XXIII. Bantuan Datang

1565 Kata
Tak lama setelah itu, dari kejauhan terlihat dua orang laki-laki berlari ke arah Zachary menggunakan penutup seperti kain berwarna cokelat. Berlari semakin dekat hingga akhirnya Zachary menyadari bahwa dua orang itu adalah Julian dan Redd. Zachary menatap keduanya dengan bingung karena mereka berlari sangat cepat hingga terengah-engah hanya untuk Zachary. “Hei apa yang kalian-“ Kata-kata Zachary langsung terhenti ketika Julian menutup mulut Zachary dengan jarinya. Pada saat yang bersamaan pula Julian menutupi tubuh Zachary dengan kain yang teramat lebar. “Zachary, aku harap kali ini kau bisa tenang dan diam,” ujar Julian yang dahinya berkeringat nampak begitu panik. “Redd, bisa kau urus bekas pertarungannya?” tanya Julian. “Serahkan saja padaku!” jawab Redd seraya menapakkan kedua telapak tangannya ke tanah lapangan yang telah berantakan karena sihir Zachary. Lalu ia mulai merapalkan manteranya. Zachary menengok apa yang tengah Redd lakukan. Namun, karena jarak Redd yang agak jauh ia tak dapat mengetahui Redd menggunakan rapalan mantra sihir jenis apa. Sihir Redd mulai aktif. Perlahan tanah lapangan yang tadinya telah hancur berantakan kembali seperti semula, begitu pun dengan rerumputan di atasnya. Dan semua itu terjadi hanya dalam hitungan detik, sihir Redd sangat menakjubkan. Pemandangan ini tak jauh berbeda kala Hans dan Redd bertarung di lapangan sekolah. Setelah Redd selesai dengan lapangan, ia bergegas kembali menghampiri Julian. “Lalu sekarang apa, Julian?” tanya Redd. “Kita harus segera pergi dari sini, bersembunyi di tempat yang sepi.” Julian berkata. “Tunggu, ayo kita pergi ke g**g sempit di ujung sana! Aku meninggalkan sesuatu,” ujar Zachary. Julian dan Redd saling melirik lalu mereka saling mengangguk bersamaan. Ketiganya pun pergi ke g**g sempit yang menjadi awal mula tempat Zachary terlibat pertarungan. Zachary, Julian dan Redd sampai di sana. Mereka melihat seorang paruhbaya yang sudah terbujur kaku di antara tumpukan barang-barang bekas. Sebagian wajahnya dihiasi oleh darah, bajunya pun memiliki bercak dengan warna merah yang pekat. “Astaga, apa yang terjadi di sini?” Redd terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. “Zachary, kau bisa jelaskan ini?” pinta Julian yang menatap Zachary. “Ya ampun, ini sangat rumit. Jadi, aku tak sengaja mendengar suara gaduh di sini saat aku sedang berjalan melihat-lihat setelah lari pagi. Aku mendengar ada suara orang berteriak kesakitan dan aku memberanikan diri … bertindak seolah-olah menjadi pahlawan dan dari sanalah aku berakhir melawan ketiga orang tadi.” Zachary menjelaskan. Reed mendekati orang itu lalu menaruh telunjuknya di bawah lubang hidung orang asing yang terbujur kaku. “s**l, dia sudah tak bernapas.” Redd bergumam. “Aku akan membuat laporan kepada keamanan setempat supaya orang ini dapat dikuburkan,” ujar Julian. “Bagaimana jika identitasmu diketahui? Tidakkah nantinya kau akan dijadikan saksi?” tanya Zachary. “Ayolah kawan, ia bisa menggunakan laporan tanpa nama,” kata Redd. “Kalau begitu, Redd. Bawa Zachary kembali ke penginapan, aku akan menyusul,” ujar Julian yang setelah itu langsung pergi. -Path- Julian datang menghampiri Redd yang duduk bersebelahan dengan  Zachary. Ia menaruh kain yang menutupi tubuhnya di atas kursi. Julian memanggil pelayan lalu memesan tiga cangkir kopi. Ia menghempaskan napas lega lalu perlahan duduk. “Sudah kau buat laporannya?” tanya Zachary. “Tentu, aku juga memastikan jasad orang itu diurus dengan baik,” ujar Julian. “Pantas saja kau lama sekali,” kata Zachary membuang muka ke samping. “Ya ampun, maaf jika aku membuat kalian menunggu lama. Tapi aku mohon sesuatu kepadamu, Zachary. Tolong jangan beritahu akan hal ini kepada siapapun termasuk adikmu,” tutur Julian. “Aku tidak mengerti sebenarnya ada apa ini. Kenapa kalian tiba-tiba datang lalu memintaku untuk bersembunyi degan tergesa-gesa? Aku sungguh tak paham maksudnya,” tanya Zachary. “Ingatlah jika kau kini tengah berada di area warga biasa. Jadi kau tidak dapat menggunakan sihir degan sesuka hatimu. Kebanyakan dari mereka membenci orang yang memiliki kemampuan sihir karena hal itu dianggap sebagai kehancuran atau pembawa s**l dan sebagainya,” jelas Redd. Julian melemaskan tubuhnya. “Beruntung kami datang tepat waktu dan kami tak menemukan seorang pun yang melihatnya.” “Ya … tempat itu memang sudah sepi,” ujar Zachary. “Sekali lagi kukatakan ini adalah area warga biasa. Jika kau bertindak ceroboh seperti radi, kau bisa diusir dari sini. Untuk selama-lamanya. Bayangkan saja mereka yang kebanyakan  benci dengan pengguna sihir melihat sihir dahsyat bahkan dapat membuat lapangan yang semula normal menjadi amat berantakan.” Redd memperingati. Zachary menghela napasnya. “Baiklah, aku akan tutup mulut soal ini. Berjanjilah pula untuk merahasiakan ini dari yang lainnya terutama adikku. Mereka bisa menciptakan keributan saat mengetahui aku menggunakan sihir tingkat I untuk bertarung.” “Sihir itu benar-benar mematikan dan kau menggunakan kombinasi antara dua sihir,” kata Julian. “Tunggu, apa kau melihat semuanya? Dan terlepas dari itu … apakah kopinya belum jadi juga? Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian yang basah seperti ini dan mulai mengantuk. Butuh kafein segera.” “Lihatlah ke arah belakang, kopinya sedang diantar sang pelayan,” ujar Redd. Julian tersenyum setelahnya. “Aku yang bayar dan jangan lupa untuk ….” “Terima kasih untuk kalian berdua, kalian sudah membantuku melalui hal-hal yang rumit. Itu yang kau ingin dengar dariku, kan?” ucap Zachary. “Sangat langka mendengarmu berterima kasih, haha,” kata Julian yang tersenyum lebar. Tiga cangkir kopi disajikan. Mereka terlihat begitu tenang menikmatinya sambil mengobrol santai. Zachary menghabiskan kopinya duluan. Ia segera berpamitan kepada Julian dan Redd dan kembali ke kamarnya. Setibanya di depan pintu kamar, Zachary mengetuk pintu memanggil adiknya. “Hans, ini aku. Bisa kau bukakan pintunya?” “Masuk saja, aku belum meguncinya.” Hans berucap dari dalam kamar. Zachary perlahan membuka pintunya, terlihat Hans sedang tiduran di atas kasur membaca buku `The Nexus` dengan serius. Saat Zachary menutup pintunya kembali, Hans melirik Zachary dan ia langsung terdiam untuk beberapa saat. “Hei, dari mana saja kau sampai bajumu basah seperti itu? Dan aku tebak itu bukan basaha karena air tetapi penuh dengan keringat,” ujar Hans. “Aku hanya berjalan-jalan di sekitaran sini. Berlari pagi lagi, jadi berkeringat.” Zachary berkata dengan wajah canggung dan ia pun berkeringat. “Lalu kain berwarna cokelat itu?” “Ada seseorang yang melihatku berkeringat dan sepertinya itu tak enak untuk dilihat. Jadi, ia memberikan kain ini kepadaku.” Zachary menanggapi. “Cepatlah membersihkan tubuhmu, kau sangat aneh hari ini. Aku lebih baik melanjutkan membaca hal-hal menarik di dalam buku ini,” ujar Hans yang mengalihkan semua pandangannya kepada buku yang tengah ia baca. Hari yang cukup melelahkan bagi Zachary sepertinya. Ia langsung tertidur setelah membersihkan dirinya. Tak terasa beberapa hari telah berlalu. Pagi ini, seperti biasanya Julian dan Redd berada di gimnastik untuk berolahraga. Nampaknya mereka telah selesai, ketika Redd pergi Julian tak mengikutinya. Ia pergi ke balkoni lantai teratas yang mana di sana ada Sera tengah menikmati suasana di sekitar sambil berjemur di bawah cahaya matahari. Sera terkejut saat mengetahui Julian tiba-tiba berdiri di sampingnya. “Astaga, aku mengagetkanku!” seru Sera yang terkejut. Julian menyeringai. “Sedang menikmati suasana pagi yang mencekam?” tanya Julian. “Aku yakin kedua matamu masih berfungsi dengan baik,” ujar Sera dengan wajahnya memberikan senyuman yang tipis. “Cepat katakan, ada apa kau menemuiku?” Julian menghela napasnya seraya menyandarkan tubuh ke pagar balkoni. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau sangat beruntung dapat mengenal orang seperti Zachary.” “Maksudmu apa? Kami memang sudah saling mengenal sejak kecil.” Sera yang kebingungan bertanya. Julian mengangkat kedua alisnya lalu ia menoleh ke arah bangunan-bangunan di sekitar penginapan mengalihkan wajah dari Sera. “Ya … dia hanya sangat baik. Beberapa hari lalu, setelah kalian makan malam di tempat ini bertemu denganku dan Redd. Zachary datang kepadaku dan mengatakan akan membayar semua hutangmu. Awalnya kupikir ia hanya bercanda dan ternyata keesokan harinya ia langsung membayar semuanya,” jelas Julian. “Tunggu, apa? Ia membayar puluhan emas kepadamu?” tanya Sera dengan mata yang membelalak. Raut wajahnya seperti dipenuhi amarah bersamaan dengan bingung. Julian menggeleng. “Aku hanya meminta lima koin emas. Aku tidak sejahat itu.” “Lalu kenapa kau membiarkan dia membayar hutangku?” Nada bicara Sera meninggi. “Jangan salahkan aku. Dia sendiri yang mengatakan ingin membayarnya. Dan kini aku harus menepati janji untuk tidak lagi mengganggumu,” jawab Julian dengan santainya. “Ah, kau ini!” Sera mendadak emosi dan mengumpulkan energi sihir pada telapak tangannya. Julian yang meyadari hal itu langsung menatap Sera dengan serius. Ia pun merapalkan mantra sihir dengan berbisik sehingga suaranya terdengar agak samar. “Sihir cahaya: Shocking Light!” Setelah mantra itu selesai dirapalkan, muncul cahaya nan begitu terang dalam sekian detik. Hal itu jelas membuat Sera amat terkejut dan membatalkan pengumpulan energi sihir pada lengannya. “A- apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Sera. “Jangan bermain-main dengan sihir di sini! Ingat, ini adalah area warga biasa. Bukan sekolah ataupun area keluarga rendahan. Jika kau ceroboh menggunakan sihir, bisa-bisa para penduduk menghakimimu atas penggunaan sihir.” Julian memperingatkan. “Ah s**l! Aku lupa tidak bisa sembarangan menggunakan sihir di sini.” Sera membuang wajahnya. “Kau mengumpat?” tanya Julian dengan nada mengejek. “Jangan banyak bicara, aku kesal denganmu. Kalau saja di tempat ini aku bisa menggunakan sihir dengan bebas … kupastikan kau akan babak belur dan memohon untuk ampun kepadaku,” ujar Sera seraya membalikan badan dan berjalan meninggalkan Julian. “Apakah tidak terbalik? Harusya aku yang mengatakan seperti itu,” balas Julian dengan tawa kecilnya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN