XXVIII. Memasuki Arena

1639 Kata
Ketika semuanya terdiam dan kereta kuda masih terus berjalan. Hutan yang dilewati nampaknya semakin penuh dengan pepohonan dan jalannya pun menyempit. Jalannya kereta kuda juga menjadi tak mulus akibat bebatuan dan ranting di atas tanah yang dilewati. Hingga beberapa saat kemudian, pepohonan besar mulai menghadang dan dengan jelas terlihat bahwa kereta kuda tak akan bisa melewatinya. Pengendara yang  sejak awal hanya mendampingi kini mengangkat tangannya dan ia arahkan ke arah pepohonan besar yang menghalangi jalan. Sesaat kemudian ia pun merapalkan sebuah mantra sihir. “Sihir menengah: Buka Penutup!” Saat itu juga muncul sebuah pelindung sihir diantara pepohonan yang mulai membuka. Samar terlihat lahan luas di baliknya. “Eh, jika diperhatikan pelindungnya akan memiliki ruang yang amat luas,” kata Siria. Sera mengangguk. “Kemungkinan besar memang ruang di dalamnya sangat luas. Namun, untuk apa ruang luas di tengah hutan seperti ini?” tanya Sera. Pelindung sihir yang baru saja muncul langsung tertutup rapat setelah dilewati. Kereta kuda berhenti di sebuah lahan luas yang memiliki beberapa bangunan yang disusun dari bebatuan. Tanaman-tanaman hias juga menghiasi sekitarnya dan hal itu menjadi benar-benar berbeda karena sebelumnya mereka tengah berada di tengah hutan nan rindang. Hingga kereta kuda pun berhenti, pengendara kuda langsung menghembuskan napas lega. Sepertinya ia cukup kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh serta medan di tengah hutan yang tidak merata. Beralih kepada orang yang menjadi heboh sendiri karena apa yang baru saha dilewatinya, Hans. “Astaga, katakan aku sedang tidak bermimpi! Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Aku yakin tadi semuanya adalah hutan yang penuh dengan pepohonan tinggi. Lalu, tiba-tiba kita bisa berada di sebuah lahan yang luas seperti ini. Rasanya sungguh tak masuk akal!” “Hei, tahanlah kebingunganmu. Lebih baik kita turun dahulu dari kereta,” ujar Redd. Setelahnya, satu persatu pun turun dari kereta kuda. Julian berterima kasih kepada dua pengendara dan kedua pengendara itu pun pergi. Julian berjalan perlahan ke hadapan Zachary, Hans dan yang lainnya. “Semuanya, selamat datang di Light Sanctuary. Sebuah tempat rahasia yang kubuat bersama dengan Redd dan beberapa orang lainnya di tengah hutan distrik timur wilayah keluarga bangsawan.” Zachary menaikkan alis kanannya. “Jadi, kalian membuat tempat ini?” tanyanya. “Ya … mudahnya seluruh ruang di tengah hutan ini ditutupi dengan pelindung sihir beserta sihir ilusi. Jadi tidak aka nada yang bisa melihat ataupun sembarangan keluar masuk.” Redd menanggapi pertanyaan Zachary. “Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang mendekati area pelindung sihir itu?” Zachary bertanya lagi. “Tidak perlu khawatir. Kami memiliki beberapa penjaga di sekitar pelindung sihir. Namun, sebenarnya hampir tidak ada orang yang memasuki area hutan ini. Karena memang tidak ada yang lainnya selain hutan, untuk apa juga orang-orang pergi ke tempat ini.” Kali ini Julian yang menjawabnya. “Baiklah, ketimbang kita berlama-lama di sini, mari ikut aku ke gedung utama. Mungkin selagi berjalan aku bisa memberi tahu kalian beberapa tempat yang ada di sini,” imbuh Julian. Hans memeluk dirinya sendiri lalu menggosok-gosokkan tangannya. “Entahlah, rasanya aneh sekali melihat kalian berdua menjadi `baik` kepada kami,” ujar Hans. Redd langsung menoleh dan menatapnya dengan mata yang dipicingkan. “Apa maksudmu dengan `baik` seolah kami berdua jahat kepadamu.” Julian menghela napasnya. “Sungguh … kami tidak pernah memiliki niat jahat kepada kalian.” “Bisakah kita berjalan sekarang?” tanya Zachary. “Ah ya, kita tidak bisa terus berdiam di sini,” ucap Julian. Julian pun berjalan dan diikuti yang lainnya di belakang. Jika dilihat-lihat, di sekitaran mereka hanya ada lahan kosong yang memiliki hamparan rumput hijau di atasnya. Nampak pula beberapa bebatuan besar yang menumpuk juga pepohonan tinggi yang berjarak cukup jauh. Setelah beberapa saat berjalan, tibalah mereka di antara dua bangunan yang struktur bangunannya penuh dengan pepohonan. Mirip sekali dengan rumah pohon tetapi yang ini bentuknya jauh lebih besar. “Wah, apakah kau dan orang-orang lainnya di sini membuat kedua bangunan itu?” ‘tanya Sera. “Tentu saja, tetapi sebagian besar dibuat oleh salah satu penjaga yang memiliki atribut sihir alam. Kami berhutang banyak padanya untuk membuat dua bangunan ini,” jelas Julian. “Wah, kapan ya aku dapat melakukan hal seperti itu,” Sera bergumam. Lalu Siria yang berada di sampingnya pun berbisik. “Itu hanya masalah waktu, kau tidak perlu mencemaskannya atau bahkan memikirkannya berlebihan.” Berkat perkataannya Sera pun menjadi tersenyum. “Jadi, biarkan aku memperkenalkan kedua bangunan ini kepada kalian. Yang berada di sebelah kanan kalian adalah kantin dan yang di sebelah kiri adalah ruang s*****a. Di dalam kantin biasanya orang-orang yang tinggal di Light Sanctuary ini beristirahat. Mereka juga kerap mengadakan pesta di sana. Aku sudah lama tidak menikmati bir putih di sini.” Redd tersenyum lebar. “Kau benar, nanti kita harus mencobanya. Bir putih di sini selalu membuatku berselera.” Membicarakan tentang bir putih, membuat Zachary dan Hans menatap aneh Julian beserta Redd. Di sela pembicaraan mereka, datanglah seorang lelaki yang berpakaian rapih dengan jas mantel tebal. Padahal ia hanya berjalan pelan dengan ekspresi datar, tetapi auranya sangat kuat seperti seorang bangsawan. Saat Julian melihatnya, ia langsung memberkan ekspresi terkejut dan memeluknya seperti seorang sahabat yang telah lama tak bertemu. “Astaga, bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tak berjumpa,” sapa Julian seraya memeluknya untuk sesaat. “Kabarku baik, kau pasti sangat sibuk hingga tak sempat berkunjung ke sini.” Lelaki itu menanggapi Julian dengan senyuman. Julian tersenyum. “Begitulah, akhir-akhir ini banyak yang harus kulakukan.” “Oh ya, apakah mereka teman-temanmu?” “Astaga, iya, aku hampir lupa mengenalkanmu,” kata Julian. Setelah itu pun Julian berbalik dan mengenalkan lelaki tersebut kepada yang lainnya. “Semuanya, perkenalkan ia adalah salah satu orang yang membantuku bersama Redd untuk mencipkatan Holy Sanctuary. Namanya Jholrd.” Zachary membungkukkan badannya. “Salam kenal, Jholrd.” “Terdengar aneh namanya, tetapi … salam kenal!” sapa Hans. Tidak lupa Sera dan Siria turut menyapa Jholrd. “Omong-omong, ada apa kalian beramai-ramai datang kemari?” tanya Jholrd. Julian tertawa kecil. “Kami ingin menggunakan arena Light Sanctuary. Jadi, bisakah kau menyiapkannya? Yang bertarung hanya dua orang, kau tidak perlu khawatir,” ujar Julian. “Wah, aku sudah lama tidak melihat ada yang menggunakannya. Dengan dengan senang hati akan kusiapkan untuk kalian,” ucap Jholrd. “Hei, tunggu dulu! Julian, kau tidak pernah memberi tahu sedikit pun kepada kami tentang arena atau apapun itu. Tolong jelaskan setidaknya apa saja yang akan kita lakukan di sini.” Zachary berkata. “Hmm, bukankah sudah kukatakan jika kita di sini akan berduel? Arena itulah tempat kita akan berduel nantinya.” Julian menjelaskan. “Kalau begitu, tunggu apa lagi? Jholrd dan yang lainnya, ayo kita pergi!” Mereka pun berjalan bersama-sama dengan panduan dari Jholrd yang nampaknya sudah hapal betul tata letak tempat-tempat di dalam Light Sanctuary. Lalu, mereka tiba di arena yang dimaksudkan sebelumnya. Dengan papan kayu besar terpampang jelas tulisan `Arena` dengan ukiran. Zachary dan lainnya terlihat kagum melihat bangunannya yang begitu besar. “Apkah ini tempatnya? Sangatlah besar jika untuk pertarungan satu lawan satu, tetapi di satu sisi menguntungkan juga untuk sihir dengan jangkauan area luas.” Zachary berkata. “Ya, ini tempatnya. Ayo masuk,” ujar Jholrd seraya mengambil kunci dari sakunya sekaligus membukakan pintu untuk yang lainnya. Setelah pintunya dibuka oleh Jholrd, terlihat sudah bagian dalam arena tersebut. Seperti tempat latihan yang kosong, langit-langit yang tinggi, juga ada sebuah tangga untuk mencapai bagian kecil di atas. Bagian itu mengelilingi arena, sepertinya akan dijadikan tempat untuk menonton pertandingan. “Bisakah kita langsung bertarung?” tanya Zachary. “Hei, bersiap-siaplah terlebih dahulu. Aku ini bukan sembarangan lawan untukmu lho!” cakap Julian kepada Zachary. “Baiklah untuk yang lainnya, ayo kita pergi ke atas. Jholrd juga akan mengatur semuanya dari atas,” ajak Redd. “Apa maksudnya `mengatur daru atas`? Apakah semacam pengendalian arena atau apa?” tanya Sera. “Jholrd nantinya akan menyalakan segel sihir perlindungan. Itu dilakukan supaya efek pertarungan di dalam sini tidak sampai keluar, jadi semuanya aman.” Redd menjelaskan. “Wah, tempat ini sangatlah hebat. Hei, Sera. Ayo kita pergi ke atas duluan lalu mencari posisi menotnon yang paling nyaman,” ujar Siria. Sera pun mengangguk dan keduanya berlari menuju tangga. Redd tersenyum dan setelah itu mengikuti keduanya untuk pergi ke atas bersama Jholrd. Setelahnya Jholrd mendekati sebuah rangkaian batu. Bentuknya seperti podium, tetapi disertai beberapa batu permata dan juga tulisan segel sihir yang tak dapat dimengerti di atasnya. Jholrd meletakkan telapak tangannya tepat di atas kumpulan batu permata, ia pun terlihat memusatkan energi sihirnya. “Sihir pembuka: Aktifkan Segel!” Tulisan segel sihir yang ada perlahan mulai bercahaya. Saat semuanya sudah menyala, rangkaian batu tersebut dikelilingi oleh lingkaran sihir. Tak lama setelah itu muncul pelindung sihir yang memisahkan antara tempat Zachary dan Julian bertarung dengan yang lainnya yang tengah menonton dari atas. Tak hanya berhenti di sana, ternyata pelindung sihir juga tercipta di bagian luar arena. Beberapa orang yang ada di luar arena nampak memperhatikannya dengan ekspresi sedikit terkejut. Mungkin saja karena sudah lama tidak ada yang menggunakan arena jadi mereka cukup terkejut karena akhirnya ada yang menggunakannya lagi. “Astaga, kau hebat sekali dapat membuat pelindung sihir seperti itu!” Sera memuji. Jholrd tertawa kecil. “Bukan begitu, diriku tak dapat membuat pelindung sihir sama sekali, tugasku di sini hanyalah membuka dan menutup segel pelindung sihir. Tidak lebih dari itu,” jelas Jholrd. “Ahh jadi seperti itu …,” lirih Sera nampaknya sedikit kecewa. “Kalian yang di bawah, semua pelindung sihir sudah siap. Kalian dapat mulai duelnya sekarang dan jangan lupa kalian dapat melakukan apapun dari dalam sana!” seru Jholrd berteriak. Julian langsung memberikan tanda jempol kepada Jholrd sementara Zachary bersiap. “Ingin bertaruh siapa yang menang?” bisik Hans kepada Redd. Redd menoleh. “Tidak akan. Aku bahkan tidak tahu kekuatan keduanya sampai sejauh mana. Aku tidak bisa langsung menilai.” “Ah, kau tidak asik untuk bertaruh.” Hans langsung memalingkan wajahnya   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN