“Tetapi….” Agatha masih sedikit ragu.
“Kekeke, aku tahu kau sedang sangat tertekan dengan semua kejadian sialan ini. Kau bisa menghilangkannya sejenak sambil melihat putik-putik bunga yang mulai mekar indah di luar sana. Aku mempunyai metode dalam menghilangkan penat dan kegelisahan di dalam diriku, yang pertama aku akan membaca buku lalu aku tidur, kemudian aku merokok sambil menatap langit, jika musim semi aku akan berdiri tegak di bawah pohon sakura menikmati bunganya jatuh ke tanah atau ketika musim gugur aku melakukan hal yang sama sambil menikmati daun berguguran. Melihat kedua hal itu gugur aku senang dan tumbuh keyakinan di dalam diriku bahwa kepenatan, kesuntukan, kegelisahan, atau apa pun ikut gugur lalu semuanya terasa ringan dan kau mulai bisa tersenyum kembali. Namun, yang paling indah adalah melihat nyawa orang melayang karena ketakutan atau gugur dalam penyesalan karena telah melakukan kejahatan. Menyenangkan bila aku bisa membuat nyawa mereka melayang.” Agatha mencerna ucapan Detektif Joker sambil berpikir karena ucapannya panjang. Benar sekali, ada beberapa hal yang sedang dipikirkannya di dalam otaknya dan itu terasa penat serta kegelisahan di dalam hati yang membuatnya tidak tenang.
“Aku rasa aku harus mencobanya,” jawab Agatha setelah beberapa saat dia berpikir.
“Kau memang harus mencobanya,” sahut Detektif Joker. Agatha lalu mengambil mantel di kamarnya. Beberapa barang Agatha sudah mulai dipindahkan meskipun tidak semuanya karena rumah Agatha masih dalam penyelidikan. “Akan aku panggil dia untuk menemanimu. Dia tidak akan menolak.”
Bising di tengah kota Las Vegas benar-benar memekakkan telinga. Suara segerombolan anak muda yang memakai berbagai kostum tengah bercanda ria tanpa risih. Jangan heran jika kita akan melihat berbagai pertunjukan di pinggir jalan. Memang tidak seramai di Broadway, New York City, tetapi cukup seru untuk dinikmati di musim semi. Anak-anak muda generasi milenial di sana sangat kreatif mengeluarkan kreatifitas mereka tanpa larangan dan batas. Suara dari casino besar juga memekakkan telinga, lagu-lagu yang terputar dari toko-toko pinggir jalan menambah semarak musim semi. Las Vegas memang tempat paling menyenangkan untuk hiburan. Semua hal ada di sana dan bisa disebut sebagai surga kecil dunia. Tidak heran memang di daerah dekat apartemen Detektif Joker sangat banyak ditemukan anak-anak muda bergaya nyentrik karena memang apartemen Detektif Joker sendiri berada di dekat tengah kota yang merupakan pusat dari dunia gemerlap perjuadian.
“Kau bisa memegang tanganku jika takut akan tersesat,” kata Jea sambil menawarkan tangannya. Agatha menatapnya ragu sejenak, tetapi dia akhirnya menerimanya setelah itu.
Lagi dan lagi Azalea Hilton datang untuk memenuhi permintaan sang detektif menemani wanita yang tinggal di rumahnya. Dia sebenarnya keberatan dengan paksaan tersebut, tetapi ancaman Detektif Joker berhasil membuatnya tidak bisa mengelak. Selain itu dia memang tidak bisa membiarkan tertuduh bepergian tanpa pengawalan dan yang terpenting hanya berdua saja dengan detektif mengerikan itu. Banyak pikiran buruk menyerang Jea kemudian keputusannya jatuh kepada setuju untuk menemani wanita itu.
“Kau ingin ke mana? Ingin ke taman atau kau ingin melihat-lihat barang di pusat perbelanjaan? Kau bisa membeli kosmetik untuk tubuhmu. Aku lihat kau terlihat sedikit pucat dan kantung matamu menghitam. Kau tidak tidur beberapa malam ini dan kau kurang mengkonsumsi air putih. Belilah masker penghilang kantung mata. Kau akan terlihat lebih segar nanti.” Nasihat Jea dengan tulus.
“Baiklah, aku akan membelinya,” jawab Agatha pelan. Jea kemudian mengajak Agatha memasuki pusat perbelanjaan yang cukup besar, tempat yang lebih ramai daripada jalanan yang mereka lewati tadi. Jea memperhatikan sekelilingnya mencari keberadaan sang detektif yang tadi mengikuti keduanya sembari fokus menyelidiki orang-orang mencurigakan yang mungkin saja tengah mengincar Agatha saat ini. Kemungkinan tersebut pasti ada karena dia sangat yakin pelaku sebenarnya tengah mencari Agatha saat ini.
“Hati-hati, jangan sampai lepas dari peganganku. Kau bisa dalam bahaya jika terlepas,” kata Jea yang mengeratkan genggaman tangannya di tangan Agatha. Agatha juga memegang lengan sang polisi cantik dengan satu tangannya yang bebas. Dia benar-benar takut tersesat di tempat yang berdesakan tersebut.
Setengah jam mereka berkeliling di pusat perbelanjaan dan hal tersebut cukup melelahkan. Detektif Joker akhirnya muncul di dekat mereka kemudian mengajak Jea dan Agatha untuk makan siang. Sebuah tempat makan di dekat hotel Bellagio. Detektif Joker memperhatikan Jea serta Agatha yang duduk di depannya selagi mereka menunggu pesanan makanan mereka datang.
“Boleh aku bertanya?” kata Detektif Joker tiba-tiba. Agatha mengerutkan keningnya dan menatap Detektif Joker. Lalu ia mengangguk. Jea juga melakukan hal yang sama.
“Siapa nama orang tuamu? Mungkin aku mengenalnya,” kata Detektif Joker. Agatha langsung menggeleng. Kali ini Detektif Joker yang mengerutkan keningnya.
“Kenapa? Aku hanya ingin tahu,” jawab Detektif Joker lagi.
“Aku tidak ingin orang tahu. Maaf, Detektif,” jawab Agatha pelan. Detektif Joker memperhatikan Agatha yang menunduk lagi. Banyak hal yang dipikirkan Detektif Joker tentang Agatha. Masih banyak misteri di dalam diri Agatha yang belum dia ketahui meskipun ia bisa membaca gelagat Agatha. Dia sudah mencari informasi mengenai wanita tersebut dan sudah menemukan beberapa hal yang masih dia rahasiakan. Dia juga sudah menyuruh Jea untuk membantunya menyelidiki lebih lanjut tentang terduga mereka. Kantor kepolisian mempunyai banyak akses untuk tahu mengenai jati diri masyarakat.
“Kau menyembunyikan sesuatu, Wanita Sialan. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan kepadaku, kau bisa memercayaiku,” kata Detektif Joker yang tahu jelas ada sesuatu disembunyikan oleh Agatha pada dirinya. Detektif Joker ingin mengetahuinya karena Agatha yang sangat tertutup kepadanya. Jea tidak menyela sama sekali. Dia sibuk dengan pesanan makanan mereka.
“Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu. Sungguh,” kata Agatha yang terdengar sangat tidak yakin. Dia merasa terintimidasi atas sikap sang detektif. Jea akhirnya mengambil alih menenangkan Agatha dengan cara menepuk pelan bahunya dan mengangguk kecil. Mengisyaratkan dia untuk jujur.
“Sorot matamu tidak fokus, keningmu berkerut. Embusan napasmu tidak teratur, ketika aku memegang tanganmu tadi aku bisa merasakan denyut nadimu yang tidak teratur dan terkesan cepat. Beberapa rambut halus di kepalamu terlihat berdiri, kau tahu semua ciri itu menunjukkan bahwa pemiliknya sedang mempunyai suatu hal yang dipikirkannya dan kau berusaha menyembunyikannya.” Agatha mengembuskan napasnya pelan lalu dia menatap Detektif Joker.
“Kau benar, aku memang menyembunyikan sesuatu, Detektif,” jawab Agatha mengalah. Dia menunduk lagi setelahnya.
“Kau bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia akan berusaha melindungimu bila kau tidak bersalah. Percayalah kepadaku dan dia.” Jea menangkan lagi. Agatha melihat sorot mata polisi cantik tersebut menenangkannya. Jauh berbeda dengan detektif gila tersebut yang selalu mengintimidasi. Dalam benaknya, bagaimana mungkin kedua orang tersebut memiliki hubungan khusus padahal mereka memiliki sifat yang jauh berbeda.
“Kau ingin menceritakannya kepadaku atau tidak?” tanya Detektif Joker mendesak. Agatha masih diam. “Aku bersedia mendengarkannya,” sambung Detektif Joker. Agatha masih tidak bereaksi.
“Baiklah, tidak perlu kau paksakan jika tidak ingin menceritakannya kepadaku, tetapi jangan salahkan aku jika aku mengetahui apa yang kau sembunyikan itu nanti. Kau pasti tidak akan bisa mengelak lagi.” Detektif Joker mendapati Agatha yang menatapnya dengan tatapan takut. Detektif Joker lalu tersenyum penuh dengan kemenangan membalas tatapan itu. “Kau pikir aku tidak bisa melakukannya? Keh! Kau salah berhadapan dengan orang!”
“Jangan, aku tidak ingin kau tahu,” ucap Agatha dengan gelisah.
“Jangan terlalu memaksanya, kau menakutinya. Biarkan dia tenang terlebih dahulu. Bukankah tujuanmu mengajaknya keluar seperti ini agar dia merasa tenang setelah tertekan?” Jea membela Agatha.
Detektif Joker tidak menanggapi, dia justru menatap tajam Azalea yang saat ini terang-terangan menentangnya. Ingin sekali dia membuat wanita tersebut diam dan menurut saja apa yang dia perintahkan. Mungkin dia akan memberikan hukuman kepada polisi cantik itu agar tunduk kepadanya.
“Ini sesuatu yang menarik sekali, aku tahu ada sesuatu yang menarik yang kau sembunyikan. Tentang jati dirimu. Siapa kau sebenarnya Agatha Benz. Ah bukan, Agatha Roths lebih tepatnya ?” Detektif Joker bisa melihat sorot mata Agatha yang sedikit ketakutan. Detektif Joker semakin yakin dibuatnya setelah melihat ekspresi tersebut. Beberapa hari semakin dia mengenal Agatha, semakin ada yang ganjil dengan dirinya.
“Sebaiknya kau jangan tahu, Detektif Joker. Cukup aku yang tahu semua tentang diriku. Maaf,” kata Agatha menjawab masih dengan ketakutan. Detektif Joker akhirnya mengembuskan napasnya. Dia semakin tertarik dengan jati diri Agatha yang sebenarnya. Jelas wanita di depannya ini bukan orang biasa. Detektif Joker tahu nalurinya mengatakan ini bukanlah diri Agatha yang sebenarnya. Sesuatu disembunyikan oleh Agatha.
“Baiklah, sebaiknya kita makan. Aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri. Aku ini seorang detektif, sesuatu yang tersembunyi bisa terlihat di mataku. Sesuatu yang tersembunyi di gelapnya asap akan terlihat olehku.” Agatha diam tidak berkata apa pun lagi. Dia lalu meminum minumannya dengan perlahan. Detektif Joker memperhatikan Agatha tanpa lepas.