Detektif Joker menyeberang jalan dengan tenang lalu mengendap-endap mendekati orang itu. Pembunuh itu bersembunyi di balik tembok toko makanan sambil mengintip ke arah gedung apartemen yang berada beberapa meter di depannya. Sejenak Detektif Joker berpikir pembunuh yang beberapa hari ini dicarinya saat ini tiba-tiba muncul dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan dan tidak rapi. Tidak terlihat bahwa dia membunuh dengan cara yang rapi dan tidak meninggalkan bukti yang kuat serta saat ini dia muncul dengan kecerobohan di sekitar orang banyak. Dengan sigap Detektif Joker langsung menyerang pembunuh itu dari belakang.
“Kau tidak bisa ke mana-mana lagi. Aku sudah menangkapmu,” bisik Detektif Joker agar orang-orang yang melewati mereka tidak menyadarinya.
Agatha membalikkan tubuhnya dan dia membulatkan matanya menatap siapa orang yang tadi menyerangnya dari belakang. Sebenarnya lebih tepat jika disebut Detektif Joker memeluknya dari belakang daripada menyerang karena Detektif Joker tidak ingin menimbulkan kehebohan. Detektif Joker melihat wajah Agatha yang saat ini pucat dan rasa takut di matanya. Ketakutan yang amat sangat kuat. Ini sering terjadi saat dia melihat pelaku yang bersalah. Mereka pasti memiliki ketakutan yang kadang membuat sang detektif menikmati perasaan puas.
“Aku akan mengamankanmu lebih dulu dan kau harus memberikan keterangan kepadaku, Wanita Sialan.” Detektif Joker tetap berbicara dalam intonasi yang pelan karena dia tahu apabila terlalu mencolok akan menarik perhatian orang banyak. Dia mengira wanita yang ada depannya saat ini adalah orang Jepang atau Korea meskipun dia berwajah campuran. Ada kontur di wajahnya yang sangat khas dan hanya bisa dilihat oleh mereka yang ahli dalam bidang seperti Detektif Joker. Agatha memberontak dengan kuat. Dia harus lari dan tidak ada yang boleh menangkapnya. Detektif Joker lalu menyeret Agatha ke tempat yang cukup sepi. Orang-orang yang menoleh tidak ambil pusing karena memang orang Amerika tidak ingin mengganggu urusan orang lain.
“Diam atau aku akan segera memanggil polisi!” kata Detektif Joker dengan tegas. Agatha tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Detektif Joker karena dia tidak bisa sepatah kata pun bahasa Jepang. Sang detektif sengaja memakai bahasa Jepang untuk melihat reaksi wanita tersebut, tetapi dia memang tidak mengerti. Agatha memilih diam sambil memeluk tubuhnya sendiri. Detektif Joker mengamati Agatha, tidak ada potongan seorang pembunuh di diri wanita yang saat ini berdiri beberapa sentimeter di depannya.
Saat ini yang menjadi pertanyaan di otak Detektif Joker adalah mengapa tatapan wanita ini lebih terlihat ketakutan dan waspada daripada tatapan seorang pembunuh kejam berdarah dingin yang tanpa ampun membunuh. Detektif Joker memperhatikan penampilannya, cukup kacau. Pakaian yang bagus, tetapi terlihat robek di beberapa bagian. Luka memar di jari-jari tangannya serta luka lecet di sikunya dan cara berjalannya yang sedikit pincang. Detektif Joker melihat ada luka robek yang cukup besar di betis yang juga merobekkan celana jin wanita itu. Darahnya sudah mengering dan menimbulkan pembengkakan serta terjadi infeksi pada luka tersebut. Luka itu disebabkan oleh benda tumpul yang terbuat dari besi. Detektif Joker mendeduksi bahwa kaki wanita ini pasti tersangkut di sebuah kawat besi.
“Kenapa kakimu? Apakah itu terjadi karena kau kabur dari kejaran polisi?” tanya Detektif Joker sambil menatapnya tajam. Agatha meringis, tetapi dia tidak menjawab. Dia tidak mengerti dan memang dia harus menjaga dirinya. Ini kota Las Vegas yang bukan kota kelahirannya, dia harus berhati-hati karena nyawanya sendiri terancam.
“Mengapa kau tidak menjawab? Jawab pertanyaanku, aku adalah detektif swasta sekaligus ahli forensik di kepolisian wilayah kota Las Vegas, kau adalah tetanggaku dan yang ingin aku tanyakan saat ini apakah kau yang membunuh Justin Watson dan wanita yang diduga istrinya itu?” tanya Detektif Joker sambil menatap tajam mata Agatha. Agatha memundurkan langkahnya sampai pundaknya menyentuh tembok di belakangnya. Ketakutan menguasainya kembali.
“Aku tidak ingin berlaku kasar kepadamu terlebih kau adalah seorang wanita. Jika kau tidak ingin memberikan keterangan kepadaku maka aku terpaksa membawamu ke kantor polisi atau kau ingin merasakan moncong senjata ini di kepalamu?” Detektif Joker mengambil senjata apinya sambil menatap Agatha tajam.
Agatha tahu Detektif Joker marah kepadanya walaupun dia tidak menjawab ucapan Detektif Joker sama sekali. Agatha tidak mengetahui bahwa Detektif Joker adalah orang senegaranya sendiri–Detektif Joker dibesarkan di Amerika meskipun dia lahir di Korea negara ibunya. Agatha menggelengkan kepalanya dengan takut dan terus memeluk dirinya sendiri.
“Apa kau bisu, sialan?” tanya Detektif Joker yang kesabarannya mulai hilang. Dia bahkan nyaris menarik pelatuk senjatanya karena tidak sabaran. Agatha tidak menjawab lagi dia lelah berpikir bagaimana caranya berbicara kepada orang tersebut terlebih memang tubuhnya saat ini sangat lemah. Lima hari ini dia tidak makan dan minum serta hidup bersembunyi. Tujuannya kembali ke apartemennya adalah untuk mengambil simpanan uang dan pakaiannya, Agatha terdesak melakukannya walaupun dia sendiri tidak ingin kembali ke sana.
Detektif Joker tidak sabaran mengeluarkan kertas dan bolpoin dari saku jaketnya. Dia memberikannya kepada Agatha. Menyuruh Agatha untuk menulis jawabannya di sana sembari dia mengajukan pertanyaan. Namun, Agatha menolaknya, dia tidak ingin menerima kertas serta bolpoin tersebut dan masih saja memeluk dirinya sendiri dengan rasa takut dan tubuh menggigil. Dia bukannya tidak bisa bahasa Inggris, hanya saja dari tadi sang detektif memakai bahasa Jepang yang membuatnya tidak mengerti. Entah mengapa detektif itu menyangkanya orang Jepang. Dia pun ketakutan dan tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya. Meskipun Detektif Joker sudah cukup kehilangan kesabarannya, tetapi dia berusaha menahannya. Ada satu hal yang mengganjal saat ini mengenai Agatha dan dia sudah yakin hal ini dari awal dia melihat Agatha yang penuh ketakutan. Nalurinya mengatakan wanita itu bukanlah pembunuhnya, tetapi dia tidak bisa membenarkan hal itu begitu saja tanpa pemeriksaan berkala di pihak kepolisian.
“Hei ada apa denganmu?” tanya Detektif Joker melihat keanehan pada diri Agatha. Agatha menggigil dan dia langsung terduduk di lantai. Pingsan. Itu yang Detektif Joker lihat setelah dia memeriksanya. Dia langsung menyambut tubuh tersebut karena tidak ingin wanita tersebut jatuh dan mengalami hal yang lebih buruk.
“Tekanan darah rendah, bibir pecah-pecah, suhu tubuh yang kurang normal serta menggigil. Kelaparan dan kehausan karena tidak makan beberapa hari,” kata Detektif Joker setelah memeriksa Agatha. Tubuh Agatha memang benar-benar lemah. Detektif Joker melihat ke arah jalan sebentar. Unit apartemennya hanya berjarak tiga puluh meter dari tempat persembunyian mereka sekarang.
Sebelum dia benar-benar menggendong wanita tersebut untuk mengobatinya, dia menelepon seseorang untuk dimintai bantuan. Tidak mungkin rasanya dia merawat wanita tersebut. Seberengsek dirinya, dia tidak akan melakukan hal yang keji kepada wanita tidak berdaya.
“Datanglah ke apartemenku sekarang juga. Kau akan mati bila tidak datang tepat waktu. Aku serius.” Jea hanya mampu terheran-heran dengan telepon masuk yang memerintahnya barusan. Tidak lama pesan muncul di ponselnya. Sang detektif mengirimkan alamat tempat tinggalnya diiringi dengan foto seorang wanita yang tengah terduduk pingsan.