XXVI. Kembali Temukan Bukti

1591 Kata
Sampailah mereka di dalam g**g itu, tidak ada apa-apa selain jalan setapak yang sedikit gelap. Di ujung g**g tersebut, terdapat sebuah bangunan yang lagi-lagi dari bentuknya mirip dengan sebuah gudang. Tak jauh berbeda dari tempat kejadian perkara sebelumnya. Namun, ada satu perbedaan yang sangat mencolok di mana pada tempat sebelumnya nampak berantakan terbengkalai dan tidak terurus. Kali ini, semuanya terlihat rapih dan bersih dari ujung ke ujung. Zachary dan yang lainnya memasuki gudang tersebut. Tanpa instruksi yang jelas, semua langsung berpencar masing-masing mencari petunjuk yang diharapkan tertinggal. Setelah beberapa waktu, semuanya kembali berkumpul di bagian tengah gudang. “Baiklah, kita telah berkumpul kembali. Jadi, apa saja yang kalian temukan?” tanya Hans. Siria menghela napasnya dalam-dalam. “Aku tidak menemukan apapun di bagian depan. Entah bagaimana tetapi tempat yang kali ini sangat bersih seperti tak meninggalkan sedikit pun jejak bekas kejadian.” Siria berkata. Setelah itu Sera maju selangkah. “Aku melihat dinding-dinding di ujung ruangan. Sama seperti kata Siria, semuanya sangat bersih. Namun, aku melihat sedikit bekas noda yang tampak sehabis diusap dengan kain. Aku tidak tahu pasti bekas noda apa itu, yang jelas sebelum kita datang ke tempat ini, sudah ada yang datang duluan dan membersihkan semuanya.” Sera mengungkapkan apa yang ia lihat. Zachary memejamkan matanya untuk sesaat. “Aku menemukan hal yang serupa. Tepat di atas kepala kita, ada sebuah kail besi yang kemungkinan besar adalah tempat digantungnya kepala guru Aldini. Tetapi, di bagian bawahnya sudah tidak ada bekas darah atau apapun itu,” ujar Zachary. “Sepertinya pihak kepolisian yang menangani tempat ini sudah menyimpan semua buktinya dan tidak menyisakan sedikit pun untuk kita. Kecuali bekas noda yang dilihat Sera.” Hans berkata. “Hmm, aku menemukan tong yang sama persis dengan yang kita temui sebelumnya. Namun, semua tong itu kosong tak ada isinya,” lanjut Hans. Zachary menunduk seraya menghempaskan napasnya. “Semua ini aneh, mencurigakan dan membuatku hampir menggila,” gerutu Zachary. “Biarkan aku berkeliling sebentar untuk berpikir,” ucap Hans. “Aku berharap kau menemukan sebuah petunjuk!” seru Sera. “Walaupun kecil dan hanya ada satu.” Siria menambahkan dengan nada suara datar. Hans lalu berjalan ke bagian belakang gudang. Ia melihat di sekitar tong yang kosong banyak lemari kayu yang nampaknya sudah using dan beberapa bagian pun nampak keropos dari luar. Suatu hal mengejutkan dilakukan Hans. Ia tiba-tiba melakukan posisi tiarap layaknya seorang prajurit di tengah medan perang. Namun, ia tengkurap dan hanya memperhatikan kolong dari setiap lemari kayu. “Sepertinya tidak mungkin aku menemukan sebuah petunjuk di bawah lemari. Tapi … apa yang kulakukan dengan berbaring seperti ini astaga.” Hans bergumam sendiri hingga ia menemukan sesuatu yang perwujudannya seperti sehelai rambut. “Tunggu, apa itu?” Hans mengambilnya dan memerhatikan untuk sejenak. Setelah beberapa saat akhirnya ia menyadari sesuatu. “Astaga, ini adalah jerami ajaib yang dimiliki Sera. Mungkin saja guru Aldini membawanya dan tidak sengaja terjatuh di bawah lemari!” Setelahnya, Hans kembali menemui Zachary dengan yang lainnya. “Hei, apa kau menemukan sesuatu?” tanya Siria. Hans tersenyum lebar dan dengan mantap mengangguk. “Tentu saja aku mendapatkan sesuatu,” ujar Hans. “Ayo, cepat beri tahu kami apa yang kau temukan!” Zachary sepertinya cukup penasaran dengan apa yang adiknya temukan kali ini. Lalu Hans menunjukkan sehelai jerami ajaib yang ia temukan. “Apa itu, Hans? Sehelai rambut?” tanya Siria. Mata Sera membelalak. “Tunggu, apakah itu jerami ajaib? Aku dapat melihatnya dan … energi sihir yang samar ini adalah milik guru Aldini!” seru Sera. “Sera, apakah kau yakin dengan apa yang kau katakan” tanya Zachary nampak ragu. “Aku benar-benar yakin. Puluhan jam aku habiskan untuk menyempurnakan mantra jerami ajaib itu. Aku tidak mungkin tak kenal dengan energi sihir yang tersisa padanya.” Zachary menghela napasnya. “Jadi, guru Aldini benar-benar tewas di tempat ini ya?” “Dari apa yang ditemukan sepertinya begitu.” Hans menanggapi. Kini Zachary mulai memejamkan matanya. “Mungkinkah aku benar kali ini? Mereka sepertinya membuat kesalahan degan jejak yang ditinggalkan pada tempat kejadian perkara pertama. Namun, karena mereka tak mau ada banyak jejak yang tertinggal, akhirnya mereka mencoba untuk membersihkan semuanya. Tapi sayang sekali ada sehelai jerami ajaib yang terjatuh dan bekas noda di dinding yang telah di lap.” Zachary panjang lebar. “Atau, semua ini hanya jebakan?” Hans tiba-tiba berucap demikian. “Maksudmu?” tanya Zachary yang kebingungan. “Rasanya terlalu mencolok ketika ada dua tempat kejadian perkara dan situasinya sangat berbeda padahal dengan kasus yang sama. Tidak menutup kemungkinan bahwa ini hanyalah rekayasa tempat kejadian semata. Entah untuk membuat kita bingung, atau membuat kita terpancing dan mencari lebih jauh,” jelas Hans. “Sejujurnya aku tidak begitu mengerti apa yang baru saja diucapkan Hans. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga ini hanya rekayasa untuk memancing kita,” ujar Siria. “Ya ampun, aku tak dapat berpikir untuk menyelesaikan masalah ini,” gumam Zachary. Di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba Julian dan Redd datang memasuki pintu gudang. Keduanya berjalan dengan perlahan mendekati Zachary dan yang lainnya di bagian tengah. Julian terlihat tersenyum tipis dan lagi-lagi ia membawa surat kecil berwarna merah pudar di tangannya. “Sudah kuduga, ternyata kalian semua ada di sini,” ucap Julian. “Hei b*****h, bagaimana kau bisa ada di sini? Apakah mungkin … kalian berdua adalah pelakunya?” celoteh Hans kepada Julian dan Redd. “Hei, hei. Kau tidak bisa langsung menuduh seperti itu tanpa bukti yang jelas,” ujar Redd. Zachary langsung memberi tatapan yang sinis. “Jangan banyak cakap. Cepat katakan saja kalian ingin apa datang kemari?” Julian mengangkat surat berwarna merah pudarnya sambil tersenyum ke arah Zachary. “Apakah kau tidak bosan terus-menerus menanyakan hal itu padaku?” tanya Zachary sinis. “Ayolah, aku hanya ingin tahu bagaimana kemampuanmu,” ujar Julian menyeringai. “Julian, hetikan semua ini!” teriak Sera. Namun, Zachary nampaknya tidak memperdulikan perkataan Sera. “Aku akan menerimanya, kita akan bertanding di mana?” tanya Zachary dengan mendadak sontak membuat yang lainnya terkejut. Hans langsung menoleh ke arah Zachary. “Kak, apakah kau sudah gila sampai menerima ajakannya untuk bertarung?” Zachary balik menoleh. “Aku lelah terus diusik olehnya. Lagi pula, sudah lama juga aku tidak bertarung dengan intens … sebenarnya tidak terlalu lama juga.” Seketika Zachary mengingat kembali kejadian pagi itu saat ia bertarung melawan tiga orang dengan jubah hitam. “Ayo ikut denganku, kita akan pergi naik kereta. Aku juga ingin mengajak kalian melihat-lihat wilayah keluarga bangsawan,” ucap Julian. Hans menatap tajam Julian. “Kali ini kau benar-benar mencurigakan. Aku tidak akan ragu untuk menuduh bahwa kau adalah dalang dibalik semua ini,” ujarnya. “Kau bisa percaya padaku dan memegang omonganku.” Julian menyeringai. “Baiklah, ayo cepat antar kami. Tidak ada banyak waktu untuk meladenimu.” Zachary berkata dengan nada suara yang rendah bersama tatapan yang dingin. Mendengar hal itu, Hans sontak menggenggam lengan kakaknya. “Apa kau sudah gila?” Zachary menoleh. “Percayalah padaku, aku akan menyelesaikan urusanku degannya.” Hans hanya bisa terdiam dan mengikuti setelah mendengar keputusan langsung dari mulut Zachary. Begitu pun dengan Sera dan Siria. -Path- Kini mereka berada di dalam kereta. Dari yang terlihat, sepertinya kereta yang ditumpangi kali ini adalah kereta khusus karena hanya membawa beberapa gerbong saja. Di dalam gerbong pun Zachary dan yang lainnya disuguhkan makanan yang tak kalah mewah seperti saat melakukan perjalanan kereta sebelumnya. Namun, suasana canggung menyelimuti seisi gerbong karena Zachary duduk berhadapan dengan Julian dan keduanya saling menatap untuk beberapa waktu. Hans yang duduk di depan Redd berlagak seolah tak peduli dengan menyantap makanan yang sudah disiapkan. Begitu pun dengan Sera dan Siria yang hanya menyantap makanannya perlahan menghindari suasana yang begitu canggung di dalam gerbong. Kereta pun berhenti di stasiun yang sepi dengan desis piston teramat nyaring. Julian turun terlebih dahulu diikuti dengan Zachary dan yang lainnya di belakang. Semuanya langsung melihat-lihat bangunan disekitar stasiun yang nampak elegan dan menawan. Jauh berbeda dari bangunan yang ada di area warga biasa. “Jadi, apakah ini benar-benar wilayah warga bangsawan?” tanya Hans. “Tentu saja. Kau harus menjaga sopan santun dan perkataan saat bertemu orang lain di sini. Jangan bertingkah seperti anak kecil.” Redd menanggapi. “Ah, jadi setiap bagian memiliki perbedaan yang cukup mencolok ya,” gumam Hans. “Aku tidak percaya saat ini kita benar-benar berada di wilayah keluarga bangsawan!” kata Sera. Siria tersenyum setelah mendengar Sera. “Kalau begitu, cobalah untuk menjadi seorang bangsawan walau hanya sebentar,” ucap Siria. “Maksudmu, seperti menjadi tuan putri?” Sera dan Siria tersenyum saling tertawa . Di tengah suasana yang damai, Zachary menghela napasnya dalam. “Lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan? Menunggu stasiun tutup dan berduel di tempat ini?” tanyanya sambil menatap ke arah Julian. Julian menggeleng pelan. “Aku tengah menunggu kereta kuda untuk bepergian. Biasanya ada beberapa kereta kuda yang menunggu di stasiun untuk menghantarkan keluarga para bangsawan,” ujar Julian. “Apa yang seperti itu benar-benar ada di tempat ini?” tanya Hans. “Hei ayolah, saat ini kau tengah menginjakkan kaki di wilayah keluarga bangsawan. Jika kau memiliki uang, semuanya akan beres sesuai dengan apa yang kau inginkan,” ujar Redd. “Sungguh? Dengan uang kau bisa mendapatkan segalanya?” Hans bertanya lagi. “Secara teknis tidak semuanya, tetapi hampir semua yang dilakukan di sini membutuhkan uang,” jelas Redd. “Astaga kukira uang tidak berdampak sebanyak itu,” gumam Hans. Redd tertawa kecil mendengarnya. “Kau tidak bisa berpikiran seperti itu. Mungkin suatu saat nanti kau akan menemukan orang yang menjadi `gila` hanya karena uang,” tutur Redd.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN