Detektif Joker baru bangun dari tidurnya kemudian dia keluar dari kamar lalu menuju dapur. Di depan ruang menonton televisinya ada Mark yang masih terlelap tidur di sofa. Detektif Joker lalu menoleh ke bawah dan melihat Tanaka tidur di kasur lipat dengan seluruh tubuh hampir ditutupi selimut. Jam menunjukkan pukul delapan lebih tujuh belas menit. Detektif Joker ingat dia harus ke kantor polisi hari ini guna menemui Stefan dan mengetahui hal apa saja yang ada di kantornya kemudian dia juga akan menuliskan laporan. Detektif Joker menguap dengan cukup lebar lalu dia kembali berjalan menuju ke dapur rumahnya untuk mengambil air minum di dalam kulkas. Lidahnya cukup terasa pahit karena sisa rokok malam tadi yang diisapnya.
Ketika Detektif Joker ingin menuju teras jemuran untuk mengambil handuk, dia mengernyit heran mendengar sedikit suara keributan dari luar. Detektif Joker lalu mengintip sedikit. Dia mengintip dari lubang kecil di pintunya. Di depannya saat ini Detektif Joker melihat bagian belakang kepala seorang wanita. Detektif Joker mengerutkan dahinya melihat hal itu. Sesaat kemudian kepala wanita itu bergeser ke samping dan munculah kepala seorang pria dengan umur awal empat puluhan. Detektif Joker melihat pria itu membawa banyak barang lalu masuk ke dalam apartemen yang tepat berada di depannya. Satu lantai apartemen yang ada di gedung tempat Detektif Joker tinggal mempunyai dua apartemen yang berdepanan.
Detektif Joker langsung tahu bahwa mereka adalah keluarga yang baru saja pindah ke apartemen kosong di depannya yang sudah satu bulanan ini kosong. Saat Detektif Joker baru akan mengalihkan matanya dari lubang itu, tiba-tiba saja dia mengurungkannya ketika melihat sosok yang tadi membelakanginya sekarang sedikit menoleh ke arah Detektif Joker yang masih berada di balik pintu. Wanita itu hanya diam tanpa bereaksi apa pun. Matanya hanya diam pasrah. Detektif Joker tahu tatapan mata seperti itu. Dia belajar membaca ekspresi dan emosi orang dari raut wajahnya. Itu berkaitan dengan pekerjaannya untuk mengungkap kejahatan.
Sayang sosok itu hanya terlihat sekilas oleh Detektif Joker karena sosok itu kemudian masuk ke rumah itu lalu pintunya ditutup. Detektif Joker kemudian melanjutkan langkahnya ke teras rumahnya meskipun dia sedikit terpikir dengan ekspresi wanita tadi. Dia berniat mandi lalu membeli sarapan di toko makanan di berada tepat di depan gedung apartemennya. Hari ini dia akan membiarkan Mark dan Tanaka tidur karena tidak ada pekerjaan atau kasus yang akan diselesaikan.
“Hei, kau mau ke mana?” tanya Mark yang baru bangun tidur ketika melihat Detektif Joker tengah mengeringkan rambutnya.
“Membeli sarapan untuk kalian para sialan yang mengungsi dan aku harus ke kantor polisi sebentar. Kau tidurlah lagi. Jam berapa hari ini kau kuliah?” tanya Detektif Joker sambil mulai meminum kopinya secara perlahan.
“Tidak ada jadwal kuliah hari ini. Hei kau juga harus membelikan aku makan siang. Kau harus mempertanggungjawabkan janjimu malam tadi,” kata Mark sambil mengambil ponselnya untuk mengecek apa saja yang ada di ponselnya.
“Dan kalian berdua harus membereskan rumah. Cuci semua piring sialan itu lalu isi kulkas sialan dengan makanan. Ini uang dan jangan kau belanjakan yang lain selain keperluan sehari-hari dan untuk makan siang hari ini. Mengerti!” kata Detektif Joker sambil mengambil dompetnya lalu mengulurkan beberapa lembar uang kepada Mark. Mark menerimanya dengan gembira lalu menghitungnya.
“Hm, aku akan membelinya nanti. Sekarang, aku ingin tidur lagi,” ujar Mark sambil meletakkan uang dan ponsel di sebelah bantalnya. Detektif Joker mengabaikannya dan sekarang dia sibuk memilih jaket mana yang akan dipakainya hari ini. Akhirnya Detektif Joker memilih jaket hitam dengan sedikit warna coklat di bagian lengan tangannya. Detektif Joker tidak terlalu menyukai pakaian formal untuk bekerja. Dia hanya akan memakainya ketika dalam situasi yang mengharuskan dan selebihnya Detektif Joker akan tampil dengan pakaian bebasnya. Tidak ada yang melarangnya karena dia hanya bekerja di bagian detektif swasta dan bukan di bagian terikat pemerintahan.
Detektif Joker keluar dari apartemennya kemudian dia menoleh sedikit ke arah pintu apartemen di depannya. Detektif Joker melihat ada sedikit jejak lumpur di depan pintu apartemen tersebut. Detektif Joker mengingat-ingat di dekat rumahnya tidak ada lumpur atau tanah basah karena memang beberapa hari ini tidak turun hujan. Jadi Detektif Joker menyimpulkan bahwa tetangga barunya ini adalah orang yang berasal dari luar daerah Las Vegas yang cenderung kering dan mereka menggunakan mobil pribadi untuk sampai ke rumah tersebut. Karena jika menggunakan kendaraan umum pastilah jejak itu tidak sejelas sekarang karena apabila menggunakan kendaraan umum seperti kereta akan beberapa kali turun naik untuk berpindah kereta akan mengakibatkan jejak lumpur sedikit berkurang. Detektif Joker mengatakan mereka menggunakan mobil pribadi juga karena hanya bagian pinggir sepatu yang terlihat bekas lumpur sedangkan tengahnya tidak, menandakan pemiliknya adalah yang menyetir karena menahan pedal pada kakinya.
Setelah memperhatikan detail itu Detektif Joker turun melalui lift dan berniat membeli sarapan untuk Tanaka serta Mark. Baru dia akan berbelok menuju tikungan lift, Detektif Joker dikejutkan dengan kehadiran wanita yang juga terkejut melihat sosoknya. Wanita itu adalah wanita yang sama seperti yang dilihatnya dari lubang kecil jendela tadi. Dia menampakkan ekspresi yang sangat terkejut, tetapi tidak mengeluarkan suaranya.
“Maaf saya tidak berniat buruk,” kata Detektif Joker meminta maaf setelah melihat ekspresi keterkejutan di wajah wanita itu. Bukan hanya terkejut, tetapi dicampur dengan ekspresi rasa takut. Detektif Joker melihat dia memegang tas besar di tangan kanannya.
Wanita itu tidak menjawab kemudian cepat-cepat berlari melewati Detektif Joker. Detektif Joker menatap punggungnya yang menghilang di tikungan. Detektif Joker mengernyit heran dengan kelakuan aneh wanita itu. Intuisinya mengatakan ada hal yang tidak beres. Namun, dia harap memakluminya karena memang seperti inilah budaya Amerika, mereka sedikit tidak acuh dengan lingkungan sekitar dan sangat menutup diri terutama kepada orang yang belum dikenal. Sedikit berbeda dengan Korea tempat tinggalnya dulu yang masih ingin membuka diri dengan lingkungan sekitar.
Detektif Joker akhirnya membeli sarapan pagi untuk mereka bertiga lalu kembali ke apartemen untuk sarapan. Setelah selesai memakan sarapannya Detektif Joker pergi ke kantor polisi. Dia memilih menaiki taxi, cukup malas untuk membawa mobil hari ini karena Detektif Joker hanya sebentar berada di kantor polisi. Semua orang berjalan dengan sangat cepat seperti robot mesin. Kadang Detektif Joker ingin berjalan dengan santai menikmati jalanan Las Vegas yang ramai, tetapi itu cukup sulit mengingat tidak banyak orang yang melakukannya. Dia tiba di kantornya dan Stefan sudah menunggunya dari tadi.
“Aku tidak akan meminta maaf karena keterlambatanku,” katanya sambil berjalan menuju meja Stefan.
“Tidak apa-apa, kemarilah,” ujar Stefan sambil menyuruh Detektif Joker untuk duduk di bangku di depannya. “Ini berkas penahanan mereka, berkat dirimu mereka sepenuhnya ditahan. Aku tidak tahu jika bukti itu tidak ditemukan, pastilah penahanan ini akan sedikit terhambat dan tidak secepat ini,” ujar Stefan dengan raut wajah yang terlihat berbinar.
“Pembunuhan berantai ini cukup meresahkan warga. Aku juga senang kasus ini berakhir. Sayang sekali aku tidak bisa menembak kepala mereka secara langsung” kata Detektif Joker sambil membaca tulisan yang ada di berkas-berkas tersebut. Dia membacanya sambil mengunyah permen karet. “Bagaimana bila kau berikan aku izin untuk memberikan mereka hukuman?”
“Jangan lakukan itu. Kau hanya boleh mengancam ketika interogasi,” katanya dengan memohon karena sudah tahu apa yang akan terjadi bila dia benar-benar memberi izin. “Oh ya Detektif, ada yang ingin aku beritahukan kepadamu. Kita akan kedatangan satu petugas forensik dari Nevada hari ini. Dia seorang wanita,” ucap Stefan yang membuat Detektif Joker menghentikan acara membacanya.
“Kenapa dia datang kemari?” tanya Detektif Joker.
“Guna membantumu, dia dipindahkan tugas,” jawab Stefan. Detektif Joker mengerutkan alisnya setelah mendengar jawaban Stefan. “Seharusnya mereka tidak perlu mengirim orang ke sini. Kau sendiri sudah cukup untuk menangani bagian kriminal dan lainnya ditambah kau juga mempunyai nalar di atas rata-rata. Namun, setidaknya kau mempunyai bawahan baru lagi.” Stefan menatap Detektif Joker yang masih mengerutkan alisnya.
“Aku tidak keberatan akan itu,” ucap Detektif Joker setelah beberapa detik dia diam. Cukup mengherankan dia bisa setuju secepat itu. Sepertinya suasa hati sang detektif sangat baik pagi ini. “Asal dia bisa bekerja menurut aturanku, itu tidak masalah,” sambungnya.
“Baguslah jika kau menerima bekerja denganmu. Aku takut kau tidak mudah menerima orang baru yang tidak bisa bekerja dengan metode milikmu dan kuharap dia bisa mengikuti metode dan aturan milikmu itu,” kata Stefan sambil bangkit dari tempat duduknya. Detektif Joker memandangnya sesaat. “Ayo kita keluar, ada beberapa laporan kasus baru yang kami terima pagi ini. Dua kasus pencurian di rumah dan satu kasus pemerkosaan. Aku tahu kau tertarik dengan kasus ini,” kata Stefan melanjutkan dengan senyumnya. Detektif Joker membalasnya dengan senyum menyeringai, Stefan sangat tahu Detektif Joker senang dengan setiap kasus yang ada. Dia akan berusaha memecahkannya dan mengungkapnya dengan caranya sendiri. Kadang-kadang Stefan, Mark, dan Tanaka tidak bisa memahami apa yang Detektif Joker lakukan untuk mendapat jawaban atas misteri kasus tersebut.
Saat dia keluar dari ruangan tersebut tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Jea yang baru keluar dari pintu di depannya. Jea melengos tidak ingin peduli kepada Detektif Joker yang beberapa saat lalu membuatnya kesal dan juga tidak menepati janjinya. Sementara sang detektif terkekeh pelan melihat tingkah Jea yang menurutnya lucu. Setelah pekerjaannya selesai, dia akan menemui wanita tersebut untuk bicara.