“Mengejutkan mendengar kau berbicara mengenai cinta,” komentarnya dengan nada yang cukup heran. “Baiklah, aku mengerti,” jawab Tanaka setelah dia berpikir detektif gila itu hanyalah manusia biasa sama sepertinya. Kali ini Detektif Joker menepuk-nepuk punggung rekannya dengan cukup keras dan Tanaka hanya membiarkannya.
“Aku rasa kau harus berkenalan dengannya. Dia cukup menyenangkan,” kata Detektif Joker sambil menghentikan gerakan menepuk punggung rekannya. “Agatha, kemarilah. Rekanku ingin berkenalan denganmu!” seru Detektif Joker dari ruang tamu. Agatha yang dari tadi berada di ruangan lain Detektif Joker akhirnya keluar. Dia menunduk dan berjalan mendekat. Sebenarnya Agatha mendengar pembicaraan Tanaka dan Detektif Joker kemudian dia merasa sedikit tidak enak karena menjadi beban. Dia juga tadi mendengar perbincangan sang detektif dengan polisi cantik yang membantunya. Menurut dugaannya kedua orang itu memiliki hubungan khusus.
“Tidak apa-apa, kemarilah,” kata Detektif Joker sambil memberikan tempat duduk untuk Agatha. Tanaka memperhatikan dengan teliti diri Agatha. Wanita itu cantik. Sungguh, Tanaka tidak dapat menyangsikan hal itu. Baru ini dia melihat wajahnya dengan jelas. Wajah khas kaukasoid, sepertinya dia berdarah campuran. Iris matanya cokelat terang, kulitnya putih, tetapi tidak pucat. Warna rambutnya coklat dan matanya cukup besar.
“Halo…,” kata Agatha sedikit terbata.
“Dia orang Amerika, tetapi ibunya orang Korea. Dia berdarah campuran, tetapi dia tidak bisa berbahasa Korea. Gunakan bahasa Inggris padanya.” Detektif Joker memberitahu Tanaka. Tanaka mengulurkan tangannya.
“Halo,” jawab Tanaka sekenanya. Detektif Joker mengembuskan napasnya pelan mendengar jawaban Tanaka.
“Namanya Tanaka dan salah satu rekanku yang cukup menyebalkan. Dia yang mengejarmu waktu itu. Jangan khawatir berlebihan, aku sudah memberinya pengertian dan dia sekarang sudah paham. Kau tidak perlu takut kepadanya karena dia yang akan bertugas mengawasimu di sini,” ucap Detektif Joker sambil ikut duduk di sebelah Tanaka. Sekarang Tanaka yang kebingungan.
“Maafkan aku jika membuatmu tidak nyaman Tanaka,” kata Agatha pelan. Tanaka mengalihkan matanya lagi menatap Agatha. Dilihat Tanaka sekarang Agatha tengah menunduk. Dia tidak tega juga bersikap acuh tidak acuh kepada Agatha. Ya ampun, apa dia ikut-ikutan merasa kasihan juga terhadap wanita asing ini seperti rekannya yang jarang sekali merasa kasihan?
“Tidak apa-apa. Aku sudah mengerti, kuharap kau bisa nyaman tinggal di sini serta mendapat perlindungan dari Detektif Joker dan aku yang akan mengawasimu bila dia tidak ada,” jawab Tanaka akhirnya. Detektif Joker menyeringai mendengar jawaban Tanaka. Dia tahu Tanaka sama sepertinya yang memiliki hati baik. Hanya kadang-kadang dia sedikit keras kepala dan tidak mudah menunjukkan perasaannya kepada orang lain. Alasan lain dia sangat baik pada Agatha adalah karena dia mempunyai satu-satunya adik perempuan yang sekarang menjadi artis di negara asal ibunya. Dia dan adiknya juga merupakan korban orangtua yang dibunuh karena kejahatan politik. Dia melihat Agatha sangat mirip dengan adiknya dan merasa apabila adiknya ada di dalam posisi Agatha saat ini pastilah dia tidak akan tinggal diam. Meskipun dia dan adiknya berpisah negara, mereka selalu berhubungan baik setiap harinya. Mereka berteleponan dan bertukar kabar. Hanya kepada adiknya sang Detektif Joker menjadi dirinya sendiri.
“Detektif, aku ada janji untuk bertemu dengan temanku hari ini,” kata Tanaka yang sekarang berbicara kepada Detektif Joker. “Berikan aku uang gaji hari ini, aku meminta dengan Mark, tetapi Mark mengatakan untuk meminta denganmu. ‘Minta saja uang dengan Detektif, aku tidak sempat untuk mentransfer uang gajimu hari ini. Sebentar lagi aku akan take-off pesawat’ itu yang Mark katakan kepadaku ketika aku meneleponnya. Entah itu hanya alasannya atau apa,” sambung Tanaka dengan wajah kusut. Agatha hanya mendengar pembicaraan Tanaka dan Detektif Joker sambil memain-mainkan jari tangannya.
“Kekeke, tunggu sebentar,” ujar Detektif Joker sambil mengunyah permen karet dan dia membuka dompetnya. Menyerahkan beberapa puluh lembar dolar pecahan seratus kepada Tanaka. “Biasanya kau memang selalu meminta kepadaku langsung, sialan,” sambung Detektif Joker masih terkekeh geli. Tanaka tersenyum senang sambil mencium uang yang ada di tangannya. Agatha mau tidak mau ikut tersenyum kecil melihat hal itu.
“Terima kasih, Detektif!” ucap Tanaka masih dengan senyum terkembangnya. Detektif Joker membalasnya dengan gumaman seadanya dan dia sempat melihat senyum Agatha. Ternyata wanita itu bisa tersenyum juga pikir Detektif Joker.
“Aku harus pergi, kereta ke tempat perjanjian akan berangkat setengah jam lagi. Oh ya, Detektif tadi Mark menelponku, katanya dia akan pergi beberapa hari ke San Francisco bersama kekasihnya yang baru. Sepertinya mereka akan menghabiskan musim semi di sana dan sepertinya mereka akan segera menikah.” Detektif Joker mengangguk saja mendengar perkataan Tanaka yang tiada henti. Sebenarnya dia sudah sangat tahu kebiasaan Mark sahabatnya itu, dia akan menghabiskan waktu musim semi selama seminggu ketika bunga-bunga bermekaran untuk bersama kekasihnya itu. Dia sudah paham dan artinya Mark tidak bisa dia ganggu.
“Ya biarkan saja, sekarang aku juga mempunyai teman di rumah ketika kalian berdua sibuk. Benar kan, Nona?” Agatha langsung mengangkat kepalanya lagi ketika Detektif Joker berbicara kepadanya.
“Eh, Apa?” tanya Agatha bingung.
“Aku mempunyai teman di rumah ketika rekan sialanku dan sahabat sialanku sibuk,” ulang Detektif Joker dan Agatha yang masih belum paham akhirnya mengangguk saja.
“Baiklah aku pergi dulu, Detektif dan Nona Agatha. Aku akan tidur di rumahmu malam ini. Hubungi aku jika kau ada apa-apa ketika aku pergi,” kata Tanaka yang sekarang memasang sepatunya di depan pintu keluar.
Setelah Tanaka pergi saat ini di dalam ruangan itu hanya ada Agatha dan Detektif Joker. Agatha masih duduk sambil menunduk dan memain-mainkan jari tangannya. Detektif Joker berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan Agatha. Dia tidak terbiasa dekat dengan wanita asing. Dia sempat berpikir untuk menyuruh Jea tinggal di apartemennya menemani wanita itu sekaligus menyiksa Jea karena sang polisi cantik tidak jujur kepadanya.
“Hei apakah kau ingin berjalan-jalan keluar menenangkan pikiran?” pertanyaan Detektif Joker itu berhasil membuat Agatha mengangkat kepalanya dan menatap Detektif Joker yang terlihat lebih manusiawi daripada sebelumnya.
“Ah, tidak, aku tidak ingin keluar,” jawab Agatha pelan. Detektif Joker mendekatinya kemudian dia duduk di kursi depannya sambil mengelus senjata api laras panjang yang tadi tergeletak di meja. Gayanya seperti orang yang ingin menginterogasi. Diakui Agatha aura yang dimiliki Detektif Joker memang cukup mengerikan ditambah dia memegang senjata laras panjang.
“Aku tahu kau ingin keluar. Aku bisa meminta seseorang untuk menemanimu dan tenang saja kau aman. Pelaku pembunuhan sialan itu tidak akan datang mengincarmu. Dia sedang bersembunyi di suatu tempat sambil menyembunyikan belangnya sendiri. Bila pun dia berani, aku akan menembaki kepalanya hingga mati.” Detektif Joker masih memandangi Agatha tepat di matanya dan itu membuat Agatha menunduk lagi. Dia benar-benar takut berhadapan dengan sang detektif yang meskipun tampan, tetapi dia mempunyai sesuatu yang membuat orang tunduk dan juga takut terhadap dirinya bahkan tanpa senjata api yang sering dia gunakan untuk mengancam.