XXII. Orang Misterius

1621 Kata
Kali ini berganti Julian yang meneguk segelas minuman. “Ya, aku merasa curiga dengan kasus ini setelah kita menemukan kalung yang terjatuh dari penjaga perpustakaan itu. Saat libur musim panas musim lalu, kita semua pulang ke rumah masing-masing kan? Tidak sengaja aku mendengar ayahku sedang membicarakan Ashen Route dengan seseorang selama berjam-jam. Sayangnya aku tidak dapat mendengar obrolannya dengan jelas karena ruangan kami terpisah dan banyak orang saat itu di rumah,” jelas Julian panjang lebar. “Astaga, mafkan aku Julian. Tapi tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Zachary. Tentang berita di koran yang mana ada seseorang melakukan ritual dengan sihir cahaya,” ujar Redd. “Tak apa, lagi pula ayahku sedang berada di negara sebelah. Jadi, aku tak perlu khawatir.” Redd menghabiskan minuman di gelasnya. Tanpa menunggu lama, ia mengisi gelasnya kembali sampai penuh. “Apa rencanamu selanjutnya, Julian?” tanya Redd. Julian menghela napasnya. “Selain ingin mengusut tuntas kasus ini, aku masih ingin berduel dengan Zachary. Aku ingin tahu sejauh apa kemampuannya dan aku yakin yang selama ini ia tunjukkan bukanlah kekuatan penuhnya.” “Astaga, kau benar-benar terobsesi dengan orang itu.” “Kecurigaan, opini, beserta teori-teori konspirasi kerap memenuhi kepalaku. Walaupun tidak sehebat kedengarannya, aku punya banyak misteri yang selama ini belum juga terpecahkan,” ujar Julian. “Apapun itu rencananya aku akan menemanimu, kau tak perlu khawatir,” ucap Redd. “Redd, tidakkah kau lelah terus mengikutiku? Terus mengiyakan apa yang kulakukan dan ke manapun itu aku pergi?” tanya Julian yang membungkukkan badannya terlihat serius. Sempat terdiam untuk beberapa saat, Redd akhirnya mengangguk. “Diriku mempunyai hutang budi kepadamu. Lagi pula, aku tak akan memiliki tujuan yang jelas selain darimu. Seperti halnya ada tujuanmu, dan itu akan menjadi tujuanku juga,” kata Redd sambil tersenyum. “Rasanya kau perlu mempelajari sedikit tentang apa itu harga diri,” ucap Julian terkekeh. “Sudahlah jangan membahas itu. Cepat habiskan minumanmu!” -Path- Zachary, Hans, Sera dan Siria tengah berkumpul di lantai paling atas penginapan sambil menikmati sejuknya udara malam di bawah cahaya rembulan. Terlihat seorang pelayan penginapan datang membawakan empat gelas minuman dengan air berwarna hijau. Potongan kecil lemon juga menghiasi gelasnya. Minuman itu tampak sangat menyegarkan. “Wah apa yang kau pesan Zachary?” tanya Siria. “Empat gelas koktail rumahan dengan serutan timun di dalamnya lalu ada lemon sebagai hiasan. Karena ini buatan sendiri dan aku tahu kalian tidak menyukai alcohol, aku pesankan kali ini tanpa alkohol sedikit pun,” jawab Zachary. “Siapa bilang diantara kita semua tidak ada yang menyukai alcohol?” celetuk Hans. Sontak semuanya menatap Hans dengan pandangan yang begitu tajam mengintimidasi. “Kau tidak benar-benar menyukai minuman beralkohol kan, Hans?” tanya Zachary. Hans mengangkat kedua tangannya seperti saat ada polisi yang ingin mengecek barang bawaan. “Ayolah semuanya, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku tiba-tiba menjadi penyuka alkohol. Alkohol itu tidak baik tahu!” seru Hans. “Kau yang mengatakannya sendiri,” ujar Zchary seraya mengambil gelasnya dan ia telan seteguk koktail. Mereka sangat menikmati koktail itu, sambil mendengarkan alunan musik yang menenangkan. Senyum dan tawa menghiasi wajah keempatnya ketika saling bersenda gurau. Bak bunga matahari kala fajar terbit, hangat dan menyenangkan. “Apakah besok kita memiliki jadwal tertentu? Atau, akankah kita pergi ke suatu tempat esok hari?” tanya Hans. “Tidak ada, tapi mungkin kita akan pergi ke tempat kejadian perkara kedua kasus ini beberapa hari lagi. Anggap saja esok hari sebagai hari untuk beristirahat. Kita bisa mengulangi lari pagi seperti tadi,” tutur Zachary. “Ya, tidak ada salahnya kita mengosongkan waktu untuk beristirahat,” komentar Siria. Waktu terasa begitu cepat untuk dilewatkan. Kini hari telah berganti dan seperti kemarin, Zachary lari pagi bersama yang lainnya mengelilingi daerah di sekitar penginapan. Kali ini Sera ikut karena kantin penginapan belum siap bahkan belum buka. Ia tak dapat menjadi yang pertama untuk menyantap sarapan gratis dan lezat dari koki penginapan. Sudah setengah jam sejak langkah pertama untuk lari pagi. Sera menginginkan langsung kembali ke penginapan karena tubuhnya sudah mulai berkeringat. “Ayo kita kembali ke penginapan sekarang, suhunya semakin panas,” tutur Sera. “Boleh juga, perutku sudah memberikan sinyal untuk mencari sarapan.” Hans menanggapi. “Jika ingin langsung ke penginapan pergilah duluan. Aku akan melakukan beberapa keliling lagi sambil melihat-lihat lebih jauh apa saja yang ada di sini,” ujar Zachary. Siria mengangguk kecil. “Kalau begitu, sampai jumpa di penginapan Zachary!” Mereka melangkah ke arah yang berlawanan. Hans, Sera dan Siria kembali ke penginapan dan Zachary melanjutkan lari paginya. Zachary memilih jalur yang lebih sepi, mungkin saja ia ingin menikmati lebih banyak udara pagi. Kini Zachary melewati jalan yang sama seperti yang ia lalui saat ingin makan malam bersama yang lainnya. Tempatnya sama saat ia melihat pertunjukan malam itu. Begitu sepi di pagi hari, Zachary memandangi sekitar hingga ia menyadari ada sesuatu yang aneh di sudut g**g yang sempit. Ia pun mendekatinya perlahan. Sambil menempelkan punggungnya ke dinding ia mendengar suara beberapa orang yang tengah ribut di dalam jalan buntu yang sempit itu. Dari suara yang terdengar, sepertinya ada seseorang yang tengfah di rundung. Zachary terkejut setelah mendengar suara pukulan yang begitu keras diikuti dengan teriakan yang tak kalah nyaringnya. Namun, sayang sekali nampkanya tidak ada orang lain yang mendengar teriakan itu dengan jelas kecuali Zachary. Di sekitarnya nampak seperti kota mati, berbanding terbalik dengan malam ketika ia ditraktir makan oleh Siria. “Rasanya aku harus menolong orang itu,” batinnya. Zachary menelan ludahnya sendiri lalu memberanikan diri untuk muncul. “Hoi, ada apa ribut-ribut di sini?” tegur Zachary terlihat garang. Zachary langsung membeku ketika ada tiga orang berbalik arah menatap dirinya. Tiga orang, ada seorang perempuan, lelaki dengan tubuh kekar dan yang satunya lagi memiliki tato di lehernya. Ketiga orang itu menggunakan jubah hitam panjang dan menutupi tubuh dari bagian leher hingga ke bawah. Hanya wajahnya saja yang nampak dan wajahnya lebih garang dari Zachary. Di bagian tengah jubah yang dikenakan ketiga orang itu juga terdapat suatu symbol yang aneh berbentuk seperti mangkuk dan ada pohon di atasnya. “s**l, rasanya aku berada di situasi yang salah,” batin Zachary dengan jantung yang berdegup kencang. “Wah … wah, sepertinya kita kedatangan pahlawan kesiangan kali ini,” ujar orang dengan tubuh kekar. Yang perempuan setengah tersenyum. “Bawa dia, jadikan tambahan. Bonusnya akan kita bagi tiga,” ucapnya. Lalu orang yang memiliki tato di lehernya memiringkan kepala hingga membuat suara. “Ayolah teman-teman, langsung saja habisi dia. Jangan habiskan waktu hanya untuk berdiam!” Tiga orang misterius itu langsung berlari ke arah Zachary. Tak diam begitu saja, Zachary menggunakan sihir anginnya untuk dapat berlari lebih cepat menhindari pertarungan di tempat yang sempit. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah lapangan yang kosong, pada malam itu menjadi panggung pertunjukan. Namun, ketiga orang misterius itu berhasil mengejar Zachary dengan gerakan yang cepat entah bagaimana caranya. Kecepatan mereka seakan setara. “s**l, ternyata mereka cepat juga. Bahkan tidak ada jarak dari mereka mengejarku.” Zachary menggerutu. “Kau tak akan bisa lari dari kami bocah ingusan!”seru orang yang bertubuh kekar mengepal tangannya lalu berancang-ancang seperti akan memukul sesuatu. Zachary menggesekkan kedua bagian giginya lalu menyiapkan kuda-kuda untuk pertarungan. “Sihir angin: Wind Blade!” Terciptalah sebilah pedang di hadapan Zachary. Ia memegangnya dengan erat dan tanpa ragu ia hempaskan pedang itu dari kejauhan. Ternyata muncul energi sihir yang bahkan membuat perempuan yang mengenakan jubah terjatuh. “Sihirmu boleh juga bocah,” ujar orang dengan tubuh kekar. “Mari hajar dia sampai babak belur kawan,” tambah orang yang bertato. Zachary mengatur pernapasannya, pandangannya kini semakin tajam menjadi sangat serius. “Sihir angin: Lift Up!” Zachary meringankan beban tubuhnya. Kedua orang dengan tubuh kekar dan bertato melaju ke arah Zachary. Mereka mengepalkan tangan dan memusatkan sihir di ujung kepalan itu. Zachary tak mau kalah, ia menggunakan sihir Wind Boost pada dirinya sendiri. Ia melayang ke udara, lalu dengan gesitnya menebaskan Wind Blade-nya secara terus menerus ke arah lawan. Serangan tersebut sangat dahsyat hingga terdengar suara erangan, sepertinya itu dari orang yang memiliki tato di lehernya. Zachary sudah kembali menapakkan kakinya ke tanah. Jarak pandang menjadi terganggu karena serangan yang baru saja dilancarkan Zachary. Ia terkejut saat melihat samar baying-bayang orang yang bertubuh kekar masih berdiri tegap dan tak goyah. Ternyata ia menggunakan semacam sihir pertahanan untuk bertahan dari serangan Zachary barusan. “Aduh, hanya segitu kemampuannya?” ejek orang bertubuh kekar. “Bagaimana jika kau merasakan yang ini?” tanya Zachary sambil setengah tersenyum. “Sihir air: Pusaran Air Laju!” Akhirnya Zachary mengeluarkan sihir tingkat I yang membawanya menjadi pemenang pada perlombaan cipta kuasa. Walaupun dengan tubuh kekar, sihir Zachary ternyata dapat mengangkatnya hingga masuk berputar-putar di dalam pusaran. Pusaran itu terus berputar tak mau berhenti. Zachary yang melihatnya, lalu mengangkat tangan kanannya mengarahkan pada sihir pusaran air itu yang masih berputar kencang. “Sihir angin: Pusaran Angin Penghancur!” Sihir kedua yang dikeluarkan Zachary, menciptakan perpaduan antara pusaran air dan angin bersamaan menyerang. Zachary sepertinya kehabisan tenaganya sampai terengah-engah. Saat sihir miliknya berhenti, orang dengan tubuh kekar itu tersungkur. Jubah hitamnya sobek hingga tak berbentuk, banyak pula luka sayatan akibat dari sihir tingkat I yang digunakan Zachary. Zachary melemaskan seluruh tubuhnya dan menghempaskan napas lega. “Sihir ciptaanku memang dahsyat, tapi sangat menguras energi sihir. Aku butuh banyak berlatih,” gerutunya. Mendadak perempuan yang tadinya sudah terjatuh bangkit lagi. Ia menggunakan sihir yang entah jenis apa untuk melayang di udara. Perempuan itu mengikat kedua rekannya dengan sihirnya lalu diangkat ke udara. Tatapan yang begitu sinis dilemparkan ke arah Zachary yang hanya membeku melihatnya melayang tinggi di udara. “Aku akan menandai wajahmu. Kupastikan kau akan mendapat mimpi buruk!” seru perempuan itu sebelum akhirnya meghilang setelah memasuki lubang sihir yang sepertinya adalah sihir untuk berpindah tempat. Semacam teleportasi.#   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN