“Ini pertama kalinya dia ikut makan bersama dengan kita semenjak pertama kali bergabung dengan divisi kita,” ucap Amanda sambil berbisik kepada Jea. Amanda adalah rekannya di kantor, mereka berdua sangat akrab karena seumuran dan seangkatan. “Kuakui, melihatnya dari dekat dan terkena sinar matahari seperti ini membuatnya jauh lebih tampan dari biasanya. Memang dia sedikit menakutkan, tetapi itu bisa diatur,” sambungnya masih dengan nada berbisik.
“Dia tidak tertarik dengan wanita,” bisik Jea sambil melirik Detektif Joker sekilas.
Mata Amanda membulat karena terkejut dengan ucapan temannya.
“Dia….” Amanda tidak sempat meneruskan ucapannya karena Jea menutup mulutnya dengan cepat.
“Jangan ucapkan, dia bisa mendengar percakapan kita. Cukup tahu di dalam hati.”
Amanda mengangguk kemudian melirik Detektif Joker yang tengah mengobrol bersama atasan mereka. Memang orang tidak bisa dinilai dengan penampilan, hal tersebut sangat disayangkan pikir Amanda. Namun, asumsi Jea dan Amanda belum terbukti benar karena mereka hanya mendengar gosip yang beredar di kantor.
“Aku cukup kecewa,” akunya secara jujur.
Keduanya tidak membahas lebih lanjut karena pada saat itu makanan pesanan mereka tiba. Semua orang mulai makan sambil bercerita. Jea menangkap dari sudut matanya sang detektif saat ini tidak terlalu berminat mendengarkan obrolan yang sedang berlangsung. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menyuap makan dengan pelan. Dia tampak berbeda dari biasanya yang selalu bersikap sinis dan sombong.
“Detektif, apakah Anda tidak suka makanannya?” pertanyaan itu terlontar dari kepala divisi yang mengajak mereka semua untuk makan siang.
“Kau bisa memilih banyak pertanyaan lain selain pertanyaan tadi,” komentar Detektif Joker tanpa minat. Dia nyaris tidak terlalu peduli sebenarnya dengan pertanyaan lain, hanya saja dia saat ini tengah fokus mencuri dengar obrolan dua orang wanita yang duduk berjarak tiga kursi darinya sekarang. Telinganya cukup tajam untuk bisa mendengar bisik-bisik keduanya.
“Maaf bila pertanyaan saya kurang berkenan, silakan lanjutkan makan Anda.”
“Saya ingin bertanya, apakah salah satu anak buah Anda yang berada di sini memiliki waktu luang untuk membicarakan orang secara bebas meskipun orang yang menjadi objek pembicaraan ada di depan mata mereka?”
Semua orang yang ada di sana saling pandang, kecuali Jea dan Amanda yang saling tatap satu sama lain. Benar dugaan yang Jea pikirkan tadi, detektif tersebut bisa saja mendengar bisik-bisik mereka.
“Saya punya banyak waktu luang untuk mendengarkan bisik-bisik tersebut secara langsung. Hei, kau harus menghukum anak buahmu itu karena berlaku tidak sopan,” kata Detektif Joker sambil menatap Jea dan Amanda secara tajam. “Kepala Divisi tentu akan memberikan izin, bukan?” tanyanya lagi kepada kepala divisi.
Kali ini kepala divisi menatap satu demi satu anak buahnya yang ada di meja makan. Tatapannya berhenti ke arah Jea dan Amanda yang tampak menunduk sambil melanjutkan makan dengan tidak berselerah. Mereka sudah pasti ketahuan oleh sang detektif dan kepala divisi. Sekarang yang mereka pikirkan hanyalah mengenai hukuman apa yang akan diberikan kepada keduanya.
“Tentu saja, Anda bisa memberikan izin,” jawabnya setelah berpikir beberapa saat. Dia sebenarnya kasihan kepada kedua anak buahnya tersebut, tetapi dia tahu dengan jelas bagaimana terkenalnya Detektif Joker dengan paksaannya yang tidak mengenal ampun.
“Bagus, setelah ini saya akan meminjam salah satu di antara mereka. Saya akan membuat perhitungan dengannya.” Detektif Joker tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Jea. Sementara Jea dan Amanda sama-sama cemas di dalam hati. Keduanya berpikir siapa yang akan ‘dipinjam’ oleh sang detektif untuk diberi hukuman.
♆♆♆
Tanpa menunggu basa basi lagi setelah makan selesai, Detektif Joker menarik Jea yang baru selesai minum. Semua orang yang bahkan belum selesai makan terlihat heran kemudian mengerti bahwa Jea adalah pelaku utama dari kesalnya sang detektif beberapa saat lalu. Amanda terkejut karena hanya Jea yang dibawa untuk dihukum. Dia menyesal bukan kepalang karena dialah yang awalnya membicarakan sang detektif, tetapi sahabatnya yang harus menerima hukuman.
“Kau akan membawaku ke mana?” tanya Jea sambil berusaha untuk menyamai langkah kaki sang detektif yang lebar. Dia harus melakukannya karena tangan Detektif Joker saat ini menariknya dengan erat. “Bisa berjalan perlahan? Hei! Apa kau mendengarku?” kesalnya.
“Naik,” perintahnya saat tiba di parkiran. Dia menyuruh Jea untuk naik ke mobilnya. Jea menatap heran dengan pandangan matanya ke arah mobil lalu ke arah pria yang saat ini berada di depannya. “Aku masih berbaik hati untuk tidak memaksamu. Sepertinya kau perlu diberi sedikit pelajaran, Nona Polisi,” ucap sang detektif sambil menyeringai kesal.
Jea akhirnya mengalah kemudian masuk ke mobil milik Detektif Joker. Dia pasrah akan dibawa ke mana oleh sang detektif, tetapi yang Jea yakini detektif itu tidak akan melakukan hal buruk kepadanya. Entah mengapa dia yakin hal tersebut tidak akan terjadi meskipun bila dilihat dari sifat kasar dan seenaknya dia pasti bisa melakukan hal yang akan membuat Jea merasa trauma kepadanya.
Keduanya melewati jalanan yang cukup ramai di siang hari tersebut. Jea menatap pejalan kaki yang lewat sembari berdoa kepada Tuhan untuk keselamatannya kali ini. Dia merasakan ponselnya berbunyi dan Jea dengan cepat melihat pesan masuk dari Amanda yang mengkhawatirkannya. Jea tahu mengapa hanya dia yang dibawa pergi oleh sang detektif, pertama karena dia tadi sudah mengancam pria tersebut sebelum mereka pergi makan dan kedua karena dia sempat mengucapkan bahwa Detektif Joker tidak menyukai wanita. Ya Tuhan, dia menyesal telah berurusan dengan pria menakutkan seperti ini. Bila waktu bisa diputar dia ingin menarik semua kata-katanya.
“Terlihat jelas di wajahmu kau ketakutan,” ejek sang detektif kepada Jea.
“Aku tidak takut kepadamu!” tegasnya.
“Manusia nyaris selalu berbohong di saat terdesak,” komentarnya sambil menyetir dengan santai melewati daerah yang lebih sepi.
“Aku tidak berbohong!”
“Kau sepertinya lupa siapa aku, Nona. Membaca kebohongan adalah keahlianku.”
Jea akhirnya memilih tidak menjawab karena percuma berdebat dengan pria seperti detektif mengerikan tersebut sama saja dengan membuang-buang waktunya yang berharga.
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai sang detektif berhenti di sebuah danau buatan yang luas. Jea tahu daerah tersebut karena tidak jauh dari rumahnya. Di tempat tersebut cukup sepi di siang hari. Biasanya baru akan mulai ramai pada sore hari ketika orang-orang banyak berjalan membawa hewan peliharaan mereka atau anak-anak mereka untuk menghilangkan penat.
“Bagaimana kau bisa mengatakan aku tidak tertarik dengan wanita?” tembaknya langsung. Jea tahu hal itu akan dibahas, tetapi dia tidak tahu efeknya sangat berat ketika mendengar suara pria yang berada di sampingnya menanyakan secara langsung dengan suaranya yang membuat Jea merinding.