Interrogation

1083 Kata
Detektif Joker akhirnya menggendong tubuh Agatha. Dia tidak ingin membiarkan tahanannya itu mati begitu saja karena urusannya akan panjang. Jika memang terbukti Agatha bersalah maka dia harus mendapat hukuman oleh sebab itulah Detektif Joker menolongnya untuk tetap hidup karena keadilan dan hukum harus ditegakkan. Setidaknya dia harus membayar hukuman dengan hidupnya sendiri. Detektif Joker tidak terlalu peduli dengan pandangan orang yang meliriknya sekilas ketika dia menggendong Agatha yang pingsan. Setelah sampai di unit apartemennya Detektif Joker langsung membaringkan Agatha di sofa kemudian dia langsung memberikan pertolongan pertama kepada Agatha. Detektif Joker juga mengobati luka infeksi pada kaki Agatha dan beberapa luka lainnya. Dia mengamati Agatha dengan teliti. Dia yakin di bagian tubuh yang lain pasti banyak terdapat luka. Dia masih menunggu Azalea untuk datang membantunya merawat wanita ini. Sudah sepuluh menit dia menunggu, tetapi polisi cantik itu belum tiba juga di apartemennya. Karena kesal, dia menghubunginya kembali. Sayangnya teleponnya kali ini tidak diangkat oleh Jea. “Tidak ada tanda pengenal, sama seperti wanita tua sialan itu. Apakah dia juga bukan orang Amerika asli? Wajahnya berdarah campuran, tetapi campuran mana? Tinggi tubuhnya termasuk ke dalam golongan tinggi orang Cina Utara atau Korea. Wanita Jepang ukuran tubuhnya lebih pendek dari orang Korea dan juga Cina. Kulitnya putih dan bukan kuning langsat atau coklat. Kulit kuning langsat adalah d******i warna kulit langsat wanita di Jepang, jika dia selama ini tinggal di San Francisco bersama Justin Watson pastilah kulitnya juga berwarna coklat terbakar atau kuning langsat. Jadi kesimpulanku wanita paruh baya sialan itu dan gadis sialan ini bukan orang San Francisco yang tinggal di dekat laut. Tidak ada cacat fisik atau bekas luka pada diri wanita ini sebelumnya, menandakan dia adalah orang yang bisa merawat diri dan juga kemungkinan dia dari keluarga berada bisa dimasukan, wanita ini tidak pernah melakukan pekerjaan keras, kulit tangannya sangat halus. Cukup mustahil bila wanita ini melakukan pembunuhan jika dilihat dari fisiknya saja. Siapa wanita paruh baya itu dan juga wanita ini?” tanya Detektif Joker pada dirinya sendiri setelah dia mulai menemukan kesimpulan sedikit demi sedikit mengenai sosok Agatha dan wanita paruh baya itu. Ketika Detektif Joker tengah mengamati Agatha yang saat ini sedang terbaring karena pingsan, Agatha terbangun. Dia membuka matanya dan beberapa saat dia tidak menyadari ada di mana dirinya sampai Detektif Joker menegurnya. Tepat saat itu pula pintu apartemennya diketuk. Detektif Joker langsung membukanya kemudian melihat Azalea berdiri di sana. Dia langsung menyuruh polisi cantik itu untuk masuk melihat keadaan wanita yang dia temukan. Dia menjelaskan secara singkat apa yang terjadi kepada wanita tersebut. “Kenapa tidak memberitahuku sedari tadi siapa dia,” protes sang polisi sambil membuka sepatu lalu memakai sandal rumah. “Karena kau selalu mematikan panggilanku sesuka hatimu.” Detektif Joker tidak berbicara lagi dan langsung mempertemukan mereka berdua. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Detektif Joker dalam bahasa Korea kali ini. Agatha langsung mengalihkan matanya dan mendapati Detektif Joker yang saat ini menatap teliti dirinya. Dia sana juga ada Azalea Hilton yang memakai seragam kepolisian. Agatha langsung terduduk dan dia kembali merasa takut. Jea kemudian mendekatinya lalu tersenyum sambil “Tidak apa-apa, dia bukan orang jahat. Dia detektif dan juga polisi di bagian forensik. Sepertinya kau kelaparan dan kehausan. Sebaiknya kau makan terlebih dahulu. Setelah kau selesai makan, kau harus memberikan semua keterangan yang aku butuhkan,” ucap Jea sambil meminta makanan kepada tuan rumah. Detektif Joker menatap polisi wanita itu dengan tajam. Akhirnya dia menurut sambil mengambil makanan dan minumannya di kulkas lalu memberikannya kepada Jea. Biasanya dia tidak pernah menurut dengan siapa pun. Agatha menatap Detektif Joker dengan penuh kecurigaan. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Detektif Joker kepadanya beberapa saat lalu, tetapi Agatha mengerti ketika Jea berbicara bahasa Inggris kepadanya. Dia tidak tahu mengapa detektif itu selalu menganggapnya orang Jepang. Melihat dia bisa menangkap maksud ucapan Jea setelah Detektif Joker menyodorkan nampan kepadanya, Detektif Joker mengembuskan napasnya dan kesimpulannya saat ini sampai pada fakta bahwa memang Agatha tidak mengerti ucapannya. Detektif Joker menyadari bahwa Agatha memang benar bukan orang Jepang. Dia memang kadang sangat detail dalam menilai orang. Kadang berpura-pura sangat bodoh untuk tahu kebohongan penipu di depannya. Agatha mulai memakan makanannya sambil dibantu oleh Jea yang membersihkan luka lainnya. Dia menyimpulkan bahwa Detektif Joker dan polisi cantik yang saat ini ada di depannya adalah orang baik. Dia mau menolong Agatha yang berpotensi sebagai seorang pembunuh. Agatha melihat luka di kakinya sudah diobati, tetapi yang menjadi kendala Agatha saat ini adalah tatapan menyelidik dan juga tajam milik pria menakutkan yang dikenal sebagai Detektif Joker. Detektif Joker terus memperhatikan Agatha sehingga Agatha merasa tidak nyaman. “Tatapanmu membuatnya takut. Bisakah kau bersikap lebih lembut?” protes Jea yang juga merasa tidak nyaman. Sang detektif mengabaikan ucapan itu. “Can I know your name?” tanya Detektif Joker dalam bahasa Inggris. Agatha menghentikan suapannya. Detektif Joker langsung tahu bahwa Agatha memang paham apa yang ditanyakannya. Perbedaannya sangat terlihat dari gerakan dan raut wajahnya. “Your name?” ulang Detektif Joker karena Agatha tidak juga menjawab. “No,” jawab Agatha dengan perasaan takut. “Why?” tanya Detektif Joker lagi. Dia menatap ekspresi di wajah Agatha yang masih menunjukkan ketakutan dan juga kecemasan. “Oke…It’s oke,” kata Detektif Joker mengalah setelah tatapan tajam Azalea yang menyuruhnya untuk tidak terlalu memaksa. Bagaimanapun kondisi wanita yang ada di depan mereka saat ini sangat memprihatinkan. Tidak seharusnya detektif itu mendesak berlebihan pikir Jea. “Where are you from? China? Hongkong? Jepang? Korea? America? Europe?” tanya Detektif Joker lagi. Dia membaca raut wajah Agatha yang masih menampakkan rasa takut. “Amerika,” jawab Agatha dengan suara gemetar. Detektif Joker langsung mengembuskan napasnya. Seharusnya dia menggunakan bahasa Inggris dari tadi, tetapi jika tidak seperti itu, dia tidak bisa menyingkirkan beberapa kemungkinan dalam deduksinya sendiri. “Baiklah, bisa kau memberitahuku tentang pembunuhan yang terjadi. Siapa kedua orang korban tersebut? Apakah kau yang membunuh mereka? Jawab aku dengan jujur atau peluru panas ini akan menembaki otakmu.” Detektif Joker langsung berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar tanpa cela dan juga seperti biasa senjata api yang selalu menjadi barang menakutkan untuk orang yang sedang diinterogasinya. Agatha membulatkan matanya mendengar ucapan lancar Detektif Joker. Dia melihat senjata api yang kali ini bukan pistol melainkan laras panjang. Jea meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa jika dia menjawab pertanyaan sang detektif dengan jujur. Jea kemudian berinisiatif untuk mencari pakaian ganti wanita itu di apartemennya, tetapi sang detektif melarang karena area tersebut masih menjadi tempat penyelidikan. Akhirnya Jea memutuskan untuk membelikannya pakaian. Dia meninggalkan sang detektif yang berniat menginterogasinya seperti biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN