XXXVIII. Langit Gelap

1078 Kata
“Apa, tunggu? Isinya benar-benar kain?” Hans amat terkejut ketika mengetahui tebakan kakaknya benar. “T- tapi untuk apa?” Zachary bertanya. “Entahlah, ini bisa di simpan. Siapa tahu nantinya bisa digunakan,” ujar Julian. Setelah itu Julian membagikan kain-kain yang diberikan oleh keluarga Peto. Setelah dibagikan mereka pun menyimpannya ke dalam tas. “Supaya tidak sampai di penginapan ketika gelap, bagaimana jika ita pergi sekarang?” Redd memberikan usul kepada yang lainnya. Zachary mengangguk pelan. “Siang hari seperti ini suhunya cukup menyengat. Terlebih, setelah ini ini kita harus berjalan hingga tiba di stasiun,” ujarnya. “Peto, kami pamit dulu, ya. Terima kasih sudha membiarkan kami bersinggah di sini. Jaga kesehatanmu dan jangan sampai telat untuk makan,” kata Julian. “Tentu, kalian juga harus menjaga kesehatan. Terima kasih juga sudah mampir ke toko kecilku ini.” Peto menanggapi. Setelah itu, Julian bersama Zachary dan yang lainnya pergi keluar dari tempat Peto sambil melambaikan tangan. Mereka melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki hingga sampai ke stasiun kereta. Sepanjang jalan, mereka banyak melihat para keluarga bangsawan yang tengah melakukan aktivitasnya di siang hari. Mulai dari berjualan barang-barang mewah, sampai dengan yang menjual makanan yang terlihat sangat menggiurkan. “Barang dagangan mereka bukan gandum ataupun kain. Semuanya barang mahal!” ujar Hans sambil melihat-lihat orang berjualan di sekitarnya di bawah teduhnya atap. “Ingatlah bahwa kita tengah berada di wilayah keluarga bangsawan.” Sera berkata. Redd tertawa kecil. “Percayalah padaku, jangan pernah kau mengharapkan dirimu berada di tengah lautan uang,” ujar Redd. “Astaga, perkataan yang bagus,” kata Zachary. “Apakah itu berbahaya atau hanya aku yang salah megartikannya?” tanya Zachary. “Ya … bisa kau katakan seperti itu. Mungkin uang dapat memberikan segala yang kau inginkan atau mungkin mendukung apa yang kau ingin lakukan. Namun, uang itu bisa pula menghasutmu atau menghancurkanmu. Semua tentang dirimu dapat seketika berubah, kau bisa berubah jadi orang yang berbeda pula.” Setelah Redd mengatakannya, tidak ada tanggapan lai karena semua terdiam. “Astaga, mungkinkah perkataanku barusan menyinggung perasaan Redd karena dulu ia juga berasal dari keluarga bangsawan? Aku jadi merasa tidak enak kepadanya.” Hans membatin. Akhirnya mereka pun sampai ke stasiun. Julian langsung membayar tiketnya dan kini mereka hanya perlu menunggu hingga kereta yang akan ditumpangi tiba. Mereka memilih bangku kayu panjang lalu duduk berjajar untuk menunggu kereta datang. “Hei, Apakah tinggal di wilayah keluarga bangsawan merupakan sebuah kehormatan?” tanya Sera. “Menurutku tidak selalu begitu. Bahkan walau hanya tinggal di area keluarga rendaan pun bisa saja dikatakan sebagai sebuah kehormatan. Di samping fasilitas dan pembangunan di sana yang tertinggal jauh, semua tentram di sana dan tidak perlu ribut-ribut memikirkan harta ataupun kekuasaan.” Zachary berterus terang. “Mungkin dapat dikatakan kalau semua itu tergantung dengan bagaimana cara kita memandang suatu hal,” ujar Hans. “Ya … tidak bisa kusangkal. Yang kalian katakan itu benar,” kata Julian. Tidak lama setelahnya, kereta yang akan mereka tumpangi pun tiba. Suara desis dari piston beserta uap dan asap yang keluar dari cerobong kereta membuat Zachary, Julian, dan yang lainnya yang tengah menunggu kereta berdiri mengantri untuk memasuki kereta. Perjalan kembali ke penginapan pun dimulai. Kereta dengan cepatnya melintasi rel, melewati pepohonan rindang dengan pemandangan sekitarnya yang membuat pandangan menjadi nyaman. Terlihat langit di arah tujuan, area warga biasa yang mulai diselimuti awan beerwarna abu-abu gelap. Nampaknya, tak lama lagi rintik hujan akan membasahi daratan area warga biasa. Julian menoleh kepada Zachary tanpa sebab. “Hei, nantinya aku dan Redd harus membantu kalian dari mana?” tanya Julian. “Apakah kita belum membicarakan soal itu?” Zachary bertanya balik sambil mengerutkan dahinya mencoba mengingat. “Entahlah, tetapi setidaknya apakah kau dapat memberikan gambaran kepadaku bagaimana nantinya rencana ini berjalan? Tidak mungkin kita menemukan dalang dari hilangnya para ahli sihir tanpa rencana yang jelas,” ujar Julian. Zachary mengangguk pelan. “Kalau soal rencana, yang jelas kita memerlukan banyak sekali bukti. Tanpa bukti kita akan semakin kesulitan untuk mencari jalan menemukan dalangnya.” Zachary berkata. “Sebenarnya, aku dan Redd memiliki beberapa bukti. Nanti saja kita bicarakan saat sudah sampai di penginapan,” tutur Julian. “Baguslah kalau kau ternyata memiliki bukti juga.” Zachary menanggapi. “Bagaimana jika malam ini kita berkumpul di kamarku? Ketimbang kita membicarakannya di luar ruangan, aku takut ada yang mendegarnya.” “Boleh-boleh saja, nanti akan kupesankan minuman,” ucap Julian. “Tunggu, apakah ada yang memata-matai kita?” Sera bertanya secara mendadak. Hal itu membuat Zachary mengingat tiga orang misterius yang menyerangnya, Julian dan Redd pun menoleh ke arah Zachary. Untungnya Siria tertawa setelah mendengar ucapan Sera tersebut. “Tidak mungkin ada yang memata-matai kita. Lagi pula untuk apa juga.” Setelahnya tidak ada lagi obrolan yang membuat mereka tetap berbicara. Masih di posisi duduknya, Zachary melamun entah ia sedang memikirkan apa. Hingga kereta yang ditumpangi sampai di stasiun area warga biasa. Terlihat langit yang ternyata menjadi semakin gelap diselimuti awan gelap. Angin di sekitar stasiun juga berhembus dengan kencnag membuat daun-daun kering di jalanan berterbangan. Zachary, Julian dan yang lainnya turun satu persatu dari kereta sambil membawa barangnya masing-masing. Setelahnya mereka langsung berkumpul dan berjalan menuju bagian luar stasiun. “Apakah kita akan melanjutkannya hingga berjalan sampai ke penginapan?” tanya Hans. “Lebih baik begitu, sebelum anginnya semakin kencang dan hujan turun.” Zachary berkata. “Ikuti aku, aku akan berjalan duluan. Hati-hati dengan angin yang kencang.” Zachary memperingatkan yang lainnya. Semuanya pun megikuti perkataan Zachary dengan berjalan mengikuti di belakangnya. Beberapa saat kemudian, mereka masih berjalan bersama. Bangunan penginapan sudah terlihat, tetapi rintik gerimis mulai turum dan mereka kini mempercepat langkahnya. Hingga pada akhirnya mereka sampai juga di lobi penginapan dengan berlari supaya tidak basah kuyup. Tasa yang melihat mereka langsung menghampiri. “Astaga kalian semua kenapa berlarian seperti itu? Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan handuk untuk kalian,” ujar Tasa. Tasa lantas kembali ke meja resepsionisnya, ia megambil beberapa handuk dari laci bagian bawah meja lalu memberikannya kepada Zachary dan yang lainnya. “Terima kasih banyak, Tasa.” Siria berkata sambil tersenyum. Tasa membalasnya kembali dengan senyuman. “Itu sudah tugasku untuk memperlakukan tamu dengan baik.” Tidak lama setelahnya hujan deras mengguyur area warga biasa. Beserta angin yang cukup kencang menjadi alasan untuk Tasa dengan segera menutup pintu lobi penginapan supaya tidak ada cipratan air ke bagian dalam penginapan. “Baiklah semuanya, ayo kembali ke kamar masing-masing. Nanti malam kita berkumpul di kamarku, ya!” Zachary berkata. Semuanya pun mengangguk setelah Zachary mengatakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN