XLI. Pengungkapan di dalam Malam

648 Kata
“Membingungkan jika diingat mengapa hanya satu buku yang memiliki tulisan dan sisanya kosong,” ujar Hans. Siria memegangi kepalanya. “Semakin dipikirkan malah membuatku makin pusing,” keluhnya. Julian mengangkat kedua bahunya. “Ayolah, mari menikmati malam ini dengan berbincang santai dan jangan dibawa terlalu serius. Ayo nikmati minumannya, aku sudah memesankan ini untuk kita semua.” Julian mengajak yang lainnya untuk menikmati malam. Dimulai dari Julian yang mengambil gelas minumannya, diikuti Redd, lalu Zachary dan akhirnya semua mengambil minumannya. Sera terlihat memakan camilan yang disediakan oleh Zachary. Walaupun ia mengambil hanya sedikit, tapi seolah tak akan berhenti. Zachary yang menyadari akan hal itu hanya dapat tersenyum sambil memandanginya. Hans baru saja meneguk minumannya. “Julian, apa tidak masalah jika aku bertanya mengapa kau ingin membantu kami untuk mencari dalang dari kejadian ini? Maaf, tapi aku ingin tahu mengapa.” “Seperti yang aku katakan tadi, aku curiga tentang ayahku yang memalsukan kepergiannya ke negara sebelah. Juga ... jika targetnya adalah ahli sihir di sekolah maka aku juga tidak dapat tinggal diam.” Julian menjelaskan alasannya ingin membantu kepada Hans. “Julian dapat mempelajari banyak hal di sekolah kita. Mungkin akan berbeda ceritanya jika dia bersekolah di wilayah keluarga terpandang bersama dengan orang-orang hebat lainnya,” kata Redd. “Umm, bisakah aku bertanya soal yang itu? Mengapa kau memilih bersekolah di perbatasan antara dua area kecil ketimbang di tengah kota wilayah keluarga terpandang.” Zachary bertanya pada Julian. “Maafkan aku, tetapi untuk yang itu kau tidak perlu mengetahuinya.” Julian langsung menanggapi pertanyaan Zachary dengan singkat. “Tapi, kenapa?” “Mungkin orang lain melihat keluarga terpandang hidup dengan sejahtera dengan kehormatan yang dimiliki pada masing-masing keluarga. Namun, di sana justru terdapat kompetisi yang menyeramkan. Ingin menjatuhkan satu sama lain,” ungkap Julian. “Benarkah begitu? Astaga, aku sungguh tidak menyangka,” ucap Sera yang terkejut mendengar kebenarannya dari Julian. “Tidak bisa kita melihat seseorang hanya dari satu sudut pandang saja. Karena apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataannya,” ujar Redd. Suasana kembali sunyi setelahnya. Sera masih terus mengambil camilan, yang tadinya tampak banyak kini hanya tersisa setengahnya. “Hei, tiba-tiba aku memikirkan suatu hal.” Sera dengan mendadak berbicara membuat yang lainnya sedikit terkejut. “Ada apa, Sera?” tanya Zachary. “Bagaimana jika esok hari kita melanjutkan pembicaraan ini. Aku sudah mengantuk,” ucap Sera. “Ya ampun, kukira ada apa.” Zachary langsung menggelengkan kepalanya. “Apa di sini ada semacam perpustakaan? Mungkin kita bisa mencari informasi di sekitar sini.” Siria berkata. “Tapi apakah mungkin kita bisa mendapatkan informasi dari tempat ini? Bukankah selama kita di sini tidak pernah terjadi apa-apa,” sambungnya yang langsung merasa pesimis. “Sebenarnya ... aku sudah mengalami beberapa hal di sini,” beber Zachary. “Eh, kau mengalami apa?” Zachary menghela napasnya dalam-dalam lalu menghempasnya perlahan. “Kala itu, sehabis lari pagi dan aku ingin berjalan-jalan sebentar. Aku mengelilingi bangunan-bangunan di sekitar sini. Mungkin sebuah kebetulan aku mendengar seseorang yang tengah dianiaya di dalam g**g sempit. Dengan percaya dirinya aku menunjukkan diri dan ternyata ada tiga orang di sana mengenakan jubah serupa, penampilannya cukup menakutkan.” “Astaga, kenapa kau tidak menceritakannya kepada kami semua?” tanya Sera. “Mereka bertiga sangatlah kuat dan aku hampir kewalahan. Tingkatkan sihirnya bukan main-main. Untung saja aku berhasil membuat mereka mundur dan ya ... beruntungnya lagi Julian dan Redd datang menghampiriku.” Mendengarnya Hans langsung melempar tatapan tajam kepada Julian dan Redd. “Kalian menutupi semua itu?” tanya Hans. “Lebih baik kami menutupinya ketimbang memberitahu kalian. Ada korban juga dalam peristiwa tersebut,” ujar Julian. “Orang yang dianiaya itu?” tanya Siria. Julian pun mengangguk mengiyakannya. “Ada satu lagi ....” Zachary kembali berbicara untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi kepadanya. “Astaga, apa lagi?” Nada bicara Hans meninggi ketika mengetahui ada hal lainnya yang disembunyikan oleh kakaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN