Two

1686 Kata
Detektif Joker menyeringai lebar menampakkan gigi putihnya serta lesung pipinya yang samar. Jangan berpikir tampang detektif itu menakutkan. Dia bahkan sangat tampan dan usianya masih tergolong muda. Mata tajam nakalnya bagai serigala yang siap menerkam mangsa, bibir tipisnya yang sangat pas serta selalu terlihat tersenyum meskipun ia sedang diam, hidungnya yang bangir, dan alisnya yang hitam rapi berjejer di atas pelupuk matanya yang dalam. Yang membuatnya dipanggil dengan Detektif Joker hanya karena tingkahnya yang gila seperti The Joker dalam kisah Batman. Memaksa orang dengan cara kekerasan, licik dalam mengintimidasi, dan ia tahu segalanya. Ia juga melakukan segala cara hanya untuk menang dari para tersangka yang bersembunyi di balik kebaikan. Dia akan menguliti semua kejahatan yang ditanganinya. Tidak ada ampun untuk kejahatan di dalam kamusnya. “Jangan berpikir aku sedang menggodamu karena wajahmu sedikit lebih bagus dibanding wajah babi sialan, kekeke. Aku hanya sedang lapar dan tidak ingin mengeluarkan uangku.” “Tidak apa, memang sudah seharusnya kami membalas jasa Anda. Tunggu sebentar, saya akan mengambil tas dan kita akan pergi makan siang,” jawab polisi cantik itu. Dia sudah terlalu sering mendengar kata-kata kasar dari pria itu jadi dia tidak ambil pusing. Polisi cantik itu merasa bertanggung jawab atas kebaikan detektif gila yang telah membantu mereka. Selama ini ia kagum dengan aksinya yang bisa memecahkan misteri dan membantu banyak polisi. “Jea, kau ingin ke mana?” tanya polisi yang merupakan teman polisi cantik tersebut. “Makan siang, akan aku ceritakan padamu nanti setelah kembali, ok!” jawabnya sambil cepat-cepat keluar dari ruangan. Polisi cantik itu bernama lengkap Azalea Liu Hilton, tetapi ia sering dipanggil Jea, Zea, Lea, atau Azalea, orang-orang lebih praktis memanggilnya Jea. Dia masih muda dan bekerja di kepolisian karena kedua orangtuanya adalah polisi. Dia berdarah Amerika-China. Ibunya orang China asli, tetapi menetap di Amerika dan menjadi warga negara Amerika. Di rumah, ibunya lebih senang memanggil Jea dengan nama China miliknya, Xia Liu. “Maaf lama menunggu. Ayo kita naik taxi,” ajak Jea sambil menyetop taxi. “Tapi tunggu, apakah Anda akan tetap membawa senjata itu. Anda akan menakuti orang-orang,” wajahnya jelas terlihat cemas bukan main. Beberapa orang sudah melirik detektif itu dengan rasa takut. “Aku tidak peduli dengan reaksi orang-orang sialan, kekeke,” jawabnya tidak peduli dan menaiki taxi yang sudah ada di depannya. Azalea Hilton menampakkan wajah kesalnya, tetapi hanya sebentar. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran detektif itu. Ia kemudian menaiki taxi dan menuju tempat makan yang selalu menjadi favorit keluarga Hilton. Detektif itu hanya mengikuti tanpa banyak protes dan mereka hanya diam selama berada di dalam taxi. Jea tidak tahu harus berbicara apa dan bertindak bagaimana di dekat sang detektif. Banyak rumor mengatakan sang detektif tidak suka menjawab pertanyaan bersifat pribadi. Dia akan menodongkan senjatanya bila tetap memaksa untuk tahu kehidupan pribadinya. “Pesanlah makanan.” Jea menawarkan buku menu. “Semua makanan yang paling mahal dan paling enak,” jawabnya tanpa membuka buku menu. “Baiklah, saya akan memesankannya.” Jea kemudian memanggil pelayan dan memesankan makanan sementara detektif gila itu duduk dengan melipat tangannya di d**a. Senjata apinya ia letakkan di atas meja. “Minumanku cola.” Jea menghentikan ucapannya dan menatap detektif itu. Ia mengangkat alisnya sedikit lalu kembali melanjutkan pesanannya dan memesankan cola untuk detektif itu. “Bisahkah Anda letakkan senjata ini di bawah meja saja? Kita akan makan,” pinta Jea dengan hati-hati setelah ia memesan makanan. “Apa bedanya atas dan bawah jika masih sama-sama di bumi.” “Ya saya tahu, tetapi itu akan menggangu orang-orang.” “Persetan dengan mereka.” “Detektif, saya tahu Anda ingin berwaspada dari kejahatan di kota judi ini. Namun, jangan membuat masyarakat cemas, saya mohon.” Jea memohon kepada Detektif Joker karena ia melihat beberapa pengunjung yang sedikit ketakutan. Saat ini Jea tidak sedang memakai pakaian dinas dan itu dapat menimbulkan persepsi jahat di mata masyarakat siapa dirinya sebenarnya. “Cih, apakah aku terlihat menakutkan?” “Ya dengan senjata Anda, tetapi tidak jika Anda menyembunyikan senjata itu sekarang.” Detektif gila itu kemudian mengambil senjatanya lalu menodongkannya ke kepala Jea. Orang-orang yang berada di sana dan melihat aksi detektif itu langsung berhamburan. Jea sendiri membulatkan matanya sementara detektif itu tertawa puas. “Tenanglah semuanya. Saya adalah polisi dan dia adalah detektif! Jangan takut, dia hanya bercanda!” Jea berusaha menenangkan orang-orang yang berhamburan, tetapi percuma karena semua orang sudah keluar dan hanya tersisa mereka berdua di sana. “Sekarang tidak ada lagi orang yang perlu aku buat cemas dan ini yang kau inginkan. Makan berdua denganku.” Detektif itu terkekeh lagi dan Jea menatapnya dengan marah. Moncong senjata itu masih tersandar di dahi Jea. Ini benar-benar sudah keterlaluan pikir Jea. Tindakannya tidak bisa ditolerir lagi. Ia sudah membuat masyarakat tidak nyaman dengan kehadirannya dan tindakannya. Sebagai penegak hukum yang baik tentu ia harus melakukan sesuatu demi kenyamanan masyarakat. “Kau sudah gila!” “Memang, semua orang menyebutku seperti itu, kekekeke!” ucapnya diiringi tawa penuh kemenangan. “Aku akan melaporkanmu!” Jea langsung mengambil ponsel di saku celananya. “Tidak perlu repot-repot karena orang-orang sialan di luar sana telah memanggil polisi.” Dia kemudian berdiri dan tetap mengarahkan moncong senjatanya di dahi gadis cantik itu. “Jika kau tidak ingin mati konyol, sebaiknya kau diam dan tidak bergerak.” Jea merasa seluruh darahnya mendidih. Rasa kagumnya pada detektif gila itu hilang menguap begitu saja. Tersisa sekarang hanya setumpuk kebencian yang menggunung. Sementara pria itu semakin mendekatinya dan langsung menarik paksa jas yang dipakai Jea. Jea tersentak kaget sampai-sampai ia jatuh dari duduknya. Kemudian detektif gila itu langsung mencopot semua kancing pada jas itu dan memasukkannya ke dalam minuman cola yang telah diantarkan pelayan tadi. Jea merasa heran dengan ulah detektif gila itu. “Apa yang kaulakukan?” “Kau sedang diawasi dan kau ingin tahu apa yang lebih hebat lagi? Itu alat pelacak dan di ruangan ini sudah ditinggalkan bom.” Mata Jea terbelalak. Ia tidak percaya dengan ucapan pria itu. Namun, rasa tidak percaya Jea hilang begitu saja setelah detektif itu meletakkan satu tas besar yang sebelumnya berada di bangku pengunjung lain restoran tersebut. Detektif itu membukanya tanpa rasa takut dan mata Jea semakin terbelalak kaget ketika ia melihat bom rakitan di sana. Detektif itu juga mengambil bom itu dengan sapu tangannya kemudian memperhatikannya secara teliti. “Siapa yang melakukannya padaku?” “Orang-orang sialan.” Jea masih memburu napasnya. Ia tidak menyangka ini terjadi padanya. “Sekarang apa kau sudah mengerti dengan apa yang aku lakukan, Wanita Sialan?” Jea masih diam, ia kemudian berusaha menyusun apa yang terjadi di otaknya. “Kau menyelamatkan semua orang di sini dengan cara menakutkan!” ucap Jea yang telah sadar dengan apa yang sebenarnya telah dilakukan detektif gila itu. “Kau sudah tahu bahwa di pakaianku ada alat pelacak?” “Jangan bertanya pertanyaan bodoh. Jelas-jelas aku tahu itu dari semenjak kau mengajakku untuk makan siang. Kancing pakaiannmu satu itu terlihat berbeda dan kau tidak menyadarinya. Kau tidak waspada sama sekali. Target mereka adalah kau,” jawabnya sambil mengutak-atik semua bom itu. “Cepat panggil teman-temanmu dan blokir semua tempat sejauh satu kilometer ke depan. Pelaku bukan satu orang!” “Tapi kenapa aku menjadi target mereka?” tanya Jea dengan nada antara takut dan bingung. “Aku bukan Tuhan yang bisa tahu alasan mereka tanpa menyelidiki. Sialan, cepat panggil teman-temanmu!” bentaknya kesal karena Jea bereaksi lambat atas perintahnya. Jea segera melakukan apa yang diperintahkan oleh detektif gila itu sementara pria itu menjinakkan bom yang sudah hampir meledak. Setelah menghubungi teman-temannya Jea terlihat cemas, ia harus kembali berterima kasih karena nyawanya diselamatkan. Jea tahu semua aksi yang dilakukan detektif gila tadi hanyalah untuk menyuruh semua orang keluar dari ruang makan itu tanpa mengetahui bahwa di antara mereka ada pelaku bom. Jika ia mengatakan langsung ada bom di sana, kehebohan akan meningkat beberapa kali lipat dan pelaku kemungkinan akan langsung meledakkan tempat makan lalu korban berjatuhan dalam jumlah banyak dan cara terbaik yang dipilih detektif itu adalah dengan menebar ancaman bahwa ia juga merupakan orang jahat dan pelaku meninggalkan bomnya di sana. Sang detektif sangat yakin para pelaku akan meninggalkan bom di sana begitu saja karena mereka bebas keluar tidak dicurigai dan yang akan menjadi tersangka jelas-jelas sang detektif. Dengan seperti itu ia bisa mempunyai kesempatan menjinakkan bom. Itulah yang telah ia rencanakan dari semenjak melihat alat pelacak pada jas gadis itu dan orang mencurigakan yang mengikuti mereka semenjak mereka naik taxi serta memasuki restoran. Detektif gila itu tahu ada yang tidak beres, insting tajam dan nalurinya tahu kapan ada yang beres dan tidak beres. Pastilah ini menyangkut kasus yang akhir-akhir ini terjadi karena polisi mencurigai kasus pembunuhan berencana dan berhasil menangkap beberapa saksi serta sekarang tengah mencari siapa tersangka utamanya. Itu motif yang sedang detektif itu perkirakan untuk saat ini. “Kau melaundry pakaianmu?” tanya detektif itu. “Ya, di laundry dekat apartemenku.” “Cih, aku akan mengecek ke tempat laundry itu nanti. Beraninya mereka meletakkan alat pelacak di pakaianmu.” “Mereka saudah datang!” Para polisi langsung mengamankan tempat kejadian dan mencari kemungkinan bom lain yang berada di sana. Polisi juga memblok jalan dan semua orang diperiksa ketat. “Dalam satu jam ke depan aku akan memberikan kalian data para pelaku, kekeke.” “Kau sudah tahu mereka?” tanya Jea penasaran. “Tidak, tetapi akan kucari tahu segera,” jawabnya sambil menyeringai. Detektif itu telah selesai menjinakkan bom dan polisi sudah mengamankan tempat kejadian. Detektif itu kemudian berjalan keluar dari tempat kejadian. Jea segera mengejarnya karena ia harus meminta maaf sekaligus berterima kasih. “Jika kau ingin meminta maaf serta berterima kasih, balaslah dengan tubuhmu itu, kekeke. Kau tahu apa yang harus dilakukan dan jangan buat aku kecewa karena menunggumu. Kutunggu kau di Bellagio Hotel satu jam lagi.” Setelah mengucapkan itu Detektif Joker langsung pergi sambil membawa senjatanya. Ia juga telah dijemput dengan mobil mewah berwarna merah menyala. Sementara Jea tidak dapat mengucapkan apa pun. Ia ingin menampar wajah sang detektif karena ucapannya beberapa saat yang lalu, tetapi di satu sisi ia harus tahu banyak hal dari detektif tersebut untuk keterangan lebih lanjut. Haruskah ia datang ke sana pikirnya? TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN