Las Vegas masih cukup dingin saat ini. Sisa-sisa musim dingin masih tersisa. Malam itu Detektif Joker mengisap cukup banyak rokok untuk membunuh waktu. Sebenarnya dia bukan perokok, hanya saja malam ini dia ingin menghilangkan kesuntukannya. Kepulan asap putih itu keluar dari balik jendela apartemen mewah milik sang detektif lalu hilang ditelan udara malam kota Las Vegas yang gemerlap. Ada hal yang dipikirkan oleh sang detektif sehingga menyebabkan menyebabkan dia tidak bisa tidur malam ini. Detektif Joker bekerja sebagai detektif swasta di Las Vegas yang enggan terikat dengan pemerintahan. Dia bekerja bersama beberapa rekan yang sering membantunya dalam penyelidikan. Namun, mereka hanya sekadar membantu dalam istilah bawahan sang detektif yang menjalankan perintah berdasarkan kemauannya. Mark dan Tanaka, keduanya adalah orang yang sering membantu sang detektif gila dalam memecahkan kasus. Apa saja bisa mereka lakukan untuk membantu sang detektif jika dia memerlukan mereka untuk menyelidiki kasus. Malam ini detektif itu tidak bisa tidur dikarenakan dia memikirkan tentang kasus pembunuhan berantai yang terjadi di dekat hotel yang sangat terkenal di Las Vegas, pembunuhan tersebut terjadi di taman kecil yang berada di lingkungan sekitar hotel.. Taman itu hanya berjarak enam setengah kilometer dari rumah apartemen mewah milik Detektif Joker. Sang Detektif tinggal di apartemen mewah bertingkat puluhan di tengah kota judi dan dia menempati lantai cukup tinggi di sana.
Detektif Joker mematikan rokoknya lalu membuangnya di kotak sampah besar yang tepat berada di bawah jendela kamarnya. Dia melihat ada beberapa kucing dan anjing yang sedang mengais-ngais makanan di sana. Tiba-tiba saja Detektif Joker terdiam, dia seolah mendapatkan titik terang dari apa yang membuatnya suntuk malam ini. Tanpa ragu sang detektif segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Mark dan Tanaka.
Setengah jam kemudian Detektif Joker sudah berada di lokasi pembunuhan berantai. Dia duduk di sebuah bangku taman sambil tangannya terus sibuk memainkan ponselnya lalu menghubungi beberapa orang. Selama menunggu pihak kepolisian datang dan menunggu Mark serta Tanaka mencari sesuatu yang diperintahkannya. Detektif Joker tidak sabaran dan dia terus duduk lalu berdiri kemudian duduk lagi. Matanya awas mengawasi satu titik di dekat taman itu. Tidak lama kemudian Detektif Joker mendengar suara mobil polisi. Dia dengan cepat mendekat dan berbicara kepada inspektur kepolisian Las Vegas. Stefan Harley, inspektur yang sudah mengenal Detektif Joker semenjak lama dan merupakan teman Detektif Joker meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh.
“Apa yang sudah kau temukan, Detektif?” tanya Stefan kepada Detektif Joker setelah Detektif Joker menyambutnya. Detektif Joker sudah cukup lama tinggal di Las Vegas semenjak dia kuliah dan mulai bekerja di markas kepolisian kota Las Vegas sebagai ahli forensik yang tidak ingin terikat dan mempunyai pekerjaan sampingan detektif swasta bersama Mark dan Tanaka.
“Aku akan menjelaskannya setelah kedua temanku datang, mereka akan membawa beberapa barang yang aku butuhkan untuk mendapatkan bukti di mana alat pembunuhan itu disimpan,” jawab Detektif Joker. Inspektur itu mengangguk yakin, dia tahu metode pekerjaan Detektif Joker yang bekerja secara nalar serta logika dan oleh sebab itu Stefan tidak meragukannya sedikit pun.
“Dudukkan saja pelakunya di sana. Mereka harus melihat bagaimana aku membongkar kejahatan sialan mereka dan menemukan barang bukti sialan untuk mereka melakukan pembunuhan,” ucap Detektif Joker sambil menyuruh para polisi mendudukkan tiga orang tahanan yang sudah ditangkap sehari setelah kasus pembunuhan itu terjadi. Ketiga orang tersebut adalah otak dari pembunuhan berantai yang terjadi di taman dekat hotel, sebelumnya ada empat kasus pembunuhan yang terjadi di sana dengan lokasi yang tidak terlalu jauh. Motif pembunuhan sudah diketahui dan itu karena pelaku adalah seorang psikopat. Memang sangat sulit berhadapan dengan para psikopat seperti mereka. Biasanya para psikopat lebih suka membunuh secara sendirian, tetapi tidak bagi mereka. Sepertinya mereka memang membunuh untuk mendapatkan rasa puas.
Baru selesai Detektif Joker berbicara kepada Stefan, Tanaka serta Mark datang dengan membawa beberapa peralatan yang dibutuhkan Detektif Joker. Ada satu kapak besar, serbuk kayu dan lem. Detektif Joker mengambil semua bahan yang dibawakan oleh Tanaka serta Mark. Stefan dan beberapa polisi melihat hal tersebut dengan pandangan heran. Detektif Joker lalu melihat ke arah tiga orang pelaku. Cahaya lampu taman sangat jelas menunjukan wajah mereka yang sangat tenang. Detektif Joker lalu memegang kapak besar tersebut seolah dia sedang mempraktikan orang yang menebang kayu.
“Kau yang duduk di sebelah kanan adalah bekas tukang kayu, tangan kananmu bagian lipatan antara ibu jari dan jari telunjuk terdapat bekas kapalan yang kasar. Orang yang memiliki ciri tersebut terbiasa memegang kayu dan orang yang biasanya memegang kayu identik dengan tukang kayu yang bertugas menebang kayu atau membelahnya. Karena aku lihat kapalan di tanganmu bukan kapalan orang yang baru melakukan pekerjaan ini. Kau pasti sudah terbiasa dan kau otak pembunuhan sialan ini,” ujar Detektif Joker mendeskripsikan tentang orang pertama. Pelaku yang duduk paling kanan itu menundukkan wajahnya dalam-dalam karena tidak bisa mengelak apa yang Detektif Joker katakan. Tidak ada penyesalan di wajahnya.
“Kau yang duduk di tengah juga seorang tukang kayu sialan, tetapi kau masih baru. Kerutan kapalan di tanganmu tidak terlihat kasar sepertinya dan aku simpulkan kau adalah orang yang melakukan pembunuhan kepada Akemi Shinohara karena kau kidal dan bacokan yang kau timbulkan di bagian pundaknya sedikit goyang menandakan bahwa kau sebenarnya ragu untuk melakukan pembunuhan sialan ini.” Mark, Tanaka, Stefan, dan polisi lain menatap Detektif Joker dengan serius. Inilah cara Detektif Joker membongkar kejahatan. Dia akan mengatakan semua yang dia tahu dan semua misteri terkuak.
“Bagaimana dengan orang yang duduk di sebelah kiri?” tanya Tanaka. Detektif Joker mengambil kotak serbuk kayu dan lem lalu mendekatkannya kepada pelaku nomor tiga.
“Dia adalah otak dari penyimpanan barang bukti,” ucap Detektif Joker sambil mendekat ke arah sebuah pohon sakura yang masih hijau dan besar. Detektif Joker lalu mengetuk-ngetuk pohon itu beberapa kali dengan tangannya. Lalu Detektif Joker mengeluarkan pisau kecil dari saku mantelnya. Dia menggunakan senter kecil untuk menerangi pohon tersebut. Tidak lama Detektif Joker menggoreskan pisau tersebut di pohon sakura itu dan bunyi nyaring terdengar setelahnya. Semua orang mendekat untuk melihat apa yang Detektif Joker temukan.
“Mereka menyimpannya di sini,” tunjuk Detektif Joker kepada batang pohon sakura yang paling besar berada di taman tersebut. Tanaka menatap tidak percaya dengan temuan Detektif Joker. Mata Mark menatap ke batang pohon sakura itu, di sana sudah terdapat lubang horizontal dengan tinggi lima puluh sentimeter dan lebar dua puluh sentimeter. Di dalamnya ada dua kapak besar seolah berada di dalam lemari di pohon tersebut.
“Seorang tukang kayu sialan dan seorang seniman sialan bekerja sama untuk melakukan pembunuhan ini dan menyimpannya dengan rapi di dalam batang pohon sakura.” Detektif Joker lalu mengambil kedua kapak besar tersebut. Bercak darah masih ada di sana. Polisi segera mengamankan barang bukti tersebut dan Stefan tampaknya puas dengan penemuan Detektif Joker. Dia memang selalu bisa diandalkan.
“Bagaimana ini bisa terjadi, Detektif?” tanya Stefan. Detektif Joker mendekat dan menatap ketiga orang pelaku pembunuhan yang masih tidak menampakkan wajah bersalah.
“Orang yang pertama adalah orang yang membuat lubang itu dengan kapak ini, membentuk lemari dengan membuang isi dalam kayu untuk tempat kapak ini dan menutupnya kembali dengan kulit kayu. Dia melakukannya tengah malam ketika tidak ada orang di taman. Lihatlah dia bisa membentuk garis yang bagus di batang pohong itu tanpa cacat yang banyak dan itu menandakan bahwa orang yang biasa dengan pekerjaan memotong kayu yang melakukannya dan pelaku nomor tiga adalah yang menutupi cela cacat pohon dengan lem agar kuat supaya kulit kayu yang digunakan sebagai penutup tidak mudah terlepas. Dia lalu menaburkan serbuk kayu agar warnanya samar. Apakah aku ada cacat dalam pengungkapan ini?” tanya Detektif Joker kepada ketiga pelaku. Ketiganya hanya diam dan Detektif Joker mengembuskan napasnya puas.
“Kalian tidak bisa mengelak lagi, pasal pembunuhan berencana dan merusak lingkungan akan dikenakan kepada kalian.” Stefan segera menyuruh bawahannya untuk membawa ketiga pelaku masuk ke dalam mobil tahanan kembali. Akhirnya kasus tersebut bisa lebih jelas setelah Detektif Joker menemukan di mana barang bukti yang sudah dua hari ini mereka cari. Siapa yang menduga bahwa barang bukti disimpan di tempat seperti itu? Nyaris tidak ada. Kehebatan sang detektif yang memikirkannya bisa membuat pembunuhan itu terungkap seutuhnya.
“Aku banyak berterima kasih kepadamu Detektif Joker, kasus ini tidak akan selesai jika kau tidak membantu. Mengenai cara penyembunyian barang bukti di pohon itu aku sama sekali tidak pernah terpikir, apa yang membuatmu bisa mengetahui itu ada di sana?” tanya Stefan penasaran.
“Karena semua lokasi pembunuhan berada di tempat yang hampir berdekatan dan dia akan mengulangi pembunuhan lagi jadi aku tahu mereka tidak akan menyimpan peralatannya jauh dari sana dan akan sangat mencolok jika mereka ketahuan membawa kapak besar. Lagi pula di keempat mayat korban memiliki tipe darah yang berbeda pada lukanya dan itu dikarenakan mereka tidak mencuci kapak tersebut setelah melakukan pembunuhan oleh karena itulah aku berpikir pasti barang bukti tidak dibuang di dalam kolam taman ini mengingat beberapa bekas darah yang mengering melekat di luka setiap korban. Serat pohon sakura sangat kuat dan bagus jadi mudah untuk memotong dan membentuknya. Sangat efektif untuk menyimpannya di dalam pohon mengingat mereka memiliki keahlian itu. Aku baru menyadarinya ketika aku membuang bekas rokok di kotak sampah di bawah jendela kamarku. Aku melihat anjing dan kucing yang mengais-ngais kotak sampah dan saat itu juga aku mendapatkan sesuatu yang aku lewatkan. Mencari di tempat yang paling tidak mungkin dan pohon adalah hal yang pertama aku ingat karena taman di d******i dengan pohon dan bukan tempat awam untuk menyembunyikan barang. Cara menyimpan barang bukti mereka memang sangat bagus, tetapi sayang mereka ceroboh karena bekerja secara berkelompok,” jelas Detektif Joker panjang lebar. Dia sebenarnya malas berbicara panjang seperti itu di kehidupan sehari-hari, tetapi bila menyangkut pekerjaan dia akan sangat berbeda. Dia bisa menjadi orang yang banyak omong dan juga lebih sopan.
“Sungguh penalaran yang bagus. Kepolisian Las Vegas sangat bangga memiliki seorang ahli sepertimu meskipun kau bukanlah orang yang bekerja secara resmi di kepolisian. Jadi dengan kasus ini kau sudah banyak membantu penyelidikan,” ucap Stefan sambil menatap Detektif Joker kagum. Dia lalu melihat sekeliling taman dan udara masih dingin. Musim semi sebentar lagi tiba dan malam sudah menunjukkan pukul satu lebih waktu Las Vegas.
“Detektif Joker, hari sudah malam. Sebaiknya kau istirahat biarkan sisanya kami yang mengurus dan kau boleh datang besok pagi ke kantor polisi untuk memberi laporan tertulis.” Stefan membenarkan mantelnya dan ia segera berpamitan sebagai tanda salam perpisahan kepada Detektif Joker, Detektif Joker membalasnya sambil lalu. Setelah Stefan pergi, Tanaka dan Mark mendekati Detektif Joker. Seperti biasa sisa-sisa kekaguman masih membekas di wajah mereka.
“Detektif, sekarang kau bisa tidur nyenyak. Kasus ini sudah selesai. Aku tidak menyangka akan menemukan barang bukti itu di sana. Aku cukup terkejut ketika kau menyuruhku mencari serbuk kayu malam-malam seperti ini,” ucap Mark sambil duduk di bangku taman itu.
“Detektif, aku semakin kagum kepadamu,” kata Tanaka yang masih tampak kagum dengan pemecahan Detektif Joker beberapa saat lalu. Detektif Joker terkekeh geli. Dia sebenarnya tidak sehebat itu. Hanya menggunakan keahlian logika dan penalaran serta insting yang kuat yang selalu diasahnya dan juga rasa ketertarikannya akan keingintahuan akhir suatu kasus.
“Kekeke, aku tidak suka pujian darimu Sekarang ayo kita pulang. Malam ini kalian tidur saja di apartemen mewah sialanku. Aku perlu orang sialan untuk mencuci semua piring sialan di sana,” ucap Detektif Joker berjalan lebih dulu dan meninggalkan Tanaka serta Mark. Mark dan Tanaka saling pandang.
“Hei, kau tidak bisa memerintah kami seperti pembantumu,” rutuk Tanaka. Tanaka adalah rekan Detektif Joker dan ia lebih sering tidur di studio musiknya daripada tidur di rumah apartemen Detektif Joker. Sedangkan Mark adalah teman pertama Detektif Joker semasa kuliah dan juga orang yang tahu nama asli sang detektif.
“Aku akan membelikan kalian makan pagi, siang dan malam. Ayo cepatlah, aku sudah mengantuk dan udara sangat dingin.” Kedua orang itu akhirnya mengikuti Detektif Joker dan mereka menaiki mobil Detektif Joker untuk menuju rumah apartemen mewah milik Detektif Joker.