XXV. TKP Kedua

1479 Kata
“Hmm … apakah aku dapat membekukan air itu? Apakah kini aku sudah menjadi penyihir tingkat nol dengan sihir es?” gumam Zachary sambil mengarahkan tangannya ke arah teko tersebut. “Sihir es: Freeze!” Sontak Zachary terkejut hingga mengangkat tubuhnya dari telentang ke posisi duduk karena air di dalam teko tersebut benar-benar menjadi beku. “Astaga, air di dalamnya benar-benar membeku! Aku akan membiarkannya hingga esok pagi. Pasti Hans sangat terkejut,” kata Zachary tersenyum tipis seraya menatap Hans yang tertidur pulas. Pagi pun tiba, cahaya mentari yang hangat meraba memasuki kamar Zachary dan Hans menembus jendela. Kebetulan tirai yang mengarah langsung ke ranjang Hans tidak ditutup sehingga ia langsung terbangun karena cahaya matahari mulai menyilaukan matanya. Sementara itu, Zachary masih tertidur dengan selimutnya yang terlihat berantakan. Sepertinya ia sangat lelah sehabis kejadian semalam. Hans beranjak dari ranjangnya, ia yang sepertinya masih setengah sadar pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Lalu Hans kembali keluar dan ia mengambil gelas. Ketika tangan Hans hendak mengambil teko air, ia dengan spontan berteriak terkejut setelah melihat air di dalam tekonya sudah beku semua. Teriakan Hans itu membuat Zachary terbangun. “Ada apa kau pagi-pagi begini berteriak? Aku ini masih butuh istirahat tahu,” tutur Zachary lemas dengan matanya yang masih tertutup. “Hei lihatlah ini, air di dalam tekonya membeku dan tekonya memiliki retakan!” “Aku tak menyangka bekunya bisa terus bertahan hingga pagi hari,” ucap Zachary. “Tunggu, apa maksudmu?” tanya Hans yang kebingungan. Zachary menyeringai. “Coba saja kau tebak.” “Ayolah kak jangan bermain-main. Aku tidak bisa minum jika seperti ini!” “Tenang saja, tenang. Aku akan megurusnya untukmu,” kata Zachary. Ia mengarahkan tangannya lagi ke arah teko tersebut seperti semalam dan mulai merapalkan mantra sihirnya. “Sihir es: Unfreeze!” Air di dalam tekonya berangsur mencair. “K- kau memiliki sihir es? Tapi sejak kapan?” Hans terlihat sangat terkejut mengetahui kakaknya memiliki atribut sihir baru. “Bisa dibilang sejak … semalam? Ada gempa yang mengguncang dan singkat cerita aku tercebur ke dalam kolam di lantai paling atas dan air kolamnya menjadi setengah beku karena aku berada di dalamnya. Untung saja ada Sera di sana, jadi ia menolongku untuk keluar dari kolam,” jelas Zachary. “Semalam terjadi gempa? Sungguh?” Hans terkejut tak percaya. “Kau saja yang sudah tertidur pulas sampai tak merasakannya.” “Lalu, untuk apa kalian berdua ada di lantai atas pada tengah malam seperti itu?” “Hei, jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya mengobrol dengannya, lagi pula kami tidak sengaja bertemu di sana,” ujar Zachary. Hans menuangkan air dari teko ke dalam gelasnya. “Wah, air dingin gratis tanpa harus menyimpan air pada pendingin.” Hans meneguknya hingga habis. “Kak, kau rasanya harus melatih sihir es-mu itu. Kau bisa menjadi penyihir tingkat nol nantinya seperti Julian dan dapat mengalahkannya dengan mudah jika kau diajak berduel,” ujar Hans. Zachary mengangguk pelan. “Aku sudah memikirkan untung melatih sihir ini.” “Tapi aku bingung sekarang. Rasanya ayah dan ibu tidak memiliki atribut gabungan apapaun. Kenapa kau bisa sampai mendapatkan sihir dengan atribut es?” “Aku juga tak tahu. Mungkin aku hanya beruntung kali ini. Beruntung yang tak dapat disia-siakan begitu saja,” kata Zachary. “Pergilah untuk bersiap, siang ini kita akan pergi ke tempat kejadian perkara kedua. Dari kabar yang ku dengar, di sana adalah tempat ditemukannya bukti kuat mengenai hilangnya guru Aldini. Aku tidak tahu di sana apakah para kepolisian sudah membersihkan seluruh buktinya atau belum.” “Ah iya juga, aku akan bersiap untuk pergi. Kau jangan lupa beritahu Sera dan Siria, mungkin mereka akan lupa,” kata Hans. -Path- Sera dan Siria tengah menyantap sarapan mereka di kantin lantai paling atas penginapan. Lantai teratas penginapan terlihat cukup ramai. Banyak yang sedang menggunakan ruang fasilitas yang ada, bahkan yang berlalu lalang pun tidak dapar dikatakan sedikit. Beberapa saat kemudian, Zachary bersama Hans datang dan langsung duduk di meja yang sama dengan Sera dan Siria. “Akhirnya kalian datang. Maaf tadi aku memesan sarapan kalian duluan, mungkin sekarang makanannya sudah agak dingin,” ujar Siria. Zachary tersenyum lalu segera menanggapi Siria. “Tak apa, aku dan Hans juga sudah terbiasa menyantap sarapan yang dingin.” “Bahkan tadi aku meminta kakakku untuk memanggil kalian di kamar. Jadi dapat pergi ke tempat ini bersama. Ternyata kalian sudah pergi duluan,” ujar Hans. Sera mengangguk. “Tadi kami pergi lebih awal untuk medapatkan makanan dengan kualitas yang masih bagus,” katanya sambil melahap sebuah anggur.” “Pantas saja, aku dan Hans berdiri untuk beberapa waktu hanay menunggu kalian keluar dari kamar. Ternyata kalian pergi duluan,” tutur Zachary. “Omong-omong, kenapa di sini terlihat lebih ramai daripada hari-hari biasanya?” tanya Hans. “Pagi tadi, saat aku dan Sera baru darang kemari. Banyak orang yang heboh karena air di kolam renang mendadak suhunya menjadi sangat dingin. Dari yang kudengar suhunya hanya delapan derajat selsius, yang membuat keheranan adalah bagaimana bisa suhunya turun begitu drastis. Padahal semalam rasanya tidak turun hujan,” cakap Sera menjelaskan kepada Hans. Seketika muncul kesenyapan diantara mereka. Semua terdiam lalu Hans dan Sera melirik ke arah Zachary dengan ekspresi yang datar. “Hei ayolah, jangan melihatku seperti itu! Seolah kalian tahu sesuatu dariku,” ucap Zachary sambil tertawa kecil. “Ada apa dengan kalian ini?” tanya Sera. Sontak Hans dan Sera langsung menggeleng secara bersamaan. Siria terbelalak sekaligus terkejut. “Astaga, kalian lebih aneh daripada biasanya.” “Sudah, sudah. Ayo habiskan sarapannya setelah itu kita bersiap untuk berangkat menuju tempat kejadian perkara kedua,” ucap Zachary. Mereka melanjutkan sarapannya. Tidak peduli dengan berisiknya kolam dengan para pengunjung yang berbincang ataupun suara langkah kaki yang berlalu lalang. Waktu yang singkat telah berlalu. Setelah mereka selesai sarapan, keempatnya langsung bergegas pergi meninggalkan penginapan. Sudah jelas mereka akan pergi ke tempat kejadian perkara kedua. Namun, di saat yang bersamaan dari arah belakang, ada Julian dan Redd yang mengamati. Keduanya nampak begitu serius mengamati dengan pakaian tebal yang menutupi sebagian wajah mereka. Lalu, ketika Zachary dan yang lainnya pergi, Julian dan Redd mengikuti dari belakang secara diam-diam. Di tengah perjalanan ke tempat tujuan …. “Eh, apakah jalur yang kita lewati kali ini sama dengan yang sebelumnya?” tanya Siria. “Ya, jalurnya sama. Tetapi tujuan kita berbeda dan kali ini tempatnya lumayan jauh.” Zachary menjawab. “Apakah hanya kau yang megetahui tempatnya, Zachary?” Sera bertanya. “Ya … sambil berjalan akan kujelaskan,” ujar Zachary. Setelah beberapa menit berjalan. “Ayo, langsung saja ceritakan. Rasanya baik itu Sera atau Siria tak tahu apapun soal ini,” kata Hans. Zachary menghela napasnya sebelum bercakap. “Baiklah, untuk Siria sepertinya benar-benar tak tahu menahu soal ini. Tetapi harusnya Hans dan Sera mengingat koran yang diantarkan anak kecil sore itu menggunakan sepeda. Yang mana ada kabar tentang kepala keluarga terpandang melakukan ritual mencurigakan.” “Lalu ada apa dengan koran itu? Bukankah kita memang hanya menemukan berita tentang ritual itu?” tanya Sera. “Saat ingin berangkat ke stasiun kereta waktu itu, aku melihat-lihat lembaran koran lainnya. Kukira di sana hanya ada berita-berita tidak penting seperti biasanya, ternyata ada perkembangan terbaru tentang kasus hilangnya ahli sihir dari sekolah diperbatasan. Dan dengan jelas yang dituju adalah sekolah kita … menandakan itu guru Aldini,” lanjut Zachary. “Astaga, apakah kita waktu itu melewatinya begitu saja?” gumam Sera. tanya Hans. “Maaf karena tidak langsung memberitahu kalian. Yang jelas kita akan menuju tempat kejadian perkaranya sekarang. Kita tidak boleh kehilangan jejak sedikit pun dan harus menyisir semuanya dengan teliti,” ucap Zachary. Hans mengangguk pelan. “Sekecil apapun petunjuknya pasti itu akan berguna.” “Jangan sampai kehilangan petunjuk,” kata Siria. “Zachary, apakah tempatnya masih jauh?” Siria bertanya sambil melihat sekitarannya. “Seharusnya tidak akan jauh dari sini. Sepertinya sebentar lagi juga sampai,” jawabnya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Sampai tengah hari, yang biasanya suhu meningkat karena sang surya sedang berada di puncaknya. Namun, kali ini suhu malah turun, sedikit sejuk karena ada awan gelap yang menutupi sebagian langit. Hingga sampailah mereka pada sebuah g**g kecil di antara rumah-rumah yang nampaknya kosong tak dihuni lagi. Di depan g**g tersebut juga ada garis polisi yang terlihat masih baru membatasi. “Apakah ini tempatnya?” tanya Hans. “Seharusnya benar ini tempatnya. Garis polisinya terlihat masih baru, mengingat kita mendapatkan koran itu belum lama ini,” jawab Zachary. “Emm, apakah kita akan menerobos masuk?” Kini Siria bertanya. “Mau tidak mau kita harus masuk.” Zachary berkata seperti itu seraya menunduk dan masuk ke g**g kecil melewati garis polisi tanpa merusaknya. “Aku ada dibelakangmu!” seru Hans yang setelah itu mengikuti langkah Zachary. “Ya ampun, tempat ini sangat sepi dan jalan di dalam g**g begitu gelap,” gumam Sera. Namun, setelah bergumam tetap saja Sera mengikuti Zachary dan Hans diikuti oleh Siria   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN