Murder

1749 Kata
Jam sebelas kurang Tanaka baru sepenuhnya bangun. Wajahnya kusut dan rambutnya menjuntai ke segala arah. Dilihatnya Mark masih nyenyak tidur di balik selimutnya. Tanaka merasa lapar dan dia ingin membeli makan siang serta mengisi kulkas. Tanaka lalu mencuci wajahnya kemudian setelahnya dia keluar dari apartemen milik Detektif Joker. Saat Tanaka keluar dia berpapasan dengan wanita paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun akhir. Dia mengembangkan senyumnya kepada Tanaka. “Selamat siang,” ucapnya sambil memberi salam kepada Tanaka. Tanaka membalasnya dan sedikit kaku menyunggingkan senyumnya. “Selamat siang juga,” jawab Tanaka dengan kaku. Wanita paruh baya itu lebih memilih turun melewati tangga batu dibanding lift itu. Tanaka berpikir beberapa saat setelahnya dia memutuskan untuk masuk ke lift. Tanaka tidak tahu siapa orang itu, tetapi seingat Tanaka, Detektif Joker pernah mengatakan unit apartemen di depannya itu kosong jadi Tanaka berpikir pastilah itu tetangga baru mereka. Setengah jam Tanaka berbelanja di mini market dekat gedung apartemen dan dia juga menenteng makan siangnya yang dia beli di restoran Jepang di dekat sana. Ketika sampai di lantai apartemen, Tanaka terkejut karena tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari unit apartemen di depannya. Tanaka dengan sigap langsung mendekat ke sumber suara. Teriakan itu masih berlanjut dan tiba-tiba pintu unit apartemen itu terbuka. Keluarlah sesosok wanita muda dengan raut wajah pucat dan dengan penuh terkejut melihat Tanaka. Tidak sampai beberapa detik wanita itu langsung berlari kencang menuruni tangga. Tanaka masih diam karena dia cukup tidak memahami situasi selama beberapa detik. Setelahnya Tanaka menoleh ke dalam rumah itu. Matanya tiba-tiba saja melebar melihat sesuatu di depannya. Kedua kantong belanjaan Tanaka jatuh ke lantai. Tanaka melihat sosok pria yang cukup tua sudah tergantung di atas langit-langit rumah dan sesosok tubuh wanita tua yang sudah bersimbah darah, tetapi ia masih hidup. Tanaka segera berlari mendekatinya. “Apa yang terjadi?!” tanya Tanaka dengan raut wajah yang sangat khawatir dan panik. Wanita setengah baya yang tadi menegurnya hanya mampu tercekat beberapa detik dengan mata yang melotot. Detik berikutnya dia sudah tidak bernyawa lagi. Tanaka langsung menghubungi Detektif Joker dengan segera. “Hei, terjadi pembunuhan di unit apartemen kita!” teriak Tanaka tidak sabaran. “Tepat di depan lantai unit apartemen milikmu, tetangga di depan unit apartemen milikmu!” lanjut Tanaka dengan intonasi yang Detektif Joker yakin dia tidak sedang bercanda. “Sialan! Aku akan pulang segera. Kau amankan lokasi dan jangan biarkan siapa pun melewati lantai kita. Suruh Mark untuk menjaga di dekat tangga dan kau periksa ruangan rumah itu tanpa menyentuh apa pun. Kau mengerti!” jawab Detektif Joker dengan tegas. “Baik!” jawab Tanaka mantap. Tanaka berteriak memanggil Mark dari pintu depan unit apartemen tetangganya sementara matanya terus mengawasi kedua mayat tersebut. Mark terbangun dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Mark sempat ingin marah dengan Tanaka karena berteriak-teriak membangunkannya, tetapi hal itu langsung diurungkannya ketika dia melihat kejadian di unit apartemen tetangganya. “Apa yang terjadi!” teriak Mark dengan rasa terkejut yang terlihat jelas di wajah baru bangun tidurnya. “Pembunuhan! Detektif Joker sedang menuju ke sini. Kau jagalah di sini sebentar dan jangan sentuh apa pun seperti biasa. Aku sempat melihat siapa pelakunya. Dia seorang wanita!” Mark tidak sempat menjawab perkataan Tanaka karena Tanaka sudah melesat keluar dari ruangan tersebut. Saat ini Mark menjadi panik. Matanya berkeliling melihat ruangan unit apartemen tersebut. Beberapa tumpuk kardus masih ada di sudut ruangan. Ruangan itu tidak banyak isi dan sangat lenggang. Bulu kuduk Mark merinding melihat mayat yang saat ini tergantung di langit-langit rumah dan seorang wanita yang tubuhnya bersimbah darah. Dia memang sudah cukup terbiasa melihat hal tersebut, tetapi tidak pernah dalam kondisi dia sendirian, paling tidak ada Detektif Joker atau Tanaka di dekatnya. Mark lalu mulai melihat hal ganjil apa saja yang ada di ruangan itu. Dia melihat jendela yang terbuka lalu memeriksanya dengan hanya melihat tanpa menyentuhnya. Ruangan tersebut hanya bersekat dinding tanpa pintu dan itu membuat Mark bisa memeriksa setiap ruangan tanpa perlu mencoba menyentuh gagang pintu karena nyaris semua ruangan terbuka. “Tanaka!” Mark dengan cepat langsung menuju pintu depan ketika mendengar suara Detektif Joker. “Detektif, Tanaka melihat pelakunya. Dia seorang wanita dan Tanaka sedang mengejarnya!” jawab Mark. Detektif Joker langsung mengidentifikasi korban. Stefan langsung mengamankan lokasi. Satu persatu tetangga mereka di setiap lantai mulai mengetahui bahwa telah terjadi pembunuhan di unit apartemen mereka. “Hubungi Tanaka, tanyakan di mana posisinya saat ini. Aku rasa dia perlu bantuan pihak kepolisian!” ucap Detektif Joker kepada Mark. Mark langsung menjalankan perintah Detektif Joker. Ketika Detektif Joker sedang memeriksa mayat dia teringat perkataan Mark, wanita! Apakah wanita yang dia lihat pagi tadi. Kemungkinan itu ada karena dia melihat raut wajah wanita itu dan juga gerak-geriknya yang mencurigakan. “Dia seorang wanita dengan tinggi badan sekitar seratus enam puluh lima sentimeter, bertubuh kecil dan berambut lurus berwarna coklat almond. Hidungnya mancung dan matanya cukup besar. Matanya berwarna hazel terang. Berwajah campuran. Mempunyai belahan rambut di sebelah kanan, kulitnya berwarna putih bersih. Aku ingat wanita itu, aku rasa dia juga yang saat ini dikejar oleh Tanaka,” kata Detektif Joker memberi informasi kepada kepolisian. “Dari mana kau tahu?” tanya Stefan. “Bukan kah mereka baru pindah pagi ini dan kau belum mengenal mereka?” sambung Stefan dengan raut heran. “Aku sempat berpapasan dengan wanita itu pagi tadi. Gerak-geriknya cukup mencurigakan dan kemungkinan dia yang membunuh juga pasti ada,” jawab Detektif Joker sambil memeriksa tubuh korban secara rinci. “Cepat cari wanita dengan ciri-ciri seperti itu,” kata Stefan memerintahkan. Stefan tidak bertanya lagi karena dia membiarkan Detektif Joker berkonsentrasi dengan pekerjaannya. “Kematian tidak wajar, keduanya dibunuh. Wanita ini ditusuk dengan benda tajam. Pendarahan karena luka tusuk yang menyentuh arteri karotid. Waktu kematiannya sekitar seperempat jam lalu, suhu tubuhnya masih hangat. Ada tanda perlawanan dari korban, lihat tangan kanannya terluka di bagian lengan. Dia sempat menghindari tusukan itu,” kata Detektif Joker sambil memeriksa mayat wanita paruh baya itu. Setelahnya dia beralih memeriksa mayat kedua. Seorang pria tua yang Detektif Joker lihat pagi tadi. “Kehabisan napas, waktu kematiannya sekitar dua jam yang lalu. Livor mortis (lebam mayat) pada bagian bawah tubuh korban yang terjadi karena pengendapan eritrosit sesudah kematian akibat berhentinya sirkulasi dan pengaruh gravitasi, kematian normal karena kehabisan napas dan tidak ada tanda keracunan di tubuh korban. Korban sempat dipukul dengan benda tumpul hingga pingsan pada bagian kepala belakangnya,” kata Detektif Joker setelah dia selesai mengidentifikasi mayat kedua. “Detektif Joker, kau yakin jika hal ini dilakukan oleh seorang wanita yang ciri-cirinya seperti yang kau sebutkan tadi. Bagaimana caranya dia menggantung pria tua ini yang berat tubuhnya seperempat lebih besar dari wanita itu sendiri?” Tanya Stefan dengan heran. “Bagaimana hasil pemeriksaan ruangan? Apakah ada yang mencurigakan atau cacat?” tanya Detektif Joker mengabaikan pertanyaan Stefan. “Pembunuhan ini rapi sekali, pelaku tidak meninggalkan barang bukti apa pun dan yang masih aku pikirkan bagaimana mayat pria itu bisa menggantung?” tanya Stefan lagi. Detektif Joker menarik napasnya perlahan. Dia melihat langit-langit unit apartemen itu. Tidak cukup tinggi, sekitar tiga meter dari lantai dan di atasnya ada balok melintang dari batu. Tali diselipkan di antara balok yang sedikit renggang di antara pelat lantai atas. Lalu pelaku menarik tali yang sudah digantungkan mayat. Menahan tali tersebut dengan cara mengikatnya pada pegangan lemari. Jika tali itu terlepas dari gagang lemari maka mayat otomatis akan jatuh ke lantai. “Aku rasa karena wanita sialan ini adalah wanita yang kuat meskipun berbadan kecil dan kemungkinan karena dia terlatih juga bisa dimasukan ke dalam deduksi. Pembunuhan ini rapi menandakan dia terbiasa melakukannya dan pelaku hanya satu orang. Tersisa yang kita belum tahu adalah motifnya. Selama pelakunya masih memiliki dua kaki pastinya ada jejak, goresan atau sesuatu yang sepele dipindahkan atau dibuang dan semua itu bisa dideteksi dengan pencarian saintifik,” jawab Detektif Joker. Dia meniup permen karetnya dengan santai. Dia mengamati sekitar sekali lagi. Tadi dia langsung cepat-cepat pulang ketika mendapat telepon. Untungnya dia berada di kantor polisi dan baru saja hendak menemui Azalea yang tengah kesal kepadanya. Karena pembunuhan ini dia mengurungkan niat menemui polisi wanita tersebut. Seorang petugas kepolisian menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Stefan. Detektif Joker mendekat melihatnya. Beberapa lembar tulisan tangan yang berisi alamat rumah tempat tinggal ini, sebuah struk belanjaan yang baru dilakukan pagi tadi di mini market dekat rumah Detektif Joker. Serta tanda pengenal. “Laki-laki ini bernama Justin Watson, umur enam puluh dua tahun. Selama ini tinggal di San Francisco,” kata Stefan sambil membaca tanda pengenal pria itu. “San Francisco,” ujar Detektif Joker sambil menatap mayat itu yang sekarang sedang dibereskan oleh pihak kepolisian. “Dia kemungkinan seorang nelayan, kulitnya coklat terbakar matahari. Jelas itu bukan panas daerah perkotaan karena panas di daerah lautan berbeda dengan panas di Las Vegas dan karena itulah membuat kulitnya coklat. Tangannya kapalan dengan banyak bekas luka karena menarik tali pancing dan jaring, ciri tangannya menunjukan dia memang seorang nelayan. Aku pagi tadi sempat melihat jejak lumpur di depan rumah ini, jadi tebakanku benar mereka berasal dari luar kota. Dia tinggal di tempat yang tidak jauh dari lautan dan cukup terpencil. Lalu mengapa dia membawa mobil pribadi dengan jarak yang sangat jauh itu kemari? Mereka bisa menggunakan kereta atau pesawat. Ini sedikit aneh mengingat Amerika negara maju dengan semua transportasinya,” kata Detektif Joker dengan raut wajah serius. Stefan menatapnya dengan serius, dia tidak ingin mengganggu pemikiran Detektif Joker yang sangat tajam saat ini. “Wanita ini tidak memiliki identitas, perkiraan pertama bahwa wanita ini adalah istrinya karena ditemukan barang-barang wanita ini dan pria ini di dalam satu kardus yang sama. Ada juga pakaian dan beberapa barang wanita muda. Tidak ditemukan juga tanda pengenal atau catatan tentang wanita muda ini, apakah kemungkinan itu anak mereka dan wanita muda ini membunuh kedua orang tuanya? Pekerjaannya sangat rapi dan hampir tidak ada bukti yang berarti,” ujar Stefan berspekulasi. “Kita akan melakukan otopsi kepada kedua mayat. Semakin cepat hasil otopsi selesai maka semakin baik dan mengenai pelakunya kita harus segera menangkapnya meskipun itu anak mereka sendiri,” jawab Detektif Joker. Stefan mengangguk menyetujui perkataan Detektif Joker. “Hei, sebaiknya kita membahas ini di unit apartemen milikku saja dan aku perlu menghubungi Tanaka. Ayo kemarilah,” ajak Detektif Joker keluar dari unit apartemen itu kemudian memasuki rumahnya. Stefan duduk di kursi sofa Detektif Joker, Detektif Joker tengah berbaik hati untuk membawakannya minuman dan ini pula pertama kalinya orang asing memasuki kediaman pribadinya. Sementara Detektif Joker dari tadi mencoba menghubungi Tanaka, tetapi tidak berhasil. Mark juga saat ini ikut membantu pencarian wanita dengan ciri-ciri yang disebutkan Detektif Joker.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN