19 : Pergi

1334 Kata
Yuda mengerjapkan mata, tangannya meraba-raba mencari seseorang yang semalam membuat dirinya tidur dengan begitu nyenyak. Menyadari tidak ada seorang pun di sampingnya, Yuda tersentak. Lalu ingatannya kembali ke malam tadi, di mana dia yang begitu marah karena mendapati Rana yang pulang dalam keadaan mabuk, lalu memorinya terus berputar sampai ke kejadian di mana Yuda mengambil haknya sebagai suami dengan cara paksa dan menyadari bahwa dia menjadi yang pertama untuk istrinya. Yuda mengumpat, dia sudah menyakiti istrinya begitu dalam. Bahkan mengatakan kalau Rana sudah tidur dengan Brian, Yuda menyesal dengan apa yang dia katakan dan dia lakukan. Yuda pun beranjak mencari keberadaan istrinya sampai suara air yang berasal dari kamar mandi membuat Yuda sedikit mengembuskan napas lega, karena sudah pasti istrinya berada di dalam kamar mandi. Yuda memilih menunggu Rana sampai selesai, sembari membereskan tempat tidur yang sudah tidak berbentuk karena kegiatan malam mereka. Namun sampai setengah jam berlalu, Yuda masih belum melihat Rana yang keluar dari kamar mandi membuat laki-laki itu di landa kekhawatiran. Yuda akhirnya memilih untuk mengetuk pintu kamar mandi, apa mungkin Rana ketiduran di dalam karena begitu lelah. Tok tok tok. Yuda mengetuk pintu berkali-kali, sampai suaranya tidak lagi sepelan sebelumnya. Perasaannya mulai tidak tenang saat tidak ada jawaban dari istrinya yang sedang berada di dalam kamar mandi. Sampai akhirnya tangan Yuda mencoba mendorong pintu yang ternyata tidak di kunci. Yuda terpaku melihat pemadangan di hadapannya. Bukan karena dia tidak tahan dengan tubuh istrinya yang tidak terbalut apapun tetapi karena Rana yang tidak memakai sehelai pakaian pun berada di bawah air shower dengan tubuh yang meringkung. Yuda berlari menghampiri istrinya, mematikan air lalu membalut tubuh sang istri dengan handuk yang sempat dia tarik sebelum menghampiri Rana. Tubuh istrinya menggigil. Rana yang menyadari adanya seseorang tampak begitu terkejut, wajahnya yang pucat bertambah pucat melihat Yuda berada di dekatnya. “Ran ..” Yuda hendak menggedong istrinya namun dorongan dari kedua tangan Rana membuat Yuda terjatuh karena tidak sempat menghindar. “Jangan mendekat!” “Aku minta maaf.” “Jangan ... Tolong! Jangan sentuh aku! Kak Daffa tolong Rana!” teriak Rana. “Sayang, ini aku.” Yuda semakin merasa bersalah dengan melihat kondisi istrinya. “Jangan sentuh, Rana takut. Kak Daffa tolong Rana! Dia jahat udah masuk rumah ... tolong Rana! Kak Daffa orang ini mau sakitin Rana. Tolong ... Rana sendirian di rumah, listriknya padam, orang ini mau perkosaaa Rana!” Deg. Yuda terpaku. Di tambah melihat istrinya yang semakin histeris, berteriak meminta tolong dengan memaggil nama Daffa. Yuda mulai membaca situasi, Rana di perkosaa? Tapi dia yang menjadi orang pertama untuk istrinya kan? Sebenarnya apa yang terjadi selama ini? Selama dia jauh dari Rana. “Kak Daffa, Rana mau pulang. Tolong jangan sentuh Rana!” Lagi Rana kembali berteriak membuat Yuda begitu khawatir. “Kak Daffa cepet pulang, tolongin Rana ...” lirihnya kemudian Rana pingsan membuat Yuda sigap memeluk istrinya membawa Rana ke luar dari kamar mandi. ** “Jangan bikin aku khawatir, maaf ...” Yuda sudah memakaikan pakaian kepada sang istri, bahkan sudah mengompresnya karena tubuh Rana jadi demam. Sejak tadi dengan begitu lirih Rana masih menyebut nama Daffa sembari meminta tolong membuat hati Yuda sakit mendengarnya. Seharusnya dia tidak melakukan yang semalam kepada Rana, seharusnya dia bisa menahan emosinya tadi malam dan tidak menyakiti Rana seperti ini. Yuda begitu menyesal, karena dia Rana sekarang menjadi seperti ini. Yuda mencium kening istrinya dengan penuh kelembutan. Duduk di samping Rana yang sudah berbaring mengenakan selimut tebal dengan dahi yang masih di kompres menggunakan handuk kecil. Yuda tidak bisa melihat istrinya seperti ini, tampak sekali sorot mata Rana yang sempat Yuda lihat begitu memancarkan ketakutan. ** Rana kembali histeris bahkan tidak ingin Yuda mendekatinya. Setelah tidur cukup lama dengan Yuda yang selalu berada di sampingnya. Rana bangun dan mendapati Yuda berada di sampingnya, hal itu membuat Rana histeris sampai Yuda ikut bangun. Yuda berusaha menenangkan tetapi Rana tidak ingin di dekati oleh suaminya, kembali memanggil nama Daffa mambuat Yuda teringat, dia juga belum sempat menghubungi kakak iparnya itu. Rana meringkuk kembali di tutupi oleh selimut, bibirnya kembali bergetar, wajahnya tampak pucat dan menatap Yuda dengan begitu awas berada di sekitarnya. Bayangan masa lalu kembali terputar membuat kepalanya sakit, Rana terus bergumam meminta tolong. Sementara Yuda memilih untuk menghubungi Daffa untuk datang ke sini. Karena Rana tidak ingin dekat dengan dirinya, membuat Yuda harus meminta bantuan kepada kakak iparnya dan nanti Yuda juga ingin tahu apa yang terjadi di masa lalu sampai membuat Rana seperti ini. ** Plak. Daffa menampar pipi Yuda dengan begitu kencang. Dia begitu marah mendapati adiknya yang tampak ketakutan seperti waktu dulu. Di tambah mendengar penjelasan Yuda tentang apa yang terjadi kepada mereka. Semua Yuda ceritakan dari awal sampai akhirnya dia mendapatkan tamparan dari tangan kakak iparnya. “Gue akan bawa Rana pulang!” seru Daffa. Berjalan ke kamar di mana Rana sedang berada bersama dengan istrinya -Husna. “Tapi—“ “Lo nggak bisa atur gue! Gue akan tetap bawa adik gue pulang dan segera urus perceraian lo sama Rana.” “Dia istri gue dan sampai kapan pun gue nggak akan melepas Rana!” seru Yuda tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Daffa. Mudah sekali menyebutkan perceraian, sampai kapan pun tidak ada akan ada hal semacam itu. Rana tetap menjadi miliknya. “Dan dia adik gue!” balas Daffa tersulut emosi. Dia tidak bisa membiarkan adiknya bersama dengan Yuda yang bahkan berhasil menyakiti Rana dan membuka luka lamanya. Daffa tidak akan sanggup melihat kondisi Rana yang begitu mengenaskan seperti dulu untuk yang ke dua kalinya. “Lo nggak bisa bawa Rana dari gue!” Yuda menarik tangan Daffa mereka berada di ambang pintu membuat Husna yang tengah menenangkan adik iparnya sejak tadi beranjak dari tepi ranjang. “Gue berhak! Karena gue kakaknya.” “Mas kenapa? Jangan teriak-teriak,” ucap Husna mendekati keduanya. “Beresin pakaian Rana, setelah ini kita pulang!” ucap Daffa menyuruh istrinya. “Nggak bisa gitu dong, Kak!” Yuda masih tidak terima Daffa akan membawa Rana pulang seperti ini. “Bisa!” “Gue nggak kasih ijin.” “Dan gue nggak butuh ijin dari lo. Bajingann!” “Mas!” seru Husna tidak suka mendengar kata kotorr yang di ucapkan suaminya kepada sang adik ipar. Bugh. Tidak perduli dengan seruan sang istri, Daffa memukul rahang Yuda ketika laki-laki itu hendak mendekati Rana yang masih terpaku di atas tempat tidur melihat berdebatan kakak dan suaminya. Bahkan Rana masih tampak ketakutan melihat keberadaan Yuda yang berada di dekatnya seperti ini. “Nggak usah dekatin adik gue!” seru Daffa setelah kembali memukul wajah Yuda. Yuda tidak membalas, menerima pukulan yang di layangkan oleh kakak iparnya. Memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah, tatapan Yuda terarah kepada Rana yang melihatnya dengan begitu ketakutan. Yuda menyesal dengan apa yang dia perbuat kepada Rana dan dia tidak ingin Daffa membawa Rana di saat keduanya harus menyelesaikan masalah mereka berdua. Daffa membiarkan Yuda yang masih terduduk di lantai. Mendekati adiknya kemudian memakaikan jaket pada tubuh Rana dan kembali menyuruh Husna untuk membawa beberapa pakaian Rana agar segera di masukkan ke dalam koper. Keputusannya sudah bulat, dia akan membawa adiknya pergi dari Yuda. “Kak ...” “Jangan bikin gue mukul lo atau lebih dari itu. Gue bisa melakukan apa pun kalau lo menyakiti adik gue, Yud!” Daffa masih melayangkan tatapan penuh emosi kepada Yuda. Kali ini Yuda kembali menatap Rana yang sudah berdiri di samping Husna, “Ran, please jangan tinggalin aku. Aku benar-benar minta maaf,” lirih Yuda bahkan siapa pun melihat bahwa tatapan Yuda kali ini penuh dengan penyesalan. Tidak ada balasan dari Rana, istrinya itu malah mengeratkan pegangannya pada lengan Husna yang berada di sampingnya. Wajah Rana menunduk tidak berniat menatap ke arah Yuda. Rana masih begitu sakit dan dia sangat ketakutan melihat suaminya. Daffa akhirnya membawa Rana pergi, meninggalkan Yuda yang menekan dadaanya merasakan sesak karena kepergian istrinya dan karena Rana begitu takut berada di dekat dirinya. Seharusnya ini tidak terjadi, seharusnya semua baik-baik saja dan Yuda masih bisa dekat dengan Rana seperti sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN