XXXVII. Surat dari Jauh

1207 Kata
“Aku sendiri masih memikirkan apa sebenarnya yang menjadi motif dalam kasus ini. Maksudku, tidak ada petunjuk yang benar-benar mengarah kepada motifnya.” Zachary berkata. “Dari pengamatanku, semua akan semakin kacau ketika benar-benar semua guru dari sekolah kita menjadi korban,” celetuk Hans yang terlihat amat serius. “Hans, jangan berbicara seperti itu!” peringat Sera. “Sepertinya semua ini masalah waktu. Anggap saja seperti parasit, jika tidak cepat-cepat disingkirkan hingga tuntas maka akan terus menyebar hingga semuanya habis,” ucap Redd. Zachary menghela napasnya. “Ucapanmu jika dipikir-pikir lagi cukup masuk akal.” Tanpa mereka sadari, ternyata kereta sudah berada di depan bangunan kecil milik Peto. Satu persatu pun turun dari kereta kuda dengan barang-barangnya. Julian memberikan sekantung kecil yang sepertinya berisikan uang sebagai bayaran untuk pengendara kereta kuda. “Tuan, aku izin pamit kembali ke Light Sanctuary, semoga perjalananmu menyenangkan dan semuanya selamat sampai tujuan,” pungkas penunggang kereta kuda itu yang langsung memutar balik kembali ke Light Sanctuary. “Baiklah, kau juga hati-hati di jalan ya!” Julian seraya melambaikan tangannya. “Sst, Julian … aku baru sadar. Apakah akan baik-baik saja jika kita membicarakan semua masalah tadi di dalam kereta? Pengendaranya tadi pasti mendengar semua ucapan kita,” bisik Hans kepada Julian. “Tenang saja, kau bisa percaya kepada orang-orang di Light Sanctuary,” ujar Julian. “Ah baiklah, aku hanya takut salah satu orang di sana ada yang menjadi mata-mata.” “Tidak mungkin, sejak dulu orang-orang di dalam Light Sanctuary selalu dapat dipercaya,” kata Julian. “Hei, apa kalian tidak ingin masuk?” tanya Redd yang sudah memegang gagang pintu. “Aku datang,” ujar Hans. Ketika Redd ingin mearik gagangnya, ternyata pintu itu masih dikunci dari dalam. Alhasil Redd harus mengetuk pintunya beberapa kali supaya Peto bisa membukakan pintunya. Ternyata tidak perlu menunggu lama hingga akhirnya Peto membukakan pintunya. Dengan senyum ringan Peto mempersilahkan yang lainnya untuk masuk. “Astaga apa kalian sedang berada di perjalanan pulang? Padahal baru kemarin kalian datang, bukankah ini terlalu cepat?’ tanya Peto. Julian menghela napasnya. “Urusanku sudah selesai, aku merasa tidak enak juga ketika berlama-lama berada di sana,” ujar Julian. Zachary mengangguk pelan. “Mereka pasti masih beranggapan posisimu berada di atas segalanya padahal tidak, kan?” “Ya, kau benar sekali. Aku dan yang lainnya pula datang ke sini untuk berpamitan kepadamu.” Julian berkata. “Ah baiklah, maaf ya aku tidak bisa menyediakan apapun di sini. Hanya ada air mineral saja, aku tidak memiliki yang lainnya,” tutur Peto. Zachary tersenyum. “Santai saja, kami juga tidak akan berlama-lama di sini.’ “Ah iya, aku baru ingat. Julian, bisakah kau ikut denganku ke dalam bilik sebentar? Ada yang harus kuberi tahu kepadamu,” ajak Peto yang sepertinya baru mengingat sesuatu tentang Julian. Julian mengangguk. “Redd, Zachary, tunggu sebentar ya,” ujarnya. “Tempat ini dipenuhi dengan pakaian yang begitu modis dan nampaknya dijual dengan harga selangit,” ujar Sera yag tengah melihat sekeliling ruangan. “Dari melihatnya saja sudah ketahuan jika bahan yang digunakan tidak sembarangan. Busana modis dengan nama yang terkenal rasanya juga bisa dikalahkan olehnya,” kata Siria. “Jika melihat semua karyanya ini dikerjakan sendirian, pasti dia memang sudah ahli dalam menjahit sejak kecil.” Zachary berkata. “Omong-omong, hanya perasaanku saja atau memang Julian terlihat lebih dekat kepada Peto ketimbang orang-orang lainnya di dalam Light Sanctuary?” tanya Hans. “Pada dasarnya memang Julian sudah mengenal Peto dari lama. Bahkan sebelum ia bettemu denganku mereka sudah seperti sahabat yang dekat.” Redd menanggapinya. “Pantas saja jika mereka sudah kenal dengan lama. Aku tidak melihat kecanggungan sama sekali diantara mereka,” ujar Zachary. Sementara Julian dan Redd di dalam bilik …. “Apa yang ingin kau beri tahu kepadaku, Peto?” tanya Julian. Peto mengambil sepucuk surat di atas meja lalu langsung memberikannya kepada Julian. “Akhirnya setelah beberapa minggu Neria mengirimkan surat lagi,” ujar Peto. “Astaga, sudah beberapa minggu ini aku tidak mendapatkan ucapan untuk menjaga pola makan dan istirahat darinya,” gumam Julian. “Akan langsung kubuka suratnya.” “Buka saja, lagi pula itu dari adikmu.” Julian membuka surat itu perlahan. “Astaga anak ini ….” Lalu, Julian pun mulai membaca sepucuk surat dari adiknya, Neria. `Bagaimana kabarmu di sana? Sudah lama aku tidak mengirimkan surat, ya? Hanya sedikit bocoran aku menghilang karena membuat perdebatan sengit dengan beberapa keluarga di sini. Aku ingin mengatakan sesuatu yang cukup penting, tetapi berjanjilah untuk tidak panik, marah atau bahkan terlalu memikirkan hal ini. Seorang informan dari negara sebelah mengatakan jika ayah sedang tidak berada di sana. Bahkan dari data kapal yang datang, tidak ada satupun namanya. Informan itu juga mengatakan jika seseorang ingin mendatangi acara penting maka tidak mungkin untuk memalsukan nama, karena nantinya tidak akan ada pelayan khusus untuknya. Namun, jika itu semua dikesampingkan tetap saja ayah tidak ada di negara sebelah. Sampai dengan aku menulis surat ini untukmu, semua upaya sudah dilakukan untuk mencarinya. Jangan terlalu mengambil pusing tentang masalah ini ya, aku akan berusaha untuk menemukannya. Terakhir, seperti biasa … jaga kesehatanmu, jangan lupa untuk menjaga pola makan dan tidurmu. Adikmu menyayangimu. Neria.` Kira-kira begitulah isi dari suratnya. Julian dibuat membeku setelah membacanya. Ia nampaknya sudah tidak mengerti harus berbuat apa, dan sepertinya ia teringat dengan berita di dalam koran yang sempat ditunjukkan Zachary padanya, terkait seorang keluarga terpandang dengan atribut sihir cahaya. “Julian, apa yang terjadi? Apa isi dari surat itu?’ tanya Peto yang membuat Julian tak lagi diam. “Neria hanya memberikan informasi yang amat mengejutkan. Namun, aku tidak dapat memberi tahumu untuk saat ini. Tidak apa-apa, kan?” “Santai saja, kau ini seperti belum lama mengenalku saja. Semua itu pilihanmu untuk berbagi atau tidak.” Peto berkata. “Satu lagi yang hampir aku lupakan. Sebentar ya!” Peto lalu pergi ke sudut bilik dan mengambil sebuah kotak berwarna biru cerah lalu ia membawa kotak itu kepada Julian. “Ini dari ibu dan saudara-saudaraku. Aku lupa untuk memberikanya kemarin. Ini sudah dari satu bulan lalu, mereka mengatakan jika Julian datang berikan kotak ini,” jelasnya. “Astaga sampai repot-repot begini. Apa isinya?” tanya Julian. “Jika aku tidak salah ingat di dalamnya ada beberapa kain yang dapat kau gunakan untuk apa saja. Mungkin untuk mengikat sesuatu, menutup jendela atau apalah. Yang jelas banyak kain di dalamnya yang dapat kau gunakan.” “Bisakah aku membaginya dengan yang lain?” tanya Julian. “Tentu saja, bagikan pada yang lainnya. Katanya berbagi itu indah,” ujar Peto sambil tersenyum. Julian dan Peto keluar dari bilik di sudut ruangan. “Hoi lihat apa yang kubawa!” seru Julian. “Apakah itu sebuah makanan?” tebak Sera. “Mungkinkah sebuah pakaian musim dingin?” Kini Siria yang menebak. Zachary menghela napasnya. “Jika bukan pakaian jangan bilang isi kotak itu hanya kain-kainnya saja … tapi apa mungkin isinya hanya sebuah kain?” “Kak, mana mungkin isinya hanya kain. Jika bisa kutebak maka isinya adalah sebuah tuksedo yang harganya sangat mahal.” Hans ikut menebak. Julian dan Peto tertawa mendengar tebakan yang lainnya. “Sayang sekali tapi kalian semua salah kecuali Zachary. Isi dari kotak ini benar-benar hanya kain. Tetapi kainnya ada banyak sehingga cukup untuk kita semua,” ungkap Julian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN