Beberapa saat kemudian ….
“Hei lihatlah!” seru Hans yang tiba-tiba berteriak. Ia menunjuk Zachary yang melepaskan pedang cahaya Julian dari bahunya. Lalu, Zachary berjalan tertatih-tatih ke arah Julian. Perlahan, tetapi langkahnya selalu pasti.
Nampak Redd yang merinding setelah menoleh ke arah Zachary. Bahkan rambut-rambut di lengannya sampai berdiri tegak. “Apakah itu benar-benar Zachary? Pancaran energi sihirnya sangat besar hingga terasa sampai sini,” ujar Redd.
Tidak berbeda dengan Redd, Julian juga nampaknya ikut merinding. “Apakah ini sungguhan? Perbedaan kekuatannya begitu jauh daripada sebelumnya. Energi sihirnya terasa begitu kuat padahal ia belum melakukan apapun,” gumam Julian dengan sebutir keringat melintasi dahinya. “Sekarang apa? Ingin membalasku dengan pancaran sihir kuat itu?” tanya Julian kepada Zachary.
Zachary terlihat begitu serius. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun hingga ia mengehmpaskan napas dan keluarah asap yang sepertinya adalah uap dingin. Semakin lama semakin jelas jika ada sihir kuat yang mengelilingi Zachary, penampakannya semakin pekat.
Zachary mengangkat tangannya ke atas dan semua sihir yang mengelilingi terpusat di tempat yang sama. “Ini untukmu yang selalu menganggapku remeh. Mungkin uangku tak sebanyak milikmu. Tapi … soal kemampuan, tidak ada yang tahu.” Zachary menuturkan sambil tersenyum lebar.
“Cih! Sihir cahaya: Hujaman Pedang Langit!” Tanpa melakukan basa basi lagi, Julian kembali menggunakan serangan yang sama kepada Zachary. Tidak cukup dengan hanya satu sihir, Julian melancarkan sihir berikutnya. “Sihir cahaya: Refleksi Pembiasan Cahaya!”
Ternyata yang dilancarkan Julian adalah sihir tingkat I yang membawanya menempati posisi kedua dalam pertandingan cipta kuasa. Sihir itu menyebabkan pedang-pedang sihir Julian seperti memiliki ilusi optik menjadi lebih banyak, samar berbayang.
Julian pun melancarkan serangannya. Akibat sihir tingkat I miliknya pula arah pedang yang menghunjam jadi berbelok sampai tujuan hunjamannya tidak bisa diprediksi.
Namun, Zachary tidak goyah sedikit pun. Ia hanya menurunkan tangannya dengan wajah datar dan semua pedang sihir Julian terhempas begitu saja. Setelahnya, Zachary kembali mengumpulkan energi sihir dan sihir yang mengelilinginya semakin pekat.
Zachary menghela napas dan langsung menghembuskannya. Uap dingin masih keluar juga ketika ia menghembuskan napasnya. “Sihir es: Glass Break!” Seketika itu juga semua energi sihir yang mengelilingi Zachary meledak.
Kekuatan dari sihir tersebut benar-benar dahsyat. Semua orang terpental ke belakang entah itu Julian, Hans, Siria, Jholrd, bahkan Zachary sendiri ikut terpental. Tidak hanya itu, meledaknya energi sihir yang begitu besar membuat seluruh lapisan sihir pelindung yang mengelilingi arena pertarungan hancur seketika. Dari bagian luar arena terlihat orang-orang dari Light Sanctuary yang terkejut sekaligus kebingungan bagaimana bisa pelindung sihir di arena dihancurkan. Bersamaan dengan hancurnya pelindung sihir itu pula udara dingin menyebar ke semua penjuru Light Sanctuary.
Ledakan itu memiliki sihir es yang berasal dari atribut air dan angin milik Zachary. Setelah kumpulan energi sihirnya meledak suhu di sekitar sepertinya menurun dalam seketika. Beberapa serpihan es juga tercecer di sekitar arena. Satu persatu dari semua yang ada di dalam arena bangun setelah terpental akibat sihir yang digunakan Zachary.
“Astaga apa itu tadi, kekuatannya sangat besar. Kepalaku sakit,” ungkap Jholrd. Lalu ia mengecek kembali rangkaian batu dengan permata untuk memastikan apakah segel untuk pelindung sihir di arena baik-baik saja atau tidak.
Jholrd begitu terkejut ketika melihat rangkaian batunya dan segel huruf sihir di atasnya sudah terhapus, hilang entah ke mana. “Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah sihirnya memang sebesar itu?”
“Ada apa Jholrd? Nampaknya kau sangat terkejut. Apakah karena sihir Zachary barusan?” tanya Redd.
“Tulisan segel yang membuat pelindung sihir terhapus karena sihir itu.” Jholrd berterus terang.
“Tidak mungkin, bagaimana bisa?” Redd ikut terheran karenanya.
“Hei, ayo pergi ke bawah! Sepertinya Julian dan Zachary membutuhkan bantuan,” ajak Sera kepada yang lainnya setelah ia melihat Julian dan Zachary yang masih tergeletak tak bergerak di pojok arena yang berlawanan.
Semuanya turun ke arena menghampiri Julian dan Zachary. Untung saja keduanya masih sadarkan diri. Hanya saja beberapa luka terlihat dengan jelas, terutama pada bahu Zachary yang sempat tertusuk oleh sihir Julian. Beruntung pedang sihir Julian tidak dapat menusuk hingga menembus bahu Zachary menjadikan lukanya tidak begitu serius.
“Menyingkirlah sebentar, biarkan Jholrd menangani luka mereka berdua.” Redd berkata.
“Eh, apakah Jholrd memiliki sihir penyembuh juga?” tanya Sera.
Jholrd menghela napasnya. “Sebenarnya bukan sihir penyembuhan juga, tetapi fungsinya kurang lebih sama,” ujar Jholrd.
Setelahnya Jhorld mendekati Zachary lalu menaruh telapak tangan pada luka di bahunya. Lingkaran sihir mengelilingi tangan Jholrd, seketika itu juga perlahan luka di bahu Zachary tertutup rapat tanpa meninggalkan bekas. Begitu pula dengan Julian, setelah Jholrd menggunakan sihirnya semua luka sisa pertarungan hilang.
Julian menghempaskan napas lega. “Terima kasih Jholrd,” ujar Julian.
“Tak masalah, itu bukan apa-apa.”
“Itu sihir yang menakjubkan. Aku tidak merasakan apapun, tiba-tiba semua lukanya sudah tertutup dan tidak ada bekasnya,” ujar Zachary.
Julian berdiri setelah disembuhkan Jholrd. “Baiklah, aku akui kemampuanmu Zachary. Aku mengaku kalah dan sangat terkejut kau dapat menggunakan sihir tingkat nol. Terlebih lagi itu adalah sihir es.” Julian memuji Zachary.
Setelahnya Julian mengulurkan tangannya kepada Zachary untuk berdiri dan Zachary menggapai tangan Julian.
“Tunggu, apakah yang baru saja kugunakan benar-benar sihir tingkat nol?” tanya Zachary.
Julian mengangguk pelan. “Sihir tingkat I adalah sihir atribut dasar yang sudah dikembangkan seperti sihir-sihirmu yang sebelumnya. Lalu, sihir tingkat nol ialah gabungan dari atribut dasar yang menciptakan atribut sihir baru,” jelas Julian.
“Bagaimana denganmu yang hanya memiliki atribut sihir cahaya, Julian?” tanya Hans.
“Untuk seseorang dari keluarga terpandang sepertiku memiliki atribut sihir khusus. Sebenarnya sama saja, tetapi untuk mencapai tingkat nol dengan atribut baru itu bukan hal yang mudah,” jawab Julian.
“Sudahlah, apa kalian tidak lelah? Mari pergi ke kantin Light Sanctuary dan nikmati bir putih bersama-sama,” ajak Redd.
“Hei, mengapa kau sangat terburu-buru? Bukankah jika ada bagusnya jika kita bertarung terlebih dahulu, rivalku?” Hans berkata seperti itu kepada Redd dan kedengaran sangat menantang untuk bertarung.
Julian tertawa kecil. “Aku berharap kalian tidak benar-benar bertarung. Jangan macam-macam dengan Redd, nanti kau bisa celaka karenanya,” ucap Julian.
“Apa salahnya jika kami bertarung?” tanya Hans.
“Kau tidak akan sanggup menandingi sihirnya.” Julian menanggapi.
“Hoi, bagaimana bisa aku tidak sanggup untuk hanya melawan atribut sihir bumi? Lagi pula kami sudah pernah bertarung sebelumnya. Kau ingat saat itu di lapangan sekolah, kan?” Hans bertanya-tanya.
Julian menghela napasnya. “Kau hanya belum melihatnya ….”
Jholrd berdeham. “Redd, bisa tolong bersihkan arenanya?”
Redd langsung mengangguk begitu mendengarnya. “Tentu, akan kulakukan.”
“Tempat ini begitu berantakan selepas pertarungan tadi, apa kau yakin dapat membereskan semuanya?” tanya Siria.
Redd hanya tersenyum tipis lalu ia berjalan ke bagian tengah arena. Ia membersihkan beberapa serpihan es dan menyingkirkannya. Setelah itu ia letakkan kedua telapak tangannya ke lantai arena. “Restoration!” Redd menggunakan sihirnya. Perlahan seluruh bagian arena yang hancur ataupun retak akibat pertarungan tadi kembali seperti semula. Hal ini nampak tidak jauh berbeda ketika pertarungan Redd dan Hans di lapangan sekolah. Ketika tanah lapangan hancur dan setelah itu dapat kembali seperti semula.
Hans membisu untuk beberapa saat hingga akhirnya ia berbicara lagi. “Aku rasa itu bukan atribut sihir bumi, semua yang hancur kembali seperti semula … itu menakjubkan tetapi di saat yang bersamaan aku berpikir bagaimana hal itu bisa terjadi.”
Julian menghampiri Redd. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya.
“Aku baik-baik saja, ayo kita pergi minum bir putih!” seru Redd.
“Dasar, kau ini.” Julian sambil tertawa. “Semuanya, ayo ikuti aku dan kita akan beristirahat di kantin Light Sanctuary, aku yang traktir semuanya!”
“Ayo pergi!” seru Sera begitu semangat mendengar kata `traktir`.