“Ternyata seperti itu, kukira kalung itu pemberian dari seseorang. Karena bentuknya sangat indah.” Tasa berkata. “Baiklah jika seperti itu, aku pamit kembali ke meja resepsionis,” pungkas Tasa yang setelah itu meninggalkan kamar Zachary.
“Ayo kita lanjutkan pembicaraannya!” seru Siria.
“Tadi sampai ke kalung ya ... pada kalung itu terdapat ukiran bertuliskan ‘Heirloom of Ashes’.” Redd berkata. “Setiap mengingatnya nama itu membuatku langsung terpikir kepada Ashen Route di wilayah keluarga terpandang yang memiliki kota diasingkan,” tambahnya.
“Aku sudah membaca sedikit tentang tempat itu. Tempat yang diasingkan karena di sana memiliki struktur tanah yang tidak stabil dan ya ... hanya rute memutar yang sudah tidak pernah dilalui lagi.” Zachary berkata.
“Perkataan Zachary barusan membuatku berpikir kembali bahwa masuk akal juga orang-orang yang melakukan tindak kejahatan seperti ini bersembunyi di sana.” Siria mengungkapkan pendapatnya.
“Terlebih lagi, di sekitarnya juga ada beberapa tempat yang diasingkan juga. Sudah seperti area pengasingan di tengah wilayah keluarga terpandang,” ujar Hans.
“Mungkin tempat itu akan menjadi kunci karena tidak ada nama tempat lain yang serupa dengan ukiran pada kalung itu,” kata Zachary.
Julian menghela napasnya. “Aku harus mengatakan hal ini ....”
Sera memiringkan kepalanya. “Ada apa Julian?”
“... saat berada di tempat Peto tempo hari, sebenarnya aku mendapatkan surat dari adikku. Ia mengatakan bahwa ayahku sedang tidak berada di negara sebelah. Isi surat itu membuatku berasumsi bahwa bisa saja berita di koran tentang seorang yang memiliki atribut sihir cahaya sedang melakukan ritual itu benar adanya.” Julian menuturkan pemikirannya.
Semua terdiam setelah mendengarkan Julian. Tampaknya mereka bingung harus menanggapinya seperti apa.
“Emm, apakah kita akan pergi ke sana?” Tiba-tiba Sera bertanya.
Zachary langsung menoleh. “Jika yang kau maksud adalah Ashen Route, maka kita perlu untuk mencari tahu apakah benar kunci dari dalang semua kejadian ini berada di sana atau tidak.”
“Sepertinya kita harus lebih gencar menemukan bukti-bukti lainnya,” ucap Siria.
“Melihat dari yang sudah kita temukan, ada kalung yang kalian dapatkan dari tempat kejadian perkara guru Aldini. Lalu aku dan Julian yang mendapatkan kalung serupa terjatuh dari pakaian Andy, penjaga perpustakaan.” Redd mengingatkan kembali tentang dua kalung serupa yang telah ditemukan.
Hans terlihat sedang mengingat sesuatu. “Oh ya, saat berada di dalam perpustakaan kami menemukan sebuah ruangan rahasia. Terdapat pula beberapa buku di sana.”
“Buku? Buku seperti apa itu?” tanya Redd yang kebingungan.
Hans beranjak dari duduknya ke arah meja yang di sana terdapat buku yang ia maksudkan. “Bukunya sendiri memiliki judul ‘The Nexus’ dan berisikan berbagai ramalan dengan tata bahasa yang sedikit rumit.” Hans menjelaskan.
“Di bagian akhir buku itu pun terdapat nama negara kita, Dhenst.” Zachary menambahkan.
“Mungkinkah ramalan yang berada di dalamnya memang ditujukan untuk negara kita?” Siria menebak-nebak.
“Akan menjadi aneh karena ruangan itu berada di dalam perpustakaan sekolah kita. Dan, ya ... tidak ada yang menyadarinya selama ini.” Julian berkata.
“Maafkan aku tetapi bukankah tadi kau mengatakan ada beberapa buku di sana? Mengapa hanya satu yang kau miliki?” tanya Redd.
“Buku lainnya kosong, tidak ada satu halaman pun yang tergores tinta. Karena berpikir bukunya tidak akan memberikan informasi lainnya, maka kami tinggalkan buku itu di sana.” Sera menjawab pertanyaan Redd.