XIX. Sekitar Penginapan

1435 Kata
Mereka menyusuri jalanan di area warga biasa. Zachary dan Hans yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di area warga biasa terlihat begitu takjub dengan suasana yang jelas berbeda. Jika di area keluarga rendahan kita hanya bisa melihat bangunan sederhana yang dikelilingi ladang nan luas serta langit yang terbuka luas. Namun, di area warga biasa ini pembangunan sedang gencar dilakukan. Banyak sekali ditemui area pembangunan di setiap sudutnya. Banyak pula terlihat pekerja yang memikul barang dagangan ataupun barang bangunan. Tak sedikit pula lapak berjualan di sepanjang jalan, dengan ruko-ruko di belakangnya yang meutupi luasnya langit. Jalanannya juga teramat sempit jika dibandingkan dengan jalanan yang ada di area keluarga rendahan. Akhirnya sampai juga mereka di depan penginapan. Bangunan bertingkat yang terlihat cukup sederhana dari luar. Desainnya juga cukup minimalis. Siria langsung mengajak yang lainnya untuk masuk. Di ruang lobi, Siria menyapa resepsionis penginapan. Sepertinya mereka berdua sudah saling kenal. “Hai Tasa, lama tidak bertemu!” sapa Siria. Mereka lalu berpelukan layaknya dua sahabat yang telah lama tak bertemu. “Akhirnya kau tiba juga di sini. Kau jadi memesan dua kamar, kan?” tanya Tasa kepada Siria. “Ya, aku memesan dua kamar. Bisa aku mendapatkan kuncinya?” Tasa kembali ke mejanya lalu mengambil dua buah kunci kamar dengan tanda nomor 87 dan 93. Ia langsung memberikan kedua kunci itu pada Siria. “Kau bisa pergi ke ujung lorong, ikuti saja petunjuk yang ada sampai ke kamar kalian. Karena kebetulan banyak yang tengah meginap jadi aku usahakan untuk mendapat kamar yang jaraknya tak terlalu jauh.” “Ya ampun, terima kasih banyak telah mengusahakannya. Aku akan pergi menuju kamarnya sekarang.” Siria menanggapi. “Semoga kau suka dengan kamarnya!” “Ayo semuanya, kita pergi ke kamarnya,” ajak Siria. Yang lainnya pun mengikuti dari belakang. Sampai di pojok lorong, dengan kamar yang jaraknya hanya beberpa langkah. “Zachary dan Hans, kalian di kamar nomor 87 ya. Biar Sera yang bersamaku,” ujar Siria seraya melemparkan kunci kamar kepada Zachary. “Baiklah,” kata Zachary yang setelah itu langsung menancapkan kunci kamarnya pada gagang pintu. Ketika ingin memutar kuncinya, Zachary dan yang lainnya dibuat sangat terkejut dengan Julian dan Redd yang tiba-tiba muncul dari kamar nomor 88 yang mana kamar itu tepat bersebelahan dengan kamar Zachary dan Hans. “Tunggu, tidakkah aku sedang berhalusinasi? Apa kalian berempat mengikutiku dan Redd ke penginapan ini?” tanya Julian yang kebingungan. Siria langsung menyangkalnya. “Tidak. Aku sudah memesan dua kamar ini sejak beberapa hari lalu.” Redd menutupi wajah dengan telapak tangannya. “Aku tidak menyangka akn sedekat ini, tapi kamar yang bersebelahan bukannya terlalu dekat? Aku berharap penginapan ini tidak hancur karena aku dan Hans dapat bertengkar kapan pun rasanya,” batin Redd merasa tidak nyaman. “Oi, semoga kau tidak bosan melihat wajahku untuk kedepannya,” ejek Hans kepada Redd. Setelahnya Hans langsung memutar kunci dan masuk ke kamar duluan. “Kau ini benar-benar ….” Redd geram sampai mengepalkan tangannya erat-erat. “Jangan membuat keributan, yang menginap di sini bukan hanya kita,” ujar Sera memperingatkan. Petang pun tiba. Sekali lagi perbedaan ditemukan diantara area warga biasa dengan area keluarga rendahan. Ketika menjelang petang di area keluarga rendahan, semuanya menjadi gelap karena pencahayaanya begitu minim. Sedangkan di area warga biasa, lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan. Satu per satu rumah menyalakan lampunya dan semuanya tampak bersinar. Siria mengajak yang lainnya untuk pergi berjalan-jalan mengelilingi area warga biasa. “Ayo kita melihat-lihat sebentar sekaligus berkeliling,” ajak Siria. “Apakah petang di sini sama ramainya seperti siang tadi saat kita tiba di stasiun?” tanya Hans. “Sepertinya akan menjadi lebih ramai. Menjelang petang banyak toko ataupun tempat-tempat yang baru buka. Entahlah, tapi banyak sekali tempat yang kau dapat kunjungi ketika malam hari. Tenanglah, aku akan mengajak kalian melihat hal yang menakjubkan,” ucap Siria. “Aku tidak sabar untuk melihatnya!” seru Sera amat bersemangat. Mereka mulai perjalanan mereka dari penginapan menuju pusat kota karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Begitu indah sepanjang jalan penuh dengan lampu-lampu, terlihat hanya bagian-bagian sudut dan g**g kecil yang pencahayaannya sangat kurang seperti di area keluarga rendahan. Yang pertama kali mereka temukan ialah sebuah pertunjukan dari sekelompok orang di pinggir jalan. Pertunjukan itu nampak seperti pertunjukan bakat biasa, seperti melakukan trik dengan kartu, pantomim, akrobat dan semacamnya. Keempatnya tengah menonton dari kejauhan, mereka berhenti sejenak. “Eww, daripada menyajikan trik biasa sepert itu kenapa mereka tidak mempertunjukkan trik dengan sihir?” tanya Hans. Siria langsung mengangkat jari telunjuk dan menempatkannya di tengah bibir. “Tutup mulutmu sebelum orang lain mendengarnya. Aku tidak akan membantu jika kau babak belur.” “Hei, apa maksudnya itu?” “Kebanyakan orang di area ini tidak dapat menggunakan sihir. Banyak pula dari mereka membenci ketika seorang yang bisa sihir menunjukan kemampuannya,” bisisk Sera pelan kepada Hans. “Oh, maaf. Aku sungguh tak mengetahui hal seperti itu.” Hans berdesis. “Sudah cukup melihat pertunjukannya, ayo kita mencari makan malam!” ajak Siria. “Ke restoran?” terka Sera. “Tidak, kita akan ke tempat makan pinggir jalan ….” Sontak raut wajah Zachary, Hans dan Sera jadi lesu. “… aku yang bayar. Makanlah sampai kalian kenyang,” tambah Siria seraya berjalan. Hal itu langsung membuat ketiganya yang lesu kembali bersemangat. Setelah berjalan untuk hampir setengah jam, mereka berhenti di dekat persimpangan. Sebuah toko kecil yang menjual olahan daging, dengan d******i warna hitam dan putih berikut tanaman dalam pot kecil. Karena malam telah tiba, papan nama toko itu cukup menarik perhatian sebab tiada ada lagi toko makanan lain pada persimpangan tersebut. Saat pertama kali memasuki toko tersebut, Zachary dan yang lainnya terlihat menghirup aroma yang teramat sedap. Sepertinya itu adalah bau daging yang tengah di bakar karena nampak sedikit asap muncul dari arah dapur. Tak lama setelah duduk, seorang pelayan mendatangi meja keempatnya untuk memberikan buku menu. “Silahkan dilihat-lihat dulu menunya,” ujar pelayan itu. “Baiklah, empat koin emas untuk empat orang,” tutur Siria. “Silahkan tunggu nona, semuanya akan disiapkan dengan cantik dan sempurna,” ujar pelayan itu sambil membungkukkan badan serta melipat sebelah lengannya di depan. “Ada apa dengan semua ini? Aku belum selesai membaca buku menu, tiba-tiba kau memberikannya empat koin emas. Bahkan tidak ada nominal harga di buku menu ini!” keluh Hans yang kesal tetapi terlihat pula ia kebingungan di saat bersamaan. “Tetapi memang begitu caranya di area warga biasa ini. Jika kau menginginkan sesuatu, kau harus membayarnya dahulu barulah kau akan diberikan sesuai dengan yang kau bayar,” jelas Sera. “Sepertinya Sera berpengalaman,” kata Siria dengan tawa kecilnya. Sera hanya membalasnya dengan senyuman. “Bahkan empat koin lebih dari cukup untuk dapat membeli perlengkapan untuk ladang,” gumam Zachary. “Kau benar kak, sebanyak itu juga dapat membeli set pakaian baru.” Hans mendukungnya. “Apakah semuanya begini? Menilai dari uang?” tanya Zachary. “Dan apabila di area warga biasa begini bagaimana di wilayah keluarga bangsawan atau terpandang nanti?” tambah Hans dengan suara yang pelan. “Tenanglah, itu terjadi hanya di tempat ini. Dari yang kudengar, wilayah keluarga bangsawan itu mereka bisa menggunakan tipu daya yang aku pun tidak mengerti bagaimana cara kerjanya,” kata Siria. Setelah menunggu, akhirnya hidangannya pun datang juga. Daging sapi yang telah dipanggang dengan sempurna, asapnya masih muncul yang mengatakan bahwa daging tersebut masih hangat dan menteganya masih meleleh. Bagian luarnya sudah kecokelatan tetapi bagian dalamnya masih sedikit berwarna kemerahan. Semuanya menyantap makanan dengan begitu lahap. Bahkan Hans tidak berhenti untuk memotong daging pada piringnya. Ketika hidangan pertama hampir habis, para pelayan kembali datang membawakan hidangan selanjutnya. Penutup piring itu dibuka. Ikan asap yang terlihat lezat dan elegan. Ada pula jus buah yang datang bersamanya. “Hidangan di sini sangat lezat, aku tidak pernah merasakan yang seperti ini!” ungkap Hans takjub. “Jelas saja karena makanan kita setiap harinya hanya gandum dan gandum,” kata Zachary. Yang lainnya tertawa mendengar hal itu. “Kalian jangan salah, aku menginginkan hal seperti itu. Makanan sehat setiap hari yang tak akan membuatmu khawatir dengan berat badan yang akan bertambah.” Siria berkata. “Lagi pula gandum langsung dari ladang sendiri itu lebih sehat tahu. Orang tua kalian juga mengolahnya sendiri kan? Lain kali cobalah kombinasikan dengan buah-buahan, beri, selai atau kacang-kacangan. Banyak yang mengatakan selain sehat itu juga lezat,” tambah Sera. Akhirnya makan malam pun selesai, tentunya mereka kembali dengan berjalan kaki bersama. Dari yang terlihat, area warga biasa lebih ramai ketika malam ketimbang petang. Semua orang seolah keluar dari rumahnya untuk menikmati malam. Seperti tempat makan ataupun toko-toko lainnya dipenuhi orang-orang juga lampu-lampu terang. Beberapa kali Zachary yang lainnya kesulitan untuk melangkah saking ramainya jalanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN