XXVII. Kereta Kuda

1483 Kata
Beberapa saat berlalu, akhirnya ada sebuah kereta kuda yang datang. Julian dengan sigap langsung menghampiri orang yang mengendarai kereta kuda dan langsung memberikan sekantung penuh koin menggembung yang bergemerincing saat bergoyang. Julian mempersilahkan yang lainnya masuk hingga tak ada yang tertinggal barulah ia masuk. Dua kuda hitam yang terikat dengan kereta. Ototnya besar membuat tubuhnya terlihat gemuk ketimbang kuda-kuda lainnya. Bagian kereta yang cukup besar rasanya dapat menampung hingga delapan orang di dalamnya. Semua sudah naik ke atas kereta. Mereka memilih posisi duduk mana yang paling nyaman dan Zachary memilih untuk duduk di paling depan. Tepat di belakang orang yang mengendarai kereta kudanya. Julian menepuk pundak pengendara kereta kuda. “Kita pergi ke distrik Timur. Tolong cepat dan hati-hati ya,” ujarnya. “Baiklah, laksanakan.” Pengendara itu menjawab. Kereta kuda pun mulai berjalan dengan perlahan. Melewati jalanan yang sudah diaspal dengan rata dan sudah bukan lagi dipenuhi kerikil kecil seperti di area keluarga rendahan. Perlahan tapi pasti kereta kuda berjalan, melewati bangunan-bangunan mewah. Juga melewati orang-orang yang berlalu lalang mengenakan pakaian mewah dengan pernak-pernik emas di beberapa bagian. Sejauh mata memandang, semuanya terlihat mewah tidak ada yang terlihat biasa sama sekali. Seperti semua orang di wilayah bangsawan selalu kejatuhan uang setiap detiknya. Jas dan pakaian kulit mendominasi jalanan, Hans yang berada di dalam kereta sampai tak bisa memalingkan pandangannya. “Hei, setelah ini kita akan pergi ke mana?” tanya Zachary tiba-tiba sambil menatap Julian. “Kita akan pergi ke tempatku, kalian tidak bisa hanya memakai pakaian seperti itu di sini,” kata Julian. “Maksudmu?” Julian melirik sekitar. “Kita hampir sampai, kau akan melihat sendiri nanti.” “Ya ampun, apa susahnya menjawab pertanyaanku.” Zachary bergumam. Tak lama setelah itu, kereta kuda pun berhenti. Satu persatu mereka turun dari kereta, Julian mengucapkan terima kasih kepada pengendara kereta kuda dan pengendara itu pun pergi. Zachary bersama Julian dan yang lainnya tiba di depan bangunan kecil yang pintunya tertutup rapat. Nampak sebuah kaca besar, tetapi ditutupi oleh tirai dari dalam sehingga tidak dapat melihat ada apa didalam bangunannya. “Apakah kita mendatangi bangunan kosong?” Sera bertanya. “Uh, tidak mungkin Zachary dan Julian berduel di sini, kan?” Siria menambahkan. “Tenang saja, kita hanya akan bersinggah sebentar di sini.” Redd berkata. Julian mendekati pintu bangunan kecil tersebut lalu mengetuknya beberapa kali. “Permisi, Julian Atvasi di sini. Tolong bukakan pintunya.” Zachary menatap Julian aneh. “Apakah kau mengenal pemiliknya?” Mendadak pintunya terbuka dengan cepat karena ada seseorang di baliknya. Postur tubh tinggi dengan rambut keriting berwarna coklat gelap dengan kacamata yang bingkainya tipis. Ia nampak tersenyum lebar ketika melihat wajah Julian. “Astaga, sudah berapa lama sejak terkahir kali anda datang, silahkan masuk! Pintuku selalu terbuka untukmu,” ucap orang itu. “Terima kasih, biarkan teman-temanku yang lain masuk ya!” ujar Julian. Mulai dari Redd diikuti Zachary dan yang lainnya perlahan memasuki bangunan kecil itu. Walau dari luarnya tertutup rapat dan amat misterius, ternyata dibalik semua itu ada harta karun yang tersimpan di dalamnya. Banyak sekali baju-baju mewah yang tergantung da nada pula rak tinggi yang isinya hanyalah pakaian yang telah dilipat dan ditata rapih. Sepertinya pakaian di atas rak tinggi itu diberi plastik untuk melindunginya dari debu. “Aku tidak percaya melihat ini. Semua pakaian yang ada nampak sangat elegan!” seru Sera berantusias. “Aku tidak dapat melihat pakaian yang biasa-biasa saja di sini,” kata Hans. Julian untuk sesaat berdeham. “Baiklah, selamar datang di galeri kecilku. Di tempat ini biasanya aku menyimpan koleksi pakaian-pakaianku dan beberapa juga ada milik Redd. Lalu, orang di depan kalian ini adalah Peto yang bertugas menjaga bangunan ini untukku,” jelas Julian. “Halo, salam kenal semuanya!” sapa Peto. “Bisakah kau langsung menghubungi orang-orang dari Light Sanctuary untuk datang menjemput semua orang di sini?” pinta Redd. “Tentu! Tunggu sebentar, aku akan menghubungi dengan sihirku. Kalian bisa melanjutkan pembicaraannya,” ujar Peto yang setelah itu pergi ke bilik kecil yang ada di sudut ruangan. “Sekarang, kalian bisa mengambil beberapa pakaian di sini untuk kalian gunakan. Aku sarankan kalian mengambil pakaian yang menutupi tubuh kalian seperti jas mantel.” Julian melihat-lihat pakaian yang tergantung dan mengambil sebuah jas mantel berwarna hitam. “Nah, kalian bisa meggunakan yang seperti ini.” “Tunggu, memangnya ada apa sampai kami harus menggunakan pakaian seperti itu?” Zachary bertanya. “Setiap area atau wilayah memiliki ciri khas dan peraturannya masing-masing. kau tidak bisa berpenampilan seperti orang dari area warga biasa. Mereka akan menganggapmu rendah dan kau bisa jadi bahan omogan bahkan diperlakukan tidak baik,” jelas Julian. “Tunggu, apakah separah itu?” tanya Sera tidak percaya dengan apa yang dikatan Julian. “Banyak kejadian seperti itu. Rasanya sudah menjadi rahasia umum jika perlakuan tidak baik terhadap orang-orang diluar keluarga bangsawan dan keluarga terpandang hanya dibiarkan begitu saja oleh kepolisian setempat.” Julian menanggapi. “Astaga, diskriminasi di wilayah ini kejam juga ternyata.” Hans berkata. Redd tersenyum tipis mendengarnya. “Terkadang, apa yang kau hadapai akan menjadi jauh lebih kejam dari apa yang kau pikirkan. Realita tak pernah seindah itu tanpa pengorbanan dan rasa sakit,” ujar Reed. “Apa aku tidak salah dengar? Untuk beberapa saat kau terdengar sangat bijak,” ucap Hans dengan pandangan kagum kepada Redd. Redd tertawa kecil tersipu. Peto akhirnya keluar dari kabinnya. Lalu Zachary mengambil sebuah jas mantel berwarna biru gelap dan Hans mengambil yang berwarna cokelat kayu. Sementara itu, Sera dan Siria memilih jaket kulit yang nampaknya cukup tebal dan sangat cocok untuk musim dingin. Hanya dengan jas mantel dan jaket saja penampilan mereka jauh berubah dari sebelumnya. Julian memberikan sekantung koin kepada Peto. “Terima kasih ya, tolong rahasiakan kehadiranku.” “Tentu saja, aku akan menutup rapat tempat ini. Aku pastikan tidak ada yang mengetahui soal kehadiranmu,” ujar Peto seraya meraih kantung koin tersebut. “Oh ya, satu lagi. Mungkin sebentar lagi orang-orang dari Light Sanctuary  akan datang.” Peto berkata.  Baru saja Peto berkata demikian, ada kereta kuda lainnya yang datang. Kali ini kudanya lebih gagah dan keretanya pun terlihat begitu mahal. “Hoi, apa kau memesan kereta kuda lainnya?” tanya Hans menyipitkan matanya. “Tentu, kita akan pergi ke Light Sanctuary sekarang,” jawab Julian. “Cepatlah naik, jangan membuang waktu terlalu lama,” tutur Redd. Semuanya menaiki kereta kuda tersebut satu persatu. Ada dua pengendara kereta di bagian depan, sepertinya yang satu adalah pengendara yang memegang kendali dan yang kedua nampaknya hanya bertugas untuk mendampingi saja. Ruang di dalam kereta yang kali ini jelas lebih luas ketimbang kereta kuda sebelumnya. Setelah beberapa waktu, akhirnya kereta kuda itu pun berjalan. Di tengah perjalanan … Zachary menatap Julian untuk beberapa saat tetapi Julian tidak menyadarinya. “Bisa kau memberitahunya sekarang? Kita akan pergi ke mana dan untuk apa pergi ke sana?” tanya Zachary dengan perlahan sambil sedikit memiringkan kepalanya. Julian terdiam sesaat. “Kita akan berduel di sana. Kau tidak perlu khawatir tentang hal apapun itu,” kata Julian. “Apakah di sana semacam tempat untuk bertarung ataukah sebuah lahan kosong yang luas?” tanya Zachary yang nampaknya dibuat tambah bingung dengan perkataan Julian. Julian langsung menggeleng. “Tempatnya ada di tengah hutan kelola keluargaku.” Hans pun terkejut. “Apakah kau gila mengajak kakakku berduel di dalam hutan?” “Karena hutannya berada dalam kelolaan keluargamu apa tidak apa-apa jika merusaknya?” tanya Zachary. Julian melirik Redd. “Aku sudah mempertimbangkan semuanya dan beruntungnya diriku menemukan seorang ahli yang dapat mengatasi hal itu,” tutur Julian. Raut wajah Hans terlihat semakin kebingungan setelah Julian mengatakan hal tersebut. “Aku sungguh tak mengerti … kau menemukan ahli apa? Ahli dalam pertarungan atau ahli yang dapat membersihkan sisa-sisa pertarungan?”  tanya Hans. “Dan kau melirik Redd agak mencurigakan, kalian seperti merencanakan sesuatu yang tidak baik,” lanjutnya. “Tunggu saja hingga kita sampai. Nanti kau juga akan mengerti,” kata Redd. Sera menelan ludahnya sendiri dan hanya bisa terdiam bersama Siria mendengarkan pembicaraan diantara empat laki-laki. Beberapa saat kemudian, Sera menghela napasnya. “Hei, maaf aku menyela pembicaraan kalian tapi jujur saja. Hans … kau banyak sekali bicara kali ini,” lirih Sera. Hans langsung menoleh. “Sungguh? Apakah aku terlihat seperti itu?” Melihat respons Hans membuat Siria menepuk jidatnya sendiri. Kereta kuda terus berjalan hingga perlahan jalan mulai menyempit, dan bangunan yang berdiri semakin menipis. Mulai terlihat pula kumpulan pepohonan rindang dan Zachary yang pertama kali menyadari hal tersebut. “Hei, apakah itu hutannya?” Zachary sambil melihat ke luar kereta kuda. Julian terlihat menghempaskan napasnya lega dan ia tersenyum tipis. “Ya, kau benar. Sebentar lagi kita akan sampai di tujuan. Tolong jangan membuat kebisingan berlebih di sepanjang jalanini. Itu akan menjadi masalah,” kata Julian. Hans menyipitkan mata dan dahinya. “Itu sungguh aneh ….” Redd tersenyum tipis melihatnya. “Jangan banyak bicara, nanti kau akan melihat dengan sendirinya apa yang tengah terjadi sebenarnya,” ucap Redd.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN