XXIV. Gempa Tengah Malam

2144 Kata
Hingga kepada malam di hari berikutnya. Langit malam yang biasanya dipenuhi bintang-bintang kini terlihat semakin sepi karena awan mendung yang menutupi sebagian permukaan langit. Di dalam kamar Zachary, Hans tengah bersiap untuk tidur. Namun, Zachary tetap terjaga menatap jalanan di sekitar penginapan melalui jendelanya. “Kak, apa kau sedang mengalami gangguan tidur? Sejak kemarin waktu tidurmu berantakan sampai kantung matamu mulai menebal. Tidak seperti biasanya,” tanya Hans sambil menarik selimutnya untuk tidur. “Emm, aku sedang memikirkan banyak hal. Mungkin aku akan pergi ke luar sebentar mencari udara segar. Semoga saja itu bisa sedikit menenangkan pikiranku,” ujar Zachary. “Hampir tengah malam begini? Kau ingin mencari udara segar atau menjadi pembunuh bayaran pergi keluar pada waktu seperti ini? Sudahlah, lebih baik aku tidur. Jangan lupa membawa kunci kamarnya dan kunci pintu saat kau pergi,” oceh Hans kepada kakakknya. “Baiklah, akan kulakukan.” Zachary di akhir percakapan menghela napas dalam lalu melangkah pergi keluar kamar. Zachary berjalan dengan perlahan melalui lorong-lorong penginapan. Beberapa lampu telah padam karena memang sudah larut malam. Hanya lampu-lampu di depan kamar saja yang menyala sebagai penanda. Zachary menaiki tangga hingga sampai ke lantai teratas penginapan. Jelas tidak ada orang di sana dan hanya dersik angin saja yang terdengar berlalu lalang. Ia pergi ke kolam renang, melepaskan alas kaki lalu ia duduk sambil menyelupkan kedua kakinya. Udara malam sepertinya begitu dingin kali ini sampai-sampai Zachary memeluk tubuhnya sendiri dan mengusap-usapkan telapak tangannya di lengan. Zachary berlindung di balik kain yang diberikan Julian sambil melihat langit yang masih sepi dihiasi gelapnya malam. Tanpa diduga, Sera datang menghampiri Zachary. “Hoi Zachary, sedang apa kau di sini?” tanya Sera menyapanya. Zachary yang terkejut sontak menengok ke arah belakang. “A-aku hanya sedang menikmati waktu sendiriku. Kau sendiri ada apa tengah malam begini pergi ke lantai atas, untuk melihat langit?” Zachary menjawab lalu bertanya balik. “Kau seharusnya tahu jika sebagian hidupku telah kuhabiskan hanya untuk mempelajari sihir. Ya … walaupun hasilnya sangat jauh dari harapanku,” ujar Sera. Zachary mengangguk sambil melihat pantulan bayangannya di permukaan air kolam. “Kau melakukan itu di sebagian hidupmu,” ulang Zachary. “Boleh aku duduk?” tanya Sera. “Tentu, kenapa tidak.” Sera pun duduk di samping Zachary. Keduanya membisu memandangi wajahnya masing-masing di dalam air. “Apakah kau percaya dengan Tuhan, Sera?” tanya Zachary yang tiba-tiba menoleh ke arah Sera. “Eh, ini pertanyaan yang mendadak. Tapi yang jelas aku percaya dengan adanya Tuhan. Aku kerap kali memohon kepadanya. Omong-omong kenapa kau bertanya seperti itu?” Zachary menghela napasnya. “Entahlah, terkadang aku meragukannya kala mengingat banyak bahkan hampir dari semua permohonanku tak terwujud,” ungkap Zachary. “Ayolah, aku tahu kau lebih pintar tentang hal seperti ini. Jika semua permohonan dari setiap orang dikabulkan, mungkin akan banyak bencana yang terjadi. Ya … mungkin aku terlihat agak ceroboh dan berbicara asal tanpa berpikir terlebih dahulu. Namun, aku masih memegang suatu kepercyaan. Di mana Tuhan akan memberikan semua yang terbaik untuk ciptaannya. Jika permohonanmu tidak dikabulkan, maka itu menandakan Tuhan merasa kau belum pantas untuk mendapatkannya. Kesimpulannya, lakukan apapun itu dengan sebaik mungkin dan tidak setengah hati. Untuk apa yang kau dapatkan, itu urusan belakangan,” kata Sera panjang lebar. Zachary membeku tak bergerak dalam kain cokelat yang menghangatkan dirinya. “Aku tak menyangka kau bisa mengatakan atau memiliki pemikiran seperti itu,” ujar Zachary terkagum. “Hei, aku tak seburuk itu tahu!” Zachary menunduk sambil menyeringai lalu menatap langit yang masih ditutupi awan. “Sudah-sudah, jangan kau terlalu memikirkannya. Cukup lakukan yang terbaik saja di setiap kesempatan yang ada,” ucap Sera. “Omong-omong setelah lari pagi tempo hari kau pergi ke mana? Aku dengar dari Hans kau pulang dengan tubuh yang dipenuhi keringat,” tambah Sera dengan tawa kecilya. “Sudah kubilang kepadanya jika aku melanjutkan lari pagi berkeliling di sekitar penginapan. Ya … aku juga berurusan dengan sesuatu,” kata Zachary. “Apa yang kau maksud dengan sesuatu?” “Aku akan memberitahumu saat sudah waktunya.” “Hmm, aku akan menunggu hingga saat itu. Aku sungguh penasaran!” Semuanya kembali senyap, Zachary hanya meratap wajahnya di dalam bayangan air kolam begitu pun dengan Sera. Zachary kembali mengulang kalimat yang di katakan Sera terkait pertanyaan tentang kepercayaannya kepada Tuhan di dalam hati. Kalimat itu nampaknya sangat membekas di batin Zachary. Lalu, beberapa saat setelahnya Zachary melihat Sera menggigil dari pantulan yang terlihat pada permukaan air kolam. Sontak Zachary melepaskan kain cokelat yang diberikan Julian lalu memakaikannya kepada Sera. Sera pun menoleh dan raut wajahnya amat terkejut dengan apa yang Zachary baru saja lakukan. “Katakan, ini bukan mimpi, kan?” tanya Sera yang matanya berbinar. “Jika kau ingin tahu ini merupakan mimpi atau bukan apa kau ingin aku mendorongmu supaya merasakan air kolam di tengah malam?” Zachary bertanya balik. “Tidak, itu dingin!” Sera langsung membuang wajah dan terlihat pipinya memerah. “Hanya saja aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal sehangat ini,” imbuhnya. Zachary tersenyum mendengarnya. “Ingin kembali ke kamar? Ini sudah sangat larut. Siang di esok hari bukannya kita akan pergi ke tempat kejadian perkara?” tanya Zachary. “Ah iya, aku baru ingat. Harus segera beristirahat jika seperti ini. Apa … kau akan menemaniku ke kamar? Ah tidak, maksudku hingga ke depan pintu kamar.” “Jangan melantur, kamar kita haya berbeda berapa langkah,” ujar Zachary tertawa kecil. Sera menunduk dan menghela napas. “Tapi Zachary, sebelum itu … terima kasih ya sudah membayarkan hutangku pada Julian,” ujarnya. “Jadi kau sudah mengetahuinya ya?” Sera tak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya mengangguk. “Aku hanya ingin Julian tak mengusikmu lagi, itu saja,” ujar Zachary. “Aku mengerti akan hal itu, sekali lagi terima kasih ya.” “Ayo, rasanya kita harus pergi beristirahat. Aku sudah mulai mengantuk juga rasanya. Zachary berdiri lalu ia membantu Sera untuk berdiri dengan menggenggam tangannya. Setelah keduanya berdiri, mereka saling menatap untuk beberapa saat tanpa sebab yang jelas. Hanya terjadi begitu saja. Setelah itu mereka saling tertawa karena menyadari saling bertatapan untuk beberapa saat. Namun, ketika keduanya hendak pergi, tiba-tiba ada sebuah gempa yang cukup besar mengguncang permukaan. Zachary dengan kepekaanya langsung menyadari adanya salah satu papan penyangga akan jatuh tepat di atas Sera. Ia langsung mendorong Sera menjauh tetapi sayangnya papan itu menimpa dirinya dan tak sengaja pula Zachary terpeleset ke dalam kolam. “Astaga, Zachary!” teriak Sera yang panik setelah melihat Zachary tercebur ke dalam kolam. Sera melihat sekelilingnya yang sepi dan gelap karena mengingat sudah tengah malam juga. Sera sudah membuka mulutnya, nampak seperti ingin berteriak meminta tolong. Namun, ia mengurungkan niatnya setelah melihat air di kolam setengah membeku dan tubuh Zachary mengambang di tengah-tengahnya. Sekilas Sera teringat dengan perkataan Julian untuk tidak sembarangan menggunakan sihir. “Aku tidak dapat berteriak meminta tolong jika keadaannya begini. Orang-orang akan terkejut jika melihat kolam yang tiba-tiba setengah membeku. Jika meminta bantuan Siria atau yang lainnya pula jarak ke tempat ini cukup jauh,” batin Sera. Untuk beberapa saat Sera benar-benar membeku dan hanya meratapi Zachary yang tubuhnya masih mengambang di atas air yang setengah beku. Sera mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat, akhirnya ia menghela napas panjang lalu dengan begitu yakin merapalkan mantra sihir. “Sihir alam: Akar Pohon Raksasa!” Sihir yang sama pernah digunakan Sera untuk menolong Zachary. Akar-akar tersebut langsung menjalar hingga menggapai tubuh Zachary. Mengikat tubuh Zachary, lalu menariknya dari tengah kolam ke pinggir kolam. Kini Zachary yang basah kuyup dan terbujur kaku berada di hadapan Sera. Terlihat gerak pengambilan pada perut Zachary yang menandakan bahwa ia masih bernapas tapi hanya belum sadarkan diri. Sera dengan sigap memberikan pertolongan pertama dengan menekan d**a Zachary beberapa kali supaya kembali sadarkan diri. Akhirnya setelah Sera terlihat panik dan cemas untuk beberapa waktu, Zachary mengeluarkan air dari mulutnya dan ia kembali sadar. Sera menghempaskan napasnya lega. “Syukurlah hal buruk tidak menimpamu, Zachary.” Perlahan Sera membantu Zachary yang masih mengatur pernapasannya untuk berada di posisi duduk. Sera membiarkan suasana menjadi senyap untuk sesaat. Sepertinya ia memberikan sedikit waktu untuk Zachary yang nampak masih terkejut dengan apa yang baru saja menimpanya. “Apa kau sudah merasa lebih tenang sekarang?” tanya Sera seraya meraih tangan Zachary. Dalam sekejap raut wajah Sera berubah mejadi seolah terkejut akan sesuatu. Ia pun memerhatikan lengan Zachary dengan lebih dekat. Sungguh mengejutkan ketika melihat ada banyak serbuk dan serpihan es menempel di lengan Zachary. Sera melepaskan genggamannya dari tangan Zachary. “Kau dingin dan pucat!” serunya yang terkejut. “Aku tidak sedang berkhayal, tapi kenapa semua ini bisa menempel di lenganmu? Rasanya dari tengah kolam pun tidak ada serbuk es sebersih ini,” kata Sera. Zachary mengangkat kedua bahunya. “Aku pun tak tahu bagaimana semua ini terjadi. Saat aku tercebur ke dalam kolam, aku merasakan ada sesuatu yang memasuki diriku. Rasanya dingin, sedingin es. Dan beberapa saat kemudian aku merasakan semua di sekitarku menjadi sangat dingin. Tapi entah kenapa saat ini aku merasa dinginnya menjadi tidak mengganggu lagi. Perasaan seperti ini sungguh aneh,” lirih Zachary memberi tahu Sera. “Sekali lagi aku bertanya, apa kau sudah merasa lebih baik? Seingatku yang tertimpa papan adalah punggungmu atau kepalamu ikut terbentur? Lalu apa ada semacam luka di tubuhmu?” tanya Sera dengan raut wajah aneh. Zachary menghela napas lalu menghempaskannya. “Semua itu sangat cepat. Aku pun bingung bagaimana bisa ada serbuk-serbuk es kecil di tubuhku dan warnanya putih bersih. Seperti salju dan ini sangat aneh. Tapi satu yang dapat kupastikan jika aku tidak apa-apa sekarang. Aku tak merasakan pusing atau apapum setidaknya,” tutur Zachary. “Baiklah, jika kau mengatakan seperti itu aku anggap kau tidak apa-apa walaupun tidak yakin juga di saat bersamaan. Sekarang bisakah kau membantuku untuk membersihkan kolamnya? Air kolam menjadi setengah beku setelah kau berada di dalamnya,” kata Sera. Zachary berbalik badan melihat seisi kolam yang airnya sudah setengah membeku. “Ya ampun bagaimana membereskan semua ini? Jika ada orang lain yang melihat bisa bahaya jika dibiarkan seperti ini!” “Setidaknya cobalah, Zachary. Aku tak dapat berpikir lagi harus berbuat apa.” “Baiklah … akan kucoba untuk membereskannya.” Zachary berjalan perlahan ke tepi kolam, Ia mulai menepatkan telapak tangannya di atas permukaann kolam. Ia memusatkan energi sihirnya dan hal mengejutkan kembali terjadi. Dengan niat mengubah kolam menjadi seperti sedia kala, seluruh kolam kini malah berubah sepenuhnya menjadi es. Terlihat seperti kolam yang memberku di musim dingin hingga dapat menapakkan kaki di atasnya untuk berseluncur. “Sepertinya aku membuat ini menjadi lebih buruk,” ucap Zachary yang membeku. “Zachary bukankah kau memiliki atribut sihir air? Gunakan itu untuk mengubah es-nya!” Zachary kembali mengatur pernapasannya. Sepetinya ia butuh ketenangan untuk melakukan sihirnya kali ini. “Aku belum pernah mengubah sesuatu dengan atribut sihir sebelumnya. Namun, secara logika jika aku bisa membekukan air yang setengah beku menjadi beku sepenuhnya. Maka seharusnya aku dapat mencairkannya pula.” Seketika itu juga Zachary terlihat menjadi sangat bersemangat. Ia kembali menepatkan tangannya di atas permukaan air kolam yang kini sudah menjadi es. Ia pun kembali memusatkan energi sihir di tangannya. Zachary melemaskan bahu lalu ia mengalirkan sihirnya kepada air yang telah membeku itu secara perlahan. “Jika ini berhasil, maka aku dapat mengembangkan kemampuan sihirku lagi!” batin Zachary yang masih mengalirkan energi sihirnya ke kolam yang membeku. Perlahan tapi pasti kolam yang membeku mulai mencair dan kembali seperti semula. Serbuk-serbuk es bersama beberapa serpihan yang menempel di tubuh Zachary pun ikut mencair. Setelah air kolamnya mencair, Zachary langsung membaringkan punggungnya di tepi kolam sambil menghempaskan napas dengan lega. Sera tersenyum ketika melihat Zachary berhasil mengembalikan keadaan kolam renang seperti sedia kala. “Astaga, setelah kurasakan kembali air kolamnya memang sangat dingin. Tubuhku juga basah kuyup dan rasanya sebentar lagi akan menggigil,” gerutu Zachary. Sera memberikan tangannya kepada Zachary. “Ayo kembali ke kamar sebelum kau benar-benar menggigil. Kau harus mengganti pakaian dan beristirahat. Ingat esok hari kau bilang kita akan pergi ke tempat kejadian perkara yang kedua,” ucap Sera dengan lembutnya. Zachary menggapai tangan Sera untuk berdiri. “Terima kasih ya. Aku tidak tahu jika kau tidak datang apa yang terjadi padaku.” “Mungkin saja kau tidak harus tercebur ke kolam?” Sera memiringkan kepalanya. Zachary tertawa mendengarnya. Mereka pun berjalan bersama, kembali ke kamarnya masing-masing. Hans nampaknya sudah tertidur pulas, begitu pun dengan Siria. Sampai di kamarnya, Sera segera pergi ke ranjangnya dan tidur. Berbeda dengan Zachary, ia harus mengganti pakaiannya yang basah terlebih dahulu. Beberapa saat setelahnya Zachary sudah berganti menggunakan pakaian tidur. Ketika ia merebahkan tubuhnya di ranjang, ia melihat sebuah teko kaca yang berisikan air. Namun, di dalam bayang-bayang kegelapan … di sudut yang cahayanya padam. Samar terlihat ada seseorang yang memata-matai secara diam-diam setelah Zachary dan Sera menutup pintu kamarnya. Perawakan yang tidak terlalu tinggi, mengenakan kupluk tetapi tidak satu pun anggota tubuh yang dapat terlihat saking gelapnya. Hanya sebuah belati yang jelas terlihat ia genggam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN