“Apa kau mengetahui tentang benda itu?” tanya Sera yang melirik Siria.
“Kakakku memiliki kartu ini, sama persis. Kartu tanda pengenal untuk para ahli sihir. Aku tidak ingin mengatakannya … tapi di kartu ini tertulis nama Beani,” ujar Siria.
“Hans, ayo gulingkan tong yang terakhir,” ucap Zachary.
Setelah digulingkan, tidak ada kartu tanda pengenal seperti sebelumnya. Nmaun, terdapat banyak sekali bebatuan kecil di dalamnya.
Siria menelan ludahnya sendiri. “Kurasa sudah jelas jika yang ini adalah Yeteru. Kalian tahu kan jika dia adalah ahli sihir bumi yang kerap mengantongi bebatuan di kantungnya?”
“Ya … itu adalah kebiasaan aneh guru Yeteru,” lirih Hans menundukkan kepalanya.
Zachary yang membisu tiba-tiba berlari kembali ke bagian tengah di mana mereka menemukan kail yang dicurigai sebagai tempat digantungnya kepala Beani dan Yeteru. Yang lainnya sontak ikut berlari mengejar Zachary. Setelah itu, Zachary memandangi papan kayu di lantai yang begitu tebal dan lebar, tetapi penempatannya sangatlah janggal karena terlihat miring.
Zachary mengangkat tangan kanannya ke depan.
“Hei, apa yang akan kau lakukan?” teriak Hans dari arah belakang.
Zachary pun mulai merapalkan mantra sihirnya. “Sihir angin: Wind Boost!”
Hempasan angin dari sihir Zachary begitu kuat hingga papan kayunya terhempas hingga ke halaman gudang bahkan terbagi menjadi beberapa bagian. Lalu Zachary berjalan ke tempat di mana kail itu digantung. Tepat di bawahnya, Zachary menemukan sesuatu yang mengejutkan. Matanya sampai terbelalak dan ia berkeringat.
“Teman-teman, lihatlah. Ada banyak bekas darah yang telah mongering di sini,” ucap Zachary.
“s**l, aku semakin merining berada di sini,” keluh Hans.
“Ini menyeramkan sekali,” gumam Sera.
Zachary menghela napasnya dan langsung ia hempaskan. “Jadi, mereka dibawa ke sini dengan cara diseret. Lalu mungkin saja para pelakunya menyiksa guru Beani dan Yeteru di dalam tong itu. Barulah eksekusi dilakukan pada kail yang menggantung ini dengan menyisakan kepalanya saja.” Zachary berkata dengan pelan.
“Astaga, ini sangat kejam. Bagaimana ya keadaan kakakku sekarang?” Siria berkata sambil gemetaran.
Sera yang melihat akan hal itu pun merangkul bahu Siria dan menenangkannya. “Percayalah bahwa kakakmu tidak akan kenapa-napa. Selama tidak ada informasi atau bukti pasti, kita masih berhak untuk berharap yang terbaik.”
“Kalau begini, mungkin sebaiknya kita kembali ke penginapan saja,” kata Hans.
Sebelum melangkah, Zachary mengamati sekelilng gudang dengan seksama untuk kesekian kalinya. Ia memandangi setiap bagian dari langit-langit hingga ke sudutnya. Lalu ia pun beralih kepada bagian lantai spesifiknya pada bagian yang sebelumnya tertutup oleh papan kayu.
“Tunggu, apa itu?” ucap Zachary yang terkejut melihat sesuatu yang ia temukan tertutup oleh gundukan pasir tipis.
Ia mendekatinya lalu menghilangkan semua butiran pasir yang ada dengan sihir anginnya dalam sekejap. Ditemukan olehnya sebuah kalung dengan plakat perak. Bentuknya sama persis dengan yang didapati oleh Julian dan Reed dari Andy. Plakatnya pun sama-sama memiliki tulisan Heirloom of Ashes yang diukir.
“Eh, kenapa bisa ada kalung di tempat seperti ini?” tanya Sera.
“Entahlah, mungkin itu terjatuh.” Hans menanggapi.
Beberapa saat kemudian, Zachary mengangkat kalung itu dan membiarkan cahaya matahari mengenai seluruh permukaannya. Namun, tanpa di sangka ada sebuha cahaya yang melesat begitu cepat dan sayangnya kalung itu harus terbagi menjadi dua bagian.
“Astaga, apa yang baru saja terjadi? Cahaya itu sangat cepat,” ucap Sera yang terkejut.
“Aku merasa tidak asing, itu seperti sihir cahaya,” ucap Hans.
“Cahaya … s****n, itu pasti Julian!” gumam Zachary terdengar penuh dengan amarah.
“Serahkan kalung itu padaku, aku dapat memperbaikinya dengan ramuan jerami ajaib yang diciptakan guru Aldini.” Sera berkata.
Zachary menyerahkan kalung yang sudha terbagi dua itu kepada Sera. Sehabis itu tanpa mengatakan apapun Zachary berlari ke arah cahaya yang baru saja ia lihat. Dari tatapan matanya saja sudah terlihat sangat garang dengan penuh amarah. Zachary mengumpulkan energi pada kepalan tangan kanannya. Zachary tiba-tiba berhenti, menganggkat tanggannya, merapalkan mantra sihir lalu ia seperti meremukkan sesuatu di dalam genggaman tangannya tersebut.
“Sihir air: Ledakan Air Laut!”
Sihir itu sudah seperti bom meledak. Airnya berada di mana-mana membaut basah. Tak lama kemudian, Julian dan Redd muncul dari balik dinding. Tentunya dengan pakaian yang basah kuyup terkena sihir Zachary.
“Argh, kau membuat kami basah dan … air ini asin!” seru Redd yang menyeka air di pipinya.
“Dan kau, menghancurkan bukti yang kutemukan menjadi dua bagian.” Zachary berucap dengan begitu dingin, nada suaranya pun begitu rendah. Hal itu membuat Julian cukup terkejut.
“Astaga, aku tak menyangka kau bisa menjadi sangat menakutkan. Tapi maaf soal yang barusan, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menghancurkan bukti yang telah kau temui,” ujar Julian.
“Lalu, untuk apa kau datang kemari dan melemparkan sihir cahaya itu lagi. Sudah cukup bosan aku melihatnya.” Lagi-lagi Zachary dengan dinginnya berkata. Ia seperti orang yang berbeda dengan beberapa menit yang lalu.
“s**l, mungkin ini akan membuatmu kesal. Tapi aku datang ke sini untuk mendapatkan perhatianmu dan berharap kau akan menyetujui ini,” ucap Julian sambil menyodorkan sepucuk surat kecil berwarna merah pudar yang sudah jelas isinya adalah ajakan untuk berduel.
“Cih, kau tahu kan aku tak akan mengiyakannya?”
“Terlepas dari itu, aku baru kali ini melihat sihir airmu,” ucap Julian.
Zachary menunduk, memejamkan matanya lalu menghela napas dalam-dalam. Auranya menjadi begitu menakutkan. “Kalian berdua. Pergi sekarang, atau menunggu kutenggelamkan ke dasar air laut.” Mendengar Zachary berbicara seperti itu membuat Julian dan Redd langsung.
Sementara itu, Sera tengah mengikat kalung yang telah terbagi menjadi dua bagian dengan jerami ajaib. Ia menutupi bagian patahannya dengan hati-hati sampai terikat dan seklias terlihat menyatu seperti sebelumnya.
“Hei, apa yang kau lakukan degan itu?” tanya Siria.
“Biar aku memperbaiki ini. Tenanglah selagi melakukan mantra sihirnya,” ujar Sera.
“Lakukanlah Sera,” ucap Hans.
Sera meletakkan kalung itu di lantai lalu menaruh telapak tangan di atasnya. “Sihir alam: Concentrated Magic!” Setelah mantra itu dirapalkan, muncul lingkaran lingkaran sihir mengelilingi telapak tangan Sera. Lalu ia mulai memusatkan energi sihirnya, tak lama lingkaran sihir itu pun bercahaya dan Sera mengangkat tangannya.
“Apa itu berhasil?” tanya Hans.
Sera mengambil kalung itu dan melepas ikatan jerami ajaib yang sudah mongering. Benar saja, kalung itu menyambung lagi seperti semula. Tanpa bekas sedikit pun, seolah kalung itu tidak pernah terbagi menjadi dua bagian.
“Ya ampun, aku tak percaya ini benar-benar berasil!” seru Sera yang kegirangan.
“Umm, maaf aku menyela kalian. Hans, sepertinya kakakmu sudah selesai mengurus yang mematahkan kalungnya.” Siria berkata.
“Biarkanlah dia, aku percaya dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan mudah,” jawba Hans.
Tak lama Zachary pun datang, Sera langsung berlari menghampirinya dan menunjukkan bahwa kalung yang ditemukan sebagai bukti sudah kembali seperti semula. “Zachary, lihatlah! Ramuan dan mantra dari jerami ajaib yang dibuat oleh guru Aldini berhasil! Kalungnya sudah kembali seperti semula.”
Zachary tersenyum, pandangannya kagum. “Kau hebat Sera, akhirnya kau dapat menyempurnakan sihirnya. Mungkin situasi kedepannya nanti bisa sangat tak terduga, aku sungguh ingin melihat perkembangan sihirmu,” ujar Zachary.
Lalu Sera menyerahkan kalung itu kepada Zachary. “Jaga baik-baik, jangan sampai terbelah menjadi dua bagian lagi. Menggunakan lingkaran sihir itu melelahkan tahu!”
“Padahal aku seperti tak melakukan apa-apa, tetapi di dalam sini terasa sangat melelahkan,” keluh Siria.
Hans menghempaskan napasnya. “Kurasa itu karena kurangnya ventilasi udar di sini. Lihatlah sekitarmu, hampir tidak ada celah karena semuanya tertutup. Kekurangan oksigen dapat membuatmu meras tidak sehat, selain mengganggu itu berbahaya,” jelas Hans.
“Aku yakin kalian semua juga lelah, ayo kita pergi makan siang. Aku tahu tempat yang enak dan terjangkau untuk makan siang di daerah ini,” ajak Siria.
“Apakah kau kehabisan uang untuk mentraktir kami makan sehingga harus memilih tempat dengan harga yang terjangkau?” tanya Zacharu sambil tertawa kecil bercanda.
Siria menjadi tertawa karenanya. “Tapi aku serius tempat yang kali ini lezat rasanya.”
“Astaga, aku tidak membayar sarapan pagi tadi! Bukankah makanan di penginapan harus di bayar?” tanya Hans yang kelihatannya mulai panik.
“Tenanglah, sarapan itu gratis kok. Tetapi selain sarapan kau harus membayar makanannya sendiri. Lagi pula biaya hidup di area warga biasa ini tidak terlalu mahal. Jadi, kurasa uangmu seharusnya cukup untuk sesekali membeli dari hotel,” ujar Siria.
“Jangan membuatku tambah lapar. Siria, apa tidak apa-apa kau terus membayari kami bertiga untuk makan?” tanya Zachary.
“Tentu tidak apa-apa, tapi ingat untuk bayarannya. Kita harus menemukan di mana keberadaan para ahli sihir yang menghilang temasuk kakakku. Kita harus terus bergerak apa pun itu rintangannya,” ucap Siria.
“Baiklah semua, ayo kita makan siang!” teriak Zachary. Yang lainnya mengikuti dari belakang. “Hans, jangan lupa untuk menutup kembali pintu gudangnya dengan hati-hati!”
“Hei kau ini benar-benar ya!” ucap Hans.
Malam pun tiba. Julian dan Redd terlihat tengah berada di sebuah kedai kecil dan sedang menikmati minuman dalam botol. Mereka minum dengan begitu tenang, kelihatannya mereka juga tengah membicarakan sesuatu.
Julian henghembuskan napasnya lega seraya melemaskan bahunya. “Aku tak menyangka akhirnya akan menjadi seperti ini. Kukira hari ini akhirnya aku dan Zachary bisa berduel.”
Redd meneguk segelas minuman. “Ayolah, jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya sebuah kecelakaan,” ujarnya.
“Ia mengatakan sihirku menghancurkan bukti yang ia temukan. Menurutmu itu bukti yang seperti apa?” tanya Julian.
“Karena mereka berada di dalam gudang yang menjadi tempat kejadian perkara itu … mungkin saja sebuah barang yang tertinggal. Juga dia berkata `menghancurkan bukti` sudah pasti itu adalah bukti fisik,” jawab Redd.
“Apakah kita harus membantu mereka untuk memecahkan kasus ini? Aku penasaran apa sebenarnya inti dari semua yang terjadi. Rasanya cukup janggal untuk mengincar ahli sihir dari sekolah yang berada di perbatasan antara area warga biasa dan area keluarga rendahan.”
“Entahlah. Kau pernah mengatakan padaku jika kau memiliki sebuah kecurigaan terhadap kasus ini. Jika kau benar-benar penasaran kurasa satu-satunya jalan adalah membantu … atau hanya megikuti mereka,” ujar Redd.