“Kau memang sengaja menjebakku!”
“Kekekeke, apakah aku terlihat sedang menjebakmu?” tanyanya dengan ekspresi yang sangat menyebalkan.
“Ya! Kau memang sedang menjebakku. Pada akhirnya aku memang akan kalah dalam taruhanmu! Dan tidak akan pernah menang bagaimanapun caranya!”
“Siapa yang tahu. Kau hanya belum mencoba jangan memutuskan hasil seenaknya tanpa mencoba terlebih dahulu.”
Mereka kemudian tiba di ruangan casino besar. Sangat ramai dan penuh oleh orang-orang yang bermain judi sambil merokok atau mengobrol sesekali. Jea terus ditarik oleh Detektif Joker masuk dan dia mendudukkan Jea tepat di depan meja judi yang telah terisi oleh beberapa orang. Di meja tersebut sudah ada kartu remi dan beberapa hal yang tidak Jea ketahui namanya. Jea menatap tajam detektif gila yang sudah membuatnya terlibat dengan hal-hal tidak wajar, sementara detektif gila itu menyeringai sembari mencengkram erat bahu Jea. Dia juga kemudian memegang dagu Jea dari belakang sehingga wanita itu kembali menoleh ke arah orang-orang yang akan bermain judi bersamanya.
“Hari ini dia yang akan menggantikanku bermain dan jangan berharap berengsek seperti kalian bisa bermain curang meskipun dia yang bermain karena aku akan membunuh kalian satu persatu bila hal tersebut terjadi, kekeke,” ancaman itu tidak terdengar main-main.
“Hentikan! Aku tidak ingin melakukannya!”
“Aku baru saja mendengar suara penolakan dari suara seorang wanita. Hentikan? Coba saja kaulakukan jika ingin merasakan pisau tajam ini menembus kulit mulusmu. Bukankah kulit mulus ini lebih baik dicium olehku dibanding digores oleh pisau ini?” bisiknya di telinga Jea sehingga membuat Jea merinding mendengar kata-katanya.
Entah dari mana pisau itu berasal dan sekarang sudah berada di tangan detektif gila itu. Dia membelai-belai pisau itu kemudian menjalankannya di wajah mulus milik Jea lalu turun ke lehernya, d**a, dan perutnya. Semua orang menahan napas sementara detektif itu masih menyeringai memperlihatkan giginya yang putih serta kilatan matanya yang nakal. Dia menikmati setiap ekspresi ketakutan yang orang-orang tampilkan di hadapannya. Rasanya sangat menyenangkan menangkap ketakutan di mata mereka.
“Kupastikan kau akan menyesal berurusan denganku!” Jea berkata dengan suara gemetar sambil mencengkram tangannya erat.
“Akan kunantikan itu, kekeke,” jawabnya sambil terus memainkan pisau.
“Jauhkan pisau itu! Itu akan melukaiku!” gertaknya sekali lagi. Dia polisi, tidak mungkin dia kalah dari orang seperti sang detektif gila.
“Setidaknya biarkan aku merobek sedikit pakaianmu dan memperlihatkan tubuhmu padaku. Bagaimana?” bisiknya sekali lagi di telinga Jea. Setiap kata-katanya terdengar mengerikan di telinga Jea. Pria di hadapannya ini memang ahli merontokkan mental lawan.
“Berengsek! Tidak akan kubiarkan!” Jea mendengar tawanya yang renyah dan orang-orang yang tadi ketakutan melihatnya memilih untuk tidak peduli.
“Menyenangkan sekali jika aku bisa melihatnya secara langsung. Kau pasti memiliki barang bagus, kekeke!” wajah Jea memanas. Detektif itu menggodanya di depan semua orang yang sekarang tertunduk. Dia bukan w************n dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja kepada dirinya. Meskipun dia memakan ancaman sekalipun Jea akan berusaha untuk tidak takut karena berhadapan dengan kejahatan adalah tugasnya.
“Sekarang akan kulihat sejauh mana keberuntungan yang kau miliki Jika kalah maka kau harus bersedia melakukan apa pun untukku. Apa pun! Kau mengerti dengan maksud apa pun yang aku katakan?”
“Kau berengsek!”
“Kekekeke, kau pasti akan suka dengan pria berengsek sepertiku. Sekarang mulailah permainan dan jangan coba untuk berani bermain curang atau semua identitas kalian dan kejahatan kotor kalian akan aku ungkap ke publik,” ancamnya kepada semua orang yang ada di meja judi.
Semua orang yang berada di meja judi tertunduk mendengar ancaman itu. Di sana siapa yang tidak mengenal Detektif Joker. Reputasinya dalam bermain judi sangat tersohor di setiap kasino. Dia dikabarkan tidak pernah mengalami kekalahan. Tidak ada yang tahu pasti sebenarnya apakah dia pernah kalah atau tidak karena tidak ada yang pernah melihat bukti tersebut. Dia kemudian duduk sedikit jauh dari meja judi membiarkan Jea bermain untuknya. Jea sama sekali tidak mahir bermain poker. Dia hanya sering memainkannya di komputer dan sekarang detektif gila itu mempertaruhkan uangnya sebesar satu juta dolar. Jika Jea kalah maka habislah dia.
“Kita akan melihat keberuntunganmu, Wanita Sialan, kekeke,” detektif itu senang sekali tertawa dengan nada menakutkan.
Permainan berlangsung hampir setengah jam lebih. Jea bisa mengatasinya dengan cukup baik sampai saat ini. Ada dua pemain yang telah kalah dan tinggal empat pemain termasuk dirinya. Hidup dan mati Jea bergantung pada kartu-kartu yang tengah dipegangnya saat ini. Jea tahu kartunya tidak cukup bagus dan dia terpaksa melakukan ini karena dia memang tidak mempunyai pilihan. Dia dijebak oleh sang detektif gila di dalam permainan judi yang mempertaruhkan hidupnya tanpa bisa mengelak.
“Tinggal tiga musuh yang tersisa. Cukup tangguh untuk pemula sepertinya, kekeke.” Detektif Joker terus memperhatikan sambil meminum wine. Jea menoleh ke arahnya dan detektif gila itu hanya menyeringai sambil mengangkat gelas wine-nya ke arah Jea.
“Permainan akan berakhir sebentar lagi. Silakan pasang kartu terakhir Anda.” Jea berkeringat dingin. Dia cukup tidak percaya dirinya mampu bermain sejauh ini dan sekarang hanya tinggal satu lawan yang tersisa. Detektif Joker menyeringai lebar. Dia tahu wanita cerdas itu akan mampu bermain untuknya. Dia sudah menyelidiki Jea sangat jauh dan mendalam. Dia tahu banyak hal mengenai wanita tersebut.
Apa yang harus aku lakukan? Jika aku kalah aku benar-benar akan mati. Jea terlihat sangat ketakutan dengan permainan tersebut. Ekspresi wajahnya jelas menampakkan dia sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sementara detektif gila itu masih terus memperhatikannya sambil menatap tajam ke arahnya.
“Mrs. Jea, silakan pasang kartu terakhir Anda.”
Suara itu mengejutkan Jea dan Jea menatap kartunya dengan perasaan campur aduk. Hanya dua kartu yang tersisa di tangan Jea. Dia tidak tahu apakah lawannya mempunyai kartu lebih di atasnya atau justru di bawahnya. Dengan keraguaan yang menggunung Jea akhirnya memasang kartu terakhirnya. Dia pertaruhkan semuanya di sana. Dia pasrah dengan apa pun yang terjadi.
“Kekeke!” tawanya terdengar sangat keras ketika Jea mampu mengalahkan lawannya dan memenangkan perjudian itu. Dia langsung menghampiri wanita itu kemudian bertepuk tangan untuknya.
“Aku memenangkannya?” tanya Jea tidak percaya pada dirinya sendiri.
“Kekeke, selamat kau telah menjadi penjudi yang andal, kekeke! Kau beruntung selamat dari malaikat kematian!” Detektif Joker masih tertawa keras. Orang-orang melihatnya dengan rasa takut. “Tidak kusangka wanita sialan sepertimu mampu memberiku banyak uang, kekekek!” tawanya semakin keras.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menang. Aku hanya bisa permainan kartu yang sangat dasar,” aku Jea jujur.
“Itu keberuntunganmu, sialan. Bermain judi bukan hanya soal perhitungan, tetapi juga soal keberuntungan!” Detektif itu memegang kedua bahu Jea dari belakang. Wanita itu masih duduk di bangkunya dengan sisa-sisa gemetar di tubuhnya karena baru melewati masa menegangkan.
Jea senang karena dia memenangkan permainan itu dan artinya dia selamat dari maut. Jea menarik napas panjang. Dia harus segera keluar dari tempat itu lalu pergi meninggalkan Detektif Joker yang masih merayakan kemenangannya. Dia yakin detektif itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia licik, menggunakan semua cara hanya untuk memenuhi rasa puasnya semata.
“Sesuai janjiku tadi kepadamu. Akan kuberitahu kau siapa nama asliku dan jangan berani menyebarkannya kepada siapa pun!” Jea cukup terkejut mendengar sang detektif mengatakan hal tersebut karena beberapa saat lalu dia menganggap janji sang detektif tidak serius kepadanya.
“Kau serius akan mengatakannya padaku?”
Jea tidak lupa dengan janji itu hanya saja dia menganggap sang detektif berbual dan mengiming-iminginya janji palsu. Saat ini rasa penasarannya kembali menggunung. Sejenak rasa ingin pulangnya tertahan karena dia benar-benar penasaran dengan nama asli pria di depan matanya saat ini karena tidak pernah ada yang tahu nama aslinya. Detektif gila itu menatapnya dengan nakal kemudian dia memegang dagu Jea lalu jarinya menekan bibir Jea dengan kasar. Tindakan itu membuat Jea terhentak beberapa saat.
“Janji tetaplah janji. Pria tidak akan melanggar janjinya di depan wanita.”
Jea seperti mengenal sisi lain dari seorang Detektif Joker ketika mendengar ucapannya tadi. Dia tahu pria di depannya ini tidak sejahat yang orang lain lihat di permukaan. Dia merasa beruntung karena hanya segelintir orang yang mengetahui identitas asli Detektif Joker. Detektif Joker menatapnya lalu menyeringai. Dia mengulurkan tangannya kepada Jea. Jea perlahan menyambutnya.
“Aku seseorang yang menyukai tantangan. Nama asliku? Apakah itu penting? Kekeke, itu tidak penting sama sekali.”
Setelah itu Detektif Joker menarik Jea ke pelukannya dan langsung mencium bibir Jea lalu melumatnya dengan penuh nafsu. Tidak membiarkan bibir itu membalas perlakuannya kemudian Detektif Joker melepaskannya begitu saja setelah dia merasa puas. Mata Jea terbelalak sempurna. Dia tidak pernah tahu bahwa detektif gila itu akan menciumnya! Jantung Jea serasa ingin lepas saat ini.
“Itu cara perkenalanku. Mulai sekarang kau akan berada di dalam pengawasanku. Tidak akan aku biarkan kau luput sedikit saja dari penglihatanku!”
Setelah mengucapkan itu, Detektif Joker pergi menuju meja judi untuk mengambil semua uangnya sementara Jea masih mematung. Dia masih bisa merasakan sentuhan bibir sang detektif di sana dan juga kata-katanya yang ambigu melayang-layang di ingatan Jea. Entahlah dia merasa hal barusan yang terjadi itu untung atau rugi, tetapi yang jelas jantung dan ulu hatinya sedang dalam perasaan tidak keruan. Antara marah dan kesal karena perlakuan sang detektif kepadanya yang sesuka hatinya. Pria itu telah mengambil ciuman pertama yang dia jaga hanya untuk suaminya kelak.