Dinner

1104 Kata
“Meja atas nama Detektif Joker.” Jea sampai di tempat makan malam yang telah ditentukan Detektif Joker dan dia juga telah memesan meja. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Jawabannya karena sang detektif gila berhasil membuat polisi cantik idaman satu kantor menyerah atas gencatan ancaman yang diberikan sang detektif di dalam kantor untuk sang polisi wanita yang sudah membuatnya kesal beberapa hari belakangan. Dia membuat Jea harus mengikuti hukuman yang menjadi syarat agar sang detektif berhenti mengganggunya. Tibalah hari ini di mana Jea menyetujui untuk makan malam dengan sang detektif meskipun dia sebenarnya ingin menolak. “Maaf tidak ada meja atas nama itu,” jawab pelayan tersebut setelah dia mencari di daftar pemesanan. Jea bingung, dia tidak tahu nama asli atau samaran lain dari Detektif Joker. Jea berinisiatif untuk menghubungi sang detektif untuk memastikan bahwa dia tidak salah. Namun, sebelum sempat dia menghubungi, ada suara yang mengejutkannya. “Kekeke, jelas kau tidak akan menemukannya jika bertanya atas nama itu.” Jea menoleh dan mendapati Detektif Joker di depannya. Dia mengenakan pakaian formal dan Jea yakin dia berhenti bernapas untuk beberapa saat. Penampilannya sangat berbeda dan tidak akan ada orang yang menyangka dengan predikat yang dimilikinya itu. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyambut Jea yang masih terdiam. Bagaimana mungkin pria ini bisa tampil berbeda dari biasanya? “Jangan berani-beraninya kau jatuh cinta padaku, Wanita Sialan.” Jea tersadar dan berusaha bersikap tenang. Jea tahu pria itu pandai membaca ekspresi wajah dan Jea tidak berusaha untuk mengelaknya. Dia mengatur napasnya dan menyambut uluran tangan Detektif Joker. Mereka kemudian berjalan menuju meja yang telah dipesan. Di perjalanan menuju meja, Jea mendapati pria itu meletakkan tangan Jea di lengannya. Mereka terlihat seperti bergandengan. Mimpi apakah Jea semalam sehingga hal ini bisa terjadi padanya padahal mengingat beberapa hari yang lalu sang detektif menodongkan senjata api di kepalanya dan juga membuat kesal dirinya. Sekarang kenapa dia bersikap sebaliknya? “Kau memesan meja ini atas nama siapa?” Jea bertanya setelah mereka duduk. “Sedang berusaha untuk mengetahui nama asliku? Kekeke.” “Ya, tidak ada seorang pun yang tahu nama aslimu. Itu sangat aneh, apakah kau memang berusaha menyembunyikannya?” tanya Jea penasaran. Baru kali ini dia mempunyai kesempatan langsung bertanya. Jujur saja dia sangat penasaran dengan nama asli sang detektif, semua identitasnya tersembunyi dengan rapi dan nyaris tidak ada yang tahu mengenai dirinya. “Apakah aku terlihat menyembunyikan identitasku?” “Ya, kau sangat menyembunyikannya. Siapa dirimu sebenarnya? Semua orang memuji keahlianmu dan memaklumi tingkah gilamu dalam menghadapi orang-orang jahat. Aku yakin kau bukan orang biasa. Kau dan orang di belakangmu pastilah sangat berpengaruh.” Apa yang Jea katakan memang benar adanya. Dia yakin bahwa orang yang ada di balik sang detektif bukan orang biasa. Sudah tidak mengherankan apabila selalu ada kekuatan di belakang orang-orang yang berani mengambil langkah ekstrim dalam bertindak. Termasuk di dalamnya sang Detektif Joker yang terkenal tidak takut akan apa pun. “Seberapa persen kau penasaran dengan diriku?” Jea menatap pria di depannya itu dengan mengernyit. Matanya yang memancarkan kilatan nakal itu menatap tajam Azalea. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas dan dia menyeringai lebar. Tatapan nakal itu penuh dengan banyak arti serta misteri. Tidak ada yang benar-benar bisa membacanya. “Sekitar sembilan puluh persen.” “Cukup tinggi dan cukup meyakinkan. Namun, sayangnya tidak mampu untuk membuatku membuka mulut.” “Ya, aku tahu dan aku tidak berharap banyak kau akan mengatakannya kepadaku.” Jea mengedarkan pandangannya pada restoran tempat mereka berada yang berkonsep mewah. Dia menghindari kontak mata dengan sang detektif karena tahu bahwa semua perasaannya akan terbaca. Pesanan makanan mereka tiba dan keduanya makan dalam diam. Detektif Joker terus berwaspada karena kejahatan selalu terjadi di mana pun. Di lantai atas hotel tempat mereka makan sekarang ada sebuah casino besar yang menjadi tempat perjudian. Las Vegas adalah surganya kota judi. “Para polisi mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah menemukan pelaku peneror bom dan kau yang menerima ajakan makan siang waktu itu. Mengenai peneror bom, mereka semua dalam pengejaran sekarang.” Jea berusaha mencari obrolan dengan pria yang duduk di depannya sekarang ini. Pria itu sibuk makan dan tidak berniat mengobrol dengannya jika Jea tidak memulai obrolan lebih dulu. “Cih, aku muak mendengar ucapan terima kasih mereka. Katakan pada mereka untuk memberiku kasus sulit dan jangan kasus anak-anak lagi,” ucapnya sembari memain-mainkan pisau yang digunakan untuk memotong makanan. “Akan aku sampaikan nanti.” Jea meminum wine-nya dengan perlahan sambil memperhatikan desain lampu tempat mereka makan. Masih teringat jelas di otak Jea reaksi teman-temannya setelah dia menceritakan bagaimana Detektif Joker mengajaknya untuk makan malam padahal beberapa hari yang lalu dia dan Amanda nyaris menjadi korban kebrutalan sang detektif. Semua orang tahu bahwa detektif itu menolak untuk bergabung menjadi bagian dari kepolisian bahkan dia nyaris malas untuk berhubungan baik selain masalah pekerjaan dengan para kepolisian. Alasannya dia ingin bebas tidak terkekang dengan sumpah-sumpah polisi. Dia juga mengaku bukan orang yang benar-benar baik. “Ingin bertaruh denganku? Jika kau menang maka kau akan mendapatkan nama asliku. Jika kau kalah maka aku akan menembakmu, bagaimana?” Jea hampir saja tersedat wine yang sedang diminumnya. Bertaruh? Oh Tuhan dia tidak akan melakukannya. “Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Kau tetap bisa menjaga identitasmu tanpa diketahui oleh orang lain.” “Kekeke, tetapi aku bisa membuatmu mengikuti perintahku. Jangan sampai aku menggunakan cara licik untuk membuatmu patuh,” ujarnya dengan menyeringai. Dia mengarahkan pisaunya pada Jea. Jea bergidik ngeri. “Apa kau memang selalu memaksa orang?” tanya Jea sambil menatap mata nakal itu. Entah bagaimana, dia sekarang sudah terbiasa dengan ancaman dari sang detektif meskipun ditodong senjata api dan senjata tajam. “Ya jika aku memerlukannya,” jawab pemilik mata nakal itu. “Kau tidak bisa seperti itu. Memaksa bukan pekerjaan baik.” “Apa pun yang aku suka adalah baik untukku, kekeke.” “Aku menolak permintaanmu. Aku tidak suka dengan caramu,” “Aku tidak menerima penolakkan. Cepat ikut aku.” Detektif Joker langsung menarik Jea keluar dari tempat makan tersebut dan mendorongnya ke dalam lift. Di lift itu hanya mereka berdua. Dia menyeringai memandangi Jea yang malam itu sangat cantik. Balutan gaun hitam menghiasi tubuhnya yang sexy. Rambut panjangnya hari itu ia tata dengan rapi. Matanya yang berwarna hazel terlihat sangat terang di balik make up tipis wajahnya. Hidungnya yang mancung dan bibir tipisnya yang merah adalah perpaduan yang sempurna. Darah Asia dan Amerika mengalir di tubuhnya membuat perpaduan itu menghasilkan makhluk cantik di depan detektif gila itu. Ada keinginan besar untuk mencicipi dara cantik di depan matanya saat ini. Namun, dia belum punya alasan tepat untuk dapat mencobanya. Mungkin dia perlu pemicu agar bisa mempunyai alasan tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN