Kembali lagi kepada Zachary dan Julian, keduanya terlihat sudah sangat siap untuk bertarung. Matanya sangat tajam menatap satu sama lain dengan wajah datar.
“Sudah siap untuk kalah?” ujar Julian.
“Hei, terbalik tahu. Seharusnya aku yang mengatakan hal itu.” Zachary menanggapi.
Julian setengah tersenyum. “Mari kita lihat siapa yang akan memenangkannya.”
“Sihir angin: Lift Up!” Zachary langsung meringankan beban tubuhnya. “Sihir angin: Wind Blade!” Dilanjutkan dengan sebilah pedang dari sihir anginnya. Tanpa basa-basi Zchary langsung mendekati Julian bersamaan dengan menebaskan pedangnya yang menciptakan gelombang sihir.
Julian nampak santai menghadapinya. “Sihir cahaya: Light Speed!” Ia langsung menghindar dengan kecepatan cahaya. “Kau tidak akan bisa mengejarku,” ujar Julian.
“Tunggu hingga aku menebas tubuhmu!” seru Zachary.
Keduanya melanjutkan pertarungan dengan begitu sengit. Pergerakannya pun begitu cepat, Zachary menebas seperti hembusan angin di puncak pegunungan sedangkan Julian menghindar terus menerus secepat cahaya. Bahkan Redd beserta yang lainnya kebingungan untuk melihat di mana posisi Zachary dan Julian saking cepatnya pergerakan mereka. Hingga beberapa saat setelah pertarungan kecepatan tanpa henti, nampaknya kecepatan angin memang kalah dengan kecepatan cahaya. Zachary berhenti bergerak hingga Wind Blade-nya menghilang.
“Sudah berhenti, apakah kemampuanmu hanya sampai di sana?” Julian berkata.
Zachary menghela napasnya dalam lalu langsung menghempaskannya. “Sihir air: Ledakan Air Laut!” Zachary menggunakan sihir airnya tetapi dengan mudah dihindari Julian. Zachary pun berdiri dan mengarahkan tangannya kepada Julian. “Sihir air: Pusaran Air Laju!” Sihir yang sama digunakan ketika melawan tiga orang misterius di wilayah warga biasa.
“Hei, sihirmu membosankan. Tidak ada kah sihirmu yang lain?” ujar Julian dengan nada mengejek.
“s****n!” teriak Zachary. “Sihir angin: Pusaran Angin Penghancur!”
Julian sepertinya tidak menyangka jikalau Zachary akan langsung memberikan serangan sihir balasan. Akibatnya Julian terangkat oleh sihir itu dan tak lama kemudian tubuhnya terlempar hingga menabrak pelindung sihir.
Zachary tertawa kecil. “Mau yang lebih kuat lagi?”
Dari posisi telungkup, perlahan Julian kembali bangkit seraya melakukan tawa jahat. “Ternyata kau boleh juga, mungkin aku terlalu meremehkan. Namun, apakah batas kemampuanmu hanya di situ saja? Jika iya, maka kau sungguh tidak pantas untuk melawanku. Lihatlah sejak tadi aku belum melakukan satu pun serangan tetapi kau sudah terengah-engah.” Julian berkata dengan cukup mengintimidasi.
"Si b*****h itu ...." Zachary tidak bisa menyangkal bahwa ia kelelahan dengan napas yang terengah-engah.
"Sekarang, bagaimana jika aku mulai menyerang … ya?" ucap Julian diikuti senyum mengejek.
Lalu, Julian bergerak secepat kilat ke belakang Zachary. "Sihir cahaya: Tembakan Cahaya!" Dalam waktu sekejap, Zachary yang baru saja bangkit harus kembali tersungkur.
“Ayolah, apakah tebakannya salah jika seorang Zachary memiliki kemampuan sihir yang lebih jauh daripada ini?”
Zachary mencoba kembali bangkit, ia menatap Julian dengan begitu tajam. “Sihir air: Gelembung Air Pelindung!” Sihir air lainnya dari Zachary yang membuat pelindung besar meutupi dirinya.
“Jadi, sekarang kita bertukar ya … aku yang menyerang dan kau yang bertahan,” ujar Julian. “Baiklah … sihir cahaya: Hunjaman Pedang Langit!” Seketika sihir cahaya Julian menciptakan belasan pedang dan langsung menghunjam Zachary seperti hujan yang turun dari langit.
Beberapa pedang cahaya dari Julian tidak dapat menembus pertahanan Zachary. Namun, beberapa sisanya menembus dengan mudah. Sepertinya pelindung dari sihir air Zachary melemah karena energinya sudah cukup terkuras. Akibatnya dari hal tersebut ialah salah satu pedang yang dihunjamkan Julian menusuk bahunya hingga sihir pelindungnya hilang dan tubuh Zachary membentur pelindung sihir yang mengelilingi tempat mereka bertarung.
“Astaga, tidak mungkin kakakku kalah begitu saja, kan?” gumam Hans.
“Tidak, jika prediksiku tentang batas kekuatan kakakmu benar … maka seharusnya Julian bisa dikalahkan dengan mudah,” ujar Redd.
“Apa yang kau maksud prediksi?” tanya Sera.
“Apakah kau seorang peramal?” Siria menambahkan pertanyaan Sera.
Redd menggelengkan kepalanya. “Astaga, pasti kalian melupakannya jika aku adalah penyihir bertipe seer yang bisa melakukan ramalan. Jadi aku meramalkan bagaimana besaran kekuatan Zachary dan yang kudapatkan ialah Zachary dapat meledakkan kekuatan yang sangat besar. Namun, ia selalu menutupi hal itu karena suatu hal.” Redd menjelaskan.
“Apa kau bisa meramal masa depan?” tanya Sera.
Lantas Redd kembali bergeleng. “Mungkin untuk perkiraan kedepannya akan bagaimana aku bisa melakukan prediksi terhadapnya. Jika benar-benar tertuju pada masa depanmu seperti apa, itu rasanya mustahil. Karena tidak ada yang tahu seperti apa jadinya masa depan.”
Siria mengangguk setelah mendengar perkataan Redd. “Masa depan itu tergantung bagaimana kita di masa ini dan semua yangkau perbuat akan kau dapatkan balasannya di masa yang akan datang.”
“Bukankah banyak peramal di koran yang mengaku kalau mereka bisa meramalkan masa depan seseorang? Aku sudah banyak melihat hal seperti itu saat membaca koran.” Hans berkata.
“Kau percaya dengan hal itu?” ucap Redd sambil mengerutkan alisnya. “Tidak aka nada yang benar-benar bisa melakukannya kecuali ia melakukan perjanjian dengan iblis atau memang orang tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa. Jika dipikir-pikir lagi, orang yang memiliki kemampuan seperti itu tidak akan dengan mudah menaruh promosi di koran,” tambahnya.
“Iblis? Bukankah hal itu terlalu kuno untuk dibahas?” tanya Hans.
“Ya, memang kekuatan iblis terdengar amat kuno dan ketinggalan zaman. Namun, siapa yang tahu apabila hal itu masih ada? Mungkin juga bersembunyi,” kata Redd.
“Sudah-sudah, intinya tidak ada yang bisa mengetahui masa depanmu apa secara langsung kan?” ujar Sera tiba-tiba.
“Kau benar, akan kuulangi lagi jika apa yang kita lakukan sekarang adalah apa yang akan kita dapatkan di masa mendatang. Jadi, kita harus berjuang keras untuk masa depan yang selalu diimpikan,” jawab Siria.