“Jadi kau memang telah siap membayar rasa terima kasih serta permintaan maafmu?”
Detektif gila itu duduk di tempat tidurnya sambil mengutak-atik laptopnya. Ia menyewa kamar kelas presiden, Jea tidak tahu sekaya apa detektif itu hingga mampu menyewa kamar kelas paling mahal yang ada di sana. Mungkin dia memang kaya raya dan mempunyai segalanya, tetapi itu semua tidak mungkin ia dapatkan jika hanya bekerja sebagai detektif. Ia pastilah mempunyai pekerjaan lain yang mampu menghasilkan uang banyak. Mungkin dia seorang pengusaha yang sukses dan memiliki banyak usaha serta saham di mana-mana. Bias jadi hal tersebut terjadi, tetapi mereka selama ini tidak pernah tahu siapa dia sebenarnya.
Jea bisa berada di sana setelah detektif itu menelponnya. Jea tidak tahu bagaimana caranya detektif itu mendapatkan nomor ponselnya. Seingat Jea ia tidak pernah memberikannya kepada detektif nomor telponnya, tetapi itu tidak heran karena detektif itu tahu segalanya.
“Ya aku minta maaf karena telah menyangka kau berniat jahat serta makan siang kita batal dan aku ingin berterima kasih karena kau telah menyelamatkan semua orang.”
“Itu tidak membuatku kenyang. Sebelumnya sudah kukatakan, kau bisa membayarnya dengan tubuh sialanmu, kekeke!”
“Tolong jangan meminta yang macam-macam!”
Jea bersumpah akan menembak sang detektif tepat di kepalanya dengan pistol bila ia melakukan hal buruk kepadanya.
“Kau yang berpikir macam-macam, kekeke.”
Detektif itu kemudian mendekati Jea yang masih berdiri di ambang pintu. Ia tertawa pelan lagi dan Jea berusaha tenang. Ia mengatur napasnya perlahan. Mata nakal itu memperhatikan Jea dengan teliti. Setiap jengkal tidak ia lewatkan untuk dilihatnya. Tentu saja Jea merasa risih diperhatikan sedemikian detail oleh sang detektif.
“Sebagai rasa terima kasih serta maafku, aku akan mengajakmu untuk makan malam. Kau yang menentukan tempatnya.”
Terlihat seperti ia sangat mengejar-ngejar sang detektif karena selalu mengajaknya makan di luar. Hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang detektif. Ia tentu tidak akan memberikan lebih dari itu apalagi seperti permintaan tidak masuk akal yang diucapkannya siang tadi.
“Baiklah, tetapi sebelumnya mari kita bersenang-senang terlebih dahulu,” seringainya jelas sekali menandakan maksud.
“Tidak, terima kasih. Aku harus langsung pulang.”
“Kau sombong sekali. Kau tahu sifat sombong itu sangat dibenci Tuhan kekeke.”
“Maaf, tetapi aku tidak bermaksud sombong. Aku masih mempunyai pekerjaan lain yang harus aku selesaikan.” Dia tidak berbohong. Setelah ini dia memang masih memiliki pekerjaan lain dan harusnya detektif itu mengerti bahwa dia adalah pegawai pemerintah.
Detektif itu menyeringai lalu menuangkan minumannya dan ia minum dengan pelan. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Ia memandang jendela kaca super besar di depannya sambil minum. Jea memperhatikannya dari belakang. “Ada idiom yang mengatakan manusia sombong sama dengan sampah. Itu berlaku untukmu, kekekeke.” Ia meletakkan minumannya dan kembali berjalan ke arah Jea. Jea sendiri segera memutuskan untuk keluar dari kamar hotel tersebut karena dia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan antara dirinya dan sang detektif.
Jea dengan cepat membuka pintu kamar hotel tersebut, tetapi dicegah oleh detektif gila itu. Jea terkesiap kaget, tetapi pria itu hanya menyeringai dan meletakkan sesuatu di tangan Jea.
“Itu data-data pelaku pengeboman hari ini. Aku sudah melacak mereka. Jika kalian tidak bisa menangkapnya maka kepalamu akan kutembak.” Dia berbisik di telinga Jea, suara husky miliknya mengelitik pendengaran Jea. Jea dapat merasakan tubuhnya gemetar dan pencernaannya mendadak terasa mual. Dia dapat mencium wangi segar dari parfum sang detektif yang membuatnya teralih beberapa saat.
Jea lalu memandangi flasdisk yang diberikan oleh detektif gila itu. Ia yakin bahwa data-data pelaku yang diberikan akan sangat membantu kepolisian. Detektif gila itu bergerak bagai bayangan yang tidak tampak dalam mencari informasi. Ia lebih cepat daripada kepolisian mana pun, jaringannya sangat luas dan ia tidak pernah gagal. Begitu pula dengan jati dirinya, tidak ada yang tahu siapa dia dan dari mana ia berasal. Hidupnya bagai misteri dan ia menenggelamkan dirinya di dalam misteri-misteri itu sendiri.
“Terima kasih, aku akan segera memberikan ini kepada teman-temanku! Nanti malam aku akan menghubungimu!”
Jea segera keluar dari kamar itu dan dengan cepat kembali menuju kantor polisi. Ia harus memberikan data-data pelaku yang telah didapatkan Detektif Joker kepada teman-temannya. Sementara Detektif Joker memandangi langit siang yang cukup terik dari jendela besar kamarnya. Ia kemudian kembali ke kasur dan laptopnya.
“Si b******k, hanya gadis ini yang berani terhadapku, kekeke!” matanya berkilat-kilat senang. “Mari kita lihat seberapa tangguh polisi wanita sialan sepertimu.”
TBC...