Agatha berlari dengan tersengal-sengal. Napasnya sangat tidak beraturan. Tangannya lecet dan luka robek juga menghiasi kakinya serta keringat membanjiri tubuhnya. Dia takut. Ketakutan menguasai dirinya. Nyawanya terancam bahaya. Dia tidak tahu dia berada di mana sekarang, yang Agatha lihat hanya lorong kecil di antara bangunan-bangunan toko. Sudah cukup jauh dari gedung apartemen yang baru ditempatinya pagi tadi.
“Aku takut! Aku takut! Aku takut!” ucap Agatha dengan berulang-ulang. Dia memeluk sendiri tubuhnya yang gemetaran.
Agatha bahkan tidak bisa menangis karena ketakutan menguasai tubuhnya. Agatha harus pergi dan terus bersembunyi. Bayangan Tanaka yang mengejarnya terus terngiang. Dia memang tidak cukup kuat untuk berlari dengan cepat, tetapi dia lihai memanjat dan bersembunyi. Agatha tahu rumahnya pastilah sudah penuh dengan polisi. Dia tidak bisa ke sana karena memang dia tidak boleh kembali ke sana lagi. Dia harus bersembunyi bagaimanapun caranya.
Tidak lama Agatha berada di sana, dia mendengar derap langkah kaki beberapa orang yang mendekat. Agatha meskipun lelah dengan cepat bersembunyi di balik tembok. Dia mendengar percakapan orang-orang yang berteriak. Agatha semakin merapatkan tubuhnya, dia tahu itu adalah orang-orang yang tadi mengejarnya. Sosok pria yang tidak lain adalah Tanaka serta beberapa petugas kepolisian dan juga Mark yang ikut bergabung.
“Aku tidak percaya ini. Kita kehilangan jejaknya. Kita kehilangan pembunuh itu!” teriak Tanaka dengan kesal. Dia berbicara dengan intonasi yang memang sangat terdengar kesal. “Ada apa?” Tanaka segera menjauh ketika dia melihat ponselnya menampilkan nama Detektif Joker meneleponnya.
“Cari lagi di sekitar sini. Keadilan harus ditegakan dan pembunuh harus dibasmi. Inspektur Stefan memerintah kita langsung untuk segera menangkapnya, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Ayo cari lagi!” Mark mulai melangkahkan lagi kakinya untuk mencari wanita yang dimaksud oleh Tanaka. Agatha semakin cemas takut jika Mark akan melangkah ke tempat persembunyiannya.
“Tuhan kumohon.” Agatha berdoa dalam hati. Keringat bercucuran dari wajahnya.
“Mark, seorang petugas melihat wanita dengan ciri-ciri seperti itu di sana. Dia sedang menahannya dan sebaiknya kita ke sana,” ucap petugas tersebut melapor kepada Mark. Tanaka dengan cepat menyudahi teleponnya dengan sang detektif kemudian dia mengikuti langkah cepat Mark.
Agatha mengembuskan napasnya. Dia bisa bernafas normal lagi meskipun sisa-sisa rasa cemas masih tertinggal. Dia terduduk lemas sambil menelungkupkan kepalanya. Dia baru bisa menangis sekarang. Luka robek di kakinya tidak dirasakan sakit oleh Agatha. Dia jauh lebih merasa sakit di dalam dirinya. Di hatinya. Sekarang dia tidak tahu harus ke mana lagi. Agatha hanya seorang diri di kota Las Vegas yang cukup asing baginya. Harapan Agatha untuk hidup tenang di awal musim semi ini hancur total. Kejahatan yang tidak tampak sedang mengejarnya saat ini dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain menghindar.
♆♆♆
Pagi cerah itu membuat Detektif Joker sedikit bersemangat. Di pinggiran jalan gedung apartemennya Detektif Joker bisa melihat putik-putik bunga musim semi mulai bermunculan. Sebentar lagi bunga-bunga tersebut akan mekar dan itu artinya akan ada banyak orang-orang yang menikmati musim semi. Detektif Joker menyukai kota Las Vegas karena kota tersebut selain tidak seramai kota New York City, dia juga bisa menikmati perjudian yang sangat digemarinya sebagai ajang untuk mengasah kepiawaiannya membaca ekspresi wajah lawan. Detektif Joker memutuskan untuk keluar membeli sarapan pagi. Hari ini Tanaka dan Mark tidak menginap di tempatnya. Tanaka berada di studio musiknya karena dia akan mengikuti festival sedangkan Mark tidur di rumah kekasihnya. Beberapa hari belakangan dia cukup sibuk karena pembunuhan yang terjadi di lantai unit apartemen miliknya. Tidak ada senjata pembunuhan yang ditemukan. Hasil otopsi sudah keluar dan tidak diketahui identitas wanita tua itu. Tidak ada data-data yang menjelaskan tentang dirinya. Satu kesimpulan Detektif Joker untuk wanita tua paruh baya itu. Dia bukan orang Amerika. Kemungkinan dia orang Asia yang menyelundup masuk ke Amerika.
Detektif Joker keluar dari pintu apartemennya. Segel polisi masih terpasang di sekitaran unit apartemen tersebut. Sebenarnya Detektif Joker tidak diperbolehkan berada di lokasi kejadian pembunuhan, tetapi karena dia sendiri adalah seorang detektif yang menangani kasus ini maka dia mendapatkan izin.
“Selamat pagi, Detektif,” kata seorang pelayan yang sudah mengenal Detektif Joker. Seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Gayanya sedikit nyentrik khas anak-anak muda perkotaan yang terkenal fashionable. Rambut berwarna kuning terang, perawakan seperti karakter anime, memakai pakaian kerja yang didesain sangat unik.
“Berikan aku menu seperti biasa,” jawab Detektif Joker sambil memberikan uang. Detektif Joker lalu duduk sambil membuka ponselnya. Secangkir kopi hitam dan beberapa roti untuk pengganjal perut. Hari ini dia ingin sedikit bersantai dari rutinitasnya dan menikmati awal musim semi.
Tiba-tiba dia teringat dengan polisi cantik yang mencuri perhatiannya beberapa minggu belakangan ini. Dia memang cukup sibuk dan nyaris tidak pernah bertemu dengannya beberapa hari ini. Dia bukan cinta atau menyukai wanita tersebut, tetapi hanya merasa tertantang untuk menaklukannya. Dalam hatinya tidak ada setitik pun rasa yang seperti itu. Dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk urusan perasaan.
“Cepat sekali kau mengangkat telepon dariku.” Dia terkekeh karena puas teleponnya diangkat.
“Baiklah akan aku tutup,” jawab Jea tanpa basa-basi dan langsung mengakhiri panggilan. Detektif Joker terkekeh geli karena jawaban tersebut, tetapi dia tidak tinggal diam begitu saja karena di panggilan berikutnya dia menelepon kembali. Mengganggu Azalea adalah penghilang penatnya.
“Kau memang menunggu telepon dariku karena lagi-lagi cepat sekali diangkat,” ucapnya masih dengan tawa puas.
“Cepat katakan apa maumu? Aku sedang sibuk!” kesal Jea sembari bersiap untuk pergi bekerja. “Ma, aku berangkat!” Jea berpamitan kepada ibunya.
“Tidak ada, aku hanya suka mengganggumu,” jawabnya sambil meminum kopi dengan perlahan. “Menyenangkan memulai hari-hariku dengan membuat orang sepertimu kesal. Rasanya seperti terlahir kembali.”
Di seberang telepon Jea nyaris mengeluarkan semua sumpah serapa yang dia tahu. Detektif ini sudah membuat hari-harinya buruk menjadi semakin buruk. Semenjak dia mencuri ciuman pertamanya, sang detektif sama sekali tidak bertanggung jawab atas kerugian yang dia miliki.
“Harusnya aku memang tidak perlu mengangkat telepon darimu,” ujarnya kesal kemudian mematikan ponselnya dan tidak ingin tahu lagi dengan tingkah laku gilanya yang senang mengganggu Jea. Sementara sang detektif terkekeh geli karena merasa puas dan juga senang. Dia merasa harinya akan menyenangkan karena telah merusak perasaan seseorang.
Detektif Joker kemudian mengecek surelnya, ada beberapa pengaduan kasus yang masuk dan ingin diselesaikan. Detektif Joker melihat dan memilih-milih kasus, jika kasusnya terkesan mudah maka Detektif Joker hanya akan membantu mereka dengan membalas surelnya dan memberitahukan orang tersebut apa yang harus dilakukan. Sedangkan jika sulit Detektif Joker akan menanganinya langsung. Untuk saat ini tidak ada pengaduan kasus yang sulit.
Setelah selesai Detektif Joker membalas belasan surel yang masuk ke ponselnya Detektif Joker mulai menyeduh kembali kopi hitamnya. Ketika dia melihat ke jendela di sampingnya yang tepat berada beberapa meter dari gedung apartemennya Detektif Joker melihat seseorang yang mencurigakan dan kemungkinan seseorang yang beberapa hari ini dia cari. Mata Detektif Joker cukup melebar dan ia segera berdiri lalu berteriak kepada pelayan restoran.
“Hei! Aku akan kembali lagi nanti. Ada seseorang yang harus aku kejar!” Pelayan tersebut belum sempat menjawab perkataan Detektif Joker kemudian dia hanya mengangguk setelah melihat Detektif Joker melesat keluar dari kafenya.