Untitled Episode

1036 Kata
“Kau harus membayar mahal tuduhan tersebut.” Detektif Joker berbicara dengan nada sangat serius yang membuat Jea sedikit takut karena nada suara tersebut. “Aku minta maaf karena asal berbicara mengenai dirimu. Aku kesal kepadamu karena kau menyebalkan!” Jea memilih untuk membela diri meskipun dia merasa takut. “Tuduhan tidak benar dan mengandung fitnah adalah tindakan yang salah. Ada undang-undang yang mengatur hal tersebut apabila terbukti salah. Kau pasti paham hukum tersebut, Nona. Lalu aku orang yang bisa menuntut pembual sepertimu yang sudah menyebarkan berita palsu tentang seseorang tanpa adanya bukti dan tanpa adanya saksi.” Jea menutup matanya perlahan. Dia memang salah telah berbicara tanpa bukti dan juga tidak menjaga ucapannya. Dia salah telah berurusan dengan pria gila satu ini. Kekesalan yang dia luapkan menjadi perkara sulit karena sang korban tidak terima dengan ucapannya. Bila dipikir-pikir sebenarnya dia selalu terlibat perkara dengan sang detektif. Entah mengapa sepertinya Tuhan sedang menghukumnya karena telah bermain-main dengan iblis. “Atas dasar apa kau mengatakan aku tidak menyukai wanita?” tanyanya lagi kali ini sambil menodongkan senjata api di kepala Jea. Jea menelan ludahnya perlahan karena dia tengah berhadapan dengan maut. Biasanya dia melihat sang detektif melakukan hal ini kepada para penjahat, tetapi kali ini dia sendiri merasakan sensasi tersebut. “Aku hanya asal bicara, maaf telah berkata yang tidak-tidak dan membuatmu marah,” ucapnya dengan pelan sambil meneguk ludah beberapa kali. “Sungguh perkataanku hanyalah karena aku kesal kepadamu. Tidak ada maksud lain.” Sang detektif tidak bergeming. Dia tetap menatap Jea sambil menodongkan senjata api. Dia sangat menikmati wajah ketakutan yang selalu orang tampakkan di hadapannya kala maut menyapa mereka. Entah mengapa hal tersebut terasa sangat menyenangkan baginya. Mungkin karena rasa takut seseorang adalah pengobat dirinya yang selalu menyembunyikan rasa takut miliknya sendiri jauh di dalam hatinya sendiri. Azalea Hilton biasanya cepat tanggap bila ada kejadian yang seperti ini karena dia seorang polisi yang dibekali ilmu bela diri, tetapi entah mengapa dia tidak bisa melawan sang detektif yang mengancam keselamatannya. Seolah dia pasrah nyawanya akan habis di hari itu juga oleh pria satu ini. Nyatanya keyakinan yang dia percaya dalam hati bahwa sang detektif tidak akan melakukan hal buruk kepadanya masih terjaga dengan baik meskipun saat ini senjata api siap membuat Jea hilang dari dunia. “Kau ingin apa agar perbuatanku bisa dimaafkan?” putus Jea sembari mengelap tangannya yang mulai basah di celana yang dia pakai. “Menidurimu dan membuatmu merasakan kehebatanku agar kau tahu bahwa ucapanmu salah,” jawabnya tanpa pikir panjang. Mata Jea kali ini memelotot. Meskipun dia tinggal di lingkungan yang tidak tabu dengan hal-hal seperti itu, tetapi pribadinya sendiri dia merasa hal tersebut amatlah sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya. Di umurnya yang sekarang dia bahkan belum pernah berciuman. Dia memang dididik oleh orangtuanya dengan sangat baik dan juga taat agama. Menjaga diri dan tidak terjerumus kehidupan bebas adalah keharusan baginya sebagai manusia yang taat beragama. Prinsip yang dia pegang seumur hidupnya tidak akan dia lepas kepada pria gila yang saat ini mengancamnya. “Aku lebih baik mati daripada memberimu kepuasan yang melanggar prinsip hidupku.” Sang detektif gila tertawa mengejek dengan jawaban Jea. Dia tidak menyangka bahwa di dunia ini masih ada wanita waras yang menjaga kesuciannya. Dia selama ini menilai dunia adalah tempat yang kotor karena kejahatan selalu berada di sekitarnya. “Aku jadi semakin tertantang untuk merusakmu,” katanya sambil tertawa mengejek. “Jangan macam-macam! Kau akan tahu akibatnya!” “Aku jadi tidak sabar melihat akibatnya.” Jea memeluk dirinya sendiri untuk menghindari perbuatan jahat yang akan dilakukan sang detektif kepadanya. Meskipun senjata api sudah tidak berada di kepalanya lagi, tetapi serangan lain sang detektif bisa saja lebih berbahaya daripada tembakan di kepalanya yang akan membuat dia mati. Melihat Jea yang mulai ketakutan dan akan menangis membuat perasaan sang detektif gila terketuk tidak tega. Bagaimanapun dia memiliki seorang adik perempuan yang juga sangat dia lindungi. Sedari awal dia sama sekali tidak bermaksud berbuat hal jahat kepada polisi wanita yang menjadi idola di kantor kepolisian. Dia hanya menggertak karena ucapan salah yang dilontarkan sang polisi wanita kepadanya. “Kau menggelikan,” komentar Detektif Joker sambil menjalankan kembali mobilnya. Dia memutuskan untuk menghentikan permainan karena baginya hal tersebut sudah tidak menarik. Jea sekarang bisa bernapas karena sudah nyaris terbebas dari hal yang dia takutkan. Dalam diam dia melirik ke arah pria yang tengah menyetir dengan pelan. Raut wajahnya tidak bisa dibaca sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Sang detektif memang sulit untuk ditebak oleh karena itulah dia bisa berada di titik ini sekarang. Nyaris tidak ada musuh yang bisa menjatuhkannya karena dia nyaris tidak punya kelemahan untuk diungkit. Detektif Joker sendiri saat ini tengah berpikir mengapa dia bisa memiliki rasa iba kepada orang lain setelah sekian lama dia nyaris tidak peduli dengan apa pun yang ada di dunia ini. Hatinya tidak diketuk oleh orang lain, hanya saja dia yang tampaknya mulai melemah. Dia sudah terlatih berhati keras dan tanpa belas kasih untuk membuat pekerjaannya tidak terganggu. Sekarang hanya karena prinsip hidup seseorang membuat rasa iba tersebut menyulut hatinya. Dia berpikir keras di otaknya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Dia tidak ingin menghubungkan otak dan hatinya untuk bekerja sama karena secara logika fungsi mereka berbeda. Dia adalah orang yang hidup mengandalkan logika bukan hati. Selama di perjalanan mereka tidak berbicara sama sekali. Hanya diam dan suara pendingin ruangan yang terdengar. Jea tidak tahu akan dibawa ke mana dirinya saat ini, tetapi dia yakin mereka akan kembali ke restoran tempat teman-temannya berkumpul. Setelah beberapa menit di dalam perjalanan mereka akhirnya tiba di depan restoran. Sang detektif memarkirkan mobilnya sebentar lalu Jea bersiap turun. “Jangan kau pikir ini berakhir di sini. Aku akan menuntut balasan darimu nanti,” ujarnya dengan suara dingin. “Anggap saja yang tadi pemanasan. Selanjutnya kau harus mempersiapkan diri,” sambungnya setelah Jea berhasil membuka pintu untuk keluar. “Harus kukatakan kepadamu bahwa kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan dariku,” jawab Jea sembari perlahan menutup pintu. Detektif Joker tidak hilang akal. Dia membuka jendelanya kemudian berbicara lagi kepada Jea. “Aku akan membuatmu meralat kata-kata itu. Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan,” ucapnya sembari menjalankan mobil lalu meninggalkan Jea di parkiran yang mencoba melenyapkan kata-kata sang detektif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN