Promise

1429 Kata
Hari masih pukul tujuh lewat empat puluh menit, kantor polisi tempat Jea bertugas masih cukup sepi di pagi hari seperti ini. Biasanya karyawan akan mulai berdatangan untuk bekerja pada pukul delapan dan itu masih dua puluh menit lagi. Pagi itu Azalea tengah menyeduh kopi yang dia buat sendiri di dapur kantor sambil memeriksa beberapa laporan yang masuk kemarin dan belum sempat dia baca. Sesekali dia menguap lebar sambil menutup mulutnya. Semalaman dia tidak bisa tidur sampai pagi tiba. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat menuju kantornya. Alasan dia tidak bisa tidur hanya bersumber dari satu hal. Semua masalah bersumber dari perbuatan detektif gila yang sudah mencium bibirnya dengan paksa semalam kemudian meninggalkannya dalam keterkejutan yang luar biasa. Mengingat itu membuat hati dan otak Azalea seperti ingin meledak lalu hancur berkeping-keping. Dia malu sekaligus marah. Bisa-bisanya pria itu bersikap tidak sopan padanya, terlebih dia melanggar janjinya sendiri. Ya, pria itu tidak memberitahukan Jea nama aslinya. Detektif gila itu hanyalah pembual yang memanfaatkannya dengan sangat baik pikir Jea kesal. “Morning, Sunsine!” Sapaan itu dari Mr. Antony, pria berperawakan tinggi besar dengan rambut yang sudah mulai memutih. Mr. Antony merupakan teman baik dari ayah dan juga ibunya. Dia sudah mengenal pria itu sedari kecil. “Morning too, Mr. Antony. How are you today?” balas Jea dengan ramah. Mr. Antony tampak mengibaskan tangannya di udara dengan kesal dan wajahya meringis. “Pagi yang cukup buruk. Aku mengalami kecelakaan kecil ketika menutup pintu rumah. Luka di jari telunjuk karena terjepit pintu—rasanya sakit sekali. Aku sepertinya butuh air dingin untuk meredakan nyerinya—aku buru-buru agar Sam tidak terlambat masuk ke sekolah. Hari ini dia ada ujian,” jawabnya sambil mencari es batu di kulkas kantor. “Rasanya sudah lebih baik sekarang,” sambungnya setelah dia mengompres tangannya dengan air dingin. Jea tahu betapa sakitnya luka tersebut. “Akan kuambilkan kotak obat. Lukamu perlu diobati.” Jea meletakkan gelas kopinya untuk mengambil kotak obat di luar, tetapi Antony Benner segera buru-buru mencegahnya. “Tidak apa-apa, lanjutkan saja minum kopimu. Aku sudah merasa lebih baik. Sungguh,” yakinnya pada gadis muda di depannya yang terlihat amat sangat khawatir terhadap dirinya. “Jika terjadi sesuatu yang buruk pada lukamu, segera beritahu aku. Aku akan langsung mengobatinya.” Pria paruh baya itu mengangguk dengan mantap lalu dia melenggang keluar dari dapur sambil membawa kompres es batu di tangannya. Jea kembali meminum kopinya dengan perlahan agar dapat menikmati pagi yang cukup buruk baginya. Laporan di tangannya segera dia tutup setelah selesai dibaca sekilas kemudian segera membawanya keluar dari dapur. Namun, di tengah perjalanan menuju ruangannya tiba-tiba ponselnya bergetar dan berbunyi. Dengan susah payah Jea menjepit laporan itu di lengan tangan kanannya. Tangan kiri memegang gelas kopi dan tangan kanan yang tadi yang bebas mencari ponselnya di saku roknya. “Ya, halo.” Jawabnya cepat sambil kembali berjalan menuju ruangan. “Kekeke, cepat sekali kau mengangkat telepon dariku.” Tanpa perlu menebak lagi Jea langsung tahu siapa penelponnya pagi itu. “Ada apa?” Jea tidak suka basa-basi dan dia tidak perlu memikirkan cara bagaimana pria itu bisa mendapatkan nomor ponselnya. Karena dia tahu, pria itu bisa melakukan apa saja keinginannya. “Pertanyaan yang sangat membosankan,” jawabnya tanpa minat. “Bisakah kau mengucapkan kata lain selain itu?” “Aku tidak suka basa-basi, jadi katakan apa yang kauinginkan dariku,” ucapnya dengan nada kesal. Ah, mengingat kejadian semalam, kekesalan yang Jea rasakan semakin bertumpuk pada detektif gila itu. “Kerutan di wajahmu akan terus bertambah saat kau kesal seperti itu atau baiknya kau tumpahkan saja kopi yang sedang kau pegang saat ini ke wajahmu. Sekalian membuatnya melepuh hingga menjadi wajah mengerikan.” Jea memutar bola matanya tidak suka, tetapi di detik berikutnya dia sadar ada yang tidak beres. “Kau ada di mana?” tanyanya sambil berbalik dan mencari keberadaan detektif itu. “Apa itu penting, kekeke.” “Kau ada di sini, jelas sekali kau ada di sini. Kenapa kau menelponku?” Jea memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan sambil terus mencari keberadaan detektif itu yang mungkin berada di sekitar sana dan tidak terlihat olehnya karena dia sedang bersembunyi. Matanya melewati ruangan yang disekat kaca tempat ruangan-ruangan pegawai berada sambil terus mencari. Entah mengapa dia ingin mencarinya padahal dia kesal kepada tingkah laku pria tersebut yang sudah membuatnya tidak bisa tidur semalaman dan juga membuat paginya cukup buruk karena mengantuk. “Oh, Wanita Sialan ini cukup pintar untuk tahu keberadaanku di sini.” Jea mendengus kasar saat dia akhirnya bisa melihat pria itu tengah berdiri di lantai atas dengan santai sambil memperhatikannya. Dia menyeringai sambil berdiri angkuh. “Naiklah ke sini atau kutembak kau hingga mati jika berani menolak.” Jea tidak menjawab dan segera mematikan sambungan telepon. Masih dengan kopi serta laporan di tangannya, Jea menaiki tangga lantai dua. Entah mengapa sekali lagi dia hanya bisa menuruti perintah darinya tanpa banyak protes. Pria itu memasukkan kedua tangannya di saku celana jin berwarna hitam. Dia terlihat sedang mengunyah sesuatu kemudian dia membuat balon dari permen karet. Jea sadar ruangan di lantai atas masih cukup sepi dan bagaimana pria ini bisa tiba-tiba berada di kantor polisi adalah hal yang tidak semestinya Jea jabarkan jawabannya karena akan sangat panjang jawabannya. Dia bisa masuk ke kantor polisi sesuka hatinya. Bahkan kalau tidak diizinkan, dia akan mengancam. Seperti itulah caranya. Meskipun dia memang sudah diminta beberapa kali menjadi pegawai tetap di sana, dia selalu menolak dengan alasan tidak ingin dikekang. “Baiklah, ada apa kau memanggilku ke sini?” “Menurutmu kenapa aku memanggilmu ke sini?” “Aku tidak tahu.” “Kau bisa membuat hipotesa milikmu sendiri dan menjabarkan kepadaku mengapa aku memanggilmu ke sini,” jawabnya tidak acuh. Dia memilih duduk di sofa putih sambil menjulurkan kakinya di atas meja. “Kekeke, atau kau berani berpikir aku memanggilmu karena aku menyukaimu?” Dia tertawa sambil menampakkan mata nakalnya. “Aku tidak berpikir seperti itu sedikit pun. Katakan saja apa yang kau inginkan dariku!” Sedikit penekanan di kata-kata Jea membuat sang detektif menyeringai. “Wanita selalu tidak sabar, tetapi sering menuntut orang lain untuk sabar. Wanita itu memang makhluk paling menyebalkan.” Dia kembali membuat balon dari permen karetnya. “Baiklah, akan kumulai dengan pertanyaan menarik,” ucapnya yang mulai serius. Jea memilih meletakkan gelas kopi dan laporan miliknya di atas meja lalu siap mendengarkan perkataan sang detektif sambil berdiri. “Ya silakan.” “Siapa aku?” tanyanya. Jea mengerutkan dahinya bingung dengan pertanyaan tidak masuk akal tersebut. “Kuberi waktu sepuluh detik untuk menjawab mulai sekarang, satu….” Jea menghela napas kesal, tetapi dia menjawab pertanyaan itu karena tidak ingin mendapat hukuman aneh akibat dari sang detektif yang suka bertingkah semaunya sendiri. “Kau Detektif Joker, sang musuh Dewa Kejahatan.” “Kekekeke, jawaban macam apa itu?” dia tertawa jahat. “Hanya itu yang aku tahu tentangmu,” jawab Jea sejujurnya. “Dan fakta satu lagi, kau juga seorang pendusta. Tidak menepati janji saat sudah berjanji.” “Kekeke, janji dibuat untuk dilanggar, Nona,” jawabnya sambil berdiri, kedua tangannya kembali masuk ke saku celananya dan dia kemudiam berdiri di depan Jea. “Sudah kuduga, wanita sialan memang percaya dengan janji manis sialan, kekeke. Kau ada di antara sekian banyak wanita sialan di dunia ini yang percaya dengan janji sialan yang diucapkan pria. Menyedihkan,” katanya dengan seringai lebar. “Kau datang ke sini dan memanggilku ke atas hanya untuk mengucapkan itu. Aku telah membuang waktuku yang berharga hanya untuk orang sepertimu. Sangat sia-sia. Maaf saja, awalnya aku kagum kepadamu, tetapi setelah kau bertindak kurang ajar kepadaku, rasa itu luntur begitu saja.” Jea berusaha sangat jujur. Apa yang Azalea katakan memang benar. Rasa kagumnya hilang seperti balon pecah, lenyap, sudah berubah bentuk dan rasa. Dia dengan cepat mengambil kembali laporannya yang diletakkan di atas meja kemudian meninggalkan kopinya begitu saja. Dara cantik itu langsung menuruni tangga dengan terburu-buru kemudian menuju ruangannya dengan langkah lebar. Sang detektif terkekeh sambil bersandar di pagar pembatas. Matanya masih mengikuti dara cantik itu menjauh. Wangi parfumnya masih tertinggal di dekat detektif dan dia menghirup aroma tersebut dengan gembira. “Anda sudah datang dari tadi, maafkan saya membuat Anda menunggu, Detektif. Mari kita masuk ke ruangan saya. Banyak laporan yang sudah Anda tanyakan pada saya, sudah saya siapkan semua di dalam.” Sang detektif mengikuti orang yang telah membuat janji untuk bertemu dengannya. Ya, dia datang pagi-pagi ke kantor polisi hanya demi sebuah pekerjaan. Bonusnya, dia melihat si polisi cantik yang sudah bermain-main dengannya semalam. Dia senang menggoda lalu membuat orang kesal padanya, itu sangat menarik baginya dikala dia bosan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN