat isinya. Sebuah bross cantik keluaran Channel. Meskipun Za tidak pernah memiliki barang ori merk tersebut, Za tahu harga benda mungil itu mahal. "El, ini cantik banget," katanya mengambil benda itu lantas mengenakannya di blouse yang dia pakai. "Kamu suka?" tanya El. "Suka, sih, tapi kayaknya aku nggak cocok pake ini. Yang cocok itu cewek-cewek kayak Celia." El memutar bola mata. "Siapa bilang kamu nggak cocok pake itu?" El menoleh. "Rangga, coba kamu lihat, apa Za nggak cocok pake bros itu." Rangga yang pura-pura tidak menghiraukan keberadaan mereka menoleh gugup. "Cocok kok, Pak. Iya itu cocok buat Zanna. Pas." Lelaki itu mengacungkan jempolnya. "Nah, kan. Kamu jangan jadi nggak PD gitu dong." El tersenyum, dan langsung menulari Za. "Terima kasih, ya, El. Tapi mungkin aku akan lebih pede kalau sekalian kalungnya." Za semakin melebarkan senyum. "Dikasih hati dikit udah ngelunjak," decak El. "Pak El, nggak bawain saya oleh-oleh juga, nih?" celetuk Rangga, iseng-iseng berhadiah. "Waduh, maaf, Rangga, lupa." El tertawa. Padahal dia memang tidak mengingat Rangga. Hanya Za yang dia beri oleh-oleh. Rangga mencebikkan bibir. "Enak banget sih jadi Za. Aku kan juga mau oleh-oleh. El merogoh saku celananya. "Oh, iya, saya punya ini." Dia mengeluarkan sesuatu. Sebuah bungkus plastik berbentuk persegi berwarna cokelat. Hershey's Kisses. Siapa sih yang tidak tahu cokelat khas Amerika itu? "Ini buat kamu, kalau mau itu juga." "Mau, Pak." Rangga langsung merebut bungkus cokelat itu dengan mata berbinar. "Yang penting dari USA." "Sori, ya, Ngga. Cuma itu." "Kenapa kamu nggak kasih itu juga buat aku?" tanya Za melihat Rangga yang masih saja kegirangan karena cokelat itu. "Kamu mau juga? Banyak sih, tapi di apartemen. Nanti kamu bisa ambil di sana," jawab El. "Ih, males, ah. Perlu biaya transportasi tambahan kalau harus mampir dulu ke apartemen kamu." Za belum gajian sebisa mungkin harus hemat. "Kamu bisa pulang bareng aku, nanti balik kosan aku antar. Pengeluaranmu jauh lebih hemat." Za tertawa. Ya, jelaslah, orang dapat tebengan gratis. "Boleh, deh." "Ahelah, Za. Emang oleh-oleh itu nggak cukup? Cokelat begini mah nggak ada apa-apanya dibanding bros yang kamu pakai itu. Nggak sebanding," ujar Rangga usil. "Bilang aja, Pak Rangga iri," cibir Za. Rangga hanya mengarahkan bola mata ke atas. "Kalian mau makan bersama kan? Saya duluan deh." Lelaki berkacamata itu kemudian menyingkir. Bersamaan dengan staf lain yang ada di situ. "Ya, sudah, yuk kita makan siang," ajak El menengok pergelangan tangannya. "Loh, kamu beneran ngajak aku makan?" tanya Za. Kalau kemarin-kemarin mungkin dia akan dengan senang hati menerima tawaran El. Namun, setelah tahu El itu atasannya, Za jadi mikir untuk menerima penawaran makan siang bersama. Bukannya apa, dia hanya nggak mau diterpa gosip. Kedatangan El dengan paper bag-nya saja sudah membuat semua mata di kantor ini lirak-lirik padanya. Tapi Za memilih pura-pura tak tahu. "Enggak, deh, El. Aku nitip OB aja. Kerjaan numpuk." Za menunjuk komputernya. "Tuh kan. Sudah aku bilang, jangan berubah hanya tau kalau aku ini atasan kamu. Ini nih, yang aku nggak suka." El melipat lengan ke depan d**a. Bibirnya berkerut. "Ya, ini kan kantor, El. Kalau ada yang gosipin kita gimana?" El menarik kursi dan duduk di depan meja Za. "Kalau gitu sekalian pesankan makanan buatku juga sama OB." Astaga, ini malah lebih parah. Makan berdua di kantor. Dari dalam ruangannya, Pak Kusno tampak keluar. "Loh, ada Pak Ellard?" tanya Pak Kusno basa-basi seraya menutup pintu. "Iya, Pak. Mau ajak Za makan, tapi kataya banyak kerjaan. Apa kerjaanya urgent, Pak?" tanya El. "Ah, enggak, kok. Kan udah waktunya istirahat juga. Jadi, ya, tinggal saja pekerjaannya." El menoleh ke Za lagi. "Nah, manajer kamu aja bilang gitu. Yuk lah, kita keluar." "Tinggal aja, Zanna. Nggak apa-apa. Istirahat itu hak kamu," ujar Pak Kusno tersenyum. El berdiri melipat lengan kemejanya sampai siku. "Udah, ayo. Gratis loh, Za." Dia tertawa lebar. Pak Kusno lantas pamit lebih dulu. Begitu manajer itu pergi, sebuah pukulan mampir ke lengan kokoh El. Lelaki itu meringis. "Sakit, Za. Ya, ampun!" pekiknya mengelus bekas tabokan Za. "Nggak usah bawa-bawa Pak Kusno buat maksa aku ikut kamu makan." Za mendelik. "Ya, lagian. Kamu pake sok jual mahal." "Siapa yang jual mahal. Aku malas aja digosipin di kantor gara-gara sering bareng kamu." Za mengambil dompetnya. "Ya, sudah cepetan. Aku udah lapar." Za berjalan lebih dulu meninggalkan El. Di belakang El menyusul dengan senyum lebar. "Dasar wanita, lapar aja pake gengsi diajak makan," gumam El mempercepat langkahnya. "Aku mau makan soto Betawi," ujar Za saat di dalam lift. "Aku tahu restoran yang menyediakan menu itu." "Nggak di restoran, El. Tapi di belakang kantor." "Eh, apa?" Za menyeringai. El pasti tidak mau dibawa ke tempat makan kaki lima. Kalau dia tidak mau itu lebih baik. Za bisa makan sendiri di sana. "Kenapa? Nggak mau?" "Siapa bilang? Mau kok." El pura-pura setuju. Padahal seumur-umur dia belum pernah menyambangi tempat makan di belakang kantor. Memangnya ada tempat makan yang higienis di sana? _______________ Jangan lupa tap love ya teman-teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN