XX. TKP Pertama

1774 Kata
Saat tiba di penginapan, mereka tidak langsung kembali ke kamar karena Siria mengajak yang lainnya untuk pergi ke lantai empat yang sekaligus lantai paling atas. Di lantai empat ternyata tidak ada satu lorong pun untuk kamar penginapan. Namun, di sana terdapat fasilitas umum seperti kantin, meja biliar, gimnastik, hingga kolam renang. Alunan musik yang tenang pun diperdengarkan. Dari lantai empat tersebut langit malam dapat terlihat dengan jelas begitu pun dengan keramaian area warga biasa di sekitar. Siria menemukan sebuah meja yang kosong lalu mengajak yang lainnya duduk sambil menikmati malam. “Nikmatilah suasana ini, kapan lagi kalian akan merasakannya?” ujar Siria. “Hei, bahkan aku baru sadar jika langit di sini lebih sepi jika dibandingkan dengan area keluarga rendahan,” tutur Sera. “Itu karena ada polusi cahaya. Di area ini sepertinya kau dapat menemukan pencahayaan di mana-mana … hanya sedikit tempat yang minim akan cahaya. Tak seperti di area keluarga rendahan yang jarak antar rumahnya saja begitu jauh. Jadi, bintang-bintang di langit nampak lebih banyak di sana,” ucap Hans. Siria tertawa tanpa sebab. “Sepertinya apa yang dikatakan Zachary benar tentangmu.” “Hei apa maksudnya dengan itu?” Hans kebingungan dan dengan segera melirik kepada kakaknya dengan sinis. “Apa yang kau katakan padanya?” Pandangan Zachary melebar. “Aku tidak ingat mengatakan apapun kepadanya,” jawab Zachary membela diri. “Ya, itu tentang kau yang terkadang bisa sangat pintar dan terkadang pula sebaliknya,” ujar Siria. Sontak Zachary dan Sera tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Astaga, seolah-olah kalian meragukan kecerdasanku.” “Entahlah, terkadang aku pun ragu denganmu,” ejek Sera. Hal itu menciptakan tawa diantara yang lainnya. Suasana sangatlah hangat saat itu. Seperti keluarga yang tengah berkumpul di malam yang sejuk. Mereka mengobrol satu sama lain, di tengah obrolan itu pun Redd datang bergabung dengan mereka. Sedangkan, Zachary diajak Julian untuk bertanding memainkan biliar. Pertandingan itu diakhiri dengan kemenangan telak untuk Julian. Sampai akhirnya malam sudah begitu larut dan semua memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidur. “Kak, kau tak ingin beristirahat di kamar kah?” tanya Hans. Zachary menggapai saku celananya, mengambil kunci kamar lalu melemparkannya kepada Hans. “Ambil itu, aku menyusul. Jangan lupa sisakan ruang untukku tidur!” ujar Zachary. “Ya … jangan terlalu lama atau tidur di luar kamar,” kata Hans sambil melangkahkan kakinya pergi. Setelah itu Zachary dan Julian pergi ke bagian pojok balkoni  yang luas. Nampaknya mereka akan membicarakan sesuatu. “Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Julian. “Mengenai hutang Sera kepadamu,” kata Zachary. “Ada apa dengan itu? Kau ingin aku menceritakan detil kejadiannya?” “Bukan, bukan begitu. Berapa nominal hutangnya?” “Ya ampun, ini tiba-tiba sekali sampai membuatku bingung akan mengatakannya bagaimana. Jujur saja, aku sudah membiarkan masalah itu berlalu. Namun, barang-barang yang kugunakan saat itu harganya tidak murah. Aku menyisihkan uang bulananku untuk membuatnya,” beber Julian. “Akan kutagih lima koin emas kepada Siria. Walaupun yang ku keluarkan jauh lebih banyak dari pada itu.” Julian menambahkan. Zachary menghela napasnya. “Temuilah aku, besok. Pagi-pagi sekali di tempat ini. Aku akan membayar hutangnya dan berjanjilah untuk tidak mengusiknya lagi,” ucap Zachary. “Baiklah, setelah kau memberikannya akan ku tepati janjiku untuk tidak mengusiknya lagi. Namun, urusan di antara kita berdua belum selesai, ingat?” Julian mencoba memperingatkan Zachary akan permusuhan mereka. “Apapun itu. Aku berharap kau tidak akan menjadi pengacau,” pungkas Zachary yang setelah itu langsung meninggalkan Julian di atap penginapan. “Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak!” seru Julian. “Jangan gila!” kata Zachary sambil berjalan meninggalkan Julian. Hari baru di area warga biasa. Walaupun langit masih sedikit gelap, jalanan ramai dengan orang-orang yang membawa barang-barang besar. Dari kelihatannya mereka adalah para pedagang yang tengah menyiapkan barang ataupun perlengkapan untuk tokonya. Untuk mengawali hari, Zachary pergi lari pagi bersama Hans dan Siria. Berbeda dengan Sera yang langsung besiap-siap menyantap sarapan di kantin penginapan. Hangatnya cahaya sang fajar mulai terasa, sudah selesai pula Zachary dan yang lainnya lari pagi sambil berkeliling melihat apa saja yang ada di area warga biasa. Zachary yang menggunakan kaus sebahu dengan bahan tipis membuat tubuhnya dibasahi oleh keringat. Saat kembali ke penginapan, Hans dan Siria ingin langsung mebersihkan diri dari keringat sedangkan Zachary memilih untuk pergi ke lantai paling atas penginapan. “Mungkin berjemur sebentar tidak apa-apa,” batin Zachary. Sampai lantai empat, Zachary melewati gimnastik dan tanpa sengaja bertemu Julian yang tengah bersama dengan Redd.  “Hei Zachary, kemarilah!” panggil Julian. Zachary pun menghampiri Julian yang tengah mengangkat beban bersama Redd. Keringat pun membasahi tubuhnya da nada handuk kecil yang Julian kalungkan di lehernya. “Dari mana saja kau?” tanyanya. “Emm, baru saja selesai lari pagi mengelilingi sekitar bersama Siria dan adikku.” Setelah itu Zachary mendekati Julian dan memberikan sebuah kantung kecil dari kantung celananya. “Semuanya ada di sini, jadi jangan ganggu dia lagi.” “Aku terima ini. Tapi ingat, aku tidak akan berhenti mengganggumu sebelum kau menerima tawarnku untuk berduel,” kata Julian. Zachary hanya menyeringai. “Wah, lihatlah itu. Aku tidak tahu proporsi tubuhmu sangat bagus, Zachary.” Redd berkata tiba-tiba. “Ingin ikut angkat beban bersama kami?” ajak Julian. Zachary menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku lebih suka menggunakan massa tubuhku ketimbang hars menggunakan alat,” tutur Zachary menolak. “Tidakkah kau ingin mencobanya? Ayolah, aku tahu di tempatmu tinggal tidak ada gimnastik seperti ini,” kata Julian. “Ya, kau tahu kalau itu tidak ada. Tapi tetap saja tubuhku lebih bagus darimu,” sindir Zachary dengan begitu sinis kepada Julian. Julian tertawa kecil mendengarnya. “Baiklah jika kau menolak, sampai bertemu lagi di kantin.” “Lupakan, aku akan langsung pergi ke kantin supaya tidak bertemu denganmu untuk yang kedua kalinya hari ini,” pungkas Zachary yang mengurungkan niatnya untuk berjemur sejenak meninkmati matahari pagi. Semuanya sudah membersihkan diri, sudah menyantap sarapan pagi pula. Perlahan sang fajar merangkak menuju tahta tertingginya, para pekerja bangunan juga semakin bising dengan ketukan palu atau semacamnya. Zachary dan Hans menemui Sera dan Siria yang telah menunggu di lobi penginapan. Terlihat pula Tasa tengah melayani pengunjung yang sepertinya akan menginap. “Jadi, kita akan pergi ke mana kali ini?” tanya Hans. “Sesuai rencana, kita akan pergi ke tempat kejadian perkara dari kasus guru Beani dan Yeteru,” ujar Zachary. “Siria, kau tahu tempatnya bukan?” Siria mengangguk. “Walau berita itu tidak dilebih-lebihkan oleh media surat kabar di sini, ku rasa banyak orang sudah mengetahuinya.” “Aku tebak kau juga sering menginap di sini ya?” celetuk Hans bertanya. “Ya, kau benar. Walaupun rumahnya berada di area keluarga rendahan. Tetapi aku dan kakaku kerap menginap di penginapan ini, setiap kali kami menginap kamarnya selalu berbeda. Karena itu juga aku bisa akrab dengan Tasa,” jawab Siria. “Aku yakin ada oknum yang sengaja meminta untuk berita ini supaya tidak di besar-besarkan. Padahal biasanya hal sepele saja mereka buat menjadi sangat besar untuk mendapatkan atensi sekaligus meraup keuntungan,” ujar Sera. Zachary menghela napasnya dalam-dalam. “Aku setuju denganmu Sera. Kasus semacam ini setidaknya akan bertahan di koran setidaknya untuk seminggu. Namun, setelah berita dimuat hari-hari setelahnya menjadi seolah kasus ini tak pernah ada,” tutur Zachary. “Baiklah, selain media yang menutup-nutupi hal ini ada juga sekolah yang menutupi kebenaran kasus ini dari kita semua,” ucap Hans. Zachary kini menghempaskan napasnya. Merelaksasikan bahunya yang tegang. “Ayo kita berangkat, jangan terlalu banyak membuang waktu. Siria, mohon bantuannya untuk mengantarkan kami ke tempar kejadian perkaranya.” Siria tersenyum. “Dengan senang hati.” Mereka semua mulai berangkat menuju tempat kejadian perkara. Melewati jalan yang berbeda dari yang dilewati saat makan malam ataupun lari pagi membuat mereka melihat tempat-tempat lainnya yang ada di area warga biasa. Tempat kejadian perkara yang dituju tidak berada di tengah-tengah keramaian seperti penginapan yang dikelilingi oleh toko-toko dan lokasi pembangunan. Tempat kejadian perkaranya berada diantara rumah-rumah biasa, jadi banyak orang yang tinggal di sana dan setidaknya tahu sedikit akan kasus tersebut. Terlihat seperti gudang penyimpanan yang memiliki halam luas tapi tertutup oleh dinding tinggi. Semua terlihat begitu using kecuali garis batas polisi yang masih melintang. Mereka menemukan sebuah jalan masuk berupa pintu besi berselot yang kebetulan tidak digembok apalagi diberi batas garis polisi. Hans dengan inisiatifnya membuka pintu tersebut dengan hati-hati dan pintu pun terbuka. Gudang yang cukup berdebu, dari luar nampak cukup kosong untuk sebuah gudang. Terlihat sebuah halaman di depannya, tanah kotor berdebu penuh dengan rerumputan yang sudah meninggi. Seprtinya di dalam gudang begitu lembab karena lumut tebal begitu jelas di sudut dinding. Zachary dan yang lainnya pun mulai melakukan penyelidikan dengan melihat-lihat sekitar berharap menemukan sebuah petunjuk kecil. Hans mengecek bagain dalam terlebih dahulu, ia hanya menemukan tong kosong walau beberapa ada yang berisikan air kotor. Lalu, Siria mengecek bagian halaman. Ia menemukan suatu bekas di tanah tetapi tidak jelas bekas apa itu. Setelahnya, Hans dan Siria menemui Zachary dan Sera di tengah-tengah gudang. “Sudah menemukan sesuatu?” tanya Zachary. “Tempatku tidak ada, hanya tong berisi air yang tidak ada artinya,” kata Hans. “Di halaman tadi aku menemukan banyak bekas tetapi tidak jelas bekas apa itu. Setelah ku amati lagi, setidaknya itu adalah bekas sebuah seretan karena bentuknya. Aku yakin sudah menjadi samar karena kejadian itu sudah cukup lama, kan?” ujar Siria. “Oh ya, tepat di atas kita ini ada beberapa kail yang berjajar dan terlihat seperti hiasan. Pasti di sinilah para polisi menemukan kepala guru Beani dan Yeteru.”Sera berkata sambil menunjuk arah kail di langit-langit. Hans terlihat sedikit merinding mendegarnya. “Apa kalian tidak merasa ketakutan atau semacamnya? Kita datang ke tempat kepala orang lain digantung. Ini pembunuhan yang kejam!” Hans menggerutu. Sera seketika memejamkan matanya lalu memeluk dirinya sendiri. “Kalau dipikir-pikir kau benar juga. Mendadak aku merasakan aura jahat berkeliling di sekitar kita.” “Ayolah teman-teman, tidak ada yang perlu ditakuti. Matahari masih bersinar dengan terang, ini bukan tengah malam yang gelap gulita!” ucap Siria mencoba menenangkan. “Tunggu … rasanya aku mendapatkan petunjuk tentang ini. Hans, berapa tong yang berisikan air?” tanya Zachary. “Sekitar dua atau tiga, kenapa?” “Ayo kita pergi ke sana, keluarkan semua air di dalam tong itu,” ujar Zachary dengan mantap. Zachary dan yang lainnya pun pergi masuk ke dalam gudang, menuju tempat di mana Hans menemukan tong yang ia maksudkan. Dengan sekuat tenaga Hans dibantu Zachary menggulingkan tong yang berisikan air. Begitu keruh airnya, tetapi tong yang pertama tak memiliki apapun. Hanya air, dan tidak ada yang lainnya. Tong selanjutnya digulingkan. Betapa mengejutkannya karena ada sebuah kartu dan juga kalung di dalamnya, tanpa pikir panjang Siria langsung mengambilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN