XXXIX. Perkumpulan di Dalam Kamar

1092 Kata
Malam pun tiba, masih sama dengan sore tadi ketika mendung dan angin berhembus kencang. Namun, kini langit sudah tak gerimis. Zachary berjalan ke arah jendela kamar lalu membukanya. Suara serangga di malam hari langsung terdengar dengan jelas bersamaan dengan samar suara para penduduk area warga biasa yang tengah beraktivitas di malam hari. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Julian dan Redd terlihat mendatangi kamar Zachary. Ia mengetuk pintu lalu Hans membukakannya dan mempersilahkan keduanya masuk. "Apakah kami telat? Aku tidak melihat Sera dan Siria di sini," ujar Julian. Hans menggeleng. "Kalian yang datang terlalu cepat, masuk saja dahulu. Kita bisa mengobrol sebentar sambil menunggu Sera dan Siria datang." "Kemari dan duduklah, kami memiliki sedikit camilan." Zachary memanggil. "Terima kasih, kalian sangat baik," sahut Redd. Setelah Hans menutup kembali pintunya, mereka duduk melingkar di atas karpet dengan camilan di bagian tengahnya. "Julian, bukankah kau mengatakan ingin mentraktir minuman malam ini?" tanya Hans. "Apakah kau melupakannya?" Zachary ikut bertanya. "Astaga kalian ini, mana mungkin aku lupa. Aku sudah memesannya, kita hanya menunggu pelayan penginapan mengantarkannya ke sini." Julian berkata. "Omong-omong, tadi aku sempat terpikirkan dengan perkataan Sera tentang orang yang memata-matai kita. Apakah itu benar-benar ada?" tanya Zachary. Semua terdiam untuk beberapa saat. Namun, Julian nampaknya sudah menemukan jawabannya dan ia menghela napasnya. "Jika dipikirkan lagi, seharusnya memang ada yang tengah memata-matai kita. Melihat Zachary memiliki kekuatan yang sebesar itu dan kita sedang berada di area warga biasa," ujar Julian. "Emm, warga di sekitar area ini katanya memang tidak menyukai orang yang dapat melakukan teknik sihir." Hans menuturkan pendapatnya. "Mungkin kau harus lebih berhati-hati lagi, Zachary." Redd berkata. "Ya, aku akan lebih berhati-hati lagi. Sepertinya kini sudah tidak bisa menggunakan sihir dengan sesuka hati, harus melihat keadaan sekitar juga." Zachary menanggapi. Di tengah perbincangan mereka, terdengar pintu yang diketuk beberapa kali secara cepat dan ada suara teriakan memanggil nama Zachary. Suara itu sudah jelas Sera dan Siria yang akhirnya datang juga. Kini Zachary yang membukakan pintu untuk mereka berdua. Sera menengok ke dalam kamar Zachary dan menyadari Julian dan Redd sudah tiba lebih dulu ketimbang dirinya. "Astaga, kami berdua telat ya? Julian dan Redd sampai-sampai sudah duduk di dalam." "Tadinya aku dan Sera ingin datang kemari lebih cepat. Namun, aku mengajak Sera untuk membeli camilan terlebih dahulu," ujar Siria sambil menunjukkan kantung yang dibawanya berisi banyak camilan kemasan. Zachary lantas tersenyum. "Kalian tidak telat, hanya saja Julian dan Redd yang datang terlalu awal. Ayo masuk terlebih dahulu, kita bisa menunggu minuman yang dipesankan Julian datang," ucap Zachary. "Ah begitu rupanya. Baiklah, terima kasih Zachary," ucap Siria yang setelah itu masuk ke dalam kamar Zachary diikuti oleh Sera. Setelah itu, Zachary kembali duduk di tempatnya. Kini, di tengah-tengah mereka duduk dipenuhi oleh camilan. Hans mulai mengambil dan membukanya. "Hei, apakah kalian tidak menyukai camilan ini? Untuk apa dibeli jika tidak untuk dimakan?" Hans sambil membukakan bungkus camilan yang lainnya. Semua pun tertawa mendengarkan Hans berkata seperti itu. "Baiklah, berhubung saat ini semuanya telah berkumpul. Mari kita membahas rencana untuk mengusut dalang dibalik semua kejadian ini," ajak Zachary yang membuka pembicaraan. "Kita akan memulainya dari mana? Bukti yang sudah ditemukan kah?" tanya Julian. Hans mengangguk. "Itu tidak buruk, ayo kita bahas tentang bukti-bukti yang ditemukan!" Zachary menghela napas lalu ia menghempasnya perlahan. "Dari yang paling jelas terlebih dahulu. Pelakunya mengincar ahli sihir dari sekolah kita tanpa sebab. Mereka juga menggantungkan kepala korban di tempat yang berbeda-beda." "Sejujurnya, aku juga memiliki asumsi jika mereka menangkap para ahli sihir ketika sedang lengah dalam posisi sendirian." Siria berkata. "Secara ... kakakku mendadak hilang dalam situasi sendirian juga," sambungnya. "Asumsinya mungkin benar. Secara guru Aldini juga meninggalkan jejaknya di gubuk tua di ujung taman sekolah. Melihat jejak-jejak yang ada tidak mungkin guru Aldini sedang bersama orang lain di sana," ujar Sera yang teringat dengan kejadian guru Aldini. "Jangan melupakan kalung yang kita temukan di tempat kejadian perkara guru Aldini," ucap Hans. Zachary pun mengambil kalung itu dari saku bajunya. "Ini kalung yang kami temukan, waktu itu Julian tak sengaja membelahnya jadi dua bagian," tutur Zachary. "Bolehkah aku melihatnya?" tanya Julian. Zachary langsung mengiyakannya dan memberikan kalung itu kepada Julian. Ketika melihatnya, ekspresi Julian langsung berubah menjadi begitu terkejut membuat yang lainnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Julian. "Julian, ada apa denganmu sampai terlihat sangat terkejut seperti itu?" Sera bertanya. Julian menelan ludahnya sendiri. "K- kalung ini yang kutemukan terjatuh dari saku celana Andy, penjaga perpustakaan," bebernya. Sontak yang lainnya pun ikut terkejut. "Kau tidak sedang bercanda, kan?" tanya Zachary yang ingin memastikan. Julian pun menggapai saku celananya dan menunjukkan kalung yang didapatnya dari Andy. Yang mana, kedua kalung itu sama persis ketika dijajarkan. "Apakah Andy yang melakukannya pada guru Aldini?" tanya Sera dengan nada yang pelan. "Kurasa tidak." Hans dengan tegas membantah pertanyaan Sera. "Yang ada di dalamnya pikiranku, ia bertugas untuk memantau situasi di sekolah dan juga mencari informasi tentang ahli sihir di sana. Secara ... ia bekerja di bagian perpustakaan. Ia dengan mudah pergi ke sana kemari dengan alasan untuk mengambil atau mengembalikan buku," jelas Hans. "Perkataan Hans masuk akal juga," ucap Zachary. Di tengah kebingungan sekaligus situasi tegang tersebut dari arah lorong kamar Rasa berjalan membawakan nampan berisi minuman untuk enam orang. Ia melihat seseorang dengan pakaian serba hitam mengendap-endap mendekati arah kamar Zachary. Tasa pun berteriak kepada orang tersebut supaya tidak menghalanginya. "Maaf tuan, bisakah kau jangan berada di tengah lorong kamar seperti itu? Aku sedang membawa minuman, jadi tolong pergilah supaya jalanku tidak terhalangi," seru Tasa. Orang itu pun berlari menjauhi kamar Zachary. Ia juga terlihat langsung menuruni tangga setelah mendengar seruan dari Tasa. Setelahnya, Tasa memanggil dari luar pintu kamar Zachary. "Permisi, enam gelas minuman buah segar pesanan atas nama Julian." Mendengar itu Zachary membukakan pintunya. "Wah minumannya sudah datang! Terima kasih Tasa sudah mengantarkannya sampai ke depan kamar," ujar Zachary. Julia yang melihatnya langsung berdiri dan membantu Zachary 'tuk membawakan gelasnya. "Hei, barusan ketika aku akan kemari ada seseorang yang mengendap-endap menuju kamar ini. Ia mengenakan pakaian dengan warna serba hitam dan ia terlihat amat mencurigakan. Untung saja aku langsung mengusirnya supaya tidak menghalangi jalanku," ungkap Tasa kepada yang lainnya. Zachary dan yang lain saling bertatapan. "Apakah mungkin orang itu tengah memata-matai kita semua?" tanya Redd. "Bisa jadi, tetapi untungnya ada Tasa yang membuat orang itu langsung pergi. Terima kasih Tasa." Zachary mengucapkan kembali terima kasihnya. Nampaknya Tasa tak sengaja melihat kalung yang sedang dipegang oleh Siria. Yang mana, kalung itu merupakan kalung yang ditemukan dari tempat kejadian perkara guru Aldini. "Hei, Siria. Kalung apa itu? Bentuknya cantik," ujar Tasa. "A- ah tidak, kalung ini bukan apa-apa." Siria berusaha menutupi kalung apa sebenarnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN